Pilar-pilar Dakwah Salafiyah

Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

 

Dakwah salafiyah adalah dakwah Islam yang eksis sepanjang masa. Dimulai dari dakwah yang diemban oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masanya hingga mencapai puncak kejayaan dan era keemasan. Jazirah Arab dipenuhi oleh cahaya tauhid dan sunnah yang sebelumnya gelap dengan beragam syirik dan bid’ah.

Dakwah salafiyah kemudian dilanjutkan oleh para sahabatnya di era al-Khulafa ar-Rasyidin. Dakwah ini berkembang dan tersebar luas di seantero jagat raya, membentang dari timur ke barat, menaklukkan dua kekuatan kekufuran terbesar masa itu, Romawi dan Persia.

Dakwah salafiyah terus menerangi bumi dengan sunnah dari masa ke masa dan dari generasi ke generasi. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas sepak terjang para ulama dakwah salafiyah yang dengan sabar, tegar, tekun, dan bersungguh-sungguh menyebarkan Islam dan sunnah melalui karya-karya besar mereka dalam berbagai bidang ilmu agama. Dengan gagah berani mereka membela Islam dan sunnah dengan jiwa raga, harta, dan benda melawan rongrongan kaum kafir. Dengan kedalaman ilmu dan ketajaman argumentasi, mereka meruntuhkan beragam paham sesat yang dikampanyekan oleh ahlul bid’ah dan syubhat.

Dakwah salafiyah ini akan terus eksis, tidak akan pernah sirna sepanjang masa selama masih ada ath-Thaifah al-Manshurah, hingga generasi terakhir mereka nanti akan bergabung dengan Nabi Isa ‘alaihissalam dan Imam Mahdi, berperang melawan Dajjal dan pengikutnya. Satu hal yang menakjubkan—dan ini salah satu bukti bahwa mereka di atas al-haq—adalah dakwah salafiyah sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kelak di masa Imam Mahdi tidak pernah berubah manhaj dan akidahnya.

Sebab, dakwah salafiyah yang datang dari Allah ‘azza wa jalla dan diemban oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dibangun di atas pilar-pilar baku yang kokoh, tak goyah, apalagi berubah, sepanjang masa.

Pilar-pilar tersebut seolah menjadi keistimewaan dakwah salafiyah yang membedakannya dengan dakwah bid’ah yang ada.

Barang siapa berdakwah berdasarkan pilar-pilar tersebut, dia akan lurus dan selamat. Sebaliknya, barang siapa menyimpang darinya, dia akan tersesat.

Pilar Pertama: Berpegang Teguh dengan al-Qur’an dan Sunnah

Allah ‘azza wa jalla memerintahkan segenap kaum muslimin kembali kepada pilar ini. . . . . . .

“Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai….” (Ali Imran: 103)

Tali Allah ‘azza wa jalla dalam ayat ini adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah ‘azza wa jalla juga berfirman,

“Dan bahwasanya ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain karena akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya….” (al-An’am: 153)

Dalam ayat ini disebutkan dua jalan:

  1. Jalan yang lurus (ash-shirath al-mustaqim)

Ini adalah jalan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Jalan ini dipandu oleh bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah, berujung kepada jannah.

  1. Subul (jalan-jalan kecil lagi banyak) yang berseberangan dengan ash-shirathal mustaqim. Yang dimaksud dengan subul adalah jalan-jalan bid’ah dan syubhat, sebagaimana penafsiran Mujahid rahimahullah. Jalan ini dipandu oleh setan dari kalangan manusia, yaitu ahli bid’ah, berujung kepada neraka.

Kita diperintah mengikuti jalan yang lurus, yang dijamin dengan persatuan dan keselamatan di dunia dari perpecahan dan penyimpangan, serta keselamatan di akhirat dari api neraka.

Dalam ayat yang lain, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Apa saja yang dibawa Rasul kepada kalian maka ambillah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah….” (al-Hasyr: 7)

“Perintah ini umum mencakup prinsip-prinsip agama dan hukum-hukumnya, lahir dan batinnya. Apa saja yang didatangkan oleh Rasul, maka semua hamba wajib mengambil dan mengikutinya, haram menyelisihinya. (Ayat ini juga menunjukkan) bahwa nash Rasul dalam menghukumi sesuatu sama seperti nash Allah ‘azza wa jalla. Tidak ada rukhshah (keringanan) dan alasan bagi siapa pun untuk meninggalkannya. Tidak boleh pula ada pendapat yang didahulukan di atas sabda (Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam), siapa pun dia,” ulas asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya.

Dalam ayat yang lain, Allah ‘azza wa jalla menjamin keselamatan dari kesesatan dan kesengsaraan bagi siapa saja yang mengikuti petunjuk-Nya,

“Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Yang dimaksud dengan ‘petunjuk’ di sini adalah kitab suci dan Rasul.

Barang siapa mengikuti al-Qur’an dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sunnah), ia diberi dua jaminan:

  1. Tidak tersesat ( فَلَا يَضِل ) baik di dunia maupun di akhirat.

Lafadz ini umum mencakup keselamatan dari semua jenis dan bentuk kesesatan.

  1. Tidak sengsara/celaka ( و لا يشقى ). baik di dunia maupun di akhirat.

Lafadz ini juga umum mencakup keselamatan dari segala bentuk kesengsaraan dan kecelakaan di dunia dan di akhirat.

Kedua jaminan di atas menunjukkan bahwa orangnya terbimbing ke jalan yang lurus di dunia dan akhirat, serta meraih kebahagiaan dan rasa aman di dunia dan akhirat. (Tafsir as-Sa’di)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, mayoritas kesesatan yang ada ini terjadi pada seseorang yang tidak berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah, sebagaimana halnya al-Imam az-Zuhri rahimahullah berkata bahwa dahulu ulama kita menyatakan,

الْاِعْتِصَامُ بِالسَّنَّةِ هُوَ النَّجَاةُ

“Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan.”

Al-Imam Malik rahimahullah juga berkata,

السُّنَّةُ كَسَفِينَةِ نُوحٍ، مَنْ رَكِبَهَا نَجَا، مَنْ تَخَلَّفَ عَنْهَا غَرِقَ وَهَوَى

“Sunnah diumpamakan seperti kapal Nabi Nuh ‘alaihissalam. Siapa saja yang menaikinya, dia selamat; dan siapa saja yang tertinggal darinya, dia tenggelam dan jatuh.” (Majmu’ Fatawa 4/56—57)

Allah ‘azza wa jalla memerintahkan kaum muslimin kembali kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua perkara dan masalah yang mereka perselisihkan.

“Jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, apabila kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)

Mengikuti Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Bukti Cinta kepada Allah ‘azza wa jalla

Mengikuti sunnah adalah bukti kejujuran cinta kita kepada Allah ‘azza wa jalla dan sebab mendapat ampunan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benarbenar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian…’.” (Ali Imran: 31)

Cinta kepada Allah ‘azza wa jalla tidak cukup semata pengakuan, tetapi harus ada pembuktian. Ayat di atas menegaskan bahwa bukti kejujuran cinta seseorang kepada Allah ‘azza wa jalla adalah mengikuti sunnah Rasul-Nya dalam semua hal, baik yang terkait dengan prinsip-prinsip agama maupun hukum-hukumnya, secara lahir maupun batin. Barang siapa mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam segala kondisi, ucapan, dan perbuatan; dia telah jujur dalam mencintai Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla pun mencintainya, mengampuni dosanya, merahmatinya, dan meluruskan langkahnya dalam semua tindak-tanduknya. (Tafsir as-Sa’di)

Allah ‘azza wa jalla menjadikan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai qudwah (teladan) yang wajib kita contoh dalam hal beragama dan dalam segala aspek kehidupan kita

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap Allah dan hari akhir, dan dia banyak berzikir kepada Allah.” (al-Ahzab: 21)

“Ayat yang mulia ini adalah kaidah besar dalam mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perkataan, perbuatan, dan semua keadaannya,” kata Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan makna ayat ini.

Dalam ayat yang lain Allah ‘azza wa jalla melarang kaum muslimin bertindak mendahului Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya,

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Hujurat: 1)

Ayat ini mengandung pelajaran adab kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mengagungkan, menghormati, dan memuliakan beliau.

Dalam ayat yang lain, Allah ‘azza wa jalla meniadakan keimanan dari siapa saja yang tidak mau kembali kepada hukum sunnah atau merasa keberatan dengan ketetapan hukum sunnah. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla menguatkan masalah ini dengan sumpah,

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa: 65)

Bahkan, dalam beberapa ayat Allah ‘azza wa jalla mengecam dan mengancam dengan keras di dunia dan di akhirat siapa saja yang menyelisihi dan menentang sunnah.

“Maka hendaklah orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Lafadz أَمْرِهِ di sini maknanya adalah jalan yang ditempuh oleh Rasul: manhaj, metode, dan sunnah beliau.

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman,

“Dan barang siapa menentang Allah dan Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa: 115)

Musyaqqah (menentang) Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam meliputi semua bentuk penentangan, di antaranya menyelisihi sunnah, mendustakan, menolak sebagian atau seluruh sunnah, mengingkari sebagian atau seluruhnya, tidak mengamalkannya dan tidak bertahkim kepadanya, serta meniti jalan selain jalan sunnah yang diajarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mengikuti selain jalan kaum mukminin meliputi beberapa hal, di antaranya adalah menentang ijma’ sahabat dan tidak mau kembali kepada pemahaman salaf. Tindakan ini diancam oleh Allah ‘azza wa jalla dengan dua ancaman keras di dunia dan akhirat:

  1. Ancaman di dunia, yaitu نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى. Allah ‘azza wa jalla membiarkan dia bergelimang dalam penyimpangannya dan kesesatan yang dia pilih, tanpa dia sadari bahwa dirinya telah menyimpang.

“Tatkala mereka berpaling (dari kebenaran) maka Allah pun memalingkan hati mereka….” (ash-Shaff: 5)

Oleh sebab itu, jarang ada ahli bid’ah yang diberi taufik untuk bertobat dari ragam kebid’ahannya. Dia justru akan semakin jauh dari kebenaran, terbenam dalam lumpur penyimpangan. Na’udzu billah min dzalik.

  1. Ancaman di akhirat yaitu dimasukkan ke dalam neraka jahannam. Sebab, siapa saja yang keluar dari petunjuk, maka dia tidak punya jalan selain menuju neraka.

Ini menjadi pertanda mengerikan bahwa menentang Rasul dan menyelisihi jalan sahabat dapat mengantarkan pelakunya kepada kekufuran. Kita memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Ancaman di atas ditujukan kepada seseorang yang telah jelas baginya petunjuk dan ilmu, namun dengan sengaja melakukan tindakan di atas. Adapun seseorang yang prinsip dasarnya adalah ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla dan berupaya keras mengikuti sunnah Rasul serta menetapi jalan para sahabat lantas terjatuh dalam tindakan dosa dan penyimpangan, Allah ‘azza wa jalla tidak akan membiarkannya dalam dosa dan kesalahannya. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla memberi dia taufik segera bertobat dari dosanya. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla akan menjaganya dan menyelamatkannya dari beragam kejelekan. (Tafsir as-Sa’di)

Al-Imam Abu Muhammad Hasan bin Ali al-Barbahari rahimahullah dalam Syarhus Sunnah (no. 69 hlm. 87) menyatakan, “Apabila engkau mendengar seseorang menikam atsar, tidak menerimanya atau mengingkari sesuatu dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, curigailah keislamannya. Sebab, dia adalah seseorang yang jelek pendapat dan mazhabnya, karena dia hakikatnya menikam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Kita mengenal Allah ‘azza wa jalla, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, al-Qur’an, kebaikan, kejelekan, dunia dan akhirat hanyalah dengan atsar.”

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah menegaskan, “Barang siapa menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia di tepi jurang kebinasaan.” (al-Ibanah al-Kubra 1/97, Ibnu Baththah)

Dari uraian panjang di atas, menjadi jelas bahwa dakwah salafiyah adalah dakwah yang dibangun di atas al-Qur’an dan as-Sunnah dalam semua sisi dakwahnya.

Dakwah salafiyah adalah dakwah yang mengajak segenap umat manusia kembali kepada bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah dalam berakidah, beribadah, bermuamalah, beradab dan berakhlak mulia, dan beragama secara total.

Pilar Ke-2: Kembali kepada Pemahaman Salaf

Pilar kedua inilah yang membedakan dakwah salafiyah dengan dakwah-dakwah lain yang berbaju Islam. Dakwah salafiyah mengajak umat kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafush shalih dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Sementara itu, dakwah-dakwah lainnya mengaku mengajak umat kepada al-Qur’an dan sunnah, namun dipahami sesuai dengan pemahaman tokoh bid’ahnya atau AD/ART dakwahnya.

Ikhwanul Muslimin (IM) pada hakikatnya mengajak umat kepada pemahaman Hasan al-Banna, Said Hawa, Sayyid Quthb, dan tokoh-tokoh mereka lainnya.

Firqah Tabligh pada hakikatnya mengajak umat kepada pemahaman Muhammad Ilyas dan kitab Fadhail A’mal yang memuat banyak hadits palsu dan dhaif.

Sururiyah pada kenyataannya mengajak umat kepada pemahaman dan gerakan hizbiyah yang dilancarkan oleh Muhammad Surur Zaenal Abidin dengan Yayasan al-Muntada al-Islami serta majalah al-Bayan dan as-Sunnah nya, selain juga pemikiran-pemikiran Salman al-‘Audah, Safar Hawali, ‘Aidh al-Qarni, Nashir al-Umar, dan kawan-kawannya.

Sururiyah juga mengajak umat untuk berwala dan bara di atas yayasan-yayasan penyandang dana yang mereka jadikan sebagai corong dakwah mereka. Sebut saja semisal Ihyaut Turats Kuwait yang bencananya sudah mendunia, mencabik-cabik persatuan dakwah salafiyah di seluruh dunia, menelan korban para da’i yang lemah manhaj sehingga bergabung menjadi para pembela mereka.

Haddadiyah juga demikian, pada hakikatnya mengajak semua pihak untuk fanatik kepada Abu Abdillah al-Haddad dan istrinya, Ummu Abdillah, serta tokoh-tokoh paham Haddadiyah lainnya, semisal Abdul Lathif Basymeel.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menegaskan, “Syiar sekte-sekte (sesat) ini adalah memisahkan diri dari al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’.” (Majmu’ Fatawa 3/346)

Beliau juga mengatakan, “Dengan demikian, diketahui bahwa syiar ahli bid’ah adalah tidak mau kembali kepada paham salaf. Oleh sebab itu, al-Imam Ahmad dalam Risalah Abdus bin Malik berkata, ‘Prinsip-prinsip sunnah menurut kami (Ahlus Sunnah) adalah berpegang teguh dengan apa yang dipahami para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam….” (Majmu’ Fatawa 4/155).

Al-Imam Abul Qasim al-Ashbahani rahimahullah menyatakan, “Syiar Ahlus Sunnah adalah mengukuti salafus shalih dan meninggalkan segala bentuk kebid’ahan.” (al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 1/364)

Cukup banyak argumentasi yang disebutkan oleh para ulama tentang pilar kedua ini. Di antaranya:

  1. Doa yang dipanjatkan oleh setiap muslim dalam shalatnya tatkala membaca al-Fatihah,

“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 6)

Ash-Shirathal mustaqim adalah jalan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, yaitu al-Qur’an dan sunnah.

“Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka….” (al-Fatihah: 7)

Dalam ayat yang lain, Allah ‘azza wa jalla menjelaskan siapa saja yang mendapatkan anugerah nikmat.

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasulnya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh; mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (an-Nisa: 69)

Pihak yang paling berhak mendapatkan sifat shiddiqiyah, syahadah, dan kesalehan adalah salafus shalih.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin (1/72—73) menjelaskan, “Setiap orang yang lebih mengenal dan mengikuti al-haq adalah orang yang lebih berhak dengan ash-shirathal mustaqim. Tidak ada keraguan lagi bahwasanya para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang lebih berhak dengan kriteria ini daripada Rafidhah….”

Oleh karena itulah, para ulama salaf menafsirkan ash-shirathal mustaqim dan pemeluknya sebagai “Abu Bakr, Umar, dan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam….”

Dengan uraian di atas, menjadi jelas bahwa makna doa yang dipanjatkan oleh setiap orang yang membaca al-Fatihah ini adalah memohon kepada Allah ‘azza wa jalla hidayah al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafush shalih. Inilah hakikat ash-shirathal mustaqim dan puncak hidayah. Wallahul muwaffiq.

  1. Hadits yang mengabarkan tentang perpecahan umat menjadi 73 golongan, semua diancam dengan neraka kecuali satu golongan yang selamat (al-Firqah an-Najiyah).

Pada riwayat yang lain dijelaskan tentang golongan yang selamat itu adalah

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“Apa yang aku dan para sahabatku ada di atasnya.”

Lafadz di atas sangat tegas menunjukkan bahwa jalan keselamatan yang ditempuh al-Firqah an-Najiyah adalah mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (sunnah) dan para sahabatnya (pemahaman salafush shalih).

  1. Wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hayatnya sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu,

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah k dan mendengar serta taat walaupun (dipimpin oleh) budak Habasyah. Siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti niscaya akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka hendaklah kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin yang terbimbing sepeninggalku. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian….” (HR. Ahmad no. 41126 dll., hadits ini sahih dengan banyaknya penguat)

Al-Imam Abu Ishaq asy-Syathibi rahimahullah menjelaskan, “Dalam hadits ini—sebagaimana yang engkau lihat—Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin dengan sunnah beliau. (Ini menunjukkan) bahwa termasuk mengikuti sunnah beliau adalah mengikuti sunnah mereka.” (al-I’tisham 1/104)

Selain itu, hadits di atas tegas menunjukkan bahwa sebab keselamatan dari berbagai perpecahan, perselisihan, dan penyimpangan bid’ah sepeninggal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah berpegang teguh dengan sunnah dan kembali kepada pemahaman salafush shalih.

Lafadz عَلَيْكُمْ juga menjadi dalil yang menunjukkan kewajiban berpegang teguh dengan sunnah dan kewajiban kembali kepada pemahaman salaf. Kewajiban ini diperkuat oleh beberapa hal, di antaranya:

  1. Perintah ini disebutkan dalam konteks wasiat yang menunjukkan perkara tersebut sangatlah urgen.
  2. Wasiat ini disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di akhir hayatnya.
  3. Perintah ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai solusi umatnya dari fenomena perpecahan yang ada.
  4. Beliau menegaskan perintah ini dengan sabdanya,

تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian.”

  1. Keutamaan yang ada pada generasi salafush shalih, terutama sahabat, tercantum dalam al-Qur’an, as-Sunnah, dan penjelasan ulama.

Ini adalah sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun dan generasi mana pun, kecuali orang-orang yang meniti jejak langkah mereka dengan baik.

Di antara keutamaan tersebut adalah:

  • Mendapatkan predikat ‘khairul ummah’ (umat terbaik).

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah….” (Ali Imran: 110)

Yang pertama kali mendapat pujian ini adalah para sahabat. Sebab, mereka adalah muslimin generasi pertama dan ayat ini turun di masa mereka. Termasuk di dalam ayat ini ialah siapa saja yang mengikuti jalan yang ditempuh oleh para sahabat.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan, “Pendapat yang sahih adalah ayat ini umum pada tiap umat. Setiap generasi sesuai dengan kondisinya masing-masing. Generasi yang terbaik adalah generasi yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus di tengah-tengah mereka (para sahabat), kemudian generasi setelahnya, lalu yang berikutnya….”

  • Salafus shalih dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in adalah tiga generasi terbaik umat ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik orang adalah generasiku (sahabat), kemudian yang setelahnya (tabi’in), lalu yang berikutnya (tabi’ut tabi’in).” (HR. al-Bukhari no. 2652 dan Muslim no. 2533/212 dari Abdullah bin Mas’ud z)

Terbaik yang dimaksud di sini bersifat umum, meliputi iman, amal, dan pemahaman agamanya.

  • Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ‘azza wa jalla ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah ‘azza wa jalla, dan Allah ‘azza wa jalla menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)

Ayat ini tegas menjelaskan keutamaan dan pujian Allah ‘azza wa jalla terhadap sahabat Muhajirin dan Anshar dari beberapa sisi:

  • Allah ‘azza wa jalla telah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah ‘azza wa jalla. Ini jelas menunjukkan bahwa Allah ‘azza wa jalla meridhai iman, akidah, manhaj, ibadah, amalan, dan pemahaman mereka dalam beragama.
  • Allah ‘azza wa jalla telah menjamin mereka dengan surga yang abadi.
  • Mereka adalah orang-orang yang meraih kemenangan besar di dunia dan akhirat dengan keutamaan yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada mereka.

Keutamaan di atas dianugerahkan kepada para sahabat, dan telah berlalu masanya. Adapun orang-orang yang tidak termasuk sahabat Nabi, mereka hanya dapat meraih keutamaan di atas dengan sebuah persyaratan yang sangat prinsip, yaitu,

وَ الذِّينَ اْتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ

“Orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.”

  • Keutamaan khusus yang dimiliki oleh para sahabat.

Allah ‘azza wa jalla telah memilih mereka untuk menemani dan membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Barang siapa di antara kalian yang hendak mengikuti sunnah (jalan hidup), hendaklah mengikuti sunnah orang yang telah mati (Rasul dan para sahabat). Sebab, orang yang masih hidup belum aman dari fitnah (godaan).

Merekalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang yang paling afdal pada umat ini, yang terbaik hatinya, yang paling mendalam ilmunya, dan paling sedikit memberat-beratkan diri.

Mereka adalah suatu kaum yang Allah ‘azza wa jalla pilih untuk menemani Nabi-Nya dan menegakkan agama-Nya. Maka dari itu, ketahuilah keutamaan mereka. Ikutilah jejak langkah mereka. Berpegang teguhlah dengan akhlak dan agama mereka semampu kalian. Sebab, mereka adalah orang-orang yang di atas petunjuk yang lurus.” (Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih, 2/97, Ibnu Abdil Barr)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Kekhususan ini tidak ditetapkan untuk siapa pun selain para sahabat, walau amalannya lebih banyak daripada amalan salah seorang sahabat.” (Majmu’ Fatawa 4/465)

  • Para sahabat adalah pintu yang mengamankan umat dari beragam fitnah dan kesesatan.

Al-Imam Muslim rahimahullah (no. 2531) meriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu yang berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَأَنَا أَمَنَةٌ لِأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ، وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لِأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ

“Aku adalah pengaman bagi para sahabatku. Apabila aku pergi (wafat), akan datang kepada sahabatku apa yang dijanjikan. Dan para sahabatku adalah pengaman bagi umatku. Apabila mereka telah pergi, akan datang kepada umatku apa yang dijanjikan….”

“Para sahabat sebagai pengaman bagi umat Islam dari munculnya bid’ah, aneka peristiwa dalam agama, berbagai fitnah pada agama, terbitnya tanduk setan, penguasaan Romawi dan yang lainnya atas muslimin, kehormatan Madinah dan Makkah yang ternodai, dan lain-lainnya. Ini semua adalah mukjizat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Syarah an-Nawawi terhadap hadits ini)

  • Manhaj salaf senantiasa dijaga oleh Allah ‘azza wa jalla.

Firman Allah ‘azza wa jalla,

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr dan sesungguhnya kami benar-benar menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Adz-Dzikr adalah al-Qur’an.

Di antara konsekuensi pasti terjaganya al-Qur’an adalah terjaganya sunnah, karena sunnah adalah penjelas isi al-Qur’an.

Di antara konsekuensi pasti terjaganya al-Qur’an dan as-Sunnah adalah terjaganya pemahaman dan manhaj salaf, karena al-Qur’an dan as-Sunnah harus dipahami dengan pemahaman mereka.

  • Ijma’ (kesepakatan) sahabat adalah hujah yang baku.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sumber pengambilan dalil dalam menetapkan hukum-hukum syariat, di antaranya, “Ijma’ disepakati oleh kaum muslimin, baik fuqaha, Sufi, ahli hadits, ahli kalam, maupun selain mereka secara global, namun diingkari oleh sebagian ahli bid’ah dari kalangan Mu’tazilah dan Syi’ah. Akan tetapi, ijma’ yang diketahui (dengan pasti) adalah (ijma’) para sahabat. Adapun setelah (masa) itu, pada umumnya ada halangan untuk diketahui.” (Majmu’ Fatawa 11/341)

  • Amalan (meliputi ucapan dan perbuatan) seorang sahabat adalah hujah, selama tidak bertentangan dengan al- Qur’an dan as-Sunnah serta tidak ada sahabat yang lain yang menyelisihinya.

Apabila ada khilaf, yang sesuai dengan dalil adalah pendapat rajih (kuat) yang diamalkan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, di antaranya Abu Hanifah, Malik, pendapat yang masyhur dari Ahmad, dan salah satu pendapat asy-Syafi’i. (Majmu’ Fatawa 20/14)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah dalam kitabnya, A’lamul Muwaqqi’in, bahkan menyebutkan 46 sisi argumentasi yang menegaskan bahwa amalan sahabat adalah hujah.

  • Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah panjang lebar menjelaskan dan kemudian menyimpulkan, “Ilmu yang paling afdal tentang tafsir al-Qur’an dan makna hadits serta pembicaraan tentang halal dan haram adalah apa yang ma’tsur (diriwayatkan) dari sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in hingga sampai pada masa imam-imam (ulama) Islam yang tersohor yang dijadikan teladan, seperti yang telah kita sebutkan namanya.” (Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘Ala Khalaf 41)

Beliau rahimahullah juga menegaskan (hlm. 45), “Ilmu yang bermanfaat dari semua ilmu yang ada adalah menghafal nash-nash al-Qur’an dan sunnah, memahami maknanya dan terkait dengan apa yang diriwayatkan dari sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, dalam memahami makna al-Qur’an dan hadits.”


Yang menafsirkan ash-shirathal mustaqim dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, dan Umar adalah Abul Aliyah dan al-Hasan al-Bashri. Lihat Tafsir ath-Thabari.


———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Sabtu,20 Juni 2015/3 Ramadhan 1436H

Print Friendly