Dari air yang Terpancar

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al-Atsariyyah)

Wanita juga mengeluarkan mani. Hal demikian memang masih sulit dipahami oleh sebagian orang. Namun Islam justru memberikan gambaran yang lengkap akan hal ini.

Telah diketahui secara umum bahwa lelaki mengeluarkan air mani, baik dalam keadaan tidur (karena mimpi/ ihtilam) ataupun terjaga, dengan syahwat ataupun tidak. Berbeda halnya dengan keadaan wanita, perkara demikian masih samar bagi sebagian orang. Padahal wanita juga mengeluarkan mani sebagaimana lelaki. Karena itu, ketika Ummu Sulaim x istri Abu Thalhah z datang menemui Nabi n dan bertanya:

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu (untuk menerangkan) kebenaran1. Apakah wajib bagi wanita untuk mandi apabila ia ihtilam2?” Rasulullah n menjawab: “Iya, bila ia melihat air (mani saat terjaga dari tidurnya, –pent.).”3
Dalam hadits di atas, Rasulullah n menyatakan kepada Ummu Sulaim x bahwa wanita wajib mandi janabah bila ia bermimpi dan melihat air. Ini merupakan bukti yang jelas bahwa wanita pun mengeluarkan mani dan wajib mandi karena hal tersebut. Dalam hal ini kita dapat mengatakan “wanita itu saudara kandung (belahan) laki-laki”, seperti kata Rasulullah n:

“Sesungguhnya kaum wanita itu saudara kandung (bagian) dari kaum lelaki.” 4
() kata Ibnul Atsir t adalah setara, semisal dalam akhlak dan tabiat, watak, serta pembawaan. Seakan-akan mereka (para wanita) bagian dari laki-laki, karena memang Hawa diciptakan dari Adam u.  adalah saudara seayah dan seibu dari seseorang. (An-Nihayah fi Gharibil Hadits, hal. 483)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t berkata setelah membawakan hadits Ummu Sulaim x: “Dalam hadits ini terdapat bantahan terhadap orang yang menganggap mani wanita tidak muncul keluar, (menurut mereka, -pent.) diketahui si wanita keluar mani hanya dengan syahwat (namun tidak memancar keluar sebagaimana mani lelaki, -pent.).” (Fathul Bari, 1/505)
Hanya saja warna dan sifat mani wanita berbeda dengan mani lelaki, seperti keterangan Rasulullah n dalam sabdanya:

“Sesungguhnya mani laki-laki itu kental putih sedangkan mani wanita encer berwarna kuning.”5
Al-Imam Al-Mawardi t berkata: “Ketahuilah, sifat mani laki-laki berbeda dengan mani wanita. Mani laki-laki (berwarna putih) kental, bau/aromanya seperti bau mayang pohon kurma. Sifat ini ada bila keadaan (si lelaki) normal dan sehat. Terkadang dapat berubah karena sakit yang diderita, karena faktor makanan, dan banyak melakukan jima’. Adapun mani wanita berwarna kuning encer, tidak mengandung aroma mayang pohon kurma.” (Al-Hawil Kabir, 1/214)
Al-Imam An-Nawawi t menambah-kan bahwa mani itu keluar dengan memancar, curahan demi curahan, keluarnya dengan syahwat dan terasa nikmat saat keluarnya, diikuti dengan melemahnya badan. Aromanya seperti mayang pohon kurma yang hampir mirip dengan bau adonan. Jika kering baunya seperti bau telur. (Al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab, 2/120)
Dengan demikian ada tiga kekhususan mani yang bisa dijadikan sandaran untuk membedakannya dari yang lain:
Pertama: Keluarnya dengan syahwat diikuti dengan melemahnya badan
Kedua: Aromanya seperti aroma mayang pohon kurma dan bau adonan
Ketiga: Keluarnya dengan memancar
Adapun mani wanita, terkadang memutih karena kuatnya. Dalam hal ini terdapat kekhususan, yakni saat keluarnya terasa nikmat dan diikuti dengan melemahnya syahwat. Ar-Rauyani berkata: “Aromanya seperti aroma mani laki-laki.”
Berdasarkan hal ini berarti mani wanita memiliki dua kekhususan6 yang bisa dikenali dengan keberadaan salah satunya. (Al-Majmu’, 2/160-161)

Anak Diciptakan dari Air Mani Kedua Orang tuanya
Adam u, bapak segenap manusia, diciptakan Allah I dari tanah. Kemudian anak turunannya diciptakan dari mani, sebagaimana dikabarkan Allah I dalam Tanzil-Nya tentang perbuatan-Nya yang agung:

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan dengan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (mani).” (As-Sajdah: 7-8)
Dari mani inilah, Allah I jadikan anak turunan Adam u berkembang biak dan berketurunan. Generasi yang satu melahirkan generasi berikutnya, demikian seterusnya. Allah I berfirman:

“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan? Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan dada.” (Ath-Thariq: 5-7)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t berkata: “Firman Allah I: Ia diciptakan dari air yang terpancar, yakni air yang keluar dengan terpancar dari laki-laki dan wanita. Maka akan lahirlah anak dari keduanya dengan izin Allah U. Karena itulah Allah I berfirman: yang keluar dari antara tulang sulbi dan dada, yakni tulang sulbi laki-laki dan dada wanita.” (Al-Mishbahul Munir fi Tahdzib Tafsir Ibni Katsir, hal. 1500)
Dengan demikian, janin itu terbentuk dari mani laki-laki dan mani wanita yang bercampur, sebagaimana Allah I kabarkan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dari nuthfah amysaj.” (Al-Insan: 2) (Taudhihul Ahkami min Bulughil Maram, 1/273)
Al-Imam Al-Baghawi t menerangkan:  yakni mani laki-laki dan mani wanita. Sedangkan  maknanya bercampur. Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan, Mujahid, dan Ar-Rubayi’ mengatakan: “Mani laki-laki dan mani wanita bercampur di dalam rahim, maka darinyalah terbentuk anak.” (Ma’alimut Tanzil, 1/395)
Asy-Syaikh ‘Athiyyah Salim t menukilkan tafsir Surat Al-Insan di atas dari gurunya Al-’Allamah Asy-Syinqithi t, dengan menyatakan: “Dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang asal penciptaan manusia. Ia memiliki tahapan-tahapan dalam wujudnya, setelah berupa nuthfah (air mani) berubah menjadi ‘alaqah (segumpal darah) kemudian menjadi mudhghah (segumpal daging), kemudian ia berubah menjadi makhluk yang lain. Semua itu terjadi dari sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya, sebagaimana Dia Yang Maha Tinggi berfirman:

“Sesungguhnya telah Aku ciptakan engkau sebelum itu, padahal engkau waktu itu belum ada sama sekali.” (Maryam: 9) (Tatimmah Adhwa`il Bayan, 8/648)
Dari air mani inilah, anak bisa serupa dengan ayah atau dengan ibunya. Sebagaimana ditegaskan Rasulullah n ketika ada yang meragukan bahwa wanita juga dapat keluar mani:

“Iya, lalu dari mana anak bisa serupa (dengan orang tuanya)?”7
Atau meragukan wanita bisa mimpi senggama dan mengeluarkan mani (ihtilam), beliau nyatakan:

“Maka dengan apa anaknya bisa serupa dengan ibunya?”8
Setelah membawakan lafadz hadits: , Al-Imam Ash-Shan’ani t berkata: “Ini merupakan pertanyaan pengingkaran (istifham ingkari). Dan penetapannya adalah bahwa anak itu terkadang mirip dengan ayahnya, dan terkadang ada yang mirip dengan ibu dan keluarga ibunya. Mana di antara dua mani itu (mani ayah atau mani ibu) yang dominan, maka kemiripan anak kepada yang lebih dominan.” (Subulus Salam, 1/133)

Bagaimana Anak Bisa Mirip dengan Orang tuanya?
Kita saksikan pada anak-anak yang dilahirkan oleh sepasang suami istri, ada yang mirip dengan ayahnya, ada yang mirip dengan ibunya. Atau tidak mirip dengan ayah dan ibunya, namun mirip dengan nenek atau pamannya, dari pihak ayah ataupun dari pihak ibu. Kenapa demikian? Rasulullah n telah menjelaskan rahasianya dalam hadits-hadits beliau. Perhatikanlah!
Aisyah x berkata:

Ada seorang wanita berkata kepada Rasulullah n: “Apakah wanita harus mandi bila ia ihtilam dan melihat keluarnya air (mani). Rasulullah menjawab: “Ya.” ‘Aisyah berkata kepada si wanita yang bertanya: “Taribat  yadaak”9 (semoga engkau terkena tombak).” Rasulullah berkata kepada ‘Aisyah10: “Biarkan dia (bertanya demikian), dari mana terjadi syabah (kemiripan anak dengan orang tuanya/ibunya) kecuali dari air mani itu. Apabila maninya mengungguli (‘uluw) mani laki-laki (suaminya) maka anaknya (yang lahir) serupa dengan akhwalnya (paman-paman/ keluarga dari pihak ibu, –pent.). Sebaliknya bila mani laki-laki (suami) mengungguli mani istrinya maka anak yang lahir serupa dengan a’mamnya (paman-paman/ keluarga dari pihak ayah).”11
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani tmenyatakan bahwa yang dimaukan dengan ‘uluw adalah dari sisi banyaknya, di mana mani yang lain tergenang di dalam mani yang banyak tersebut. (Fathul Bari)
Tsauban z maula Rasulullah n berkisah:

“Aku sedang berdiri di sisi Rasulullah n, lalu datanglah seorang pendeta Yahudi. Ia berkata: “Assalamu ‘alaika, ya Muhammad!” Aku mendorongnya dengan sekali dorongan yang hampir-hampir membuatnya tersungkur.
“Kenapa engkau mendorongku?” tanyanya.
“Tidakkah seharusnya engkau mengatakan ya Rasulullah!” jawabku.
Si Yahudi berkata: “Aku hanya memanggilnya dengan nama yang diberikan oleh keluarganya.”
Rasulullah n menengahi: “Sesungguhnya namaku adalah Muhammad yang merupakan nama pemberian keluargaku.”
Si Yahudi berkata: “Aku datang untuk bertanya kepadamu.”
“Apakah bermanfaat bagimu sesuatu jika aku mengabarkannya kepadamu?” tanya Rasulullah n.
“Aku dengar dengan kedua telingaku,” jawabnya. Rasulullah n kemudian menggaris-garis tanah dengan ranting yang ada pada beliau sembari berpikir. Lalu beliau berkata kepada si Yahudi: “Tanyalah.”
“Di mana manusia pada hari digantinya bumi dengan bumi yang lain dan digantinya langit dengan langit yang lain?” tanyanya.
Rasulullah n menjawab: “Mereka berada dalam kegelapan di bawah jembatan (shirath).”
“Manusia manakah yang pertama kali dapat melewati jembatan?” pertanyaan kedua dari si Yahudi.
“Orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin,” jawab beliau n.
Si Yahudi bertanya lagi: “Apa sajian untuk mereka ketika mereka masuk ke dalam surga?”
“Ujung/tepi- hati ikan12,” jawab beliau n.
“Apa makanan mereka setelah itu?” tanya si Yahudi.
“Disembelihkan untuk mereka sapi (jantan) surga yang biasa makan dari tepi-tepi surga,” jawab Nabi.
“Lalu apa minuman mereka setelah hidangan itu?” tanya si Yahudi.
Rasulullah n menjawab: “Dari mata air di dalam surga yang dinamakan Salsabil.”
“Engkau benar,” tukas si Yahudi, ia melanjutkan ucapannya: “Aku datang untuk bertanya kepadamu tentang sesuatu yang tidak ada seorang penduduk bumi pun yang mengetahuinya, kecuali seorang nabi atau satu dua orang laki-laki.”
“Apakah bermanfaat bagimu jika aku mengabarkannya kepadamu?” tanya Rasulullah n.
“Aku dengar dengan kedua telingaku,” jawabnya. Lalu ia bertanya: “Aku datang untuk bertanya kepadamu tentang anak?”
Rasulullah n menjelaskan: “Mani laki-laki berwarna putih sedangkan mani wanita berwarna kuning. Bila kedua mani itu berkumpul, lalu mani laki-laki mengungguli (‘uluw) mani wanita maka anak yang lahir laki-laki dengan izin Allah. Sebaliknya bila mani wanita mengungguli mani laki-laki maka anak yang lahir perempuan dengan izin Allah”.
Si Yahudi berkata: “Sungguh engkau benar. Engkau memang seorang nabi.” Kemudian ia berpaling dan pergi.
Rasulullah n berkata: “Sungguh orang itu bertanya kepadaku tentang perkara yang aku tidak memiliki ilmu tentangnya sedikitpun, hingga Allah mendatangkan ilmunya kepadaku.” 13
Dari hadits Aisyah x di atas, kita ketahui bahwa dari ‘uluw (dominasi) terjadi syabah (penyerupaan) dengan izin Allah I. Sedangkan dari hadits Tsauban z disebutkan bahwa dari ‘uluw, anak yang lahir bisa laki-laki (dzukurah) atau bisa perempuan (unutsah). Sehingga bila dua hadits ini digabung kita dapat mengambil pemahaman bahwa dari ‘uluw terjadi syabah, dzukurah dan unutsah. Maknanya bila mani laki-laki lebih dominan dari mani wanita maka anak yang lahir laki-laki dan serupa dengan keluarga ayahnya. Sebaliknya bila mani wanita yang dominan, anak yang lahir perempuan dan serupa dengan keluarga ibunya.
Namun bila melihat kenyataan yang ada, ada anak laki-laki namun serupa dengan keluarga ibunya. Dan terkadang ada anak perempuan namun ia serupa dengan keluarga ayahnya. Karena ada kenyataan demikian, sebagian ulama melakukan takwil. Di antaranya Al-Hafizh Ibnu Hajar t, beliau mentakwil ‘uluw pada hadits ‘Aisyah x dengan makna sabaq (mendahului)14 sedangkan ‘uluw dalam hadits Tsauban z sebagaimana dzahirnya (Fathul Bari, 7/341-342).
Beliau berkata: “Jadilah sabaq sebagai tanda anak yang lahir laki-laki atau perempuan, sedangkan ‘uluw sebagai tanda syabah, sehingga hilanglah isykal (kerumitan yang ada dalam memahami dua hadits ini dan melihat kenyataan yang ada, -pent.)”. (Fathul Bari, 7/342 )
Namun bila kita kembali pada dua hadits di atas, kita lihat dalam hadits ‘Aisyah x disebutkan dengan ‘uluw, yang ditakwil oleh Al-Hafizh dengan sabaq, terjadi syabah, sedangkan dalam hadits Tsauban disebutkan dengan ‘uluw, dengan makna yang sesuai dzahirnya, terjadi tadzkir (anaknya laki-laki) atau ta`nits (anaknya perempuan). Berarti yang tepat berdasarkan takwil Al-Hafizh, sabaq yang disebutkan (sebagai takwil ‘uluw) dalam hadits Aisyah merupakan tanda syabah sedangkan ‘uluw dalam hadits Tsauban adalah tanda tadzkir dan ta’nits. (Jami’ Ahkamin Nisa, 1/14)
Hal ini diperjelas lagi dengan hadits Anas bin Malik z, ia berkata: “Sampai kabar kedatangan Nabi n di Madinah kepada ‘Abdullah bin Salam (seorang tokoh dan ‘alim dari Yahudi Bani Qainuqa’, -pent.), ia pun mendatangi Nabi n lalu berkata: “Aku akan bertanya kepadamu tentang tiga perkara, tidak ada yang mengetahuinya kecuali seorang Nabi. (Pertanyaan pertama,) apa awal tanda datangnya hari kiamat? (Kedua,) makanan apa yang pertama kali disantap penduduk surga? (Ketiga,) dari apa anak bisa serupa dengan ayahnya dan bisa serupa dengan keluarga ibunya?” Rasulullah n berkata: “Jibril u baru saja mengabarkan kepadaku tentang jawaban dari tiga pertanyaan tersebut.” ‘Abdullah berkata: “Itu adalah musuh Yahudi dari kalangan para malaikat.” Rasulullah n bersabda:

“Adapun awal tanda hari kiamat adalah munculnya api yang mengumpulkan manusia dari timur ke barat. Sedangkan makanan pertama yang disantap penduduk surga adalah ujung/tepi hati ikan. Adapun syabah (penyerupaan) pada anak, bila seorang lelaki menggauli seorang wanita lalu air mani si lelaki mendahului (sabaq) mani si wanita maka anak yang akan lahir serupa (terjadi syabah) dengan ayahnya. Sebaliknya bila mani si wanita yang mendahului (sabaq) maka anak yang akan lahir serupa dengan ibunya”.15 Pada akhirnya Abdullah bin Salam masuk Islam, z, dengan menanggung cercaan dari Yahudi Bani Qainuqa’, kaumnya.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab, wal’ilmu ‘indallah.

Catatan Kaki:

1Maknanya: Aku tidak mau menahan diri dari bertanya tentang perkara yang memang aku butuhkan. Ummu Sulaim x mengucapkan hal ini dalam rangka meminta udzur sebelum bertanya tentang persoalan yang ia butuhkan, di mana dalam perkara tersebut biasanya wanita malu untuk menanyakan dan menyebutkannya di hadapan lelaki. Menahan diri dari bertanya tentang perkara yang dibutuhkan bukanlah suatu kebaikan, bahkan kejelekan. Maka bagaimana hal itu dianggap sebagai malu, sementara malu adalah kebaikan seluruhnya dan malu tidaklah datang kecuali dengan kebaikan. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 2/215)
‘Aisyah x pernah memuji wanita Anshar dengan mengatakan:

“Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk tafaqquh (mempelajari dan memahami) dalam agama.” (Shahih Al-Bukhari dengan Fathul Bari, kitab Al-’lmi bab Al-Haya` fil ‘Ilm, 1/301)
2 Dalam riwayat Al-Imam Ahmad disebutkan bahwa Ummu Sulaim x berkata:

“Wahai Rasulullah, apabila dalam mimpinya seorang wanita melihat suaminya menggaulinya, apakah ia harus mandi?”
3 HR. Al-Bukhari no. 282, kitab Al-Ghusl, bab Idza Ihtalamatil Mar`ah dan Muslim no. 313 kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusl alal Mar‘ah bi Khurujil Mani minha
4 HR. At-Tirmidzi no. 113, kitab Ath-Thaharah, bab Fiman Yastaiqizh fa Yara Balalan wala Yadzkuru Ihtilaman. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi.
5 HR. Muslim no. 708, kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusli ‘alal Mar`’ati bikhurujil Mani minha.
6 Yaitu terasa nikmat dengan keluarnya, diikuti dengan melemahnya syahwat dan aromanya seperti aroma mani laki-laki.
7 HR. Muslim no. 708, kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusli ‘alal Mar`ati bikhurujil Mani minha
8 HR. Al-Bukhari no. 130, kitab Al-’Ilmu, bab Al-Haya‘u fil ‘Ilmi dan pada beberapa tempat lainnya dalam kitab Shahih-nya. Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim no. 710, kitab Al-Haidh, bab Wujubul Ghusli ‘alal Mar‘ati bikhurujil Mani minha
9 Kata Al-Imam An-Nawawi t, makna kalimat ini banyak diperselisihkan dan terbesar di kalangan salaf dan khalaf dari segala kelompok. Pendapat yang paling tepat dan paling kuat yang dipegangi para muhaqqiq tentang maknanya adalah kalimat ini asal maknanya: Engkau menjadi fakir. Orang Arab terbiasa menggunakannya namun tidak memaksudkan hakikat maknanya yang asli. Mereka menyatakan Taribat Yadaak, Qatalahullahu alangkah beraninya orang itu, Laa Umma Lahu, Laa Aba Laka, Tsakilathu Ummuh, Wailu Ummuhu dan lafadz-lafadz sejenis, mereka ucapkan ketika mengingkari sesuatu, mencerca, mencaci, membesarkan, menekankannya, atau untuk menyatakan keheranan/kekaguman. Wallahu a’lam.” (Al-Minhaj, 2/212)
10 Dalam riwayat lain Rasulullah n balas mengatakan kepada ‘Aisyah: “Bahkan engkau, taribat yaminuk….” (HR. Muslim no. 707)
11 HR. Muslim no. 713
12 Bagian hati yang paling bagus, kata Al-Imam An-Nawawi t (Al-Minhaj, 3/217). Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani t: “Ziyadah adalah potongan tersendiri/ terpisah yang tergantung pada hati, dan sangat lezat rasanya.” (Fathul Bari, 7/341)
13 HR. Muslim no. 714
14 Karena setiap yang sabaq berarti perkaranya tinggi, sehingga ‘uluw di sini adalah ‘uluw maknawi. (Fathul Bari, 7/341)
15 HR. Al-Bukhari no. 3329, kitab Ahaditsul Anbiya’, bab Khalqi Adam wa Dzurriyatihi

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Rabu,16 November 2011/19 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly