Mereka Adalah Suri Teladan Kita

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Kisah-kisah para nabi dan rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salah satu sumber pelajaran yang sangat berharga dan mulia bagi siapa saja yang mau mengambil manfaat. Allah Subhanahu wata’ala sering mengulang-ulang kisah mereka ‘Alaihissalam di dalam kitab-Nya yang mulia, al-Qur’an al-Karim. Berapa kali Allah Subhanahu wata’ala mengulangulang kisah penciptaan manusia pertama kali yaitu Adam dan Hawa ‘Alaihissalam, serta perintah-Nya kepada para malaikat dan iblis untuk sujud kepada Adam? Berapa kali Allah Subhanahu wata’ala mengulangulang kisah dakwah Nabi Nuh ‘Alaihissalam bersama keluarga dan kaumnya? Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala menurunkan satu surat khusus tentang kisah dakwah beliau ‘Alaihissalam, yaitu surat Nuh. Berapa kali Allah Subhanahu wata’ala mengulangulang kisah dakwah bapak para nabi, Ibrahim ‘Alaihissalam, bersama bapaknya, Azar, Raja Namrud, dan kaumnya? Demikian pula kisah-kisah para nabi dan rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhanahu wata’ala mengulangulangnya di dalam al-Qur’anul Karim. Allah Yang Mahabijaksana melakukannya agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi para hamba-Nya.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitabkitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf: 111)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sungguh, dalam kisah-kisah para nabi ‘Alaihissalam bersama umat mereka ada berbagai pelajaran yang baik bagi orang-orang yang berakal. Dikisahkan di dalamnya orang yang baik dan buruk. Barang siapa melakukan seperti yang mereka perbuat, niscaya dia akan mendapatkan balasan sebagaimana yang mereka dapatkan, kemuliaan (bagi orang yang mengamalkan kebaikan) ataukah kehinaan (bagi orang yang mengamalkan kejelekan). Mereka juga bisa mendapat pelajaran dari berbagai sifat Allah Subhanahu wata’ala yang sempurna dan hikmah yang agung; yang tidak sepantasnya ada yang diibadahi selain Allah Subhanahu wata’ala, tidak ada sekutu bagi-Nya.” Berbagai hal gaib yang Allah Subhanahu wata’ala sebutkan kepada kita dalam al-Qur’an bukanlah berita yang mengada-ada atau dusta.

Al-Qur’an membenarkan berbagai hal yang disebutkan oleh kitabkitab sebelumnya; ia selaras sekaligus mempersaksikan kebenarannya. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala memerinci segala hal yang dibutuhkan oleh para hamba-Nya, baik masalah ushul (prinsip) maupun cabang. Dengan sebab al-Qur’an, mereka mendapatkan ilmu yang benar lantas lebih memilihnya sehingga akhirnya mendapat petunjuk dan rahmat-Nya. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Wajib untuk kita yakini bahwa pujian-pujian Allah Subhanahu wata’ala terhadap salah seorang makhluk- Nya tidak dimaksudkan agar pujian itu sampai kepada kita. Akan tetapi, yang dimaksudkan adalah dua hal penting berikut.

1. Kita mencintai hamba yang dipuji oleh Allah Subhanahu wata’ala tersebut, sebagaimana kita membenci makhluk yang dicela oleh Allah Subhanahu wata’ala. Kita mencintai Ibrahim ‘Alaihissalam karena beliau adalah seorang imam yang hanif, senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan bukanlah golongan orang musyrik. Kita membenci kaumnya karena mereka adalah orang-orang sesat. Kita mencintai para malaikat walaupun mereka bukan golongan manusia karena mereka senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala. Kita membenci setan karena ia durhaka kepada Allah Subhanahu wata’ala sekaligus menjadi musuh-Nya dan musuh kita. Demikian pula kita membenci para pengikut setan karena durhaka kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mereka menjadi musuh Allah Subhanahu wata’ala serta musuh kita pula.

2. Kita meneladani sifat-sifat yang dipuji oleh Allah Subhanahu wata’ala yang menjadi sebab Dia Subhanahu wata’ala memujinya.

Dengan demikian, kita pun mendapatkan pujian dari Allah Subhanahu wata’ala sesuai dengan kadar kita mencontohnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ( Yusuf: 111) (al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid, 1/94)

Di antara pelajaran yang sangat mulia dan berharga adalah akhlak luhur yang telah disebutkan contohnya oleh kitab- Nya atau sunnah Rasul-Nya. Berikut ini beberapa di antaranya.

Ikhlas dalam Berdakwah

Dalam surat asy-Syu’ara, Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan dakwah beberapa nabi kepada umat mereka, seperti Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu’aib yang menggambarkan keikhlasan dakwah para nabi r. Asy – Syaikh as – Sa ’ di rahimahullah menjelaskan tentang kisah dakwah nabi Hud ‘Alaihissalam kepada kaum ‘Ad di dalam tafsirnya, “Kabilah ‘Ad mendustakan seorang rasul yang diutus kepada mereka, Hud ‘Alaihissalam. Konsekuensinya, mereka mendustakan para rasul yang lainnya ‘Alaihissalam karena dakwahnya sama. Tatkala saudara mereka, Hud ‘Alaihissalam, berkata dengan lemah lembut dan baik kepada, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga meninggalkan syirik dan peribadahan yang ditujukan kepada selain-Nya? Sebab, aku adalah rasul yang tepercaya bagi kalian. Allah Subhanahu wata’ala mengutusku sebagai bukti kasih sayang dan perhatian-Nya kepada kalian. Aku adalah orang tepercaya yang kalian telah mengetahui hal itu. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahuwata’ala dan taatlah kepadaku.’ Maknanya ‘Tunaikanlah hak Allah Subhanahuwata’ala, yaitu takwa. Tunaikanlah hakku, yaitu menaatiku semua hal yang aku perintahkan dan yang aku larang. Jadi, ini mengharuskan kalian untuk mengikuti dan menaatiku’.

Tidak ada satu penghalang pun yang menghalangi kalian untuk beriman. Aku tidak meminta upah kepada kalian dengan dakwah dan nasihatku ini, yang kalau aku meminta upah tentu kalian berat menanggung utang. Hanya saja balasan (amalku ini) menjadi tanggungan Allah Rabbul alamin, Dzat yang memelihara mereka dengan nikmat-Nya, yang mencurahkan keutamaan serta kedermawanan-Nya kepada mereka, terkhusus para wali dan nabi.

Kasih Sayang Terhadap Umat

Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam kitab-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutusmu kecuali untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (al-Anbiya: 107)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya,

Permisalan antara aku dan kalian seperti seseorang yang menyalakan api (unggun di malam hari). Mulailah serangga dan kupu-kupu malam masuk ke dalam api. Padahal si pemilik api telah menghalaunya supaya tidak masuk ke dalamnya. Aku memegang pinggang-pinggang kalian agar tidak terjatuh ke dalam api. Namun, kalian berusaha lepas dari (pegangan) kedua tanganku.

Al – Imam Ibnu Katsir t menjelaskan, “Allah Subhanahu wata’ala mengutus beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai bukti kasih sayang (rahmat)-Nya kepada mereka semua. Siapa yang mau menerima rahmat ini dan mensyukurinya, niscaya dia akan bahagia di dunia dan di akhirat. Namun, siapa yang menolak dan menentangnya, dia akan rugi di dunia dan di akhirat.” Di antara contoh yang menunjukkan rahmat para nabi terhadap umatnya adalah sebagai berikut.

1. Kasih sayang Nabi Nuh ‘Alaihissalam terhadap anaknya. Allah Subhanahu wata’ala menceritakan dialog mereka,

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ () قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab, Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah! Nuh berkata, Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orangorang yang ditenggelamkan. (Hud: 4243)

2. Kasih sayang Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam terhadap bapaknya. Allah Subhanahu wata’ala menceritakan,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا () إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al- Quran) ini. Sesungguhnya ia seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? (Maryam: 4142)

3. Belas kasih sayang Nabi Musa ‘Alaihissalam terhadap orang-orang yang lemah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ ۖ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۖ قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّىٰ يُصْدِرَ الرِّعَاءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ () فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? Kedua wanita itu menjawab, Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembalapenggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. (al- Qashash: 2324)

Demikian pula apa yang dilakukan oleh Khidir tatkala bersama Musa ‘Alaihissalam sebagaimana yang diceritakan di dalam surat al-Kahfi ayat 79.

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Adapun bahtera itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku ingin merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap bahtera.

Kesabaran

Para nabi ‘Alaihissalam adalah suri teladan kita dalam menghadapi berbagai problem, baik yang berkaitan dengan dunia maupun agama. Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan bersabar sebagaimana kesabaran para rasul.

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

Maka bersabarlah kamu seperti rasul-rasul yang mempunyai keteguhan hati. (al-Ahqaf: 35)

Mereka bersabar saat berbuat taat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menahan diri dari berbagai hal yang dilarang-Nya Subhanahu wata’ala. Berikut ini sebagian contoh yang menggambarkan kesabaran mereka ‘Alaihissalam.

a. Kesabaran Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam melaksanakan perintah Allah Subhanahu wata’ala untuk menyembelih anak lelaki satu-satunya saat itu, yang dicintainya, Isma’il ‘Alaihissalam. Demikian pula kesabaran Nabi Isma’il ‘Alaihissalam membantu ayahnya berbuat taat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala menceritakan peristiwa tersebut dalam firman-Nya,

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (ash-Shaffat: 103)

Asy-Syaikh Abdurrahman as- Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Isma’il ‘Alaihissalam menginjak masa. Umumnya, usia dewasa lebih disenangi oleh kedua orang tuanya. Sungguh, masa susah mengasuh dan mengawasi telah berlalu. Telah datang masa sang anak memberi manfaat. Ibrahim ‘Alaihissalam sebagai ayahnya berkata, ‘Sungguh aku melihat dalam mimpiku aku menyembelihmu.’ Maknanya, adalah Allah Subhanahu wata’ala memerintahku untuk menyembelihmu (karena mimpi para nabi ‘Alaihissalam adalah wahyu). Pikirkanlah, apa pendapatmu? Karena perintah Allah Subhanahu wata’ala harus dilaksanakan, Isma’il ‘Alaihissalam menjawab dengan sabar dan mengharapkan pahala serta rela terhadap perintah Allah Subhanahu wata’ala, sekaligus dalam rangka berbuat baik kepada ayahnya. Ia katakan, ‘Wahai ayahanda, tunaikanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan mendapati diriku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar’.”

b. Kesabaran Nabi Yusuf ‘Alaihissalam tatkala menghadapi godaan dan makar istri pembesar. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Wanita (istri pembesar) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, Marilah ke sini. Yusuf berkata, Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (Yusuf: 23)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Kesabaran Nabi Yusuf ‘Alaihissalam menghadapi godaan istri pembesar dalam berbagai keadaan itu lebih sempurna daripada kesabarannya menghadapi makar saudara-saudaranya yang memasukkannya ke dalam sumur, menjualnya (sebagai budak), dan memisahkannya dengan ayahnya. Sebab, dia tidak mampu mengelak menghadapi cobaan dari saudar-saudaranya. Jadi, pada keadaan tersebut, seorang hamba tidak memiliki pilihan selain sikap sabar. Adapun kesabarannya terhadap maksiat adalah karena pilihan, keridhaan, dan kewajiban memerangi hawa nafsu. Padahal, banyak faktor yang mendukungnya bermaksiat itu:  (1) Syahwat sebagai seorang pemuda yang lazimnya memiliki nafsu kuat;  (2) seorang lajang yang tidak memiliki tempat untuk menyalurkan syahwatnya; (3) seorang asing di negeri itu; orang asing biasanya tidak malu melakukan sesuatu yang menyebabkan malu kalau dilakukan di depan teman, kenalan, dan keluarganya; (4) statusnya sebagai budak; status budak biasanya tidak menjadi penghalang untuk melakukan perbuatan itu, berbeda halnya dengan orang merdeka; (5) istri si pembesar adalah wanita yang cantik, berkedudukan, sekaligus sebagai tuannya, dalam keadaan para pelayan yang lain tidak ada; (6) wanita itu juga yang mengajaknya bermaksiat, dalam keadaan sangat bernafsu; (7) wanita itu mengancam beliau q dengan penjara dan hinaan apabila tidak mau menurutinya. Meski demikian, Yusufq memilih bersabar. Beliau lebih memilih apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wata’ala. (Madarijus Salikin, 2/156)

c. Kesabaran Nabi Musa dan Harun ‘Alaihissalam menghadapi para penguasa yang zalim, seperti Fir’aun, Qarun, dan Haman lanatullah alaihim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ () فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْحَقِّ مِنْ عِندِنَا قَالُوا اقْتُلُوا أَبْنَاءَ الَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ وَاسْتَحْيُوا نِسَاءَهُمْ ۚ وَمَا كَيْدُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

Kepada Firaun, Haman, dan Qarun; mereka berkata, (Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta. Tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, Bunuhlah anak-anak orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka. Tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). (Ghafir: 2425)

d. Kesabaran Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam menghadapi dan menasihati anakanaknya yang berbuat zalim terhadap saudara mereka, Yusuf ‘Alaihissalam . Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ () قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَن يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ () وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

Tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar. Yaqub berkata, Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Semoga Allah mendatangkan mereka semua kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Yaqub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). (Yusuf: 8284)

Rasa Syukur

Allah Yang Mahabijaksana tidaklah mengaruniakan satu nikmat pun kecuali agar hamba bersyukur kepada-Nya dan semakin menyempurnakan keimanan serta ketakwaan kepada-Nya Subhanahu wata’ala. Suri teladan kita adalah Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam dan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam yang meminta kepada para pembesar di kerajaan untuk mendatangkan singgasana Ratu Saba.

قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip. Tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Barang siapa ingkar, sesungguhnya Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.  (an-Naml: 40)

Asy – Syaikh as – Sa ’ di rahimahullah menjelaskan, “Sulaiman ‘Alaihissalam tidak tertipu (menjadi sombong dan angkuh) dengan kekayaan dan kekuasaannya. Beliau justru sadar bahwa hal itu adalah ujian dari Rabbnya sehingga khawatir kalau beliau tidak mensyukuri nikmat itu. Kemudian beliau menjelaskan bahwa rasa syukur hamba itu tidak memberikan manfaat bagi Allah Subhanahu wata’ala, tetapi bagi pelakunya.” Ibadah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sempurna menunjukkan rasa syukurnya yang sempurna kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau radhiyallahu ‘anha berkata, Suatu malam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat dengan lama hingga kedua tumitnya pecah-pecah dan berdarah. Aku berkata, Mengapa engkau melakukan hal ini, wahai Rasulullah? Padahal telah diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang? Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, Tidak pantaskah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?. ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kejujuran

Kejujuran baik dalam hal ucapan, perbuatan, dan keyakinan diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kitab-Nya dan Sunnahnya. Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (at-Taubah: 119)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, Sesungguhnya kejujuran itu akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke dalam jannah. (Muttafaqun alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Berikut ini kisah beberapa nabi yang menunjukkan kejujuran mereka.

a. Kejujuran Isa bin Maryam ‘Alaihissalam Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ  () مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?. Isa menjawab, Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui urusan yang gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku yaitu, Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu, dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (al-Maidah: 116-117)

b. Kejujuran Adam dan Hawa ‘Alaihissalam Mereka berdua dilarang oleh Rabbnya makan dari sebuah pohon. Setelah itu, keduanya sadar dari tipu daya iblis lanatullah yang menghasut mereka berdua sehingga melanggar larangan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan pengakuan keduanya,

فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?. (al-Araf: 22)

c. Kejujuran seorang nabi yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahumallah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Ada seorang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berperang, dia berkata kepada kaumnya, Tidak boleh ikut perang bersamaku seorang lakilaki yang baru menikah dan belum membangun rumah tangganya padahal dia menginginkannya; demikian pula seorang yang harus membangun rumah dalam keadaan belum menaikkan atapnya; dan seorang yang telah membeli kambing atau unta betina yang bunting sedangkan dia menunggu kelahiran anak-anaknya. Kemudian dia berperang hingga sudah dekat desa itu pada waktu shalat ashar. Dia berkata kepada matahari, Engkau adalah makhluk yang diperintah, aku pun diperintah.

Ya Allah, tahanlah dia (matahari) untuk kami! Matahari pun tertahan (tidak segera tenggelam) sampai Allah Subhanahu wata’ala memberikan kemenangan kepadanya. Lalu nabi itu mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang) agar api datang membakarnya, tetapi ternyata tidak terbakar. Dia berkata, Sesungguhnya ada di antara kalian yang berkhianat. Hendaknya setiap kabilah mengirimkan wakil untuk membaiatku. Tangan seseorang menempel di tangannya. Dia berkata, Terjadi pengkhianatan di antara kalian. Hendaknya kabilahmu membaiatku! Melekatlah tangan dua atau tiga orang. Dia berkata, Terjadi di antara kalian pengkhianatan? Mereka lalu membawa emas sebesar kepala sapi betina. Dia pun meletakkannya hingga datanglah api yang membakarnya. Rasulullah n berkata, Tidak halal harta rampasan perang bagi seorang pun sebelum kita. Allah Subhanahu wata’ala menghalalkannya bagi kita, karena mengetahui kelemahan dan kekurangan kita.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan hidayah taufik-Nya kepada kita untuk berlaku ikhlas, jujur, dan rahmat dalam berdakwah; berlaku sabar dan bersyukur menghadapi berbagai ujian dan cobaan sehingga kita termasuk golongan para hamba-Nya yang istiqamah di atas jalan-Nya yang mulia. Amin ya Rabbal alamin.


———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Minggu,21 Juli 2013/13 Ramadhan 1434H

Print Friendly