Perseteruan Sepanjang Masa

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin)

Perseteruan antara al-haq dan al-batil akan senantiasa ada dan terus berlangsung. Al-haq dan al-batil memiliki penyokong masing-masing. Masing-masing memiliki bala tentara yang siap tanding. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, “Sungguh Allah l telah menjelaskan dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya n bahwa Allah l telah memiliki para wali dari kalangan manusia. Begitu pun setan, ia memiliki para wali dari kalangan manusia. Oleh karena itu, terbedakanlah antara para wali Ar-Rahman dan para wali setan.”
Allah l berfirman,
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Yunus: 62—64)
Allah l berfirman,
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Sementara itu, orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)
Penyebutan para wali setan telah pula ada. Firman-Nya,
“Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan ini tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (an-Nahl: 98—100)
Firman-Nya,
“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kepada Adam!’ maka mereka sujud kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedangkan mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (al-Kahfi: 50)
Ibrahim q berkata (dalam firman-Nya),
“Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 45)
Apabila telah diketahui bahwa ada sekelompok manusia yang menjadi wali-wali Ar-Rahman dan sekelompok lain menjadi wali-wali setan, dua kelompok tersebut wajib dibedakan, sebagaimana Allah l dan Rasul-Nya telah membedakan mereka.
Para wali Allah l adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa, seperti dalam firman-Nya,
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus: 62—63)
Dalam hadits yang sahih dari Abu Hurairah z, dari Nabi n, beliau bersabda, “Allah berfirman, ‘Barang siapa yang memusuhi para wali-Ku, sungguh dia telah menantang-Ku berperang—atau sungguh Aku telah mengumandangkan perang kepadanya. Tiadalah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku seperti ketika dia menunaikan sesuatu yang telah Aku wajibkan atasnya. Senantiasa pula hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan (amal-amal) nawafil (sunnah) hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku adalah pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia memukul, dan kakinya yang dengannya dia berjalan (melangkah). Sungguh jika dia meminta kepada-Ku pasti Aku memberinya, dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku melindunginya.” (HR. al-Bukhari no. 6502) (Lihat al-Furqan baina Auliya’u ar-Rahman wa Auliya’u asy-Syaithan, hlm. 25—28)
Perseteruan itu terus berkobar. Dalam kehidupan para nabi tampak perseteruan tersebut. Tiap nabi Allah l ada musuhnya. Mereka memusuhi, bahkan memerangi para nabi Allah l lantaran al-haq (kebenaran) yang diemban dan didakwahkannya. Allah l menggambarkan siapa musuh para nabi-Nya melalui firman-Nya,
“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am: 112)
Lihatlah sikap arogan, sombong yang dilakukan kaum Nabi Nuh q. Mereka diseru untuk menaati Allah l, tetapi ajakan tersebut tidak dihiraukan. Sikap angkuh menyebabkan mereka menolak kebenaran. Mereka adalah benar-benar kaum yang ingkar. Al-Qur’an mengisahkan hal itu,
“Nuh berkata, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya, menutupkan bajunya (ke mukanya), serta mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat’.” (Nuh: 5—7)
Telah menjadi sebuah ketetapan bahwa pembawa dakwah al-haq akan berbenturan dengan pemuja kebatilan. Nabi Ibrahim q berhadapan dengan Namrud dan ayahnya sendiri karena Namrud dan ayahnya enggan menerima apa yang didakwahkan oleh al-Khalil q. Begitu pula Nabi Musa q mesti menghadapi ketakaburan Fir’aun yang mengaku tuhan. Dakwah Nabi Musa q pun ditolaknya. Ternyata tak sebatas penolakan. Lebih dari itu, Musa q dan para pengikutnya hendak dibinasakan walau akhir dari ketakaburan Fir’aun dan bala tentaranya adalah ditenggelamkan di lautan. Itulah kisah para nabi Allah l yang memberi banyak faedah bagi insan yang mau berpikir dan mengambil pelajaran.
Begitu pula kisah dan perjuangan dakwah Rasulullah n. Kisah nan sarat perseteruan antara kebenaran melawan kebatilan. Antara dakwah tauhid melawan kesyirikan. Antara sinar kemilau Islam menghadapi kejahiliahan nan gulita. Pergumulan melawan kebatilan senantiasa ada dan akan terus ada hingga kiamat nanti.
Sungguh, kaum musyrik Quraisy benar-benar membarakan permusuhan kepada Rasulullah n dan para sahabatnya g. Kaum musyrikin Quraisy dengan segala cara dan tipu daya berusaha membungkam dakwah yang mulia. Tak sebatas itu, kaum musyrikin Quraisy pun berusaha keras membunuh Rasulullah n. Demikian pula terhadap para sahabatnya, mereka tak segan membinasakannya.
Menegakkan kebenaran diwarnai oleh tetesan darah. Diwarnai pula oleh pengorbanan harta benda yang tak sedikit. Allah l berfirman,
“(Ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap, memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Sementara itu, Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (al-Anfal: 30)
Tiadalah perseteruan itu sedemikian dahsyat melainkan lantaran mereka beriman kepada Allah l dengan keimanan yang sebenar-benarnya. Ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah l,
“Mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (al-Buruj: 8—9)
Kehidupan ulama sebagai pewaris para nabi pun tak luput dari pergulatan melawan kesyirikan, bid’ah, dan penyimpangan lainnya. Kerasnya pertentangan mengantarkan beberapa ulama memasuki penjara. Tidak hanya itu, ada pula dari kalangan ulama yang harus bersabar menghadapi cemeti para penguasa. Ujian para ulama dalam memperjuangkan kebenaran sedemikian berat. Kisah masyhur keteguhan, kesabaran, keikhlasan, dan ketawakalan al-Imam Ahmad bin Hanbal t tentu menjadi cermin bagi kaum muslimin. Walau harus hidup di balik terali besi, al-Imam Ahmad t tidak goyah pendirian. Meski siksaan mendera tubuhnya, al-Imam Ahmad t tak lantas menuruti apa yang dimau oleh para musuh dakwah. Al-Imam Ahmad t tetap bersikukuh bahwa al-Qur’an adalah kalamullah. Al-Qur’an bukan makhluk. Pendirian dan keyakinannya kokoh dipeluk.
Permusuhan kalangan ahlu hawa dan ahlu bida’ bisa ditilik pula melalui kisah al-Imam al-Hasan al-Barbahari t. Pernyataannya yang tegas terhadap ahlu hawa dan ahlu bida’ membawa al-Imam al-Hasan al-Barbahari t diasingkan. Beliau hidup dalam keadaan terisolasi. Dalam riwayat dikisahkan, saat al-Imam al-Barbahari t meninggal dunia yang berdiri menyalatkan jenazah beliau hanya satu orang. Beliau dishalatkan dalam sebuah rumah yang pintunya terkunci rapat. Ketika prosesi shalat jenazah berlangsung, wanita pemilik rumah itu mencoba mengamat-amati dari satu celah. Ternyata dia melihat di dalam rumah tersebut dipenuhi oleh para lelaki. Mereka mengenakan pakaian putih dan hijau. Setelah shalat ditutup salam, selesailah sudah shalat jenazah ditunaikan. Wanita itu pun tak melihat seorang pun di dalam rumah itu. Wanita itu lalu meminta agar jenazahnya dikebumikan di rumahnya. (Syarhu as-Sunnah, al-Imam al-Barbahari, tahqiq Khalid bin Qasim ar-Raddadi, hlm. 20—21)
Selama dakwah tauhid memberantas kesyirikan dan bid’ah terus berlangsung, maka kedengkian dan permusuhan terhadap para ulama dan pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah pun tetap terjadi. Tuduhan-tuduhan keji pun sering ditimpakan kepada para ulama yang istiqamah dalam menegakkan as-Sunnah. Sebut saja sosok ulama Ahlu sunnah wal Jamaah seperti asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab bin Sulaiman bin Ali at-Tamimi an-Najdi t. Di antara tuduhan keji terhadap beliau adalah memiliki pemikiran aneh dan bukan seorang alim. Tuduhan ini dinyatakan oleh pentolan Hizbut Tahrir, Muhammad al-Mis’ari. (Untuk selengkapnya lihat Asy-Syariah, Vol. II/No. 22/1427 H/2006)
Hanya orang-orang jahil yang akan mencela para ulama. Kerusakan daya pikir. Akibat telah tercelup pemikiran yang memusuhi dakwah tauhid, menjadikan seseorang membenci para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Di antara kelompok yang memusuhi asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab t dan dakwah yang beliau sebarkan, yaitu; kelompok Shufiyyah (Sufi), Syi’ah Rafidhah, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, dan al-Qaedah. (Asy-Syariah, Vol. II/No. 22/1427 H/2006)
Padahal para ulama yang tegak di atas as-Sunnah memperjuangkan dan berusaha menghidupkannya adalah orang-orang yang wajib dihormati. Mereka ditinggikan derajatnya karena ilmu dan amal yang ada pada dirinya, di samping lantaran upaya kerasnya mendakwahkan kebaikan ke hadapan umat. Para ulama adalah sosok yang diselimuti ketakwaan kepada Allah l, sekaligus sosok yang banyak memiliki keutamaan. Allah l berfirman,
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Sementara itu, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujadilah: 11)
Para ulama adalah sosok yang menjaga diri dari perbuatan-perbuatan durhaka kepada Allah l. Sosok yang memiliki rasa takut kepada Allah l. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an,
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28)
Meski demikian, penyikapan terhadap para ulama tidak boleh sampai berlebihan. Sebagaimana hal yang dilakukan kelompok shufiyyah yang bersikap ghuluw (ekstrem, berlebihan) dalam memperlakukan orang-orang yang dianggap alim di kalangan mereka. Bahkan sampai menjadikan kubur-kubur mereka sebagai sesuatu yang diibadahi. Wal ‘iyadzubillah.
Dari ‘Aisyah x bahwa Ummu Salamah x pernah menceritakan kepada Rasulullah n tentang gereja yang pernah dilihat di negeri Habasyah. Di dalam gereja tersebut ada gambar (bernyawa). Maka Rasulullah n bersabda, “Apabila ada orang atau hamba yang saleh di antara mereka meninggal, mereka membangun masjid (tempat ibadah) pada kuburan tersebut dan membuat gambar-gambar di dalamnya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” (HR. al-Bukhari no. 434)
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n sungguh-sungguh bersabda, “Semoga Allah l membinasakan Yahudi. Mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. al-Bukhari no. 347)
Allah l berfirman,
“Wahai Ahli Kitab, janganlah melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah mengatakan sesuatu kepada Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga.’ Berhentilah (dari ucapan itu), (itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah adalah Rabb Yang Maha Esa, Mahasuci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (an-Nisa’: 171)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah berkata, “Yahudi dan Nasrani melampaui batas dalam menyikapi para nabi mereka dan dalam menunaikan agama mereka. Sikap melampaui batas terhadap para nabi dari sisi: Nasrani menyatakan terhadap al-Masih bahwa dia adalah anak Allah. Mereka meninggikan kedudukan al-Masih melebihi kedudukannya sebagai manusia dan mendudukkannya sampai setingkat rububiyah, disebut sebagai ar-Rabb (Tuhan). Adapun Yahudi melampaui batas dalam menyikapi Uzair. Mereka katakan, ‘Uzair adalah anak Allah’.” (I’anatu al-Mustafid bi Syarhi Kitabi at-Tauhid, hlm. 245)
Wallahu a’lam.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,26 April 2012/4 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly