Tayammum bagian 3

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari)

Islam adalah agama yang mudah dan ringan. Salah satu bukti dari kemudahan agama yang mulia ini adalah syariat tentang Tayammum sebagai pengganti wudhu menggunakan air. Pembahasan  Tayammum dalam berbagai kitab fiqh sebenarnya cukup panjang, namun kami mencoba mengangkat pembahasan masalah ini dengan ringkas agar mudah dicerna tanpa menafikan patokan-patokan ilmiah sebuah ilmu, walaupun ternyata kemudian pembahasan ini masih dirasa cukup panjang sehingga kami terpaksa memuatnya secara berseri dalam beberapa edisi. Melanjutkan pembahasan Tayammum edisi yang lalu, pembahasan Tayammum kali ini sampai pada pembahasan yang terakhir.

Mencari Air
ketika Tidak Ada Air untuk Wudhu
Seseorang yang tidak mendapatkan air, hendaknya berusaha mencari air terlebih dahulu, dengan dalil firman Allah I:

“Jika kalian tidak mendapatkan air maka bertayammumlah…”
Pernyataan “tidak mendapatkan air” menunjukkan telah dilakukan usaha pencarian air sebelum itu. (Asy-Syarhul Mumti’, 1/324)
Demikian pendapat dalam madzhab Asy-Syafi‘i, pendapat Al-Imam Malik, Dawud dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad. Adapun Abu Hanifah berpendapat bila orang tersebut memperkirakan di tempat yang dekat dengannya ada air, maka dia harus mencarinya namun bila tidak ada di sekitarnya maka tidak wajib baginya mencari air. (Al-Majmu’, 2/287)
Al-Imam Asy-Syafi’i menyatakan bila telah datang waktu shalat sementara air tidak ada di tempat tersebut, kemudian ketika mencarinya ia khawatir kendaraannya akan diambil orang atau khawatir ketinggalan teman-temannya atau ia khawatir melewati jalan yang harus ditempuh untuk mendapatkan air ataupun khawatir waktu shalat akan habis bila ia mencari air, maka boleh baginya untuk tayammum. Namun apabila dirinya aman dari semua itu maka wajib baginya untuk mencari air sebelum tayammum. (Al-Umm, 1/63)
Ibnu Hazm juga menyatakan yang semakna dengan ucapan ini. (Al-Muhalla, 1/350)
Sehingga dengan demikian seseorang hendaknya mencari air sebelum ia bertayammum selama pencarian air tersebut tidak memberatkannya, di mana dia dengan mudah mendapatkan air di sekitarnya atau di dekatnya, dan dengan perhitungannya di sana dia bisa mendapatkan air. Demikian pula, pencariannya tidak terluputkan darinya waktu shalat. (As-Sailul Jarrar, 1/316)

Keberadaan Tayammum, Apakah Mengangkat/ Menghilangkan Hadats?
Dalam masalah ini ahlul ilmi terbagi dalam tiga pendapat:
1.    Tayammum mengangkat hadats/ janabah secara mutlak, seperti pendapat Abu Hanifah dan satu riwayat dari Al-Imam Ahmad. Mereka berdalil dengan hadits:

“Dijadikan bagi kita tanahnya untuk bersuci.” (HR. Muslim no. 522)
Dengan demikian hukum tanah/ debu yang digunakan untuk tayammum sama dengan hukum air, karena Allah I menjadikannya sebagai pengganti air maka hukum air diberikan pula kepada tanah/ debu tersebut, dan juga Nabi n dalam sabdanya menamakan tanah/ debu itu thahur.
Berdasarkan pendapat ini maka orang yang junub bila mendapatkan air (setelah tayammumnya) ia tidak wajib baginya mandi.
2.    Tidak mengangkat hadats, akan tetapi dengan tayammum dibolehkan untuk shalat. Demikian pendapat Malik, Asy-Syafi’i dan Ahmad dalam pendapatnya yang masyhur. Berdasarkan pendapat ini, seseorang wajib bertayammum setiap hendak mengerjakan shalat, karena tayammum yang sebelumnya batal dengan masuknya waktu shalat yang berikutnya. Mereka berdalil dengan hadits ‘Amr bin Al-’Ash z yang menyebutkan sabda Nabi n  kepada ‘Amr yang shalat, bahkan mengimami manusia dengan tayammum tersebut:

“Wahai ‘Amr, engkau shalat bersama teman-temanmu sedangkan engkau dalam keadaan junub?”
Nabi n menyebutnya junub, padahal dia telah bersuci dengan tayammum. Namun akhirnya ketika ‘Amr menjelaskan sebab tayammumnya, Nabi n tertawa dan tidak mengatakan apa-apa.
3.    Tayammum mengangkat hadats namun dibatasi waktu sampai didapatkannya air. Di antara dalilnya adalah hadits ‘Imran bin Hushain z tentang seorang laki-laki yang menyendiri, tidak shalat bersama orang-orang yang shalat, karena sedang junub dan tidak mendapatkan air. Maka Nabi n menuntunkan padanya:

“Silakan engkau menggunakan tanah/ debu (bertayammum),sesungguhnya hal itu mencukupimu.”
Ketika didapatkan air, Rasulullah n memberikan satu bejana air kepada orang yang junub tersebut seraya berkata:

“Pergilah engkau (untuk mandi) lalu tuangkan air ini ke atasmu.” (HR. Al-Bukhari no. 344, 348 dan Muslim no. 682)
Hadits ini menunjukkan tayammum yang telah dilakukan akan batal bila didapatkan air. Sehingga, apabila dia mendapatkan air maka wajib baginya berwudhu ataupun mandi bagi yang telah berhadats besar.
Pendapat yang terakhir ini merupakan madzhab ahlul hadits, sebagaimana dinukilkan oleh Al-Khaththabi dan yang dirajihkan oleh Ibnu Hazm, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Asy-Syaikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi. Dan pendapat inilah yang rajih dan yang menenangkan menurut penulis dengan melakukan pen-jama’-an (mengumpulkan  perselisihan pendapat yang ada). (Al-Muhalla, 1/351; Majmu’ul Fatawa, 21/352; Fathul Bari, 1/566; Subulus Salam, 1/150-151; Adhwa`ul Bayan, 2/49-50; Asy-Syarhul Mumti’, 1/314-316; Taudhihul Ahkam, 1/424)

Tayammum Berlaku untuk
Beberapa Kali Shalat
Ahlul ilmi berselisih pendapat dalam masalah ini. Hal ini disebabkan adanya perbedaan pendapat yang telah kita sebutkan sebelumnya, apakah tayammum yang dilakukan dapat mengangkat/menghilangkan hadats atau tidak. Dan yang rajih yaitu tayammum mengangkat hadats, namun dibatasi sampai waktu didapatkannya air. Sehingga sebagaimana wudhu boleh digunakan untuk beberapa kali shalat selama belum batal, demikian pula halnya dengan tayammum5. Selama orang tersebut belum berhadats besar ataupun kecil atau mendapatkan pembatal tayammum, ia bisa menggunakan tayammumnya tersebut untuk melaksanakan beberapa shalat yang dia kehendaki. Sama saja baik ia tayammum untuk mengerjakan shalat sunnah atau ia tayammum untuk mengerjakan shalat sunnah dan shalat fardhu, ataupun tayammumnya untuk shalat fardhu. Ini merupakan pendapat Sa’id ibnul Musayyib, Al-Hasan, Az-Zuhri, Ats-Tsauri, Ashabur ra`yi, dan dinukilkan dari Ibnu ‘Abbas dan Abu Ja’far. (Al-Majmu’, 2/347; Al-Mughni, 1/164; Al-Muhalla, 1/355)
Adapun hadits dari Ibnu ‘Abbas c yang menyatakan:

“Termasuk sunnah bila seseorang tayammum ia tidak mengerjakan kecuali satu shalat kemudian ia tayammum (lagi) ketika hendak mengerjakan shalat yang lain.” (HR. Ad-Daraquthni)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata: “Sanad hadits ini sangat lemah (dha’if jiddan).” (Bulughul Maram hal. 52)
Al-Imam Ash-Shan’ani t menyatakan  bahwa dalam permasalahan ini didapati riwayat dari ‘Ali z dan Ibnu Umar c, namun kedua riwayat ini lemah dan semua riwayat ini tidak bisa dijadikan hujjah. Demikian juga, Allah I menjadikan tanah sebagai pengganti air, dan bahwasanya seseorang tidaklah wajib berwudhu dengan air ketika hendak shalat kecuali karena hadats yang menimpanya, maka demikian pula halnya dengan tayammum. Dan ini merupakan pendapat jamaah para imam ahlul hadits dan selain mereka. (Subulus Salam, 1/156)

Seseorang Mendapatkan Air setelah Dia Selesai Menunaikan Shalatnya
Siapa yang shalat dengan bertayammum kemudian setelah selesai shalat baru ia mendapatkan air, maka shalatnya sah dan tidak wajib baginya mengulangi shalatnya. Demikian pendapat yang dipegangi oleh Abu Hanifah, Asy-Syafi’i, Malik, Ahmad, Ishaq, Yahya, Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Abu Salamah bin Abdirrahman, Ats-Tsauri, Al-Auza’i, Al-Muzani, Ibnul Mundzir, jumhur salaf dan khalaf. Mereka berdalil dengan hadits Abu Sa’id Al-Khudri z, ia berkata:

“Dua orang laki-laki keluar untuk safar, lalu datang waktu shalat namun tidak ada air bersama keduanya. Maka keduanya bertayammum dengan debu yang bersih lalu shalat. Kemudian setelah shalat keduanya mendapatkan air dan waktu shalat belum habis. Salah seorang dari keduanya lalu berwudhu dan mengulangi shalatnya, sementara yang lainnya tidak mengulangi. Lalu keduanya mendatangi Rasulullah n dan menceritakan hal tersebut kepada beliau. Maka beliau berkata kepada yang tidak mengulangi shalatnya: “Engkau telah mencocoki As Sunnah dan shalatmu (yang dikerjakan dengan tayammum) mencukupi (sah).” Dan beliau berkata kepada yang lain: “Engkau mendapatkan pahala dua kali.” (HR. Abu Dawud no. 338 dan An-Nasa`i no. 433. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abu Dawud dan Shahih Sunan An-Nasa`i)
Dan pendapat inilah yang rajih menurut penulis, dengan dalil penetapan beliau n kepada orang yang tidak mengulangi shalatnya:

“Engkau telah mencocoki sunnah dan shalatmu (yang dikerjakan dengan tayammum) telah mencukupi (sah).”
Shalat orang yang tayammum tersebut sah karena shalat tersebut dilakukan ketika tidak ada air. Dan ketika ia mendapatkan air setelah shalatnya selesai dikerjakan, ia tidak wajib mengulanginya. (Subulus Salam, 1/152)
Sementara kalangan ahlul ilmi yang lainnya seperti Thawus, ‘Atha, Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar, Mak-hul, Ibnu Sirin, Az-Zuhri dan Ar-Rabi’ah -sebagaimana dihikayatkan oleh Al-Mundziri dan selainnya- berpendapat wajib mengulanginya bila masih ada waktu shalat tersebut. (Al-Majmu’, 2/353; Nailul Authar, 1/371)
Adapun apabila seseorang sedang shalat dan didapatkan air pada waktu itu maka shalat tersebut dibatalkan untuk melakukan wudhu. Karena tayammum itu berlaku ketika tidak ada air dan tidak ada halangan untuk menunaikannya, sehingga ketika ada air atau ketika hilang hambatan tersebut maka tayammum batal dan orang tersebut harus berwudhu. Demikian pendapat Al-Auza’i, Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Al-Muzani, Ibnu Syuraih, Ibnu Hazm dan yang lainnya. Inilah yang rajih menurut penulis, wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
Mereka berdalil dengan hadits Nabi n:

“Maka apabila ia mendapatkan air hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan ia usapkan air itu ke kulit badannya, karena yang demikian itu lebih baik.” (HR. At-Tirmidzi no.124, Abu Dawud no. 332, Ahmad 5/155, dari hadits Abu Dzar z. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Irwa`ul Ghalil no.153 dan Ash-Shahihah no. 3029. Begitu pula penshahihan dari Abu Hatim, Ad-Daraquthni, Adz-Dzahabi, sebagaimana dinukilkan dalam Irwa`ul Ghalil no. 153)
Al-Imam Asy-Syafi’i, Ahmad, Abu Tsaur, Dawud dan Malik. Al-Imam Malik dan Dawud berkata: “Tidak wajib baginya membatalkan shalatnya. Bahkan haram baginya membatalkan shalat tersebut dan shalat yang dikerjakan (dengan tayammum tersebut, -pen.) sah.” (Al-Muhalla, 1/353; Nailul Authar, 1/371)

Pembatal Tayammum
Tayammum merupakan pengganti wudhu, sehingga apa yang merupakan pembatal wudhu juga merupakan pembatal tayammum, seperti berhadats dan yang lainnya. Namun dalam pembatal tayammum ini ditambah dengan didapatkannya air dan hilangnya kemudharatan bagi seseorang dalam menggunakan air. (Al-Muhalla, 1/351; Al-Mughni, 1/169; As-Sailul Jarrar, 1/334; Asy-Syarhul Mumti’, 1/341)
Sebagaimana diambil pemahaman ini dari ayat dalam surat Al-Maidah yang telah lewat penyebutannya, dan dalam hadits Nabi n:

“Apabila aku perintahkan satu perkara kepada kalian maka laksanakanlah semampu kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337)
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Selasa,15 November 2011/18 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly