Nabi Ibrahim dan Sarah di Mesir

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Kisah ini diceritakan oleh Rasulullah n dalam hadits yang sahih dari Abu Hurairah z. Kisah ini menyangkut bapak kita, Ibrahim q, bersama istrinya, Sarah, ketika berada di negeri yang saat itu dalam kekuasaan penguasa yang bengis dan zalim.
Dalam kesempatan ini akan kita petik sebagian faedah yang berkaitan dengan tauriyah dan sejenisnya, di masa Rasulullah n dan para sahabat serta salaf yang saleh.
Abu Hurairah z berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيمُ q إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ، ثِنْتَيْنِ مِنْهُنَّ فِي ذَاتِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَوْلُهُ: إِنِّي سَقِيمٌ؛ وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا؛ وَقَالَ بَيْنَا هُوَ ذَاتَ يَوْمٍ وَسَارَةُ إِذْ أَتَى عَلَى جَبَّارٍ مِنَ الْجَبَابِرَةِ فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ هَا هُنَا رَجُلًا مَعَهُ امْرَأَةٌ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ. فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ فَسَأَلَهُ عَنْهَا فَقَالَ: مَنْ هَذِهِ؟ قَالَ: أُخْتِي. فَأَتَى سَارَةَ، قَالَ: يَا سَارَةُ، لَيْسَ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مُؤْمِنٌ غَيْرِي وَغَيْرَكِ، وَإِنَّ هَذَا سَأَلَنِي فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّكِ أُخْتِي، فَلاَ تُكَذِّبِينِي. فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا فَلَمَّا دَخَلَتْ عَلَيْهِ ذَهَبَ يَتَنَاوَلُهَا بِيَدِهِ فَأُخِذَ فَقَالَ: ادْعِي اللهَ لِي وَلاَ أَضُرُّكِ. فَدَعَتِ اللهَ فَأُطْلِقَ، ثُمَّ تَنَاوَلَهَا الثَّانِيَةَ فَأُخِذَ مِثْلَهَا أَوْ أَشَدَّ فَقَالَ: ادْعِي اللهَ لِي وَلَا أَضُرُّكِ. فَدَعَتْ فَأُطْلِقَ فَدَعَا بَعْضَ حَجَبَتِهِ فَقَالَ: إِنَّكُمْ لَمْ تَأْتُونِي بِإِنْسَانٍ، إِنَّمَا أَتَيْتُمُونِي بِشَيْطَانٍ فَأَخْدَمَهَا هَاجَرَ، فَأَتَتْهُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فَأَوْمَأَ بِيَدِهِ مَهْيَا قَالَتْ: رَدَّ اللهُ كَيْدَ الْكَافِرِ -أَوْ الْفَاجِرِ- فِي نَحْرِهِ وَأَخْدَمَ هَاجَرَ. قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: تِلْكَ أُمُّكُمْ، يَا بَنِي مَاءِ السَّمَاءِ

“Tidak pernah Ibrahim q ‘berdusta’ kecuali tiga kali. Dua di antaranya dalam Dzat Allah k, yaitu ucapan beliau (dalam ayat—ed.): إِنِّي سَقِيمٌ (kemudian ia berkata, “Sesungguhnya aku sakit”), juga ucapan beliau (sebagaimana dalam ayat—ed.): بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا (“Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya”).
Beliau (n) melanjutkan, “Pada suatu hari, Ibrahim dan Sarah masuk ke (wilayah) salah seorang penguasa zalim. Dikatakan kepada penguasa itu, ‘Sesungguhnya di sini (wilayahmu) ada seorang pria bersama seorang wanita yang sangat cantik.’ Dia pun menemuinya dan menanyakan tentang wanita itu, ‘Siapakah wanita ini?’
Ibrahim berkata, ‘Dia saudara perempuanku.’ Lalu beliau (Ibrahim q) menemui Sarah dan berkata, ‘Wahai Sarah, di dunia ini tidak ada yang beriman selain aku dan engkau. Raja zalim ini menanyaiku lalu aku mengatakan kepadanya bahwa engkau adalah saudara perempuanku, maka janganlah engkau mendustakanku.’
Kemudian datanglah raja itu menjemput Sarah. Setelah Sarah masuk, dia mulai menjulurkan tangannya berusaha menyentuh Sarah, tetapi tiba-tiba dia tertahan. Raja itu berkata, ‘Doakanlah aku kepada Allah, aku tidak akan menyakitimu.’ Sarah berdoa kepada Allah, lalu dia pun terlepas.
Kemudian dia mencoba menyentuh kedua kalinya, tetapi tertahan seperti yang pertama bahkan lebih keras. Raja itu berkata, ‘Doakanlah aku kepada Allah, aku tidak akan menyakitimu.’ Sarah berdoa kepada Allah, lalu dia pun terlepas.
Lalu dia memanggil sebagian pengawalnya, dan berkata, ‘Sungguh, kamu bukannya membawa manusia kepadaku, tetapi setan.’ Raja itu pun menyerahkan Hajar kepada Sarah sebagai pelayan. Kemudian dia menemui Ibrahim yang sedang shalat. Ibrahim memberi isyarat, ‘Ada apa?’
Sarah berkata, ‘Allah mengembalikan tipu daya orang kafir—atau orang fajir—itu ke jantung mereka sendiri dan menyerahkan Hajar sebagai pelayan’.”
Abu Hurairah berkata, “Itulah ibunda kalian, wahai putra air langit (Zamzam).”1
Dalam riwayat al-Bukhari, sahabat Abu Hurairah z mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda,
Ibrahim q hijrah membawa Sarah sampai ke sebuah negeri yang dikuasai oleh seorang raja atau penindas. Dikatakan kepadanya, “Ibrahim sudah masuk (negeri ini) membawa seorang wanita yang sangat cantik.”
Lalu datanglah utusan kepada Ibrahim dan bertanya, “Wahai Ibrahim, siapakah wanita yang bersamamu ini?”
“Saudara perempuanku,” kata Ibrahim. Kemudian Ibrahim kembali kepada Sarah dan berkata, “Jangan engkau mendustakan ucapanku, karena sesungguhnya aku telah mengabarkan kepada mereka bahwa engkau adalah saudara perempuanku. Demi Allah, tidak ada yang beriman di muka bumi ini, selain aku dan engkau.”
Lalu utusan itu membawa Sarah kepada raja itu.
Tak lama, raja itu bangkit hendak menemui Sarah. Sementara itu, Sarah berwudhu, lalu shalat dan berdoa, “Ya Allah, jika (benar) aku beriman kepada-Mu dan kepada rasul-Mu serta memelihara kehormatanku selain terhadap suamiku, janganlah Engkau beri kekuasaan kepada orang kafir ini terhadapku.” Tiba-tiba raja itu terhenti napasnya, hingga jatuh bertekuk lutut.
Dalam riwayat lain, Abu Hurairah z mengatakan, “Sarah pun berkata, ‘Ya Allah, kalau dia mati, akan dikatakan bahwa wanita itulah yang membunuhnya.’ Demikianlah, raja itu berusaha mendekat dua atau tiga kali. Kemudian raja itu berkata, ‘Demi Allah, bukan manusia yang kalian bawa kepadaku, melainkan setan. Kembalikan dia kepada Ibrahim dan serahkan Hajar kepadanya.’
Akhirnya, Sarah kembali kepada Ibrahim q, dan ia berkata, ‘Apakah engkau tahu bahwa Allah telah menghinakan orang kafir itu dan menyerahkan seorang pelayan wanita?’.”2
Bandingkan dengan dongeng yang disebutkan dalam Kitab Kejadian (12:14) bahwa Nabi Ibrahim q menyerahkan Sarah lalu menerima hadiah dari raja tersebut. Baru setelah tidak mampu mendekati Sarah, raja itu mengembalikannya kepada Ibrahim q. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan.
Dalam sabda Nabi n di atas:
لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيمُ
“Nabi Ibrahim tidak berdusta….”
Menurut al-Maziri, seperti yang dinukil oleh an-Nawawi t dalam Syarahnya terhadap Shahih Muslim bahwa kedustaan dalam tugas penyampaian risalah Allah l, para nabi itu ma’shum (terjaga), baik sedikit maupun banyak. Adapun yang tidak terkait dengan urusan dakwah, seperti hal-hal yang remeh dalam urusan dunia, kemungkinan terjadi kesalahan atau tidaknya pada mereka, ada dua pendapat di kalangan ulama, baik salaf maupun khalaf.
Dalam kisah di atas, pada hadits yang pertama, tentang ‘dusta’ yang pertama, yaitu perkataan beliau q ketika diajak kepada sesembahan mereka, sebagaimana dalam ayat tersebut, “Sesungguhnya saya sakit.”
Sakit itu bukan sakit yang menimpa fisik beliau, melainkan jiwa beliau. Risau hati dan pikirannya, serta berduka melihat kesyirikan masyarakatnya, lebih-lebih mereka tidak mau menerima seruannya. Jadi, sebetulnya beliau tidaklah berdusta ketika mengatakan bahwa beliau sakit, tetapi melakukan tauriyah.
Sebelum itu, beliau memandang ke arah bintang-bintang, lalu mengatakan ucapan tersebut. Masyarakatnya tidak menyangka apa-apa, karena mereka berkeyakinan bahwa bintang-bintang itu berpengaruh terhadap sakit dan sehatnya seseorang, bahkan bahagia atau tidaknya manusia. Akhirnya, beliau dibiarkan tinggal, tidak ikut serta merayakan hari raya penduduk negeri itu.
Setelah penduduk pergi meninggalkan rumah-rumah mereka, tempat ibadah pun sepi. Tidak ada seorang pun yang menjaganya. Nabi Ibrahim q memasuki rumah ibadah mereka sambil menenteng sebilah kapak. Mulailah beliau menghancurkan berhala-berhala yang disembah masyarakatnya tanpa ada satu pun yang beliau biarkan utuh selain berhala yang paling besar. Kemudian, beliau meletakkan kapak itu di tangan berhala yang paling besar. Beliau berharap, mudah-mudahan kaumnya menyangka patung besar itulah yang menghancurkan semua berhala lainnya, karena tidak rela disembah bersama berhala yang kecil-kecil.
Ketika penduduk sudah kembali, mereka segera menuju rumah ibadah mereka. Namun, mereka tersentak. Sebagian histris melihat patung-patung sesembahan mereka kini tinggal kepingan-kepingan batu tak berarti. Sambil berteriak marah, mereka bertanya-tanya siapa yang berani berbuat zalim terhadap tuhan-tuhan mereka yang selama ini mereka puja-puja?
Demikianlah kebodohan para penyembah segala sesuatu selain Allah l, baik berhala yang diberi nama dengan nama orang-orang yang saleh, berupa kuburan orang saleh, maupun pohon-pohon; dan sebagainya. Akal mereka telah hilang.
Bagaimana tidak?
Semua yang mereka sembah selain Allah l, baik benda mati maupun benda hidup, adalah ciptaan Allah Yang Maha Memiliki kesempurnaan dari sisi mana pun. Mereka tidak berdaya apa-apa, sedekat apa pun kedudukan mereka kepada Allah l. Allah l berfirman:
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (ath-Thur: 35)
Ketika sahabat Jubair bin Muth’im z yang belum masuk Islam mendengar ayat ini dibaca oleh Rasulullah n, beliau mengatakan, “Hampir saja jantungku melompat dari rongga dadaku….”
Itulah fitrah yang masih bersih sehingga mudah menerima kebenaran, dan akhirnya beliau beriman.
Renungkan juga apa yang dialami sahabat Anshar, ‘Amr bin Jumuh z. Ketika masyarakat, keponakan, dan saudara-saudaranya sudah masuk Islam, dia masih tetap beribadah kepada berhala Manah yang sangat dipujanya.
Suatu ketika, pemuda-pemuda Anshar yang sudah masuk Islam ingin membuka mata beliau agar menerima kenyataan bahwa patung yang disembahnya adalah benda mati tak berharga.
Pada malam hari, beberapa pemuda itu mengambil Manah yang ada di sudut rumah ‘Amr dan melemparkannya ke tempat pembuangan kotoran penduduk Madinah. Setelah itu, mereka pun kembali ke rumah masing-masing sambil menunggu berita, apa yang terjadi pada ‘Amr, paman yang mereka cintai.
Pagi hari, seperti biasa, ‘Amr sambil terpincang-pincang, menuju Manah untuk beribadah. Setiba di tempat pemujaan, dia terbelalak kaget, “Di mana Manah? Siapa yang mengambilnya? Siapa yang berani menzaliminya?”
Sambil tetap marah-marah, ‘Amr berkeliling mencari Manah kesayangannya. Tiba-tiba, dia terpekik kaget karena Manah terbaring di tempat pembuangan kotoran.
Dengan penuh kasih sayang, dia mengangkat Manah, membersihkannya, lalu memberinya wewangian, “Oh, siapakah yang telah menzalimi engkau?” Kemudian diletakkannya kembali di tempat pemujaannya.
Setibanya di rumah, Manah disandarkannya ke sudut rumah tempat pemujaannya. Kemudian dia membawa sebilah pedang dan meletakkannya di pinggang Manah, seraya berkata, “Nah, ini pedangmu. Bunuhlah siapa saja yang berbuat zalim kepadamu!”
Pada malam hari, pemuda yang kemarin melarikan Manah kembali beraksi. Mereka mengangkat Manah dari tempat pemujaannya dan mereka bawa ke tempat pembuangan kotoran (comberan) penduduk Madinah sambil membelitkan bangkai seekor anjing.
Seperti biasa, pagi harinya ‘Amr datang ingin menyembah patung bisu itu. Sekali lagi, dia terpekik kaget karena Manah tidak ada di tempat. Bagaimana mungkin? Bukankah sudah diberinya pedang?
Akhirnya dia pergi mencari Manah. Dia menemukannya di comberan bersama bangkai seekor anjing. ‘Amr tertegun….
Sadarlah dia, kalau patung ini punya kekuatan, mengapa dia tidak membunuh orang yang menzaliminya, dan sekarang malah berduaan dengan bangkai seekor anjing?
“Kalau kau adalah tuhan, mengapa tidak menolong dirimu sendiri, dan mengapa kau tidur dengan bangkai anjing. Celakalah kau!” batinnya.
Akhirnya, dia semakin sadar betapa bodohnya dia. Patung batu yang dibuatnya sendiri, sudah diberinya pedang, ternyata tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia dapat menyelamatkan orang lain?
Mahasuci Allah. Sungguh, di dalam Al-Qur’an terdapat banyak perumpamaan yang menunjukkan hal ini.
Kita kembali kepada kisah Ibrahim q dan kaumnya.
Setelah mereka kembali dan melihat semua patung itu hancur kecuali yang besar, mereka berkata, “Siapa yang melakukan kekejian ini terhadap tuhan-tuhan kita? Sungguh dia adalah orang yang zalim.”

Mereka menyaksikan penghinaan luar biasa, yang sebenarnya menampakkan kepada mereka bahwa benda-benda tersebut tidak layak dijadikan tumpuan harapan, tempat meminta, syafaat, atau apa pun.
Dengan cepat, mereka memastikan bahwa ini ulah Ibrahim, karena tidak ada yang tertinggal di situ selain dia. Akhirnya, mereka menangkap Nabi Ibrahim q dan bertanya, “Engkaukah yang berbuat seperti ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?”
Nabi Ibrahim menjawab, “Bahkan yang melakukannya adalah yang paling besar itu.”
Seolah-olah beliau menyuruh mereka agar menanyakannya kepada tuhan-tuhan mereka itu, kalau mereka memang bisa berbicara. Inilah alasan mengapa beliau q mengucapkan kalimat tersebut. Jadi, sebetulnya bukan sebuah kedustaan.
(Insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 HR. al-Bukhari no. 3358.

2 HR. al-Bukhari no. 2217.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,26 April 2012/4 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly