Apa yang Bisa Menjadi Perantara dalam Do’a

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-Nawawi)

 

Seseorang yang berdoa kepada Allah I tentu mengharapkan doanya akan dikabulkan. Demikian besar harapan agar doanya itu terkabul, sampai ada orang yang menjadikan orang yang telah mati sebagai perantara untuk menyampaikan doanya itu kepada Allah I. Dia berkeyakinan bahwa dengan adanya perantara itu, doanya akan lebih besar kemungkinannya untuk terkabul karena orang yang menjadi perantara dulunya (menurut dia) adalah orang yang shalih. Inilah alasan yang banyak dikemukakan oleh orang-orang yang suka berziarah ke makam tokoh-tokoh tertentu. Bagaimana syariat melihat praktek semacam ini?

Sumber-sumber kejahatan di tengah kaum muslimin kian hari kian bertambah, yang mengalir semakin deras dan berbahaya. Satu demi satu manusia tumbang terbawa arus yang berakhir di lautan jahiliyah masa dahulu. Sungai penyambung masa sekarang dengan masa jahiliyah dahulu itu adalah kejahilan, yang merupakan akar musibah dan dasar kerusakan. Menebarnya kejahilan tentang agama menggambarkan beberapa hal, di antaranya:
a.    Merajalelanya kezaliman, dan bentuk kezaliman yang paling besar adalah kezaliman kepada Allah I berupa syirik.
b.    Pemerkosaan terhadap agama yang tidak bisa dibendung, berakhir pada segala bentuk kebid’ahan dalam agama.
c.    Peremehan terhadap tugas dan kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah I dan Rasul-Nya, yang berakhir pada penghinaan dan pelecehan syariat.
d.    Perusakan hak dan kemerdekaan hidup yang telah diberikan oleh Allah I, yang berakhir pada runtuhnya martabat kemanusiaan dalam bentuk pembunuhan, perjudian, pencurian, perkosaan, dsb.
e.    Huru-hara hidup yang berkepanjangan, sehingga menghilangkan ketsiqahan (kepercayaan). Sang anak tidak percaya lagi kepada bapak, begitu pula sebaliknya. Sang guru tidak percaya lagi kepada muridnya, begitu sebaliknya. Rakyat tidak percaya lagi kepada pemimpinnya dan begitu sebaliknya.
Dan masih banyak lagi bentuk bala` (musibah) yang diakibatkan karena kejahilan, dan yang paling aneh dari akibatnya adalah:
a.    Tunduknya manusia yang dimuliakan oleh Allah I dengan akal kepada benda-benda yang tidak berakal, seperti batu nisan, pohon-pohon, dan tempat-tempat angker.
b.    Digantungkannya aneka ragam benda di tempat-tempat tertentu dengan keyakinan bisa menjaga dari segala bentuk bala` dan malapetaka.
c.    Menggantungkan segala bentuk kehidupan kepada orang yang tidak bisa berbuat apa-apa seperti kepada orang yang telah meninggal dunia. Sehingga suara teriakan dan panggilan menggema pada detik-detik malapetaka menimpa. Nama Al-Badawi, Abdul Qadir Jailani, sayyid, dan Walisongo menjadi pembantu dalam teriakan tersebut.
d.    Mereka meyakini bahwa hubungan antara hamba dengan Allah I bagaikan aliran listrik yang butuh kabel penghubung, dan kabel penghubung itu adalah amalan tawassul. Seseorang tidak bisa langsung berhubungan dengan Allah I sebagaimana tidak bisa berhubungan langsung dengan sang raja di atas dunia, sehingga butuh penghubung, di antaranya melalui para wali atau makam-makam mereka atau selainnya.
Tawassul dijadikan sebagai ciri sebuah aliran dan ajaran tertentu dari kalangan muslimin yang pada ujungnya menjadi ajang bisnis bagi yang berkepentingan di dalamnya. Seperti apa yang didengungkan oleh sebuah aliran sufi Qadirun Yahya, yang banyak menyebar di seluruh tanah air. Dari situ perlu dijelaskan tentang hakikat tawassul kepada segenap kaum muslimin untuk mengetahui kebatilan ajaran tersebut.

Makna Tawassul
Tawassul menurut etimologi bahasa Arab artinya: “Sesuatu yang bisa mendekatkan kepada yang lain.” (Mukhtar Ash-Shihah, hal. 721)
Ibnu Atsir di dalam An-Nihayah (5/184) mengatakan: “(Tawassul adalah) sesuatu yang akan menyampaikan kepada yang lain dan mendekatkan diri dengannya.”
Adapun menurut terminologi syariat, tawassul adalah: “Mendekatkan diri kepada Allah dengan segala bentuk ketaatan dan peribadatan, dengan  cara mengikuti sunnah Rasulullah n dan segala bentuk amalan yang dicintai Allah I dan diridhai-Nya.” (At-Tawassul Ila Haqiqati Tawassul hal. 20)

Beberapa Dalil tentang Tawassul
Allah I telah menjelaskan di dalam Al Qur`an dan Rasulullah n menjelaskan di dalam Sunnahnya tentang permasalahan ini.
Allah I berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya supaya kalian mendapatkan keberuntungan.” (Al-Maidah: 35)

“Katakanlah: Panggillah mereka yang kalian anggap (tuhan) selain Allah maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat kepada Allah dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, sesungguhnya azab Rabbmu pantas untuk ditakuti.” (Al-Isra: 56-57)
Rasulullah n bersabda:

“Aku berlindung dengan kemuliaan Allah dan kekuasaan-Nya dari kejelekan yang aku dapati dan aku takuti.”

Ucapan Ulama tentang Tawassul
Ibnu Katsir t di dalam Tafsir beliau berkata: “() “Carilah jalan pendekatan diri kalian kepada Allah”, Sufyan Ats-Tsauri berkata dari Thalhah dari ‘Atha` dari Ibnu ‘Abbas ( ) al-wasilah artinya al-qurbah (pendekatan diri). Demikan juga apa yang telah dikatakan oleh Mujahid, Abu Wa`il, Hasan, Qatadah, Abdullah bin Katsir, As-Suddi, Ibnu Zaid dan selain mereka. Bahkan ‘Atha` mengatakan: ‘Dekatkanlah diri kalian kepada Allah dengan menaati-Nya dan melakukan segala amalan yang diridhai-Nya’.” Ibnu Katsir t mengatakan: “Al-Wasilah artinya sesuatu yang akan bisa menyampaikan kepada tujuan, dan al-wasilah juga memiliki makna sebuah tempat yang tinggi di dalam jannah (surga) dan ini adalah tempat dan negeri Rasulullah di dalam jannah, dan tempat di jannah yang paling dekat dengan ‘Arsy Allah I. (Al-Wasilah yang bermakna tempat di dalam jannah) telah tsabit (pasti) dari Rasulullah n di dalam Shahih Al-Bukhari dari jalan Muhammad bin Al-Munkadir dari Jabir bin Abdillah c berkata: Rasulullah n bersabda: “Barangsiapa berdoa ketika selesai mendengar adzan:

“Ya Allah, Rabb (pemilik) panggilan yang sempurna ini dan (pemilik) shalat yang (hendak) didirikan. Berilah al-wasilah dan al-fadhilah kepada Muhammad. Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan.”
Maka dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Ka’b bin ‘Alqamah dari Abdurrahman bin Jubair dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash bahwa beliau telah mendengar Rasulullah n bersabda: “Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti apa yang dikumandangkan muadzin. Kemudian bershalawat-lah atasku, karena barangsiapa bershalawat atasku satu kali, niscaya Allah I akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Kemudian mintalah buatku Al-Wasilah, sesungguhnya al-wasilah adalah sebuah tempat di dalam jannah dan tidak pantas menempatinya melainkan seorang hamba dari hamba-hamba Allah I. Dan aku berharap bahwa akulah dia, barangsiapa meminta buatku Al-Wasilah, dia akan mendapatkan syafaatku kelak pada hari kiamat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/ 67)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Wasilah adalah qurbah (mencari kedekatan kepada Allah ) dan sebab yang akan menyampaikan kepada tujuan.” (Majmu’ Fatawa, 27/229)
Muhammad Amin Asy-Syinqithi t berkata: “Ketahuilah, jumhur ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wasilah adalah mendekatkan diri kepada Allah I dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya sesuai dengan perintah Rasulullah n dan mengikhlaskan diri untuk Allah I, karena jalan inilah yang akan menyampaikan kepada ridha Allah I dan jalan untuk mendapatkan segala kebaikan dunia dan akhirat. Dan asal dari kata wasilah adalah jalan yang akan menyampaikan kepada sesuatu dan menghubungkan dengannya. (Wasilah) adalah amal shalih menurut ijma’ ulama, karena tidak ada yang akan menyampaikan kepada Allah I melainkan dengan mengikuti Rasulullah n.” (Adhwa`ul Bayan, 2/97)
Macam-macam Tawassul
Para ulama telah menjelaskan dan mengupas permasalahan ini sehingga tidak ada syubhat dan kerancuan lagi padanya, dan tidak ada peluang lagi bagi para penyesat umat untuk mengelabui dalam permasalahan wasilah. Secara global, para ulama membagi tawassul menjadi dua macam:
Pertama, Tawassul yang disyariatkan yaitu tawassul dengan segala apa yang dibawa oleh Rasulullah n,, dan tawassul ini banyak bentuknya, di antaranya:
1. Tawassul dengan nama-nama Allah I, dan ini ada dua bentuk:
a.    Tawassul dengan nama-nama Allah I dalam bentuk umum seperti sabda Rasulullah n:

“Aku meminta kepada-Mu dengan seluruh nama yang Engkau telah menamakan diri-Mu dengannya.”1
Dalil tentang ini adalah firman Allah I:

“Dan bagi Allah nama-nama yang baik, maka berdoalah kalian dengannya.” (Al-A’raf: 118)
b.    Tawassul dengan nama-nama Allah I  yang khusus, seperti engkau ingin mendapatkan pengampunan maka engkau menyebut nama Allah I yang khusus terkait dengannya seperti:

2. Tawassul kepada Allah I  dengan sifat-sifat Allah I, dan ini memiliki dua bentuk:
a.    Tawassul kepada Allah I dengan sifat-sifat-Nya dalam bentuk umum:
ì
“Ya Allah, aku meminta kepada-Mu dengan nama-nama-Mu yang baik dan sifat-sifat-Mu yang mulia.”
b.    Tawassul kepada Allah I dengan sifat-sifat-Nya dalam bentuk khusus seperti:

“Aku berlindung dengan kemuliaan Allah dan kekuasaan-Nya dari kejelekan yang aku dapati dan aku takuti.”2
3. Tawassul dengan perbuatan-perbuatan Allah I, seperti engkau berdoa kepada Allah I setelah itu engkau bertawassul dengannya di dalam mewujudkan hal itu seperti bershalawat atas Nabi:

“Ya Allah, berilah shalawat atas Muhammad  sebagaimana  Engkau berikan shalawat atas Ibrahim.”
Engkau meminta kepada Allah shalawat atas Rasulullah n sebagaimana Allah telah bershalawat atas Nabi Ibrahim u.
4. Tawassul kepada Allah I dengan keimanan kepada-Nya dan keimanan kepada Rasul-Nya, seperti: “Ya Allah, dengan keiman-anku kepada-Mu dan kepada Rasul-Mu, aku meminta kepada-Mu demikian-demikian.” Dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah I:

“Wahai Rabb kami, sungguh kami telah mendengar seruan penyeru kepada keimanan agar kalian beriman kepada Rabb kalian, lalu kami beriman. Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tutuplah segala kesalahan kami dan matikanlah kami bersama orang-orang yang berbuat baik.” (Ali ‘Imran: 190-193)

“Wahai Rabb kami, kami beriman kepada apa yang telah diturunkan kepada kami dan kami mengikuti Rasulullah, maka masukkanlah kami dalam catatan orang-orang yang mati syahid.” (Ali ‘Imran: 53)

“Sesungguhnya ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa di dunia mereka berkata: Ya Rabb kami, kami telah beriman maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat.” (Al-Mu`minun: 109)
5. Tawassul kepada Allah I dengan keadaan orang yang berdoa seperti: “Ya Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang faqir kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku adalah tawanan di hadapan-Mu.” Nabi Zakariya u berdoa kepada Allah dengan bertawassul dengan keadaan beliau, sebagaimana yang telah Allah ceritakan di dalam firman-Nya:
v
“Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Rabbku.” (Maryam: 4)
6. Tawassul dengan doa orang shalih (-yang masih hidup, -red), dengan harapan bisa dikabulkan doanya. Hal ini telah dilakukan oleh para shahabat Rasulullah n kepada beliau, agar beliau mendoakan buat mereka baik dalam bentuk doa yang bersifat umum atau khusus. Dan telah dilakukan pula oleh ‘Umar z kepada paman Rasulullah n ‘Abbas bin Abdul Muththalibz.
7. Tawassul dengan amal shalih seperti apa yang telah diceritakan oleh Rasulullah n tentang penghuni gua yang tertutup ketika mereka berlindung padanya.3

(bersambung, insya Allah)


1 Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dari shahabat Ibnu Mas’ud z dan Ahmad Syakir mengatakan sanadnya shahih no. 3712 dan Asy-Syaikh Al-Albani menshahihkannya di dalam kitab beliau Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 199.

2 Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim no. 222 dari shahabat ‘Utsman bin Abil ‘Ash

3 Tentang hadits ini, dikeluarkan Al-Imam Al-Bukhari no. 2272 dan Muslim no. 2743 dari shahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin ‘Umar c

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Selasa,15 November 2011/18 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly