Abu Bakr AshShidiq Masuk Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits )

Pada suatu malam, Abu Bakr bermimpi melihat bulan turun ke Makkah lalu pecah ke seluruh rumah dan tempat di kota Makkah. Setiap rumah dimasuki oleh sekeping dari bulan itu. Abu Bakr melihat seolah-olah bulan itu menjadi satu di pangkuannya.
Setelah bangun dari tidurnya, Abu Bakr menceritakan mimpinya kepada seorang rahib di Syam, Buhaira namanya. Pendeta itu bertanya, “Dari manakah Anda?”
“Dari Makkah,” jawab Abu Bakr.
“Dari suku apa?”
“Saya dari Quraisy.”
“Apa pekerjaan Anda?”
“Saya pedagang.”
Kemudian kata Buhaira, “Kalau Allah membenarkan mimpi Anda, sesungguhnya akan diutus seorang nabi dari kaum Anda, sedangkan Anda akan menjadi pembantu utamanya di masa hidupnya, dan khalifah (pengganti) sepeninggalnya.”
Keterangan ini disimpan rapat-rapat oleh Abu Bakr, hingga tiba waktunya. Abu Bakr masih ingat—sebagaimana dikisahkan oleh as-Suyuthi—ketika dia mendengar sahabatnya, Muhammad n, mulai berdakwah, dia segera menemuinya dan berkata, “Ya Muhammad, apa buktinya ajaran yang engkau bawa ini?”
Sahabatnya, Muhammad n tersenyum sambil menjawab, “Mimpi yang engkau lihat di negeri Syam.”
Mendengat jawaban itu, Abu Bakr memeluk sahabatnya dan mencium keningnya sambil berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.”
Demikianlah, ketika Rasulullah n mengajak Abu Bakr kepada Islam, tanpa ragu-ragu dan menunda-nunda, Abu Bakr pun menyambut seruan tersebut. Setelah memeluk Islam, Abu Bakr menampakkannya terang-terangan, bahkan ikut berdakwah mengajak kaum kerabatnya atau orang-orang yang biasa duduk bersamanya kepada Islam. Melalui ajakan beliau, masuk Islam pula beberapa tokoh Quraisy yang termasuk sepuluh orang yang dijamin oleh Rasulullah n masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, sebagaimana telah diceritakan pada edisi lalu.
Kesungguhan Abu Bakr memeluk Islam tidak hanya didasari oleh mimpi, tetapi juga fitrah dan akalnya yang masih bersih. Ditambah lagi hubungan persahabatannya dengan pribadi Muhammad n yang agung, akhirnya menempatkan dirinya dalam hati Rasulullah n cukup istimewa. Di kemudian hari, ketika terjadi perselisihan antara Abu Bakr dan ‘Umar bin al-Khaththab c, Rasulullah n mengungkapkan salah satu keutamaan Abu Bakr z:
إِنَّ اللهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ: كَذَبْتَ؛ وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: صَدَقْتَ. وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُو لِي صَاحِبِي
“Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian, tetapi kalian mengatakan, ‘Engkau dusta,’ sedangkan Abu Bakr mengatakan, ‘Anda benar.’ Dia pun telah membantuku dengan diri dan hartanya, apakah kalian mau membiarkan untukku sahabatku ini?”1
Abu Bakr kembali terkenang, waktu dia berjalan-jalan di pasar ‘Ukazh. Ketika itu para penyair Arab dari berbagai suku berlomba mengungkapkan syair-syair mereka. Saat itu tampillah Qais bin Sa’idah mengucapkan syairnya dari atas untanya yang berwarna putih.
Kata Qais, “Hai manusia, dengar dan hafalkanlah. Jika kalian sudah menghafalnya, ambillah manfaatnya. Sesungguhnya, siapa yang hidup pasti mati, dan siapa yang mati, tentu lenyap. Semua yang akan terjadi pasti tiba. Sesungguhnya di langit terdapat berita, sedangkan di bumi ada pelajaran. Hamparan (bumi) yang dibentangkan, atap (langit) yang ditinggikan, bintang-bintang yang beredar, lautan yang tak pernah kering, malam yang gelap, langit yang penuh gugusan bintang. Qais bersumpah, Allah mempunyai agama yang lebih dicintai-Nya daripada agama yang kalian yakini ini. Mengapa saya lihat manusia pergi, tak pernah kembali? Apakah mereka senang tinggal lalu berdiri, ataukah mereka dibiarkan lalu tertidur?”
Pada mereka yang mula-mula pergi dari beberapa kurun ada peringatan untuk kita
Ketika kulihat tempat-tempat kematian tak ada jalan untuk kembali
Kulihat kaumku menuju ke sana, besar dan kecil
Aku pun yakin bahwa aku pasti menuju ke mana mereka kembali
Semua kejadian masa lalu terekam dalam benak Abu Bakr. Pergaulannya yang erat dengan Nabi n membuatnya banyak melihat keanggunan pribadi beliau n. Abu Bakr benar-benar mengenal Rasulullah n sebelum diutus menjadi Rasul, apalagi sesudahnya. Bagi Abu Bakr, tidak mungkin Muhammad bin ‘Abdullah ini akan berdusta atas nama Allah l, karena dia tidak pernah sekali pun berdusta kepada manusia mana pun. Tidak mungkin dia mengkhianati risalah yang diberikan oleh Allah kepadanya, karena dia tidak pernah menyelewengkan amanah yang dititipkan orang kepadanya.
Benarlah kata-kata Khadijah x tentang pribadi Rasulullah n, ketika beliau merasa gamang (cemas) melihat keadaan dirinya. Apakah dia terkena gangguan jin ataukah sedang mengalami goncangan jiwa? Tidak, orang sebaik itu tidak mungkin disia-siakan oleh Allah l.
Itulah pribadi Muhammad bin ‘Abdullah n yang dikenal oleh Abu Bakr. Karena itu, tanpa ragu-ragu sedikit pun dia menerima dakwah sahabatnya tersebut.
Dengan islamnya Abu Bakr, bertambah gembira hati Nabi n. Dalam masa pertumbuhan Islam itu, beliau z menjadi pembantu utama Rasulullah n dan teman diskusi dalam hampir setiap persoalannya.
Ilmu nasab dan sejarah Arab yang dimiliki Abu Bakr membuka peluang baginya untuk berdakwah. Beberapa pemuda Quraisy yang masih polos dan cerdas sering mendatangi majelisnya untuk menimba kedua ilmu yang di kalangan Arab ini sangat penting. Ditambah pula kedudukannya di kalangan pemuka Quraisy cukup disegani.
Mulailah Abu Bakr mengajak orang-orang yang hadir di majelisnya kepada Islam. Masuk Islam pula di tangan beliau orang-orang yang kemudian menjadi cikal bakal pembela dan pendukung utama dakwah ini, dengan jiwa raga dan harta mereka. Selain tokoh-tokoh yang dijamin masuk surga, ada pula di antara mereka al-Arqam bin Abil Arqam, yang rumahnya menjadi markas pertemuan cikal bakal masyarakat muslim, kemudian ‘Utsman bin Mazh’un, Abu Salamah bin ‘Abdul Asad g.
Meskipun demikian, Abu Bakr tidak pernah melupakan keluarganya sendiri. Masuk Islamlah Asma’, ‘Aisyah, ‘Abdullah, dan istri Abu Bakr, Ummu Ruman, serta pembantunya, ‘Amir bin Fuhairah.
Bersama Rasulullah n, Abu Bakr turut menyebarkan Islam. Semakin bertambahlah jumlah kaum muslimin.

Ujian dan Hijrah
“Tak ada seorang pun yang membawa seperti apa yang Anda bawa melainkan pasti disakiti,” kata Waraqah bin Naufal kepada Rasulullah n setelah menerima wahyu yang pertama.
Itu pula yang dialami oleh setiap orang yang menapaki jalan yang dilalui oleh Rasulullah n, sampai hari kiamat.
Abu Bakr ash-Shiddiq pun tak ketinggalan mengalaminya, bahkan termasuk dalam deretan mereka yang cukup berat menerima ujian ini. Benarlah Rasulullah n ketika ditanya tentang siapa orang yang paling berat cobaannya, beliau n pun bersabda:
الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
“(Sesungguhnya yang paling berat cobaannya) adalah para nabi, kemudian yang serupa dengan mereka, dan yang serupa dengan mereka…”2
Ibnu Katsir meriwayatkan dari ‘Aisyah yang bercerita bahwa setelah mereka berjumlah 38 orang, Abu Bakr mendesak Rasulullah n agar berdakwah terang-terangan. Akan tetapi, Rasulullah n selalu menahan diri dan mengatakan, “Kita masih sedikit, hai Abu Bakr.”
Abu Bakr belum mau berhenti, tetap mendorong agar Rasulullah n mengajak kaum muslimin terang-terangan menyuarakan Islam. Akhirnya, Rasulullah n menerima ajakannya.
Keesokan harinya, kaum muslimin menyebar bersama kabilahnya masing-masing di sekeliling Masjidil Haram. Setelah berada di dekat Ka’bah, Abu Bakr berpidato dengan suara lantang, sementara Rasulullah n duduk di dekatnya. Seruan pertama yang disampaikan Abu Bakr adalah mengajak mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.
Belum berapa lama berbicara, kaum musyrikin marah dan menyerbu Abu Bakr dan kaum muslimin. Mereka memukuli Abu Bakr dan kaum muslimin lainnya di pelataran Masjidil Haram. Sebuah pelanggaran terhadap kehormatan Tanah Suci telah dilakukan oleh orang-orang yang mengaku memuliakannya.
Tubuh Abu Bakr diinjak-injak. Tiba-tiba datang ‘Utbah bin Rabi’ah memukuli muka Abu Bakr dengan sandal hingga darah mengucur dari hidungnya. Kaum musyrikin masih belum puas, perut Abu Bakr ditendangi dan diinjak-injak.
Banu Taym, kabilah Abu Bakr sontak meradang melihat saudara mereka dikeroyok. Beberapa orang Bani Taym menyerbu dan berhasil mengusir kaum musyrikin itu. Dengan segera mereka membopong Abu Bakr dan membawanya ke rumah. Mereka khawatir Abu Bakr tewas.
Setelah membaringkan Abu Bakr di rumahnya, Banu Taym segera berlari menuju Masjidil Haram dan berteriak lantang, “Demi Allah, kalau Abu Bakr mati, kau pasti kami bunuh, ‘Utbah bin Rabi’ah!”
Mereka pun segera kembali melihat keadaan Abu Bakr. Abu Quhafah masuk bersama beberapa tokoh Banu Taym dan mulai mengajaknya bicara. Tetapi, Abu Bakr masih terkapar pingsan.
Menjelang sore, Abu Bakr sudah mulai bisa bicara. Apa yang diucapkannya pertama kali? Bukan dirinya yang diperhatikannya, apakah masih selamat atau bagaimana keadaannya? Yang pertama ditanyakannya adalah keadaan Rasulullah n.
“Apa kabar Rasulullah n? Bagaimana keadaannya?” tanyanya kepada mereka yang hadir.
Banu Taym yang membesuknya marah dan mencelanya, mengapa mengurusi orang lain padahal dirinya sendiri sedang terkapar begitu rupa?
Akhirnya, mereka meninggalkannya sambil berpesan kepada Ummul Khair, ibunya, agar memberinya makan dan minum.
Sepeninggal mereka, sang ibu mendesak agar Abu Bakr mau menelan sesuatu. Abu Bakr bertanya lagi, “Bagaimana keadaan Rasulullah n?”
“Demi Allah, Ibu tidak tahu keadaan temanmu itu,” kata sang ibu.
“Tolong, Ibu pergi menemui Ummu Jamil bintul Khaththab. Tanyakanlah kepadanya bagaimana keadaan Rasulullah n?”
Akhirnya, sang ibu menuruti kemauan putranya dan mendatangi rumah Ummu Jamil yang tak jauh dari tempat mereka.
Setibanya di sana, Ummul Khair segera menyampaikan pesan putranya, menanyakan keadaan Rasulullah n.
Ummu Jamil tidak segera menjawab, dia malah berkata, “Saya tidak kenal dengan Muhammad atau Abu Bakr. Kalau Anda mau, biar saya ikut menemui putra Anda itu.”
“Baiklah,” kata Ummul Khair.
Akhirnya mereka bergegas kembali menemui Abu Bakr.
Sementara itu, Abu Bakr masih tergeletak tak berdaya. Begitu masuk dan melihat keadaan Abu Bakr, Ummul Jamil menjerit, “Demi Allah, mereka yang memperlakukan kamu seperti ini betul-betul jahat dan kafir. Aku berharap Allah menimpakan hukuman kepada mereka.”
Abu Bakr tidak menanggapi, tetapi malah bertanya, “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah n?”
“Sst. Ada ibumu di sini, dia mendengar?”
“Tidak apa-apa, “kata Abu Bakr.
“Beliau selamat, tidak apa-apa.”
“Di mana beliau sekarang?”
“Di rumah al-Arqam bin Abil Arqam.”
Sambil berusaha bangkit, Abu Bakr berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mencicipi makanan dan minuman ini sampai aku bertemu dengan Rasulullah n.”
Dengan segera, kedua wanita itu menenangkan Abu Bakr. Setelah keadaan tenang, Abu Bakr pun keluar sambil dipapah oleh keduanya menuju rumah al-Arqam.
Melihat kedatangan Abu Bakr, Rasulullah n dan para sahabat kaget. Alangkah sedihnya mereka melihat keadaan Abu Bakr. Lebih-lebih Rasulullah n. Beliau n segera mendekat lalu memeluk Abu Bakr dan menciuminya. Para sahabat pun memeluk Abu Bakr sambil menitikkan air mata.
Melihat keadaan Rasulullah n dan sahabat ternyata baik-baik saja, Abu Bakr berkata, “Bapak dan ibuku tebusanmu, ya Rasulullah. Saya tidak apa-apa selain pukulan yang diberikan orang-orang yang fasik itu ke wajahku. Inilah ibuku, yang sangat baik kepada putranya, sedangkan Anda adalah orang yang diberkahi Allah, maka berdoalah kepada Allah agar Allah menyelamatkannya dari neraka.”
Rasulullah n menuruti permintaan sahabat yang disayanginya itu. Allah l mengabulkan doa kekasih-Nya. Saat itu juga masuk Islamlah wanita yang mulia itu.
Setelah itu, Abu Bakr mulai sering datang ke rumah itu bersama sahabat lainnya.3
(insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 HR. al-Bukhari no. 3661.

2 HR. at-Tirmidzi (2/64), Ahmad (1/172) dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani.

3 Al-Bidayah wan Nihayah (3/41).

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,26 April 2012/4 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly