Berakhlak Mulia dan Hikmah dalam Berdakwah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri Lc.)

Tentang pentingnya penopang ini, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “(Penopang ini harus ada) karena akan mendorong orang untuk lebih menerima dakwah. Allah l pun memerintahkan dua nabi yang mulia, Nabi Musa dan Harun e, untuk menggunakan penopang ini dalam menghadapi orang yang paling kufur di muka bumi, Fir’aun, yang mengaku dirinya sebagai Rabb. Allah l berfirman:
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)
Begitu pula, Allah l memerintahkan Nabi Musa q:
Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka katakanlah (kepada Fir’aun), “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)? Dan kamu akan kubimbing ke jalan Rabbmu agar supaya kamu takut kepada-Nya.” (an-Nazi’at: 17—19)
Allah l juga menceritakan keadaan Nabi Muhammad n:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah, berlaku lemah lembut engkau terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ’Imran:159) (Lihat pengantar asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah terhadap kitab Manhajul Anbiya’)
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t menerangkan, “Seorang mukmin wajib menjalankan dakwahnya dengan lemah lembut, menggunakan cara yang baik agar dakwahnya bisa lebih diterima, tidak ditolak, atau dibalas dengan sikap yang tidak sepantasnya ditujukan kepada seorang dai. Biasanya, ketika seseorang diajak kepada Allah l dengan cara keras, dia akan membalas cara tersebut dengan celaan dan cercaan serta cara-cara yang tidak baik, yang hanya akan memperburuk keadaan. Akan tetapi, apabila seorang dai mengajak kepada Allah l dengan lembut dan menggunakan cara yang baik, insya Allah tidak akan ada penolakan terhadap dakwahnya. Atau, paling tidak dakwahnya akan mendapatkan sikap dan penilaian yang baik, yang diharapkan memberikan pengaruh kepada orang-orang yang didakwahi di kemudian hari.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, 7/327)

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Selasa,24 April 2012/2 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly