Hakekat Tawakal

(ditulis oleh: Al-Allamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

Bertawakal kepada Allah l ada dua macam:
Pertama, bertawakal kepada-Nya dalam memperoleh kebutuhan dan bagiannya dari dunia yang dilakukan seorang hamba, atau dalam rangka menghindari hal-hal yang tidak dia sukai dan musibah-musibah duniawi .
Kedua, bertawakal kepada-Nya dalam memperoleh apa yang Allah l sukai dan ridhai, berupa iman, yakin, jihad dan berdakwah kepada Allah l.
Keutamaan antara keduanya tidak bisa diperhitungkan kecuali oleh Allah l.
Ketika seorang hamba melakukan tawakal jenis yang kedua kepada Allah l dengan sungguh-sungguh, Allah l akan memberikan kecukupan secara sempurna kepadanya pada jenis tawakal yang pertama. Dan ketika melakukan tawakal jenis yang pertama kepada-Nya tanpa jenis yang kedua, Allah akan memberinya kecukupan juga. Akan tetapi ia tidak memperoleh hasil dari tawakal orang yang bertawakal pada perkara yang Allah cintai dan ridhai.
Tawakal kepada-Nya yang paling besar adalah tawakal dalam hal hidayah dan memurnikan tauhid serta mengikuti Rasul dan memerangi pengikut batil. Ini merupakan tawakal para rasul dan pengikut mereka yang khusus.
Tawakal terkadang terwujud karena terpaksa dan terpepet, di mana seorang hamba tidak mendapatkan tempat berlindung melainkan dengan tawakal. Seperti halnya ketika jalan-jalan sudah menjadi sempit, jiwanya terasa sempit dan ia yakin bahwa tiada tempat berlindung dari ketetapan Allah kecuali dengan kembali kepada-Nya. Maka dalam keadaan semacam ini, jalan keluarnya sama sekali tidak akan meleset darinya.
Terkadang, tawakal muncul bukan karena terpepet, tetapi memang ia menghendakinya. Jika pada tawakal tersebut ada sarana yang akan menyampaikan kepada tujuannya, maka (dilihat), bila:
q sarana tersebut termasuk sesuatu yang diperintahkan oleh Allah, maka menjadi tercela bila sarana tersebut ditinggalkan (sementara dia berdalih dengan tawakal, pent).
q (sebaliknya) bila dia menjalankan sarana tersebut dan meninggalkan tawakal, maka iapun tercela dengan tidak bertawakal. Karena tawakal adalah wajib berdasarkan kesepakatan umat dan nash dari Al-Qur`an. Dan yang wajib adalah melaksanakan dan menggabungkan antara keduanya.
q Apabila sarana tersebut tergolong sesuatu yang haram maka dia haram untuk melaksanakannya. Sehingga baginya, sarana untuk mencapai tujuannya tinggal satu yaitu tawakal, tiada lagi selainnya. Karena tawakal itu sendiri termasuk sebab atau sarana terkuat untuk mencapai tujuan dan untuk menghindarkan dari sesuatu yang tidak diinginkan. Bahkan, secara mutlak, tawakal termasuk sarana yang terkuat dari seluruh sarana yang ada.
q Bila sarana tersebut tergolong perkara yang mubah, maka perlu dilihat. Apakah dengan melaksanakannya akan melemahkan tawakal anda atau tidak?
– Bila melemahkannya dan membuat buyar konsentrasi qalbumu serta memencarkan tekadmu, maka lebih baik meninggalkan sarana tersebut.
– Tetapi bila tidak melemahkannya maka lebih baik melakukannya. Karena hikmah Dzat Yang Maha Hikmah menghendaki terkaitnya antara (sebab) dan musababnya, sehingga jangan meninggalkan hikmah-Nya selama memungkinkan untuk melakukannya. Terlebih ketika anda melakukannya dalam rangka ibadah, sehingga dengan itu anda melakukan ibadah qalbu dengan bertawakal dan ibadah anggota badan dengan menempuh sarana (pendukung tercapainya tujuan) yang engkau niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Dan realisasi tawakal adalah dengan melakukan sarana-sarana yang diperintahkan. Orang yang tidak melakukan sarana tersebut maka tawakalnya tidak sah. Sebagaimana melakukan sarana yang akan menyampaikan kepada kebaikan akan merealisasikan harapannya, maka orang yang tidak melakukan sarana tersebut berarti harapannya sekedar angan-angan. Sebagaimana orang yang tidak melaksanakannya berarti tawakalnya hanya kelemahan, dan kelemahannya menjadi tawakal.
Rahasia tawakal dan hakikatnya adalah bersandarnya qalbu kepada Allah l semata. Sehingga seseorang yang menempuh sebab-sebab penunjang tidaklah dianggap menodai tawakal, selama qalbunya tidak bersandar kepada sebab tersebut atau cenderung kepadanya.
Sebagaimana tidak bermanfaat ucapan seseorang: “Aku bertawakal kepada Allah l,” namun dia bersandar kepada selain Allah l, cenderung kepadanya serta memasrahkan kepercayaannya kepadanya. (Memang) tawakalnya lidah berbeda dengan tawakalnya qalbu. Sebagaimana juga taubatnya lidah bersamaan dengan tetapnya qalbu (dalam dosa) adalah sama. Begitu juga taubatnya qalbu tanpa lidah mengucapkannya adalah sesuatu yang lain pula.
Atas dasar itu, maka ungkapan seorang hamba: “Aku bertawakal kepada Allah,” sementara qalbunya bersandar kepada selain-Nya, sama dengan ucapannya: “Aku bertaubat kepada Allah” sementara ia tetap dalam maksiatnya dan melakukannya.
(Al-Fawa`id, hal. 98-99, diterjemahkan oleh Qomar ZA)

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Rabu,16 November 2011/19 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly