Yang Tercecer dari IAIN (2) – Pluralisme Agama

Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme agama juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup berdampingan di surga…. (Fatwa MUI No. 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularisme Agama)

Pluralisme inilah yang menjadi salah satu paham yang diusung oleh sejumlah akademisi PTAI. Hasil penelitian Depag 2006 di IAIN Sumatra Utara, dalam wawancara dengan salah satu dosen yang juga Dekan Fakultas Syariah IAIN Sumatra Utara. Yang bersangkutan mendukung pluralisme—walaupun dengan pemahamannya yang salah terhadap makna pluralisme yang dikenal—lantas menyalahkan MUI.

Dalam pandangan Nurcholis Madjid, agama itu ibarat jari-jari roda yang menuju kepada pusat roda (tuhan) yang sama.

Azyumardi Azra, sewaktu masih menjabat Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, mengatakan, “Menurut saya, Islam itu pluralis.”

Kautsar Azhari Noer sebagai guru besar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, aktif mengampanyekan dialog antaragama dengan terlibat aktif di MADIA (Masyarakat Dialog Antaragama), dan ia terlibat sebagai perumus gagasan “Fiqih Lintas Agama” yang menerbitkan buku dengan nama yang sama.

Duhai, seandainya mereka tidak mengatasnamakan diri dan paham mereka kepada Islam sama sekali, itu akan terasa lebih ringan dalam perasaan, walaupun itu batil. Akan tetapi, sangat disayangkan mereka justru mengatasnamakan paham ini kepada Islam, mencarikan dalil-dalil Al-Qur’an atau hadits untuk melegitimasinya padahal sebenarnya Al-Qur’an sangat menentangnya, hal yang membuat hati semakin tersayat-sayat. Bodohkah mereka atau pura-pura bodoh bahwa paham pluralisme agama sangat ditentang oleh agama Islam? Saya yakin—bukan saya kira—bahwa setiap muslim yang masih di atas fitrah akan mengetahui bahwa Islam tidak membenarkan selain agama Islam dan hanya agama Islamlah yang benar. Bagaimana tidak? Bukankah setiap muslim sejak dini sudah mengenal surat al-Kafirun yang tercantum di dalamnya pernyataan tegas tentang antipati seorang muslim terhadap orang-orang kafir secara umum.

Belum lagi sekian banyak ayat dan hadits yang lain. Ambillah sebagai contoh, firman Allah subhanahu wa ta’ala:

إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٨٥

“Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)

Dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentangku seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani lalu mati dan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya melainkan dia akan menjadi penghuni neraka.” (Sahih, HR. Muslim dan Ahmad)

Begitu gamblang akidah ini. Sungguh mengherankan bila masih saja ada pengusung paham pluralisme, yang hendak menyatukan semua agama. Mereka hanya mengekor para pendahulu mereka kalangan musuh Islam, karena sesungguhnya ajakan semacam itu bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan, ajakan seperti ini sudah ada sejak dahulu kala alias sesuatu yang kuno. Hanya saja, zaman sekarang ajakan ini dipoles dengan corak yang baru, dengan istilah pluralisme, “dialog antara agama”, atau istilah yang lain.

Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid, seorang anggota badan ulama besar Saudi Arabia, menerangkan dalam bukunya yang berjudul al-Ibthal li Nazhariyyatil Khalth bainal Islam wa Ghairihi minal Adyanbahwa upaya ini telah ada sejak zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang memotorinya adalah Ahlul Kitab, Yahudi, dan Nasrani, sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala ceritakan dalam Al-Qur’an:

وَقَالُواْ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰۗ تِلۡكَ أَمَانِيُّهُمۡۗ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَٰنَكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ ١١١ بَلَىٰۚ مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ١١٢

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.”

Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar.”

(Tidak demikian). Bahkan, barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqarah: 111—112)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman:

وَقَالُواْ كُونُواْ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰ تَهۡتَدُواْۗ قُلۡ بَلۡ مِلَّةَ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ حَنِيفٗاۖ وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ١٣٥

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah: “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.” (al-Baqarah: 135)

Maka dari itu, Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan dari upaya mereka ini, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَلَا تَلۡبِسُواْ ٱلۡحَقَّ بِٱلۡبَٰطِلِ وَتَكۡتُمُواْ ٱلۡحَقَّ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٤٢

“Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu, sedangkan kamu mengetahui.” (al-Baqarah: 42)

Mujahid rahimahullah (murid Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, red.) menafsirkan, “Yakni mencampurkan antara Yahudi, Nasrani, dan Islam.” (Tafsir ath-Thabari)

Qatadah rahimahullah (murid Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, red.) mengatakan, “Jangan kalian campur antara Yahudi, Nasrani, dan Islam, karena agama Allah subhanahu wa ta’ala hanyalah Islam. Adapun agama Yahudi dan Nasrani adalah bid’ah, bukan dari Allah subhanahu wa ta’ala.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Sesaat, ajakan tersebut padam, kemudian muncul kembali setelah zaman tabi’ut tabi’in, juga dimotori oleh orangorang Yahudi dan Nasrani, yang kemudian disambut oleh sebagian muslimin dari tokoh-tokoh sufi ekstrem, lantas padam lagi. Muncul lagi pada pertengahan abad ke-14 hijriyah, yang lagi-lagi dimotori oleh agen Yahudi Masuniyyah (mason, freemasonry), yang lagi-lagi juga disambut oleh sebagian muslimin yang ditokohkan.

Di masa ini, tak lain pengusungnya juga Yahudi dan Nasrani. Dan sekali lagi, disayangkan tak sedikit dari muslimin yang ditokohkan ikut mengampanyekan ajakan ini. Hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala-lah kami mengadu.

 

Hukum Membenarkan Agama Selain Islam

Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid menerangkan hukum paham pluralisme, beliau mengatakan, “Hal itu dalam hukum Islam merupakan ajakan bid’ah, sesat, dan merupakan kekafiran, sebuah makar jahat yang berdosa bagi mereka, ajakan menuju kepada kemurtadan total dari Islam, karena hal itu:

  1. berseberangan dengan keyakinan yang jelas,
  2. merendahkan kehormatan para rasul,
  3. membatalkan kebenaran Al-Qur’an,
  4. juga (tidak mengimani) bahwa Al-Qur’an menghapus seluruh kitabyang sebelumnya,
  5. demikian pula (tidak mengimani) bahwa Islam menghapus seluruh syariat yang sebelumnya,
  6. juga membatalkan kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup.

Jadi, jelas bahwa ini merupakan teori yang tertolak dalam syariat, haram secara pasti berdasarkan seluruh dalil syariat dalam Islam, baik Al-Qur’an, As-Sunnah, maupun ijma’ serta segala yang terkandung padanya dari dalil dan bukti. (al-Ibthal li Nazhariyatil Khalth)

Demikian pula fatwa al-Lajnah ad-Daimah (Komite Tetap Untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa) Saudi Arabia telah menjelaskan hukum masalah ini dengan jelas. Poin ke-8 berbunyi: “Bahwa ajakan untuk menyatukan agama bila muncul dari seorang muslim berarti kemurtadan yang jelas dari agama Islam….” (Saya nukilkan fatwa tersebut selengkapnya dalam buku Agar Tidak Menjadi ‘Muslim’ Liberal hlm. 402—411)

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Selasa,24 April 2012/2 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly