Nasihat dan Pengarahan Asy-Syaikh Muqbil

Di antara nasihat dan pengarahan beliau rahimahullah adalah sebagai berikut.

  1. Beliau sering menasihatkan agar betul-betul memerhatikan masalah akidah (iman, keyakinan).

Beliau rahimahullah pernah berkata, “Memerhatikan masalah akidah sangat penting. Tanpa akidah, seorang muslim tidak akan mampu berhadapan dengan musuhnya. Bahkan, tidak mungkin dia melakukan suatu tindakan atau aktivitas Islami. Oleh sebab itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya dari akidah. Hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruhnya adalah dakwah kepada akidah dan hukum yang disertai dengan praktik pengalamannya.”

  1. Nasihat beliau agar memperhatikan masalah dakwah kepada tauhid.

Beliau rahimahullah pernah berkata, “Karena kalau mereka (kaum muslimin) sudah memahami dan mencintai tauhid, mereka akan mudah tunduk menerima urusan selain tauhid. Apabila mereka sudah bersih dari kesyirikan, niscaya mereka akan jauh lebih bersih dan bebas dari hal selain syirik (bid’ah dan maksiat).”

 

  1. Beliau rahimahullah mewasiatkan untuk tetap istiqamah

Beliau rahimahullah berkata, “Seandainya kita mampu istiqamah, pasti kita ditolong. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjanjikan kemenangan kepada kita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ ٧

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”(Muhammad: 7)

 

  1. Beliau rahimahullah selalu mendorong agar tetap memerhatikan ilmu dan pengajaran.

Suatu ketika, pelajaran sampai pada sanad yang berisi tentang nama az-Zuhri. Beliau rahimahullah berhenti sejenak untuk menceritakan siapa az-Zuhri.

Kata beliau rahimahullah, “Az-Zuhri rahimahullah pernah mengatakan tentang ilmu hadits bahwa tidak ada yang mencintai ilmu ini selain laki-laki tulen dan tidak ada yang membencinya selain banci. Az-Zuhri rahimahullah tidak pernah memakan buah-buahan agar tidak lemah hapalannya. Az-Zuhri juga mengatakan bahwa barangsiapa mempelajari ilmu sekaligus, niscaya hilangnya juga sekaligus.”

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menanggapi perkataan az-Zuhri, “Beliau benar ketika mengatakan bahwa barangsiapa mempelajari ilmu sekaligus, niscaya hilangnya juga sekaligus. Karena itu, siapa yang ingin mendapatkan ilmu hanya dalam sepuluh hari, satu bulan, atau satu tahun, kemudian dia merasa bosan, niscaya dia tidak mendapatkan faidah apapun.”

Para penuntut ilmu wajib mempersiapkan diri untuk mencari ilmu. Kalau hari ini dia tidak bisa memahami, mungkin esok atau lusa dia akan mengerti, insya Allah. Oleh karena itu, hendaknya kita bersungguh-sungguh sebelum ditimpa berbagai halangan. Sebab, tidak seorang pun mengetahui kapan datangnya kesibukan yang menghalanginya dari mencari ilmu.

 

  1. Beliau rahimahullah mendorong untuk bersabar menghadapi mad’u (orang yang didakwahi).

Beliau rahimahullah mewasiatkan agar memudahkan orang lain, tidak membuat mereka lari dari agama Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau rahimahullah berkata, “Sepantasnya penuntut ilmu itu memberikan kemudahan. Tidak berarti bahwa dia diberi kekuasaan penuh dalam urusan agama Allah, namun apabila dia melihat ada keringanan, hendaknya dia gembirakan kaum muslimin dengan keringanan tersebut. Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan bahwa hanyalah orang yang alim itu adalah yang memudahkan orang lain, sedangkan sikap tasydid (keras atau ekstrem) dan mempersulit bisa dilakukan semua orang.”

 

  1. Tentang masalah hajr (menjauhi, memboikot)

Beliau rahimahullah berkata, “Engkau harus memerhatikan apakah hajr yang engkau lakukan akan menjadi sebab datangnya hidayah baginya atau justru semakin bertambah keras dan menjauh. Bisa jadi, lantaran demikian dia akan bergabung dengan komunis, anggota Ba’tsi (Partai Sosial dari Irak), Makarimah, atau orang menyimpang lainnya. Adakah orang yang kamu hajr tidak mau peduli?

Terkadang sebagian orang terlalu berlebihan dalam hal hajr. Oleh karena itu, mesti dilihat terlebih dahulu maslahat terhadap seseorang dan Islam.

 

  1. Keterasingan dan jauh dari negeri sendiri merupakan suatu hal yang berat bagi seseorang.

Beliau uraikan faidah dan nasihatnya kepada para muridnya, “Keterasingan, jauh dari negeri sendiri justru melahirkan para tokoh. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga meninggalkan negerinya. Demikian pula para sahabatnya radhiallahu ‘anhum.”

Sebagian ulama mengatakan bahwa ilmu itu asing. Rihlah (merantau) mencari ilmu mengandung keberkahan dan kebaikan. Sesuatu yang hanya bisa diperoleh dengan bersusah payah akan mendorong seseorang sangat berambisi mendapatkannya.

Akan tetapi, sesuatu yang mudah, seseorang terkadang tidak begitu antusias terhadapnya, kecuali jika keadaannya seperti al-Imam asy-Syaukani yang tidak melakukan rihlah karena orang tuanya. Namun, al-Imam asy-Syaukani rahimahullah banyak belajar dari para ulama Yaman dan Allah memberinya manfaat.

 

  1. Beliau rahimahullah mewasiatkan para muridnya agar mempunyai kepercayaan terhadap para pembimbing (guru) mereka agar mereka dapat memperoleh faidah dari guru mereka.

Abdullah bin Mubarak menulis syair sebagai berikut.

Wahai para pencari ilmu, datangilah Hammad bin Zaid

Carilah ilmu darinya lalu ikatlah dengan ikatan

Jangan seperti Jahm, Tsaur, atau Amr bin Ubaid

 

  1. Beliau rahimahullah selalu mentahdzir (memperingatkan) sikap fanatik buta, meski terhadap kerabat sendiri.

Beliau rahimahullah selalu mentahdzir sikap hizbiyah, bid’ah yang tercela, dan bermajelis dengan ahlul bid’ah.

Abu Qilabah berkata, “Janganlah kamu duduk bermajelis dengan ahlul ahwa (orang yang mengikuti hawa nafsu) dan ahlul bid’ah. Sebab, aku tidak merasa aman jika mereka akan menenggelamkanmu ke dalam kesesatan dan mengaburkan sebagian yang kamu ketahui.”

Yang akan menghancurkan bid’ah ada dua hal. Yang pertama adalah aljarh wa at-ta’dil, sedangkan yang kedua tamayyuz; artinya terpisah dari mereka, tidak duduk bermajelis dengan mereka, dan tidak menghadiri ceramah mereka.

 

  1. Beliau rahimahullah mewasiatkan untuk tidak taklid dalam agama ini secara umum, apalagi terhadap beliau secara khusus.

Bahkan, beliau pernah berkata, “Jauhilah sikap taklid kepadaku. Siapakah aku sehingga harus ditaklidi. Seandainya kita ini muqallid, tentu kita harus taklid kepada Ahmad bin Hanbal atau Abu Bakr ash-Shiddiq.”

 

  1. Beliau rahimahullah menerangkan jalan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Di antaranya adalah takwa, ikhlas, tawakal, bergaul dengan para penuntut ilmu yang menjaga waktu mereka, jauh dari berbagai masalah, makan dan minum dengan makanan yang menimbulkan rasa hangat, seperti kurma, kismis, madu, jahe, dan susu segar secukupnya; menjaga kondisi tubuh dan kesehatan, dan shalat malam.

 

  1. Beliau rahimahullah selalu mentahdzir agar tidak duduk dengan orang fasik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يَخَالِلُ

“Seseorang bisa dinilai dari siapa teman dekatnya, maka perhatikanlah siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR . Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)

 

  1. Beliau rahimahullah selalu mentahdzir perbuatan ikhtilath (lelaki dan wanita berbaur di suatu tempat).

Beliau rahimahullah berkata, “Sesungguhnya ikhtilath di sekolah-sekolah justru memperburuk proses pendidikan.”

 

  1. Beliau rahimahullah selalu mendorong agar tumbuh rasa malu.

Kata beliau rahimahullah, “Malu adalah akhlak yang utama. Orang yang mempunyai rasa malu akan menjauhi banyak kemungkaran sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Kalau kamu tidak malu, maka lakukanlah sesukamu.”

 

  1. Anjuran beliau agar lemah lembut terhadap wanita, karena kelemahan, bengkok, dan cepatnya mereka berubah

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

رِفْقًا بِالْقَوَارِيرِ

“Perlahan-lahanlah, (kalau berjalan membawa) kaum wanita.” ( HR . al- Bukhari dan Muslim)

Seorang wanita yang terdidik dan bertakwa sangat besar keinginannya untuk membentuk keluarga yang lurus. Adapun wanita yang jahil sangat suka menyebarkan berbagai pikiran rendah dan buruk di rumahnya. Dia akan menghancurkan hasil pembinaan suaminya yang saleh. Belum lagi jika terjadi perselisihan antara dia dan suaminya karena dia ingin mengikuti kebiasaan masyarakat dan tidak mau berhenti pada batas yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

 

  1. Beliau rahimahullah selalu menasihatkan agar membantu wanita kepada kebaikan dan menuntut ilmu.

Beliau rahimahullah selalu menyediakan segala sesuatu yang dapat mendukung wanita untuk belajar dan agar para orang tua (terutama ayah) membawa anak yang paling besar belajar bersamanya.

 

  1. Beliau rahimahullah menasihatkan agar selalu menundukkan pandangan.

Beliau rahimahullah berkata ketika ditanya, “Apakah seorang (laki-laki) boleh melihat seorang wanita ajnabiyah (bukan mahram atau istri) yang besar maupun yang masih kecil?”

Beliau rahimahullah berkata, “Itu termasuk dosa kecil, berdasarkan ucapan Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang berdalilkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنَ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَزِنَا الْعَيْنَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ

‘Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah menentukan atas Bani Adam bagian dari zina; dia dapati demikian, tidak bisa dielakkan. Zina mata adalah memandang, zina lisan adalah berbicara.’ (HR.al-Bukhari dan Muslim)

Yang wajib adalah menundukkan pandangan, karena bisa jadi dia akan tergoda. Selamat dari kejelekan tidak dapat ditandingi oleh apapun. Ini adalah perbuatan maksiat. Semua kemaksiatan adalah kefasikan, sedangkan kefasikan itu artinya keluar dari ketaatan. Dari sinilah orang yang keluar dari ketaatan dianggap fasik.”

 

  1. Beliau rahimahullah melarang menisbahkan diri kepada istilah Wahabi.

Beliau berkata, “Siapapun tidak boleh mengatakan bahwa dirinya adalah wahabi, karena ini adalah penisbahan kepada seseorang. Adapun as-Sunnah adalah penisbahan diri kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula salafiyah, ini adalah penisbahan kepada generasi salaf ash-shalih; yaitu urusan yang dijalani dan diyakini oleh para salaf, seperti mengikuti al-Kitab dan as-Sunnah.”

(diambil dari Nubdzah Mukhtasharah)

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin


———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Sabtu,17 September 2016/14 Dzulhijjah 1437H

Print Friendly