Menyambut Kelahiran si Buah Hati

Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Lahirnya si mungil memang saat yang dinanti. Oleh karena itu, apabila dianugerahi anak, baik laki-laki maupun perempuan, hendaknya kita bersyukur kepada Allah ‘azza wa jalla.

 

Selain itu, setiap muslim dianjurkan memberi tahu saudaranya sesama muslim yang dikaruniai anak ketika dia belum tahu bahwa anaknya telah lahir. Hal ini termasuk bentuk menyusupkan kebahagiaan ke dalam hati seorang muslim. Tentu saja, hal yang seperti ini akan mempererat tali kecintaan di antara mereka.

 

Al-Qur’an telah menyebutkan tentang kabar gembira bagi yang dikaruniai anak. Allah ‘azza wa jalla berfirman menyebutkan ucapan para malaikat yang singgah di rumah Ibrahim ‘alaihissalam sebelum mereka sampai ke tempat tujuan mereka diutus, yaitu kaum Nabi Luth ‘alaihissalam,

(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata, “Janganlah kamu takut,” dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishaq). (adz-Dzariyat: 28)

 

Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang Nabi Zakaria ‘alaihissalam,

“Hai Zakaria, sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya.” (Maryam: 7)

 

Dianjurkan juga bagi orang yang diberi kabar gembira oleh saudaranya untuk memberi hadiah kepada yang mengabarkannya. Sebagaimana halnya dahulu Ka’b bin Malik radhiallahu ‘anhu memberi hadiah kepada orang yang memberi tahu tentang turunnya ayat yang menjelaskan diterimanya tobat beliau radhiallahu ‘anhu.

 

Seperti inilah bimbingan Islam yang mulia. Seorang muslim ikut berbahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh saudaranya. Akan tetapi, karena ketidaktahuan mayoritas masyarakat muslimin di zaman sekarang tentang bimbingan yang mulia ini, ruh kecintaan nyaris hilang di tengah-tengah mereka. Sebagai gantinya, muncul sikap acuh tak acuh, bahkan kedengkian.

 

Di samping dianjurkan memberitakan kelahiran anak, alangkah bagusnya disertai dengan memberi tahni’ah (ucapan selamat). Perbedaan antara memberi kabar gembira dan ucapan selamat; memberi kabar gembira ialah memberitakan kepada teman yang dikaruniai anak bahwa anaknya telah terlahir dalam keadaan ia belum tahu. Adapun tahni’ah (ucapan selamat) adalah mendoakan kebaikan bagi anak saudaranya setelah dia mengetahui kelahiran anaknya. (Tuhfatul Maudud karya Ibnul Qayyim hlm. 21)

 

Sebatas pengetahuan kami, tidak ada satu hadits pun dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan tentang tahni’ah ini. Yang ada adalah atsar (ucapan dan perbuatan) sebagian tabi’in. Misalnya, atsar dari al-Hasan al-Bashri t bahwa ia ditanya tentang tahni’ah, apa yang semestinya diucapkan? Al-Hasan berkata, “Ucapkanlah,

‘Semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikan anak ini diberkahi bagimu dan bagi umat

Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam’.” (Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dalam ad-Du’a 2/1243 dengan sanad yang bagus)

 

Akan tetapi, tahni’ah ini bukan sesuatu yang sunnah apalagi keharusan, karena landasannya adalah atsar dari sebagian tabi’in, bukan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak pantas pula apabila tahni’ah hanya diucapkan kepada yang dikaruniai anak laki-laki dan tidak diucapkan kepada yang dikaruniai anak perempuan. Hendaklah tahni’ah diberikan kepada yang dianugerahi bayi laki-laki atau perempuan, atau ia sama sekali tidak mengucapkan tahni’ah kepada yang dikaruniai anak, baik laki-laki maupun perempuan.

 

Hal ini dilakukan untuk menjauhi kebiasaan orang jahiliah yang kebanyakan mereka memberikan tahni’ah terhadap kelahiran anak laki-laki dan mengucapkan tahni’ah terhadap kematian anak perempuan, bukan ketika kelahirannya. (Tuhfatul Maudud hlm. 21, cet. al-Muayyad)

 

Sebab Menjeritnya Bayi Ketika Lahir

Perlu diketahui, sebab seorang bayi menjerit ketika dilahirkan adalah karena ditusuk oleh setan. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Jeritan bayi ketika terlahir adalah (karena) tusukan setan.” (HR . Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Tiada terlahir seorang anak Adam kecuali disentuh oleh setan saat lahirnya hingga ia menjerit karena sentuhannya, kecuali Maryam dan putranya (Nabi ‘Isa ‘alaihissalam).” (Shahih al-Bukhari no. 3431)

 

Maksud disentuh oleh setan dijelaskan oleh riwayat lain, yaitu setan menusuk dua sisi perut bayi dengan kedua jarinya. (Shahih al-Bukhari no. 3286)

 

Coba Anda perhatikan! Saat manusia masih bayi, setan telah menampakkan permusuhannya, bagaimana kiranya setelah dewasa, bahkan menjelang ajalnya? Seperti apa kiranya usaha setan untuk menyesatkan manusia yang telah tergerak syahwatnya untuk mencari dunia dan semisalnya?!

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis, 1 Januari 1970/22 Syawal 1389H

Print Friendly