Bahaya Kemaksiatan dan Akibatnya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)

Khutbah Pertama
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، وَعَدَ مَنْ أَطَاعَهُ أَجْرًا عَظِيْمًا وأَعَدَّ لِمَنْ عَصَاهُ عَذَابًا أَلِيْمًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه { ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ }، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُه صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا، أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ مَا أَمَرَكُمْ واحْذَرُوا مَعْصِيَتَهُ بِارْتِكَابِ مَا نَهَاكُمْ عَنْهE
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah l yang telah menjanjikan pahala yang besar bagi orang-orang yang menaati-Nya dan menyiapkan azab yang pedih bagi orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi selain Allah l semata dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad n adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa Allahl curahkan kepada orang yang paling kita cintai, Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya, serta seluruh kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuknya.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dengan menjalankan perintah-perintah-Nya sekuat kemampuan kita dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sungguh, pada ketaatan kepada-Nya ada kebahagiaan dan buah yang baik. Adapun kemaksiatan, mengundang kebinasaan dan kerugian serta akibat yang tidak baik.

Hadirin rahimakumullah,
Di dalam ayat-Nya, Allah l telah memberitakan kepada hamba-hamba-Nya akan akibat kemaksiatan, seperti dalam firman-Nya:
“Telah tampak bencana di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)
Dari ayat tersebut kita memahami bahwa perbuatan maksiat bisa menyebabkan datangnya bencana di muka bumi ini. Telah sampai kepada kita berita tentang berbagai bencana yang menimpa umat terdahulu akibat kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian mereka. Banjir besar yang menenggelamkan kaum Nabi Nuh q, ditenggelamkannya Fir’aun dan bala tentaranya di lautan, angin kencang yang membinasakan kaum ‘Ad, suara yang sangat keras yang membuat kaum Tsamud mati bergelimpangan, hujan batu dan dibaliknya permukaan tanah yang membinasakan kaum Nabi Luth q, dibenamkannya Qarun dan rumahnya ke dalam bumi, serta bencana lainnya. Apakah yang menyebabkan bencana tersebut menimpa mereka? Bukankah bencana tersebut menimpa mereka akibat kemaksiatan kepada Allah l dan Rasul-Nya?
Perhatikanlah firman Allah l:
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (al-Ankabut: 40)
Sebagian ulama mengatakan:
مَنْ عَصَى اللهَ فِي الْأَرْضِ فَقَدْ أَفْسَدَ فِيْهَا لِأَنَّ صَلَاحَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاءِ بِالطَّاعَةِ
“Barang siapa berbuat kemaksiatan kepada Allah di muka bumi, hakikatnya dia telah melakukan perusakan di dalamnya, karena yang membuat baik keadaan di langit dan bumi adalah ketaatan kepada-Nya.”
Maka dari itu, tidakkah orang-orang yang masih bergelimang kemaksiatan mengambil pelajaran dari berita-berita Allah l tentang bencana yang menimpa umat terdahulu? Tidakkah orang-orang yang sengaja bepergian jauh menuju makam atau tempat tertentu yang dikeramatkan menyadari bahwa dirinya sedang melakukan kerusakan di muka bumi? Begitu pula orang-orang yang meninggalkan shalat, minum minuman keras, judi, riba, dan kemaksiatan lainnya, tidakkah mereka menyadari bahwa di antara sebab datangnya musibah adalah kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia?
Sungguh, kalau orang-orang yang bermaksiat kepada Allah l dan Rasul-Nya n mau mengambil pelajaran serta segera kembali kepada jalan yang diridhai oleh Allah l, yang akan turun dengan izin Allah l adalah rahmat-Nya. Dengan demikian, para hamba Allah l yang lain akan ikut berbahagia karena selamat dari musibah yang bisa datang akibat kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian hamba-hamba-Nya. Nabi n bersabda:
وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلاَدُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ
“Dan seseorang yang senantiasa berbuat kemaksiatan, (apabila dia mati) akan terbebaslah hamba-hamba Allah l, bumi, pepohonan, dan hewan dari (musibah yang datang akibat kejelekan)nya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, marilah kita semua berusaha untuk senantiasa bertakwa kepada Allah l dan memohon pertolongan-Nya agar terhindar dari bencana. Terlebih di zaman sekarang ini, di masa yang diistilahkan dengan era globalisasi. Dunia seakan-akan menjadi satu desa. Kejelekan begitu mudahnya tersebar ke seluruh penjuru dunia karena alat transportasi dan komunikasi begitu pesat perkembangannya.
Hadirin rahimakumullah,
Di masa kita ini berbagai musibah/bencana menerpa sejumlah tempat di negeri ini dan negeri lain di muka bumi ini. Tsunami, gempa bumi, gunung meletus, banjir, tanah longsor, dan seterusnya. Ribuan manusia menjadi korban. Begitu pula hewan-hewan dan pepohonan. Yang masih hidup mengalami cacat. Mereka juga kehilangan tempat tinggal yang hancur akibat musibah tersebut. Janganlah kita menyangka bahwa musibah tersebut hanyalah peristiwa alam semata atau perubahan fisik bumi ini. Tidak berarti bahwa kita tidak menerima hasil penelitian yang menemukan adanya sebab-sebab alami dari peristiwa-peristiwa tersebut, baik itu yang dikatakan sebagai pergeseran lempengan bumi maupun yang semisalnya. Namun, kita harus ingat bahwa di balik itu semua sudah ada yang mengatur.
Sungguh, musibah-musibah tersebut mengandung pelajaran bagi kita, yaitu bahwa peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan kemahakuasaan Allah l. Hanya dalam sesaat, sebagian tempat hancur dan menelan banyak korban akibat musibah tersebut. Dengan musibah tersebut, Allah l memberikan peringatan kepada kita semua akan kemahakuasaan-Nya melakukan apa yang Dia kehendaki, agar kita menjadi orang-orang yang bertakwa.

Hadirin rahimakumullah,
Kita semestinya menyadari, betapa banyak dosa yang kita lakukan setiap hari. Betapa banyak kaum muslimin yang bermudah-mudahan dalam menjalankan agamanya. Shalat lima waktu telah dilalaikan, begitu pula kewajiban zakat. Praktik riba pun terjadi di mana-mana. Para pemuda juga banyak yang terjatuh pada minum minuman keras, mengonsumsi obat terlarang, dan yang semisalnya. Para wanita yang berpakaian dengan busana yang menampakkan aurat dan berhias ala jahiliah hampir memenuhi setiap tempat yang ramai dikunjungi oleh manusia. Bahkan, praktik-praktik syirik dan perdukunan, yang merupakan dosa besar yang paling besar, tersebar di mana-mana. Dalam kondisi ini, tentu saja kita harus lebih khawatir tertimpa bencana yang mungkin datang tiba-tiba ketika tidak ada upaya perbaikan, baik pada diri-diri kita, keluarga, maupun masyarakat.
Akhirnya mudah-mudahan Allah l menjadikan kita sebagai orang-orang yang bisa mengambil pelajaran, untuk selanjutnya menjadi hamba-Nya yang senantiasa memperbaiki diri.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلهِ عَلَى فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ، لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْهِ، هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، صَلَّى اللهُ عَلَيْه وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِه وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاسْأَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ فَإِنَّهُ كَرِيْمٌ، وَخَافُوا مِنْ عِقَابِهِ فَإِنَّ عِقَابَهُ أَلِيْمٌ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa takut akan kemarahan Allah l dan meminta ampunan serta keutamaan-Nya.

Hadirin rahimakumullah,
Kemaksiatan memang bisa menyebabkan datangnya bencana. Namun, masih ada hal-hal yang bisa dijadikan sarana untuk menanggulangi akibat perbuatan maksiat yang telah dilakukan. Dengan sarana tersebut, kita berharap agar Allah l tidak menimpakan bencana kepada hamba-hamba-Nya, atau Allah l mengangkat musibah yang telah menimpa akibat kemaksiatan yang dilakukan oleh sebagian manusia. Di antara sarana tersebut adalah bertaubat kepada-Nya. Allah l berfirman:
“Dan tidaklah Allah akan mengazab mereka, sedangkan mereka beristghfar/meminta ampun (kepada Allah).” (al-Anfal: 33)

Hadirin rahimakumullah,
Termasuk sarana yang bisa mengobati dan menanggulangi akibat perbuatan kemaksiatan adalah menasihati orang-orang yang melakukan perbuatan maksiat dan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. Allah l berfirman:
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan kepada Rabb kalian (bahwa kami telah menjalankan perintah) dan agar supaya mereka bertakwa.” (al-A’raf: 164)
Dengan nasihat, kita berharap orang-orang menjadi bertakwa sehingga bukan bencana yang menimpa, melainkan rahmat Allah l yang turun kepada hamba-Nya. Adapun berkaitan dengan amar ma’ruf nahi mungkar, Allah l menyebutkan dalam firman-Nya:
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka berbuat kemaksiatan dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain senantiasa tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (al-Maidah: 78—79)

Dari ayat tersebut kita memahami bahwa apabila kemaksiatan yang dilakukan dengan terang-terangan dibiarkan, akan menyebabkan datangnya bencana. Maka dari itu, di antara sarana yang bisa dilakukan untuk menanggulangi akibat kemaksiatan tersebut adalah amar ma’ruf nahi mungkar.
Demikianlah sebagian sarana yang bisa dilakukan. Mudah-mudahan Allah l senantiasa menurunkan rahmat-Nya kepada kita semua.

Catatan kaki:

Kami tidak mencantumkan doa pada rubrik “Khutbah Jumat” agar khatib yang ingin membaca doa memilih doa yang sesuai dengan keadaan masing-masing.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Rabu,25 April 2012/3 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly