Peran ‘Ulama Hadits dalam Menjaga Kemurnian Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Orang yang mempelajari sejarah Islam sejak zaman dahulu hingga hari ini, tentu akan menemukan bahwa ahlul hadits adalah pengikut Nabi n yang paling kokoh dan teguh mengikuti Nabi Muhammad n dalam hal akidah, manhaj, ibadah, dakwah, muamalah, dan berhujjah. Mereka, ahlul hadits, benar-benar berada pada titik tertinggi dalam keyakinan dan ketenangan bahwa manhaj salaf adalah manhaj yang haq (benar). Tidak ada kebatilan yang mampu menghadang karena manhaj ini adalah jalan lurus yang akan menjamin keselamatan dunia dan akhirat. 
Seperti apakah manusia-manusia terpilih itu? Mampukah kita mencontoh mereka? Berikut pembahasannya.
Rasulullah n bersabda:
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ، يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ
“Yang akan membawa ilmu ini kepada setiap generasi adalah orang-orang yang ‘adl1. Mereka akan membersihkannya dari penyelewengan orang-orang yang berlebihan, kedustaan orang-orang yang berada di atas kebatilan, dan takwil orang-orang yang bodoh.”

Derajat Hadits
Hadits ini diriwayatkan melalui banyak sahabat. Namun setiap jalur periwayatannya tidak selamat dari cacat yang memengaruhi kesahihannya. Di antaranya:
1. Hadits Abdullah bin Mas’ud z yang diriwayatkan oleh Al-Khathib dalam Syaraf Ashabil Hadits (hlm. 28). Di dalam sanadnya terdapat seorang perawi yang dha’if (lemah) bernama Abdullah bin Shalih Katib al-Laits.
2. Hadits Ali bin Abi Thalib z yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (1/90). Akan tetapi, salah seorang perawinya, Muhammad al-Baqir, meriwayatkannya secara mu’dhal. Maknanya, terputus sanadnya dengan dua perawi yang tidak disebutkan secara berurutan antara dia dan Ali bin Abi Thalib. Lihat keterangan Al-‘Ala’i dalam Jami’ at-Tahsil (hlm. 266).
3. Hadits Mu’adz bin Jabal z yang diriwayatkan oleh Al-Khathib dalam Syaraf Ashabil Hadits (hlm. 11). Di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abdullah bin Khirasy bin Hausyab, yang dilemahkan para ulama. Bahkan, Ibnu ‘Ammar menyandarkannya pada kedustaan.
4. Hadits Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash c yang diriwayatkan oleh Al-‘Uqaili dalam Adh-Dhu’afa’ (1/2). Hanya saja, di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Khalid bin ‘Amr al-Qurasyi yang dianggap berdusta oleh Al-Imam Yahya bin Ma’in t. Sementara itu, Al-Imam Shalih Jazarah t menisbatkannya kepada tindak memalsukan hadits.
Adapun jalur sanad yang paling kuat adalah riwayat yang dibawakan oleh Mu’an bin Rifa’ah dari Ibrahim bin Abdurrahman al-‘Udzri dalam bentuk mursal2. Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu Hiban dalam Ats-Tsiqat (4/10), Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil (1/91), Abu Nu’aim dalam Ma’rifat Ash-Shahabat (1/53), Ibnu Abdil Bar dalam At-Tamhid (1/59), Al-Khathib dalam Syaraf Ashabil Hadits hlm. 29, dan Ibnu ‘Asakir dalam At-Taarikh (2/233).
Ulama berbeda pendapat ketika menilai hadits ini. Al-Imam Ahmad dan Al-Imam Ali ibnu al-Madini menguatkannya, sebagaimana diterangkan oleh Al-Khathib dalam Syaraf Ashabil Hadits (hlm. 29, lihat pula keterangan Al-Imam Ibnul Wazir dalam kitabnya Raudhul Basim). Sementara Abul Hasan al-Qaththan—yang diikuti oleh Adz-Dzahabi—melemahkannya sebagaimana dalam kitabnya Mizanul I’tidal (1/45). Al-Imam Al-‘Iraqi berkata, ”Sungguh hadits ini telah diriwayatkan dengan sanad yang bersambung dari beberapa sahabat, seperti Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Abdullah bin ‘Amr, Jabir bin Samurah, dan Abu Umamah g. Akan tetapi, seluruhnya lemah, tidak ada satu pun yang tsabit (sahih). Tidak ada satu pun riwayat yang menguatkan hadits mursal di atas.” (At-Taqyid wal Idhah hlm. 139)

Makna Hadits
Hadits ini, menurut yang menilainya lemah, selain terdapat sisi kelemahan dalam hal sanad, juga ada yang janggal dalam matannya. Dalam hadits ini Rasulullah n menjelaskan bahwa orang yang mengemban ilmu adalah orang terbaik pada generasinya. Para pembawa ilmu adalah orang yang menentang kebatilan, membantah setiap bentuk penyelewengan, dan menjelaskan bentuk-bentuk kejahilan. Kenyataannya, banyak juga yang berilmu namun jauh dari sifat-sifat yang disebutkan oleh Rasulullah n dalam hadits di atas. Banyak juga orang berilmu yang buruk akhlaknya. Tidak sedikit pula orang berilmu namun tidak menunaikan hak-hak ilmu. Oleh karena itu, Rasulullah n membimbingkan sebuah doa untuk selalu dibaca oleh pengikutnya agar terlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْأَرْبَعِ؛ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari empat hal: Dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu’, dari jiwa yang tak pernah puas, dan dari doa yang tidak didengar.” (HR. Abu Dawud no. 1548, An-Nasai 8/263, dan Ibnu Majah no. 3837, dari Abu Hurairah z)
Adapun ulama yang menilai hadits di atas derajatnya hasan, mereka membawanya kepada pemahaman bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah n dengan hadits ini adalah perintah. Artinya, walaupun hadits di atas disampaikan dalam konteks berita, namun yang diinginkan adalah perintah. Oleh karena itu, makna hadits di atas menjadi, “Hendaknya yang membawa ilmu ini pada setiap generasi adalah orang-orang yang ‘adl. Mereka akan membersihkannya dari penyelewengan orang-orang yang berlebihan, kedustaan orang-orang yang berada di atas kebatilan, dan takwil dari orang-orang yang jahil.” Makna hadits seperti ini didukung oleh berita yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ibnu Abi Hatim yang menyebutkan bentuk perintah. (Muqaddimah al-Jarh, 2/17)
Ada juga yang memahami bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah n dengan hadits ini adalah keumuman. Jadi, makna hadits di atas adalah, “Pada umumnya (mayoritas) yang membawa ilmu ini di setiap generasi adalah orang-orang yang ‘adl. Mereka akan membersihkannya dari penyelewengan orang-orang yang berlebihan, kedustaan orang-orang yang berada di atas kebatilan, dan takwil dari orang-orang yang jahil.” Oleh karena itu, dalam kasus ditemukannya orang berilmu yang tidak tecermin kebaikan dari kehidupannya, terjadi di luar keumuman. Wallahu a’lam.

Siapakah Ulama di Setiap Zaman?
Derajat ulama ditinggikan oleh Allah l dengan ilmu yang mereka miliki. Melalui mereka, dapat diketahui mana yang halal dan yang haram, yang benar dan yang batil, yang dapat menimbulkan mudarat dan yang mendatangkan manfaat, serta hal baik dan hal buruk. Mereka adalah pewaris para nabi dan pemimpin para wali. Ikan-ikan yang ada di laut dan samudra memohonkan ampun untuk mereka. Malaikat menaungi mereka dengan sayap-sayapnya sebagai tanda ketundukan.
Kedudukan ulama lebih mulia dibandingkan ahli ibadah dan lebih tinggi derajatnya jika disandingkan dengan orang-orang zuhud. Keberadaan ulama di dunia adalah harta yang tak ternilai bagi umat, sedangkan kematian mereka merupakan musibah besar yang patut ditangisi. Mereka senantiasa melaksanakan tugas; mengingatkan orang-orang yang lalai dan memberikan bimbingan kepada orang-orang yang bodoh. Tidak pernah terlintas dalam benak siapa pun bahwa mereka akan melakukan kerusakan. Tidak pula ada seorang pun yang khawatir bahwa mereka akan mengajak menuju kebinasaan. Akhlak mulia yang mereka tunjukkan menyebabkan orang-orang yang berbuat maksiat terdorong untuk menjadi orang yang taat. Para pelaku dosa pun bertaubat dengan nasihat mereka. (Disarikan dari Akhlaq Ulama karya Al-Ajurri)
Tiga hal yang disebutkan hadits di atas merupakan ciri yang sangat nampak dan menonjol pada diri ulama. Ini terbukti dengan tidak terhitungnya riwayat yang menunjukkan perjuangan mereka menentang kebatilan, meluruskan yang bengkok, menjelaskan penyelewengan, dan membantah setiap kedustaan yang mengatasnamakan agama. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya karya tulis ulama dalam hal ini. Sebagai contoh, kitab Ar-Radd ‘alal Jahmiyyah (Bantahan terhadap Al-Jahmiyyah) karya Al-Imam Ahmad dan Al-Imam Utsman ad-Darimi. Kitab ini ditulis dan disusun sebagai bentuk penjagaan terhadap kebenaran akidah Ahlus Sunnah, sekaligus menerangkan kesesatan paham Jahmiyah. Adapun contoh-contoh lain tidak terhitung jumlahnya.
Al-Imam Al-Bukhari t menyusun kitab Khalq Af’alil ‘Ibad, yang di dalamnya terdapat bantahan terhadap Jahmiyyah yang menafikan sifat-sifat Allah l, serta membantah pendapat Jahmiyyah yang menyatakan Al-Qur’an adalah makhluk.
Al-Imam Abu Dawud t menyusun kitab As-Sunan, yang di dalamnya terdapat bantahan terhadap Qadariyyah, Murjiah, Jahmiyyah, dan Mu’aththilah. Sebagai contoh saja, Al-Imam Abu Dawud t membuat dua bab untuk membantah Jahmiyyah. Pada bab pertama beliau membantah pendapat mereka yang mengingkari sifat istiwa’ (naiknya Allah di atas Arsy), sedangkan pada bab kedua beliau membantah pendapat mereka yang mengingkari sifat nuzul (turunnya Allah ke langit dunia).
Demikian juga Al-Imam Ibnu Majah t yang menyebutkan bantahan terhadap Jahmiyyah dan Khawarij di dalam kitab Sunan-nya. Masih banyak contoh-contoh lainnya.
Benarlah yang dikatakan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin t dalam Syarah al-‘Aqidah al-Wasithiyah, ”Segala puji bagi Allah. Tidaklah seseorang melakukan kebid’ahan melainkan Allah l dengan pemberian nikmat-Nya membangkitkan orang yang akan membongkar kebid’ahan tersebut serta menghancurkannya dengan kebenaran. Hal ini merupakan perwujudan dari firman-Nya:
Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Adz-Dzikr dan Kami pula yang akan menjaganya. (Al-Hijr: 9). Inilah bentuk pemeliharaan Allah l terhadapnya.”

Besarnya Kecintaan Ulama terhadap Ilmu
Di antara ciri kuat dan kriteria mendasar dari pribadi para ulama adalah kecintaan mereka kepada ilmu hadits. Mereka rela bertahun-tahun lamanya terpisahkan dari sanak kerabat, meninggalkan kampung halaman, melawan haus dahaga, panas dan dingin, berjalan menempuh jarak yang begitu jauh. Mereka bersabar untuk hidup fakir dan menanggung sakit yang mendera. Apa pun mereka korbankan demi mendapatkan riwayat hadits Rasulullah n.
Karena cinta kepada ilmu hadits juga yang membuat sebagian ulama menyebutkan hadits lengkap dengan sanad hanya beberapa saat sebelum mereka meninggal dunia.
Abu Ja’far at-Tusturi berkata: Kami menjenguk Abu Zur’ah pada saat terakhir sebelum meninggal dunia di Masyharan. Saat itu juga hadir beberapa orang; Abu Hatim, Muhammad bin Muslim, Al-Mundzir bin Syadzan, dan beberapa ulama lainnya. Mereka saat itu sedang membahas hadits tentang talqin (menuntun orang yang akan meninggal mengucapkan kalimat tauhid) serta hadits Nabi n, ‘Talqinkanlah kalimat La Ilaha Illallah untuk orang yang akan meninggal di antara kalian.’ Namun mereka merasa malu dan segan terhadap Abu Zur’ah. Akhirnya, mereka pun mengatakan, “Marilah kita sama-sama menyebutkan hadits tersebut.”
Muhammad bin Muslim berkata, “Haddatsana (telah mengabarkan kepada kami) Adh-Dhahhak bin Makhlad dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih…” dan beliau tidak dapat melanjutkannya.
Abu Hatim kemudian berkata, “Haddatsana Bundar, ia berkata, ‘Haddatsana Abu ‘Ashim, dari Abdul Hamid bin Ja’far dari Shalih…” dan beliau tidak dapat melanjutkannya. Sementara yang lain terdiam.
Dalam keadaan akan meninggal dunia, Abu Zur’ah berkata, “Haddatsana Bundar, ia berkata, ‘Haddatsana Abu ‘Ashim, ia berkata, ‘Haddatsana Abdul Hamid bin Ja’far, dari Shalih bin Abi ‘Uraib, dari Katsir bin Murrah al-Hadhrami, dari Mu’adz bin Jabal z, Rasulullah n bersabda:
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang kalimat terakhirnya adalah Laa Ilaaha Illallah niscaya ia akan masuk ke dalam surga.” Lantas beliau pun meninggal dunia.
Abu Hatim t menambahkan, “Lalu rumah itu pun digetarkan dengan suara tangisan.” (Muqaddimah Al-Jarh, Ibnu Abi Hatim, 1/345)

Pernahkah Dunia Melihatnya?
Sungguh benar-benar menakjubkan kehidupan dan perjuangan para ulama dalam menjaga kemurnian syariat Islam. Kita hanya dapat membaca dari sejarah. Sejarah yang telah terukir dengan torehan pena penuh semangat. Betapa mengagumkan karya tulis yang mereka wariskan.
Shahih Al-Bukhari contohnya. Di dalamnya terdapat 2.602 hadits yang diriwayatkan secara bersanad sampai kepada Rasulullah n, selain hadits-hadits yang disebutkan secara berulang. Jumlah ini adalah hasil usaha beliau memilih dari seratus ribu hadits sahih yang beliau hafal. Di dalam Shahih-nya terdapat kurang lebih 2.000 perawi, yang beliau pilih dari 30.000 perawi yang beliau ketahui. Apakah saya, Anda, dan dunia pernah mendengar atau menemukan sebuah kitab seperti ini? Seluruh riwayat di dalamnya melalui jalan 2.000 perawi tsiqah (tepercaya). Nama mereka semua diketahui oleh penulisnya dan para ulama lain. Bukan hanya nama (perawi), bahkan nama ayahnya, kakeknya, tempat kelahiran dan wafatnya, waktu lahir dan saat meninggalnya, ciri-cirinya, guru-guru dan murid-muridnya. Setiap matan (isi hadits) diriwayatkan oleh fulan bin fulan dari fulan bin fulan sampai kepada Rasulullah n, sehingga setiap matan hadits dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Al-Imam Al-Bukhari t mengatakan, “Tidak ada satu pun hadits yang aku letakkan di dalam kitabku Ash-Shahih melainkan sebelumnya aku mandi dan shalat dua rakaat.” (Tarikh Baghdad 2/9, Tahdzibul Kamal hlm. 1169, Thabaqat Al-Hanabilah 1/274)
Demi Allah, keistimewaan ini hanya dimiliki oleh kaum muslimin. Walhamdulillah.
Ada pula kitab-kitab yang disusun secara khusus tentang para sahabat, seperti Thabaqat karya Ibnu Sa’d, Kitab Ash-Shahabat karya Ibnu As-Sakan, Al-Isti’ab karya Ibnu Abdil Bar, Ma’rifat ash-Shahabat karya Al-Baghawi, Usdul Ghabah karya Ibnul Atsir, Al-Ishabah karya Ibnu Hajar, dan lainnya. Setiap karya tersebut menjelaskan tidak kurang dari 10.000 sahabat, lengkap dengan biografinya.
Demikian juga kitab tarajum (biografi) yang lain, lebih kurang 100.000 ulama tabi’in dan tabi’ut tabi’in, dijelaskan dengan lengkap. Subhanallah.
Hanya Angan-angankah?
Al-Imam Al-Bukhari t meriwayatkan dari Jabir bin Abdillah z, bahwa suatu hari, 1.400-an tahun yang lalu, seorang wanita Anshar datang menemui Rasulullah n untuk menawarkan mimbar kayu. Ia berkata, ”Wahai Rasulullah, berkenankah Anda jika saya membuatkan sebuah mimbar agar Anda dapat duduk di atasnya? Sesungguhnya budakku seorang tukang kayu.” Rasulullah n menanggapi dengan antusias, “Tentu, asalkan engkau mau.” Lantas bekerjalah budak tersebut mempersiapkan mimbar, tempat duduk suri teladan umat.
Sebelumnya, Rasulullah n selalu menyampaikan khutbah dan nasihat sambil bersandar pada sebatang pohon kurma, berpegang di pokoknya. Pada hari Jum’at berikutnya, Rasulullah n menggunakan mimbar baru pemberian wanita Anshar tersebut. Beliau duduk di atasnya. Tiba-tiba, pohon kurma yang biasa digunakan Nabi n untuk bersandar berteriak dan menangis seperti tangisan anak kecil. Begitu keras tangisan pohon kurma tersebut hingga seakan-akan pohon itu terbelah. Rasulullah n pun segera turun dari mimbar dan langsung menuju ke arah pohon kurma, lalu beliau membelai dan memeluknya hingga ia pun terdiam. Nabi n pun bersabda:
“Pohon kurma itu menangis karena bersedih, tidak lagi mendengar nasihat-nasihat seperti dahulu.”
Mahasuci Allah. Betapa kita membutuhkan kesungguhan dan semangat nyata dalam meniti jalan kebenaran. Mengapa jauh berbeda sekali keadaan kita dengan keadaan para sahabat Rasulullah n? Para sahabat selalu merindukan kebersamaan dengan Rasulullah n di dunia, sebagaimana besar pula keinginan mereka untuk dapat dikumpulkan bersama Rasululah n di surga.
Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita selalu merindukan kekasih Allah, yaitu Nabi Muhammad n?
Antara kejujuran dan kedustaan yang dapat kita lakukan untuk menjawab pertanyaan ini. Renungkanlah pelajaran berharga dari hadits ini. Sebatang pohon yang keras, tidak dibebani tanggung jawab syariat, benar-benar ingin selalu dekat dengan Rasulullah n dan merindukan beliau!
Di masa kita ini kerinduan seorang muslim kepada Rasulullah n dapat diwujudkan dengan mempelajari dan mengamalkan bimbingan hidup yang beliau n wariskan kepada kita: Senang membaca dan merenungkan sabda-sabda beliau, menelaah karya tulis para ulama tentang semua masalah agama, menuntut ilmu agama dengan penuh semangat, dan mendakwahkan ajaran-ajaran beliau n sesuai dengan kemampuan.
Saudaraku, para ulama mampu melangkah hingga tingkatan rindu yang tertinggi untuk selalu berkumpul bersama Rasulullah n melalui hadits-hadits dan sabda-sabda beliau n. Inilah salah satu sebab betapa gigihnya ulama di dalam berjuang memperoleh hadits-hadits Nabi n, gemar mendengar, dan menulisnya. Mereka rela berkorban apa pun bentuknya untuk membela dan mempertahankan kehormatan Sunnah Nabawiyah. Mereka selalu membersihkan ilmu dari penyelewengan orang-orang yang berlebihan, kedustaan orang-orang yang berada di atas kebatilan, dan takwil dari orang-orang yang jahil. Mengapa? Karena masing-masing bercita-cita untuk dibangkitkan di tengah padang Mahsyar bersama rombongan Nabi n. Betapa indahnya. Di saat Abdullah bin Wahb t diminta Khalifah untuk menjadi Qadhi Mesir, beliau menolaknya. Lantas Risydin bin Sa’d bertanya akan alasannya. Abdullah bin Wahb menjawab, “Tidak mengertikah engkau bahwa para qadhi pada hari kiamat akan dikelompokkan bersama para penguasa? Sementara ulama akan digabungkan bersama para nabi?” (Siyar A’lam An-Nubala’, dalam biografi Al-Arghiyani)
Inginkah kita berada dalam barisan Nabi n? Hendakkah kita berpura-pura tidak mengerti? Bersemangatlah dalam bertafaqquh dan bersabarlah untuk tidak berhenti dalam belajar Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salaf.
Wallahu a’lam.


1 Definisi sifat al-‘adl pada diri seorang perawi hadits diperselisihkan. Akan tetapi, definisi terkuat adalah yang dinukilkan oleh Ash-Shan’ani t dari Al-Imam Asy-Syafi’i t: al-‘adl adalah seseorang yang meninggalkan dosa-dosa besar dan kebaikannya lebih banyak daripada kejelekannya. (Isbalul Mathar 60—61, dan yang semisalnya dalam Raudhul Basim hlm. 28)
Asy-Syaikh Muqbil t berkata, “(Al-‘Adl) adalah seseorang yang menjauhi dosa-dosa besar, tidak terus-menerus berbuat dosa-dosa kecil, dan melaksanakan seluruh kewajiban sebatas kemampuannya.” (Syarah Al-Ba’its)
Wallahu a’lam.
2 Hadits mursal adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang tabi’in langsung dari Rasulullah n tanpa menyebutkan perantara (sahabat).

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Minggu,20 November 2011/23 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly