Mengimani Isa Turun Sebuah Keniscayaan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Selain didasari keikhlasan, satu amal bisa diterima sebagai bentuk ibadah kepada Allah l (amal shalih), harus didasari pula bahwa amal tersebut selaras dengan Sunnah Rasulullah n. Seperti dinyatakan Al-Fudhail bin ‘Iyadh t saat menjelaskan pengertian ayat:

“Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al-Mulk: 2)

Maka, dijelaskan bahwa yang lebih baik amalnya adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Karena sesungguhnya amal itu bila dilakukan secara ikhlas namun tidak dilakukan secara benar (sesuai As-Sunnah), maka tidak diterima amal tersebut. Begitu pula satu amal yang dilakukan secara benar (sesuai tuntunan As-Sunnah) namun tidak diiringi dengan keikhlasan, amal tersebut tetap tertolak. Satu amal diterima bila keikhlasan dan dilakukan secara benar tersebut menjadi landasannya. Yang dimaksud keikhlasan yaitu menjadikan (amal tersebut) hanya bagi Allah l. Sedangkan yang dimaksud dilakukan secara benar yaitu menjadikan amal tersebut berdasar atas As-Sunnah. Semua ini telah ditunjukkan berdasarkan firman Allah l:

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110) [Syarh Hadits Innamal A’malu bin Niyat, Ibnu Taimiyyah t, hal. 9-10]

Nyatalah, agar sebuah amal memiliki nilai di hadapan Allah l, tidak bisa cuma mencukupkan keikhlasan atau mencukupkan dengan mengikuti tuntunan As-Sunnah (tanpa diiringi keikhlasan). Keduanya, keikhlasan dan ittiba’ kepada Sunnah Rasulullah n merupakan syarat diterimanya amal seorang hamba.

Mengikuti As-Sunnah merupakan salah satu komponen yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan seorang muslim. Sebagaimana disebutkan dalam Syarhus Sunnah karya Al-Imam Al-Barbahari t: “Sesungguhnya Islam adalah As-Sunnah dan As-Sunnah adalah Islam. Tidak bisa tegak salah satu dari keduanya kecuali dengan yang lainnya.”

Disebutkan pula oleh Al-Imam Al-Barbahari t bahwa manusia tidaklah melakukan satu perbuatan bid’ah, hingga dia meninggalkan As-Sunnah yang semisalnya. Maka berhati-hatilah dari perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama, karena sesungguhnya setiap perkara baru (dalam agama) adalah bid’ah. Setiap bid’ah itu sesat, dan setiap yang sesat dan pelakunya di neraka.

Betapa dahsyat akibat yang ditimbulkan dari seorang hamba yang meninggalkan As-Sunnah. Betapa tidak, ini menyangkut keselamatan dirinya di akhirat kelak.

Karenanya, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab t menjelaskan kewajiban setiap muslim yang mukallaf untuk mengenal Nabi-Nya. Maknanya, menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t, yaitu satu bentuk pengenalan yang menjadikan seorang muslim memiliki komitmen untuk menerima terhadap apa yang telah datang dari Rasulullah n, dalam bentuk petunjuk dan agama yang haq (benar), membenarkan terhadap apapun yang telah dikabarkannya, menunaikan atas apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dicegahnya. Lantas, dia mau berhukum dengan syariatnya, dan ridha dengan segala ketetapan hukumnya. Allah k berfirman:

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa`: 65)

Demikianlah semestinya komitmen seorang muslim terhadap agamanya. Dia akan senantiasa memateri sikap hidupnya di atas landasan Sunnah Nabi n. Setiap apa yang sah datang dari Nabi n senantiasa dikedepankan walau secara akal belum bisa dicerna, atau bahkan mungkin akan dirasa sebagai sesuatu yang bertentangan. Namun lantaran bentuk iltizam (komitmen) terhadap apa yang datang dari Nabi n begitu membaja dalam keyakinan di hatinya, rasa penentangan yang bersemi di akalnya, ia luluhkan. Akalnya ditundukkan di hadapan As-Sunnah. Rasa ketaatan ia bangun dalam kalbunya. Dia menyadari bahwa kemampuan akal yang ada pada dirinya memiliki keterbatasan-keterbatasan. Karenanya, ia menyadari benar bahwa tak semua perkara agama harus mampu dicerna akalnya. Kata Ali bin Abi Thalib z: “Andai agama ini atas dasar ra`yu (akal), maka sungguh mengusap bagian bawah khuf lebih utama dibanding mengusap bagian atasnya.”1

Dikatakan pula oleh Ibnu ‘Abbas c: “Sungguh, adalah Kitabullah dan Sunnah Rasulullah n. Barangsiapa berkata setelah itu dengan ra`yunya, maka saya tidak mengetahui apakah di dalam itu terkandung kebaikan atau kejelekan.”

Perhatikan pula apa yang diungkapkan oleh Ibnu Mas’ud z perihal keterpurukan akibat mengunggulkan ra`yu tatkala berbicara agama.

إِيَّاكُمْ وَأَرَأَيْتَ أَرَأَيْتَ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِأَرَأَيْتَ أَرَأَيْتَ، وَلَا تَقِيْسُوا شَيْئًا فَتَزِلُّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَإِذَا سُئِلَ أَحَدُكُمْ عَمَّا لَا يَعْلَمُ فَلْيَقُلْ لَا أَعْلَمُ، فَإِنَّهُ ثُلُثُ الْعِلْمِ

“Hati-hatilah kalian dari (perkataan) ‘Apa pendapatmu, apa pendapatmu.’ Karena sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian disebabkan oleh ‘Apa pendapatmu, apa pendapatmu.’ Janganlah kalian analogikan (dalam urusan agama) dengan sesuatu pun. Maka, kelak kamu bisa tergelincir setelah kokoh pijakanmu. Apabila di antara kalian ditanya tentang sesuatu yang tidak (kalian) ketahui, maka jawablah dengan mengatakan: ‘Saya tidak tahu.’ Karena menjawab dengan perkataan seperti itu adalah sepertiga ilmu.” (I’lamul Muwaqqi’in, Ibnul Qayyim t, hal. 53-54)

Peringatan dari Abdullah bin Mas’ud z merupakan salah satu bentuk dorongan, hendaknya seorang muslim menjauhi sumber malapetaka yang diakibatkan ra`yu, pendapat pribadi seseorang yang tak sejalan dengan Al-Qur`an dan As-Sunnah sebagaimana dipahami salafus shalih.

Secara lebih rinci, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah t dalam I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, menyebutkan ragam ra`yu yang batil. Beliau t di antaranya menyebutkan bahwa ra`yu yang batil adalah yang menyelisihi nash (Al-Qur`an dan As-Sunnah, -ed.). Selain itu, ra`yu batil pun bisa dikemas dalam bentuk perkataan (kalam) yang secara tematikal mengangkat pembicaraan tentang perkara agama dengan duga-duga dan zhan (sesuatu yang tidak pasti). Termasuk ra`yu yang batil manakala ra`yu (pemikiran) tersebut mengandung muatan meniadakan asma, sifat, dan perbuatan Allah l melalui cara analogi yang batil. Macam ra`yu batil lainnya yaitu pemikiran yang mengada-ada dalam urusan agama hingga melahirkan bid’ah.

Apa jadinya bila agama ini diwarnai pemikiran-pemikiran liar yang tidak terbimbing dengan pemahaman salafus shalih. Apa jadinya pula agama ini tatkala setiap individu pemeluknya bebas memberi tafsir dalam setiap perkara agama, tanpa diiringi kaidah-kaidah yang telah baku sebagaimana dilakukan salafus shalih. Maka, tak sepatutnya bagi seorang muslim meninggalkan ketentuan yang telah secara sah berdasar nash lalu mengambil pemikiran manusia, hanya karena pemikiran tersebut sejalan dengan akalnya.

“Dan tidak patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi wanita mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Al-Ahzab: 36)

Menyikapi berbagai peristiwa yang bakal terjadi menjelang hari kiamat, yang didasari hadits-hadits yang dinyatakan shahih, bagi seorang muslim merupakan bagian dari wujud keimanan terhadap hal-hal ghaib. Ketundukan dan ketaatan dirinya lantaran i’tiqadnya yang lurus. Karenanya, tidaklah menjadi sesuatu yang sulit untuk mengimani bahwa menjelang akhir zaman kelak akan turun Isa q. Peristiwa turunnya Isa q telah dikabarkan secara kuat di dalam Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih lagi mutawatir. Demikian ini sebagai salah satu tanda dari tanda-tanda hari kiamat kubra (besar).

Allah l berfirman:

“Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya. Dan mereka berkata: ‘Manakah yang lebih baik, sesembahan-sesembahan kami atau dia (Isa)?’ Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israil. Dan kalau Kami kehendaki benar-benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun-temurun. Dan sesungguhnya (turunnya) Isa itu benar-benar pertanda akan datangnya hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.” (Az-Zukhruf: 57-61)

Inilah ayat yang memberitakan tentang Isa q, disebutkan di akhir ayat:

Maksudnya, turunnya Isa q sebelum hari kiamat merupakan pertanda telah dekatnya Kiamat. Ditunjukkan pula dengan qira`ah yang lain, yaitu dengan memfathah huruf ‘ain dan lam:

yang memiliki pengertian alamat (tanda) atas terjadinya kiamat. Ini merupakan qira`ah yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan yang selainnya dari kalangan imam ahli tafsir.

Kemudian firman Allah l:

“Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya Kami telah membunuh Al-Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah,’ padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari Kiamat nanti ‘Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.” (An-Nisa`: 157-159)

Ayat di atas menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi tidaklah membunuh ataupun menyalib ‘Isa q. Dari ayat tersebut justru terungkap bahwa Allah l telah mengangkatnya ke langit. Ini sebagaimana dijelaskan pula dalam firman-Nya:

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku…’.” (Ali ‘Imran: 55)

Juga terungkap dari ayat:

“Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (‘Isa) sebelum kematiannya.” (An-Nisa`: 159)

bahwa dari kalangan Ahli Kitab ada yang beriman kepada Isa q pada akhir zaman kelak hingga turunnya Isa (yang turun secara hakiki ke bumi) sebelum kematiannya. Ini seperti dijelaskan dalam hadits-hadits mutawatir yang shahih.

Dinyatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t saat ditanya berkenaan dengan wafat dan diangkatnya Isa, maka jawab beliau: “Alhamdulillah. Isa q masih hidup. Sungguh telah kuat dinyatakan dalam Ash-Shahih dari Nabi n, yang bersabda:

يَنْزِلُ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلًا وَإِمَامًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ

‘Ibnu Maryam turun di tengah-tengah kalian sebagai hakim dan imam yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan meletakkan jizyah’.”

Selanjutnya kata Ibnu Taimiyyah t, bahwa telah tetap dalam Ash-Shahih, Isa akan turun di menara putih di sebelah timur Damsyiq (Damaskus). Dia akan membunuh Dajjal. Maka, seseorang yang terpisah antara ruh dan jasad, tentulah jasadnya tidak turun dari langit. Dan apabila dihidupkan kembali tentu akan bangkit dari kubur. Adapun firman Allah l:

“(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai ‘Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku dan membersihkan kamu dari orang-orang kafir’.” (Ali ‘Imran: 55)

Ini merupakan dalil bahwa sesungguhnya dia bukan menjumpai kematian (al-maut). Sebab, jika yang dimaksud adalah kematian maka Isa sama dengan mukmin yang lainnya. Karena Allah l mengambil arwah orang-orang yang beriman dan menaikkannya ke langit. Dengan begitu, diketahuilah bahwa tidak ada lagi kekhususan bagi Isa q.

Dan firman-Nya:

“Dan membersihkan kamu dari orang-orang kafir.” (Ali ‘Imran: 55)

Andai ruh dan jasadnya terpisah, niscaya badannya ada di bumi sebagaimana para nabi lainnya atau yang selain nabi.

Sehingga jelaslah bahwa Isa telah diangkat Allah l dengan mengangkat tubuh dan ruhnya sekaligus, sebagaimana halnya Isa akan turun ke bumi dengan tubuh dan ruhnya, sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang shahih. (Asyrathus Sa’ah, Yusuf Al-Wabil, hal. 343-344)

Perihal turunnya Isa q ke bumi dijelaskan pula dalam hadits-hadits yang shahih. Di antaranya disebutkan dalam Ash-Shahihain hadits dari Abu Hurairah z:

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيْكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

“Bagaimana keadaan kalian nanti apabila putra Maryam telah turun di tengah-tengah kalian, sedangkan imam kalian adalah dari antara kalian sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Mengimani akan turunnya Isa q adalah akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mengimaninya termasuk ushul (prinsip) dari prinsip-prinsip As-Sunnah (Ushulus Sunnah). Sebagaimana yang dinyatakan Al-Imam Ahmad bin Hambal t, bahwa prinsip-prinsip As-Sunnah pada kami yaitu berpegang teguh atas apa yang dipegangi oleh para sahabat Rasulullah n, mengikuti dan meneladani mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat. Kemudian beliau menyebutkan beberapa kalimat tentang akidah Ahlus Sunnah. Lantas beliau t berkata:

الدَّجَّالُ خَارِجٌ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ (كَافِرٌ) وَالْأَحَادِيْثُ الَّتِي جَاءَتْ فِيهِ وَالْإِيْمَانُ بِأَنَّ ذَلِكَ كَائِنٌ وَأَنَّ عِيْسَى يَنْزِلُ فَيَقْتُلُهُ بِبَابِ لُدٍّ

“Dajjal akan muncul (di muka bumi ini), tertulis di antara kedua matanya ‘kafir’, dan (mengimani) hadits-hadits yang datang (membicarakan) tentangnya dan mengimani (pula) sesungguhnya yang demikian itu bakal terjadi, serta sesungguhnya Isa akan turun lantas akan membunuh Dajjal di Bab Ludd.” (Thabaqat Al-Hanabilah, 1/241-243, Al-Qadhi Al-Hasan bin Muhammad bin Abi Ya’la, dinukil dari Asyrathus Sa’ah, Yusuf Al-Wabil hal. 353)

Wallahu a’lam.


1 Karena yang terkena kotoran adalah bagian bawah khuf, sehingga menurut logika, tentunya bagian bawah khuf lebih utama untuk diusap. Namun Rasulullah n memberikan tuntunan untuk mengusap bagian atas khuf ketika berwudhu. Karena  agama ini tidaklah berlandaskan kepada akal, maka yang pantas hanyalah tunduk kepada bimbingan Rasulullah n.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,17 November 2011/20 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly