Menggapai Hidayah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin)

Sudah menjadi kesepakatan para nabi dan rasul, tertera pula dalam seluruh kitab suci, bahwa Allah l menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menganugerahkan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Barang siapa yang disesatkan oleh Allah l maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya hidayah. Adapun orang yang telah diberi hidayah oleh Allah l maka tiada seorang pun yang sanggup menyesatkannya. Yang mendapatkan hidayah dan yang sesat adalah hamba. Adapun yang memberikannya adalah Pencipta hamba (Allah l). (Syifa’ul ‘Alil hlm. 161, cet. 2 tahun 1997 M, Kairo)
Menurut Ibnul Qayyim t, ketetapan dan anugerah nikmat paling afdhal yang dianugerahkan oleh Allah l kepada seorang hamba adalah hidayah, sedangkan musibah terbesar yang Dia timpakan kepada seorang hamba adalah kesesatan. Semua kenikmatan yang dirasakan oleh seorang hamba, posisinya masih di bawah nikmat hidayah. Begitu pula, segenap musibah yang dirasakan oleh seorang hamba jauh lebih ringan dibandingkan dengan musibah kesesatan. (Syifa’ul ‘Alil hlm. 161)
Oleh karena itu, sudah semestinya hidayah menjadi dambaan setiap insan beriman, sebagaimana kesesatan menjadi momok yang sangat menakutkan siapa pun yang memiliki akal pikiran.
Betapa tidak. Hidayah adalah kunci kebahagiaan dunia dan jalan menuju surga. Sebaliknya, kesesatan adalah biang kesengsaraan di dunia dan titian menuju neraka. Maka dari itu, tiada cita-cita yang lebih mulia dan aktivitas yang lebih berharga selain perjuangan menggapai hidayah untuk meraih ‘tiket’ menuju surga.
Pembaca yang budiman, para ulama kita menyebutkan empat penggunaan kata hidayah dalam Al-Qur’an.
1. Hidayah umum untuk segenap makhluk
2. Hidayah al-irsyad wal bayan
3. Hidayah at-taufiq wal ilham
4. Hidayah bagi ahlul jannah (penduduk surga) untuk masuk ke dalam surga, dan hidayah bagi ahlun nar (penduduk neraka) untuk masuk ke dalamnya.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Selasa,24 April 2012/2 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly