Hewan yang DIperintahkan untuk Dibunuh Haram dimakan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari)

Disebutkan dalam hadits Aisyah x, Rasulullah n bersabda,
خَمْسٌ مِنَ الدَّوَابِّ كُلُّهُنَّ فَاسِقٌ يُقْتَلْنَ فِي الْحَرَمِ: الْغُرَابُ، وَالْحِدَأَةُ، وَالْعَقْرَبُ، وَالْفَأْرَةُ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ
“Lima jenis hewan yang seluruhnya fasik, boleh dibunuh di tanah suci: burung gagak, burung elang, kalajengking, tikus, dan binatang buas.” (HR. al-Bukhari no. 1732, Muslim no. 1198)
Dalam riwayat Muslim (1998), “kalajengking” diganti “ular”.
Yang dimaksud “al-kalbul ‘aqur” adalah setiap hewan buas yang dapat memangsa manusia, seperti singa, macan, serigala, dan yang lainnya. Ini adalah pendapat jumhur ulama. (Fathul Bari, 4/39)
Rasulullah n bersabda,
اقْتُلُوا الْحَيَّاتِ وَاقْتُلُوا ذَا الطُّفْيَتَيْنِ وَالْأَبْتَرَ، فَإِنَّهُمَا يَطْمِسَانِ الْبَصَرَ وَيَسْتَسْقِطَانِ الْحَبَلَ
“Bunuhlah ular-ular, bunuhlah dzu thufyatain dan ular yang terpotong ekornya, karena keduanya dapat membutakan mata dan menggugurkan kandungan.” (Muttafaq ‘alaihi)
Thufyatain adalah jenis ular berbahaya yang di bagian punggungnya terdapat dua garis hitam. (Tuhfatul Ahwadzi, 5/49)
Termasuk yang diperintah untuk dibunuh adalah cecak dan yang sejenisnya, yang besar disebut “saam abrash” atau tokek. (Fathul Bari 6/395 dan Aunul Ma’bud 14/115)
Dari hadits Ummu Syarik x, Rasulullah n memerintah untuk membunuh cecak. (HR. al-Bukhari no. 3180 dan Muslim no. 2237)
Dari hadits Sa’d bin Abi Waqqash z, Rasulullah n menyebut cecak sebagai hewan kecil yang fasik. (HR. Muslim no. 2238)
Rasulullah n bersabda,
مَنْ قَتَلَ وَزَغَةً في أَوَّلِ ضَرْبَةٍ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً، وَمَنْ قَتَلَهَا فِي الضَّرْبَةِ الثَّانِيَةِ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً-لِدُونِ الْأُولَى، وَإِنْ قَتَلَهَا في الضَّرْبَةِ الثَّالِثَةِ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً-لِدُونِ الثَّانِيَةِ
“Barang siapa membunuh cecak pada pukulan pertama, dia akan mendapatkan sekian kebaikan. Barang siapa membunuhnya pada pukulan kedua, dia mendapatkan sekian kebaikan yang kurang dari yang pertama. Jika dia membunuhnya pada pukulan ketiga, dia mendapatkan sekian kebaikan yang kurang dari yang kedua.” (HR. Muslim no. 2240)
Ibnu Abdil Bar t menukil kesepakatan ulama tentang bolehnya membunuh cecak, baik di tanah halal maupun di Tanah Haram. Namun Ibnu Abdil Hakam dan yang lainnya menukil ucapan al-Imam Malik t yang mengatakan, “Orang yang sedang melakukan ihram tidak boleh membunuh cecak.” (Umdatul Qari, 10/185)

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Sabtu,28 April 2012/6 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly