Hakikat Iman dan Sebagian Sifat Orang-orang yang Beriman

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)

 

الْحَمْدُ لِلهِ ذِيْ الفَضْلِ وَالْاِمْتِنَانِ، يَمُنُّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ بِهِدَايَتِهِ لِلْإِيْمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً تُوْجِبُ لِمَنْ قَالَهَا عَارِفاً لِمَعْنَاهَا عَامِلاً بِمُقْتَضَاهَا دُخُوْلَ الجَنَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَنْزَلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ والتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ:

أَيُّهَا النَّاسُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah l, yang memiliki berbagai keutamaan dan kebaikan, yang mengaruniakan nikmat Islam kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali hanya Allah l, yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Saya juga bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad n adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad n, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh kaum muslimin yang berjalan di atas sunnahnya.

 

Jamaah jum’ah yang semoga dirahmati Allah l,

Marilah kita senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan serta keimanan kita kepada Allah l. Karena dengan ketakwaan kepada-Nya seseorang akan dimudahkan dalam berbagai urusannya. Selain itu, keimanan adalah karunia Allah l yang paling besar bagi hamba-hamba-Nya. Tanpa pertolongan-Nya, seseorang tidak bisa untuk meraihnya. Allah l berfirman:

“Bahkan Allahlah sebenarnya yang melimpahkan nikmat kepada kalian dengan menunjukkan kalian kepada keimanan jika kalian adalah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 17)

 

Hadirin rahimakumullah,

Namun perlu diketahui, bahwasanya iman yang merupakan karunia Allah l yang paling besar bukanlah sekadar ucapan dengan lisan. Namun iman sebagaimana diterangkan para ulama setelah merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, adalah keyakinan dalam hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan. Iman akan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Hal ini di antaranya sebagaimana diterangkan oleh Al-Imam Muhammad ibnu Husain Al-Ajurri t di dalam kitabnya Asy-Syari’ah, beliau t menyebutkan:

“Ketahuilah –semoga Allah l memberikan rahmat-Nya kepada kami dan kepada kalian– sesungguhnya yang diyakini oleh seluruh ulama kaum muslimin adalah bahwasanya iman adalah perkara wajib (yang harus dimiliki) oleh seluruh manusia, dan (iman) adalah pembenaran di dalam hati dan pernyataan dengan lisan serta pengamalan dengan anggota badan. Kemudian, ketahuilah (pula) bahwasanya tidaklah mencukupi sekadar ma’rifah (meyakini adanya Allah l) dan pembenaran di dalam hati, kecuali bersamanya ada iman (yang diwujudkan) dalam bentuk pengucapan dengan lisan. Begitu pula tidaklah mencukupi sekadar ma’rifat (keyakinan) di dalam hati dan pengucapan dengan lisan, sampai adanya pengamalan dengan anggota badan. Apabila terkumpul tiga perkara ini (pada seseorang) maka dia adalah seorang yang beriman. Hal ini sebagaimana ditunjukkan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah serta penjelasan para ulama kaum muslimin.”

 

Hadirin rahimakumullah,

Seandainya iman sekadar pengakuan dengan lisan, tentu orang-orang munafik akan masuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman. Namun Allah l telah memberitakan dalam firman-Nya:

“Dan di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari akhir’, padahal mereka itu sesungguhnya bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak menyadarinya.” (Al-Baqarah: 8-9)

Begitu pula, apabila iman sekadar meyakini adanya Allah l dan membenarkan di dalam hati, tentunya iblis dan orang-orang musyrikin dahulu termasuk golongan orang-orang yang beriman. Karena iblis adalah makhluk yang mengetahui adanya Allah l, orang-orang musyrikin dahulu adalah orang-orang yang mengakui kebenaran, namun karena kesombongan dan fanatiknya kepada ajaran nenek moyangnya mereka tidak mau menyatakan keimanan dengan lisannya dan tidak mau mengikuti agama Rasul yang diutus oleh Allah l kepada mereka. Allah l menyebutkan tentang orang-orang kafir dalam ayat-Nya:

“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka), padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berbuat kerusakan.” (An-Naml: 14)

Maka jelaslah bahwa iman itu tidak cukup dengan sekadar keyakinan dalam hati dan ucapan dengan lisan saja, namun harus dibuktikan dengan amalan. Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri t mengatakan:

لَيْسَ الْإِيْمَانُ بِالتَّحَلِّي وَلاَ بِالتَّمَنِّي وَلَكِنَّهُ مَا وَقَرَ فِيْ الْقُلُوْبِ وَصَدَقَتْهُ الْأَعْمَالُ

“Bukanlah iman itu sekadar pengakuan dan bukan pula sekadar angan-angan, akan tetapi iman adalah keyakinan yang menancap ke dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.”

 

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Sesungguhnya iman memiliki tanda-tanda sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi n. Oleh karena itu, seseorang yang menginginkan dirinya termasuk dalam tingkatan orang-orang yang beriman, semestinya berusaha untuk memiliki tanda-tanda tersebut. Di antaranya disebutkan dalam firman Allah l:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang bila disebut nama Allah bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Allahlah mereka bertawakkal. (Mereka) adalah orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Al-Anfal: 2-3)

Hadirin rahimakumullah,

Kalau kita memerhatikan ayat tersebut mungkin banyak di antara kita yang jauh dari memiliki tanda-tanda orang yang beriman. Dalam masalah tawakkal misalnya, banyak di antara kita yang masih banyak bersandar pada kemampuan, keahlian, atau tenaganya serta lupa dalam menyerahkan urusannya kepada Allah l. Bahkan ada di antara kaum muslimin yang perbuatannya menunjukkan tidak meyakini akan kemahakuasaan Allah l terhadap segala sesuatu. Hal ini terlihat pada sebagian kaum muslimin yang tidak mencukupkan dirinya dengan yang halal dalam mencari rezeki. Seakan-akan mereka tidak akan mendapatkan rezeki kalau hanya menggunakan cara yang halal. Padahal semestinya seorang muslim senantiasa bertawakkal kepada Allah l dan yakin akan pertolongan Allah l kepada hamba-hamba-Nya, selama dirinya menggunakan cara yang halal dalam hal mencari rezeki atau yang lainnya.

 

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,

Akhirnya, kita memohon kepada Allah l agar senantiasa diberi kemudahan untuk dan mencintai keimanan serta memohon kepada Allah l agar diberi kekuatan untuk selalu membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.

هَذَا وَنَسْأَلُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُحَبِّبَ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَيُزَيِّنَهُ فِيْ قُلُوْبِنَا وَأَنْ يُكْرِهَ إِلَيْنَا الكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

 

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، مَدَحَ أَهْلَ الْإِيْمَانِ وَوَعَدَهُمُ الْخُلُوْدَ فِيْ الْجِنَانِ وَمَنَحَهُمْ مِنْهُ الْمَحَبَّةَ وَالرِّضْوَانَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ أَجمَعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dan membuktikan keimanan kita dengan memiliki sifat-sifat orang yang beriman.

 

Hadirin rahimakumullah,

Allah l di dalam firman-Nya telah menyebutkan beberapa sifat orang yang beriman. Di antaranya sebagaimana yang disebutkan dalam sepuluh ayat yang pertama di dalam surat Al-Mu’minun:

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki. Maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi. (Yaitu) yang akan mewarisi surga Firdaus, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Mu’minun: 1-11)

Di dalam ayat ini, Allah l menyebutkan sebagian sifat orang-orang yang beriman. Maka marilah kita melihat pada diri kita masing-masing. Apakah sifat orang-orang yang beriman yang ada dalam ayat tersebut telah kita miliki? Sudahkah kita termasuk orang-orang yang khusyu’ ketika shalat? Sudahkah kita menjauhkan diri dari ucapan dan perbuatan yang sia-sia atau bermaksiat kepada Allah l? Sudahkah kita menjalankan amanah yang telah kita terima dengan sebaik-baiknya? Sungguh pada kenyataannya banyak di antara kita yang belum mewujudkan atau membuktikan keimanannya dengan memiliki sifat-sifat tersebut.

 

Hadirin rahimakumullah,

Di antara sifat orang yang beriman adalah kesiapan diri untuk menjalankan hukum atau syariat yang telah ditetapkan oleh Allah l. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya jawaban orang-orang yang beriman, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukumi di antara mereka, maka mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan kami patuh’, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An-Nur: 51)

Maka sudah semestinya bagi orang-orang yang ingin mencapai derajat orang-orang yang beriman untuk menjalankan syariat dalam seluruh kehidupannya dan meninggalkan segala aturan yang menyimpang dari syariat yang telah Allah l tetapkan. Allah l telah menetapkan syariat melalui Rasul-Nya n untuk kebaikan hamba-hamba-Nya, dan Allah l Maha mengetahui akibat dari segala sesuatu. Sementara manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi dan akibat dari aturan yang dibuatnya. Maka perbedaan antara syariat Allah l dengan aturan manusia adalah sebagaimana perbedaan antara Allah l Yang Maha Kuasa dengan manusia yang penuh dengan kekurangan dan kelemahan.

 

Hadirin rahimakumullah,

Demikian beberapa sifat orang yang beriman, dan masih sangat banyak lagi ayat serta hadits yang menjelaskan sifat-sifat orang yang beriman. Namun sebagian ini saja, jika kita lihat pada kenyataan yang ada pada sebagian kaum muslimin, maka sungguh akan kita dapati tidak sedikit orang yang mengaku muslim atau bahkan mengaku mukmin namun tidak ada tanda-tanda Islam dan tidak ada tanda-tanda iman pada orang tersebut. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita dan mereka.

Bahkan sifat yang paling pokok yang harus ada bagi orang yang beriman yaitu mentauhidkan Allah l pun tidak dimiliki oleh sebagian orang yang mengaku dirinya sebagai seorang mukmin. Maka jika demikian, berarti mereka telah berdusta dengan pengakuannya. Bagaimana seorang akan dikatakan beriman sementara dirinya masih melakukan dosa besar yang paling besar yaitu syirik atau menyekutukan Allah l dengan beribadah kepada selain-Nya? Bagaimana seseorang dikatakan beriman sementara dirinya tidak mau menjalankan kewajiban yang paling besar setelah bersaksi dengan dua kalimat syahadat, yaitu shalat lima waktu?

Akhirnya, mudah-mudahan Allah l memberikan hidayah-Nya kepada kita sehingga kita bisa benar-benar memiliki sifat orang-orang yang beriman.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ في كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Sabtu,19 November 2011/22 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly