Bakhil Terhadap Karunia Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.)

 

Bakhil atau kikir tak sebatas berhubungan dengan materi. Perangai ini juga berkaitan dengan keimanan seseorang.

Orang yang rendah dan hina tidak akan risih dengan kehinaan yang disandangnya. Contoh yang sangat nyata adalah keadaan orang-orang yang bakhil di mana mereka jatuh di mata Allah l serta dibenci oleh manusia. Oleh karena itu seorang muslim yang baik akan menjauhkan dirinya dari perangai kebakhilan yang tidak membawa manfaat sedikitpun bagi dunianya, terlebih untuk akhiratnya. Kebakhilan sangat bertentangan dengan kesempurnaan iman sebagaimana sabda Nabi n:
لاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيْمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا
“Tidak akan berkumpul kebakhilan dan keimanan pada hati seorang hamba selama-lamanya.” (HR. An-Nasa`i dan Al-Hakim dari Abu Hurairah z, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani  t dalam Shahih Al-Jami’ no. 7616)
As-Sindi t menjelaskan: “Yakni tidak sepantasnya bagi mukmin menggabungkan antara iman dan kebakhilan karena kebakhilan merupakan sesuatu yang paling jauh dari keimanan.” (Sunan An-Nasa`i wa Hasyiatil Imam As-Sindi vol. VI/320)
Pengertian Bakhil (Kikir) dan Macam-macamnya
Bakhil adalah mencegah sesuatu yang seharusnya diberikan menurut ketentuan syariat dan secara etika kesopanan. Misalnya sesuatu yang wajib diberikan menurut ketentuan syariat adalah menunaikan zakat dan nafkah kepada keluarga. Sedangkan contoh secara etika kesopanan adalah tidak menyempitkan dalam pemberian nafkah dan tidak menuntut pada sesuatu yang remeh. (Lihat Mukhtashar Minhajul Qasidin hal. 66 cet. Dar ‘Ammar)
Merujuk kepada definisi bakhil tadi maka macam kebakhilan sangatlah banyak. Ada yang bakhil dengan ilmunya, tenaganya, pikirannya, lisannya, hartanya, dan yang lainnya. Allah l telah memuji orang yang dijauhkan dari kebakhilan dirinya dalam firman-Nya:

“Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9)
Diterangkan Asy-Syaikh As-Sa’di t: “Dipelihara dari kekikiran jiwa mencakup dijaganya jiwa itu dari kekikiran pada seluruh yang diperintahkan. Seorang hamba manakala dijaga dari kekikiran jiwanya, maka dirinya akan bermurah hati untuk melaksanakan perintah-perintah Allah l dan Rasul-Nya. Ia akan melakukannya dengan (sepenuh) ketaatan dan ketundukan serta dalam keadaan berlapang dada. Jiwanya (juga) akan mudah meninggalkan larangan Allah l meskipun jiwa menyukainya dan mengajak serta menoleh kepadanya. Orang yang jiwanya dijaga dari kekikiran akan mudah mencurahkan harta di jalan Allah l dan untuk mencari ridha-Nya. Dengan demikian, ia akan mendapat keberuntungan. Berbeda dengan orang yang tidak dijaga dirinya dari kebakhilan, bahkan diuji dengan kebakhilan terhadap kebaikan, yang merupakan pokok dari kejelekan.” (Taisir Al-Karimir Rahman hal. 851 cet. Ar-Risalah)
Sebab-sebab Munculnya Kebakhilan terhadap Harta dan Cara Menangkalnya
Ketahuilah bahwa sebab munculnya kebakhilan adalah cinta harta. Dan cinta kepada harta ada dua sebab:
Pertama: Cinta dengan syahwat (kesenangan jiwa) yang tidak akan kesampaian kepadanya kecuali dengan harta, di samping adanya angan-angan yang panjang.
Kedua: Mencintai dzat dari harta itu sendiri. Ada dari manusia yang memiliki harta yang cukup untuk sepanjang hidupnya (di dunia) seandainya dia menggunakannya pada perkara yang wajar dan bahkan masih tersisa beribu-ribu bersamanya. Sementara (terkadang) dia sudah tua dan tidak punya anak, tetapi dirinya tidak mau mengeluarkan (dari hartanya) sesuatu yang wajib atasnya. Tidak pula dia mau untuk bersedekah yang bermanfaat baginya. Padahal jika ia mati, hartanya akan diambil oleh musuhnya atau akan hilang jika hartanya ditimbun. Penyakit seperti ini (hampir) tidak bisa diharapkan kesembuhannya. (Mukhtashar Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah hal. 267)
Al-Imam Ibnu Hibban t berkata: “Orang yang berakal tatkala diberi oleh Allah l harta di dunia yang fana ini dan mengetahui (akan) lenyapnya harta darinya serta berpindah kepada yang lainnya dan tahu bahwa harta tidak bermanfaat baginya di akhirat kecuali apa yang ia suguhkan berupa amal shalih, hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk menunaikan hak-hak pada hartanya serta melaksanakan yang wajib pada jalan-jalannya, dengan mengharapkan pahala di kemudian hari dan (mendapatkan) sebutan yang baik di dunia. Karena kedermawanan akan mendatangkan kecintaan dan pujian, sebagaimana kebakhilan mendatangkan celaan dan kebencian. Tidak ada kebaikan pada harta kecuali dengan adanya kedermawanan….” (Raudhatul ‘Uqala` hal. 235)
Perhatikanlah firman Allah l berikut:

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Ali ‘Imran: 180)
Renungilah ayat ini, bagaimana Allah l telah menyebutkan hal-hal yang menjadikan seorang hamba tidak bakhil terhadap apa yang diberikan oleh Allah l.
Pertama: Allah l mengabarkan bahwa apa yang ada pada hamba merupakan keutamaan dan nikmat dari Allah l, bukan milik hamba. Bahkan kalau bukan keutamaan dan kebaikan Allah l niscaya tidak akan sampai kepadanya nikmat itu. Oleh karena itu, orang yang yakin bahwa apa yang ada di tangannya (dari harta) adalah nikmat dari Allah l, niscaya dia tidak akan mencegah (dari memberikan) nikmat yang tidak akan membahayakannya. Bahkan (dengan memberikannya) akan mendatangkan manfaat baginya pada hati dan hartanya, bertambah keimanannya, serta dijaganya dari bencana.
Kedua: Apa yang dimiliki hamba (nanti) semuanya kembali kepada Allah l dan akan diwarisi oleh Allah l. Sehingga tidak ada manfaat untuk kikir terhadap sesuatu yang akan hilang darimu dan berpindah kepada selainmu.
Ketiga: Allah l mengetahui seluruh amalan kalian. Konsekuensi dari hal ini adalah adanya balasan yang baik atas kebaikan, serta adanya siksaan atas kejelekan. Dengan ini, orang yang dalam hatinya ada keimanan sekecil apapun tidak akan absen dari berinfak dengan sesuatu yang akan mendapatkan pahala. Dia juga tidak akan ridha dengan kebakhilan yang mendatangkan siksa.” (Lihat Taisir Al-Karimir Rahman hal. 158-159)
Kebakhilan Penyakit yang Berbahaya
Penyakit yang menimpa badan seseorang dengan berbagai macamnya tidak lebih berat dari penyakit yang menerpa hatinya. Karena kerugian yang ditimbulkan dari jenis penyakit ini sangat kompleks. Yang terbesarnya adalah terkikisnya keimanan dan terhambatnya seseorang untuk sampai kepada surga Allah l. Manakala penyakit yang menimpa badan tidak bisa disembuhkan di dunia, maka akan selesai dengan kematian. Sedangkan penyakit hati, bila di dunia ini tidak segera disembuhkan maka akan dia bawa di alam kuburnya dan akhirat nanti. Jika demikian lalu mengapa kebanyakan orang jika badannya terkena penyakit berusaha untuk mengobatinya meski harus menghabiskan harta bendanya, sementara jika hatinya dihinggapi penyakit-penyakit kronis semacam bakhil, sombong, suka kepada kemaksiatan dan bermalas-malasan dalam menjalankan ketaatan, jarang yang berusaha menyembuhkannya?!
Inilah Nabi kita Muhammad n berlindung dari kebakhilan. Padahal beliau berada pada puncak keimanan. Hal itu menandakan betapa penyakit ini harus selalu diwaspadai. Nabi n dalam sebuah doanya mengatakan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sikap pengecut, kepikunan, dan kebakhilan.” (HR. Muslim)
Pernah suatu saat Nabi n bertanya kepada Bani Salimah, tentang siapa pemimpin mereka. Maka mereka menjawab: “Pemimpin kami adalah Judd bin Qais, hanya saja kami menilainya orang yang bakhil.” Nabi n bersabda: “Penyakit mana yang lebih besar daripada kebakhilan? Bahkan pemimpin kalian adalah ‘Amr bin Al-Jamuh.” Adalah ‘Amr dahulu membuatkan walimah bagi Nabi n bila beliau n menikah. (Shahih Al-Adab Al-Mufrad no. 227)
Ancaman untuk Orang yang Bakhil
Janganlah seseorang mengira jika ia bakhil dengan apa yang wajib dicurahkan kepada orang lain bahwa itu bagus buat mereka, bahkan itu jelek bagi mereka, baik terhadap agama atau dunia mereka. Allah l berfirman:

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” (Ali ‘Imran: 180)
Di antara hukumannya di dunia akan ditimpakan paceklik, tertahannya hujan, dikutuk oleh Nabi n, dicabutnya barakah pada hartanya serta dibinasakan (hartanya), juga memperoleh kebencian dari makhluk. Nabi n bersabda:
مَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلَّا ابْتَلَا هُمُ اللهُ بِالسِّنِيْنَ
“Tidaklah suatu kaum mencegah (dari memberikan) zakat kecuali Allah akan menguji mereka dengan paceklik.” (HR. Ath-Thabarani, lihat Shahih At-Targhib no. 758)
Nabi n juga bersabda (yang artinya):
“Tidak ada hari yang manusia berada di pagi hari kecuali turun dua malaikat, salah satunya berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak’; dan yang lainnya mengatakan: ‘Ya Allah, berilah kebinasaan kepada orang yang bakhil’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adapun ancaman di hari akhirat sungguh lebih dahsyat. Di antaranya bahwa hartanya akan dijadikan lempengan yang panas lalu diseterikakan pada lambung, dahi, dan punggungnya. Allah l berfirman:

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi, lambung, dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu’.”  (At-Taubah: 34-35)
Harta yang tidak ia keluarkan zakatnya kalau itu berupa unta, sapi, dan kambing maka nanti di padang Makhsyar akan menanduk dan menginjak-injak pemiliknya, dari awal hingga akhir. Terus menerus, pada suatu hari yang ukurannya 50.000 tahun, sampai diputuskan di antara para hamba seperti dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah z.
Disebutkan pula di antara siksaannya bahwa hartanya akan dijadikan ular yang melilit lehernya dan memakan tubuhnya. (Lihat Shahih At-Targhib no. 751 dan 754)
Demikianlah nasib orang yang tidak mensyukuri pemberian Allah l, bukanlah ketenangan dunia yang didapat dan bukan pula kenikmatan atau akhirat yang digapai.
Orang yang Paling Bakhil
Kebakhilan bertingkat-tingkat. Ada yang bakhil pada dirinya dan menyuruh orang untuk bakhil, bahkan memuji dan membela orang yang bakhil. Allah l berfirman:

“(Yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.” (An-Nisa`: 37)
Termasuk orang yang paling bakhil adalah yang bakhil dengan salam. Nabi n bersabda:
أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ وَأَبْخَلُ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلَامِ
“Manusia yang paling lemah ialah yang melemah dari memohon (kepada Allah), dan manusia yang paling bakhil ialah yang bakhil dengan salam.” (HR. Ath-Thabarani dalam Al-Ausath, dan dinyatakan sanadnya bagus dan kuat oleh Al-Mundziri t)
Maksudnya, orang yang paling lemah pikirannya dan buta penglihatan hatinya adalah orang yang lemah dari meminta kepada Allah l, terutama di saat kesulitan. Hal itu karena ia telah meninggalkan perintah Allah l (untuk memohon kepada-Nya) dan meremehkan sesuatu yang tidak ada kesulitan padanya. Demikian pula orang yang paling bakhil adalah yang bakhil dengan salam terhadap kaum mukminin yang ia temui, bak yang ia kenal maupun yang tidak. Padahal yang demikian tidak membutuhkan banyak modal, namun besar pahalanya. Tidak ada yang meremehkan yang seperti ini kecuali orang yang bakhil dengan kebaikan dan mencegah dirinya dari mendapat pahala. Orang seperti ini dikatakan paling bakhil, karena orang yang bakhil dengan hartanya masih ada sisi kewajaran karena harta umumnya disukai oleh jiwa. Adapun mengucapkan salam tidak perlu mengeluarkan biaya. (Lihat Faidhul Qadir, 1/710-711)
Nabi n bersabda:
الْبَخِيْلُ الَّذِي ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ
“Orang yang bakhil adalah yang aku disebut di sisinya lalu dia tidak bershalawat kepadaku.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 3546)
Ini adalah kebakhilan yang paling jelek. Padahal bila dia bershalawat kepada Nabi n sekali shalawat, Allah l akan bershalawat kepadanya sepuluh shalawat. Adakah orang yang lebih bakhil daripada orang yang bakhil atas dirinya untuk tidak mendapat pahala?
Hikayat Orang-orang Bakhil
Manusia dalam segala halnya ada yang cenderung berlebih-lebihan dan ada pula yang meremehkan. Sangat jarang yang bersikap tengah-tengah. Tidak terkecuali dalam menyikapi harta benda. Ada dari mereka yang memubadzirkan hartanya sehingga habis hartanya dan terpaksa meminta-minta. Adapula yang sangat kikir sampai-sampai dirinya sendiri tidak mendapat bagian dari hartanya, apalagi orang lain.
Disebutkannya beberapa contoh dari orang-orang yang bakhil oleh ulama dalam kitab-kitab mereka adalah untuk dijadikan ibrah (pelajaran) bahwa kebakhilan setidaknya telah menjadikan lembaran sejarah seseorang menjadi tercoreng. Hal ini akan mendorong orang untuk menjauhi perangai yang tercela ini.
q Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas c bahwa dahulu ada seorang lelaki bangsawan Arab yang bernama Hajib. Dia seorang yang bakhil. Ia tidak mau menyalakan api di malam hari (untuk penerang) karena tidak ingin ada orang yang melihat api yang dinyalakan, lalu mengambil manfaat dari cahayanya. Jika ia ingin menyalakan api, ia pun menyalakannya. Namun bila ada orang yang ikut memanfaatkan cahaya apinya, ia pun memadamkannya.
q Ada seorang lelaki paling jeleknya biasa menyapu masjid-masjid dan mengumpulkan debu masjid, lalu ia membuat debu tadi menjadi batu bata. Dia ditanya: “Untuk apa batu bata ini?” Ia menjawab: “Ini debu yang diberkahi dan aku ingin (kalau mati) mereka menjadikan bata-bata itu di atas liang lahatku.” Tatkala orang ini mati, dijadikanlah bata itu di atas lahatnya. Dan bata itu lebih, sehingga sisa bata itu mereka buang di rumah. Tatkala turun hujan, batu bata itu terbelah hancur. Ternyata di dalamnya ada uang emas. Lalu orang-orang pergi ke kuburan orang tersebut dan mengambil batu batanya. Ternyata seluruh batu bata itu berisi penuh uang emas miliknya.
q Dahulu ada seorang yang bakhil mempunyai dua anak laki-laki dan satu perempuan. Ketika ia sakit keras dikerumuni oleh keluarganya, ia berkata kepada salah seorang anak laki-lakinya yang akan dikhususkan dengan pemberian untuk tidak beranjak keluar. Sang ayah mengatakan kepadanya bahwa ia punya uang seribu dinar di suatu tempat. Jika ia mati maka anak laki-laki ini yang akan mengambilnya. Ketika orang ini sakit keras, sang anak pergi dan mengambil harta itu. Ternyata sang ayah sembuh sementara harta sudah di tangan anak laki-lakinya. Ia memintanya namun sang anak tidak memberinya. Tatkala sang anak sakit keras dan hampir mati, sang ayah meminta dengan sangat agar hartanya diberikan karena khawatir harta akan hilang sia-sia. Sang anak akhirnya menunjukkan tempat disimpannya harta itu. Lalu sang ayah mengambilnya. Pada suatu saat sang ayah sakit keras maka anak tadi meminta ditunjukkan tempat penimbunan harta itu. Tetapi sang ayah tidak mau menunjukkannya dan ia mati, sedangkan hartanya lenyap tidak diketahui. (Lihat Mukhtashar Minhajul Qasidin hal. 264 dan Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi hal. 608-612, cet. Dar Ibnu Khuzaimah)
Hikayat orang-orang bakhil sangat panjang. Cukup bagi kita untuk mengetahui seberapa mengerikannya hukuman atas orang yang bakhil dan celaan yang terus menerus atas mereka. Ini balasan terhadap orang yang tidak syukur nikmat. Sebagai orang muslim kita yakin akan janji Allah l dan Rasul-Nya bahwa orang yang memberikan hartanya untuk kebaikan niscaya Allah l memberi ganti yang lebih baik. Allah l berfirman:

“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya.” (Saba`: 39)
Nabi n bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Shadaqah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Sejarah telah membuktikan bahwa orang yang mengimani firman Allah l dan sabda Nabi n tersebut lalu mengamalkannya maka Allah l berkahi hartanya dan dijaga dari kejahatan. Sehingga hartanya terus bertambah dan namanya senantiasa harum. Tetapi jika sebaliknya, maka Allah l cabut barakah dari hartanya serta dilenyapkan-Nya. Ada yang habis hartanya karena dicuri, kebanjiran, untuk berobat, ditipu, dan yang lainnya. Ini baru sebagian hukuman dunia, dan di akhirat tentunya lebih dahsyat. Orang yang berakal tentu bisa melihat jalan mana yang sekiranya akan ditempuh.
Akhirul kalam, hanya kepada Allah l kita memohon agar Ia menjadikan kita orang yang mensyukuri nikmat-Nya dan agar tidak menjadikan dunia sebagai puncak tujuan kita. Wallahu a’lam bish-shawab.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,17 November 2011/20 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly