Al-Lathif

Al-Ustadz Qomar ZA, Lc.

 

Mahalembut terhadap hamba-Nya, Maha Mengetahui hal-hal yang lembut, itulah al-Lathif, salah satu asma’ul husna yang Dia subhanahu wa ta’ala sebutkan dalam firman-Nya,

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Mahalembut lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 103)

“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); sedangkan Dia Mahalembut lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 14)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menyebutkan nama Allah al-Lathif dalam sebuah hadits,

“Wahai Aisyah, ada apa denganmu? Nafasmu tampak terengah-engah.”

Aisyah menjawab, “Tidak.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Engkau harus mengabarkan kepadaku atau Allah akan mengabariku, Yang Maha Mengetahui hal-hal yang lembut dan Maha Berilmu.” (Sahih, HR. an-Nasa’i dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Penulis kitab an-Nihayah berkata, “Pada nama Allah اللَّطِيفُ ( al-Lathif) terkumpul makna kelembutan dalam bab perbuatan, dan dalam bab ilmu terhadap maslahat-maslahat yang lembut, serta menyampaikannya kepada makhluk-Nya yang Allah takdirkan untuk memperolehnya.

Ungkapan,

لَطَفَ بِهِ وَلَهُ

Maknanya ialah berbuat lembut padanya.

Adapun ungkapan لَطُفَ dengan harokat dhammah pada huruf tha’ maknanya kecil atau lembut.”

Ar-Raghib rahimahullah berkata, “(Dalam bahasa Arab) sesuatu yang tidak dapat ditangkap dengan indra terkadang diungkapkan dengan kata al-Latha’if. Bisa jadi, dari sisi inilah Allah subhanahu wa ta’ala disifati dengan nama al-Lathif, yakni bermakna bahwa Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui hal-hal yang lembut. Bisa jadi pula, maknanya ialah Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya dalam hal memberikan hidayah kepada mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya.” (asy-Syura: 19)

“Sesungguhnya Rabbku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki.” (Yusuf: 100)

Dengan demikian, Allah Mahalembut terhadap hamba-Nya dalam urusanurusan yang ada dalam diri hamba tersebut, yakni yang terkait langsung dengan dirinya, dan lembut terhadapnya pada urusan-urusan yang di luar dirinya. Karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menggiring hamba- Nya kepada apa yang menjadi maslahat baginya, dari arah yang hamba itu sendiri tidak merasa. Ini adalah buah dari pengetahuan Allah, rahmat-Nya dan kemurahan-Nya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa nama ini memiliki dua makna.

  1. Bermakna al-Khabir, yang berarti ilmu-Nya meliputi hal-hal yang rahasia, yang tersembunyi, yang tersimpan dalam dada, dan segala sesuatu yang lembut. Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala sesuatu yang mungkin bagi-Nya, tidak ada sesuatu pun yang terlewat dari ilmu Allah subhanahu wa ta’ala dan pengetahuan-Nya.
  2. Kelembutan-Nya terhadap hamba-Nya dan wali-Nya yang ingin Dia beri karunia, meliputinya dengan kelembutan-Nya dan kemurahan-Nya, mengangkatnya ke derajat yang tinggi, memberikan kemudahan untuknya, dan menjauhkan-Nya dari kesulitan.

Karena itu, mengalirlah pada dirinya berbagai ujian dan berbagai ragam cobaan—yang Allah subhanahu wa ta’ala ketahui mengandung maslahat, kebahagiaan, dan akibat yang baik baginya, di dunia dan akhirat. Misalnya, Allah subhanahu wa ta’ala menguji para nabi dengan gangguan dari kaumnya kepada mereka dan dengan jihad di jalan-Nya. Allah menguji para walinya dengan sesuatu yang mereka benci agar Dia memberi mereka apa yang mereka sukai.

Inilah makna ucapan Ibnul Qayyim, “Maka dari itu, Allah memperlihatkan kepadamu kemuliaan-Nya,” yakni dengan mengujimu melalui sesuatu yang tidak engkau sukai; serta “Dia tampakkan kelembutan-Nya,” yakni pada akibat yang terpuji dan akhir yang membahagiakan.

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Betapa banyak hamba yang memperoleh berbagai keinginan dunia yang dia cari, baik berupa wilayah, kepemimpinan, atau suatu sebab yang disukai, lalu Allah subhanahu wa ta’ala memalingkannya dari hal tersebut karena kasih sayang-Nya kepadanya, agar hal tersebut tidak membahayakan urusan agamanya.

(Ketika itu) seorang hamba akan bersedih karena ketidaktahuannya dan karena tidak mengenal Rabbnya. Padahal apabila dia tahu apa yang disembunyikan untuknya di alam gaib dan apa yang dikehendaki sebagai kebaikan untuknya, tentu dia akan memuji Allah dan mensyukuri-Nya karena itu. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala Maha Pengasih dan Maha Penyayang terhadap hamba-Nya serta Mahalembut terhadap para wali-Nya.” (Dinukil dari Syarah Nuniyyah karya Muhammad Khalil Harras)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Lathif

Dengan mengimani nama Allah al-Lathif, seseorang akan memahami betapa besar kelembutan-Nya terhadap dirinya, berbagai kenikmatan Allah berikan dari arah yang dia ketahui maupun yang tidak. Ketika seseorang mengimani nama Allah al-Lathif, dia akan lebih merasaskan betapa besarnya kelembutan Allah terhadapnya. Berbeda halnya ketika seseorang belum mengetahui nama Allah al-Lathif, barangkali ia tak begitu berpikir tentang berbagai kelembutan Allah subhanahu wa ta’ala tersebut pada dirinya.

Di samping itu, keimanan terhadap nama Allah al-Lathif ini akan membuahkan kehati-hatian seseorang ketika bertindak dengan lahiriah dan batiniahnya. Sebab, semuanya diketahui oleh Allah. Selembut apa pun, Allah mengetahuinya. Mahabesar Allah dan Mahaluas ilmu-Nya.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan taufik-Nya kepada kita agar selalu melakukan hal-hal yang diridhai-Nya.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis, 1 Januari 1970/22 Syawal 1389H

Print Friendly