Makar dan Tipu Daya Ahlul Kitab

وَقَالَت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ ءَامِنُواْ بِٱلَّذِيٓ أُنزِلَ عَلَى ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَجۡهَ ٱلنَّهَارِ وَٱكۡفُرُوٓاْ ءَاخِرَهُۥ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ ٧٢

Segolongan (lain) dari ahli kitab berkata (kepada sesamanya),

“Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang muk min) kembali (kepada kekafiran).” (Ali Imran: 72)

 

Makna Ayat

وَقَالَت طَّآئِفَةٞ مِّنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِ

Segolongan (lain) dari ahlul kitab.

Mereka adalah para pemimpin dan orang-orang yang terhormat dari kalangan ahlul kitab. Ibnu Jarir rahimahullah berpendapat, mereka adalah orang-orang Yahudi.

وَجۡهَ ٱلنَّهَارِ

Pada permulaan siang.

Artinya, pada awal atau permulaan siang (pagi hari). Dinamai “wajhu” karena ia adalah bagian yang terbagus. Hal ini sebagaimana ucapan penyair,

Cahaya bersinar di permulaan siang

bagaikan mutiara laut dikeluarkan secara perlahan.

Penafsiran ini dinyatakan oleh Qatadah, ar-Rabi’, dan Mujahid rahimahumullah.

ءَاخِرَهُۥ

Pada akhirnya,

Artinya, pada akhir hari (sore hari). Hal ini dinyatakan oleh Mujahid dan ar-Rabi’.

لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

Supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).

Maknanya, supaya mereka ragu lalu meninggalkan agama Islam dan berbalik kepada agama mereka (Yahudi).

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata, “Ada dua pendapat ulama tafsir tentang sebab turunnya ayat ini.

  1. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bahwa segolongan orang Yahudi berkata kepada yang lain, ‘Jika kalian berjumpa dengan sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum pada pagi hari, perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman. Sore harinya, kembalilah beribadah sebagaimana yang kalian lakukan (murtadlah), agar orang-orang mukmin kembali kepada kekafiran karena ragu setelah melihat ahlul kitab yang lebih berilmu ternyata kembali kepada agamanya.’

Diriwayatkan pula dari al-Hasan dan as-Suddi bahwa 12 orang ulama Yahudi bersepakat, ‘Masuklah kalian ke dalam agama Muhammad dengan ucapan saja (berpura-pura beriman) pada waktu pagi dan kembalilah kepada kekafiran pada sore hari. Lalu katakanlah kepada orang-orang mukmin, ‘Kami telah melihat dalam kitab kami (Taurat). Kami juga telah bertanya kepada ulama kami. Ternyata kami dapati bahwa (ajaran) Muhammad itu (salah), tidak seperti itu.’ Mereka berharap (dengan tipu daya tersebut) orang-orang mukmin ragu dan berkata, ‘Ternyata orang-orang ahlul kitab itu lebih berilmu dibandingkan kita!?’ Dengan begitu, diharapkan orang-orang mukmin kembali kepada kekafiran. Makna inilah yang dipilih oleh jumhur ulama tafsir.

  1. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan Qatadah, Allah ‘azza wa jalla memerintah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengubah arah kiblat ke Ka’bah pada siang hari (waktu shalat zuhur). Sebagian ulama Yahudi berkata, “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) pada permulaan siang.”

Maknanya, perlihatkanlah kepada mereka seolah-olah kalian mengimani arah kiblat pada waktu shalat subuh (yaitu ke arah Baitul Maqdis) lalu ingkarilah arah kiblat pada waktu shalat zuhur (Ka’bah). Tujuannya, agar orang-orang mukmin mengikuti kiblat kalian (murtad).

 

Tafsir Ayat

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menyatakan, para ulama tafsir berbeda pendapat dalam menafsirkan “…perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang.

Apa yang dimaksud dengan “seolah-olah kamu beriman”? Ada beberapa pendapat tentang hal ini.

  1. Maknanya adalah pada pagi hari perlihatkanlah seolah-olah kalian membenarkan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, berikut apa yang dibawanya dari Allah ‘azza wa jalla, dan bahwa semua itu adalah benar; namun tanpa membenarkan dan meyakini dengan keyakinan dan tekad yang bulat dalam hati. Setelah itu, ingkarilah dan tentanglah seluruhnya pada sore hari.

Kemudian Ibnu Jarir rahimahullah memaparkan beberapa riwayat yang menguatkan pendapat ini, seperti riwayat Qatadah dan Abu Malik al-Ghifari rahimahumallah.

  1. Maknanya adalah shalat.

Artinya, mereka menghadiri shalat subuh bersama kaum mukminin dan pada sore hari mereka meninggalkannya.

Ibnu Jarir rahimahullah juga memaparkan beberapa riwayat yang mendukung pendapat ini, seperti riwayat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dan Mujahid rahimahullah.

Beliau menyimpulkan bahwa makna “segolongan (lain) dari Ahli Kitab,” dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi yang membaca Taurat lalu berpura-pura beriman, yaitu membenarkan “apa yang diturunkan kepada orang-orang yang beriman,” pada pagi hari.

Maksudnya, seluruh yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu agama Islam, syariat, dan sunnah (seluruh ajaran)nya adalah benar.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Ini adalah tipu daya ahli kitab. (Dengan tipu daya tersebut), mereka hendak menipu orang-orang (muslim) yang lemah agamanya. Caranya, mereka bersepakat untuk memperlihatkan bahwa mereka seolah-olah beriman pada pemulaan siang (pagi) dan melaksanakan shalat subuh bersama kaum muslimin. Akan tetapi, saat memasuki akhir siang (sore), mereka murtad dan kembali kepada agamanya semula. Harapannya, agar orang-orang yang jahil (lemah agamanya) akan menyangka dan berkata, ‘Mereka itu murtad dan kembali kepada agamanya karena mereka telah mengetahui bahwa agama kaum muslimin (Islam) memiliki kekurangan dan keaiban (cacat).’ Oleh sebab itu, mereka berkata, ‘supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran)’.”

Ibnu Abi Najih menukil dari Mujahid rahimahullah, “Ayat ini memberitakan tentang perbuatan orang-orang Yahudi yang shalat subuh bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun sore harinya mereka kembali pada kekafiran (murtad). Itu adalah makar (tipu daya) mereka. Tujuannya agar manusia menyaksikan bahwa mereka (orang-orang Yahudi) telah mengetahui kesesatan ajaran Islam. Mereka yang sebelumnya menampakkan keislaman, ternyata setelah itu murtad.”

Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas, Qatadah, as-Suddi, ar-Rabi’, dan Abi Malik bahwa ahli kitab berkata kepada pengikutnya (para pembesar), “Apabila kalian berjumpa dengan para sahabat Nabi radhiallahu ‘anhum pada permulaan siang, berimanlah kalian (berpura-puralah menjadi orang yang beriman). Apabila memasuki akhir siang, beribadahlah sesuai dengan ibadah kalian (murtadlah) supaya mereka (kaum mukminin) berkata, ‘Ternyata ahli kitab lebih berilmu (pintar) daripada kita’.”

Asy-Syaukani berkata, “Hal ini mereka lakukan guna menyusupkan keraguan pada agama kaum muslimin karena menganggap bahwa ahli kitab memilki ilmu (yang lebih benar). Mereka berharap, tindakan mereka berpurapura beriman lalu murtad kembali, akan memunculkan keraguan dan kebimbangan pada orang yang lain. Akan tetapi, mereka tidak mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla telah mengokohkan hati kaum mukminin dan meneguhkan kedudukan mereka. Jadi, berbagai tipu daya musuh tidak menggoncangkan mereka (dalam beragama).”

As-Sa’di rahimahullah mengatakan tentang makna ayat ini, “Masuklah kalian ke dalam agama mereka (agama Islam) pada permulaan siang sebagai bentuk makar dan tipuan. Apabila tiba waktu sore hari, murtadlah kalian supaya orang-orang mukmin kembali kepada kekafiran. Mereka akan berkata, ‘Kalau saja agama Islam itu benar, tidak mungkin orang-orang yang berilmu dan ahli kitab itu murtad’.”

Ini yang mereka kehendaki, kagum terhadap diri mereka sendiri. Mereka mengira bahwa manusia akan berprasangka baik terhadap mereka sehingga kaum muslimin mengikuti ucapan dan perbuatan mereka. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Hal ini seperti dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

يُرِيدُونَ أَن يُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَيَأۡبَى ٱللَّهُ إِلَّآ أَن يُتِمَّ نُورَهُۥ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٣٢

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.(at-Taubah: 32)

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla,

يُرِيدُونَ لِيُطۡفِ‍ُٔواْ نُورَ ٱللَّهِ بِأَفۡوَٰهِهِمۡ وَٱللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ ٨

“Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya.(ash-Shaf: 8)

Allah ‘azza wa jalla menamai agama yang dibawa oleh para rasul dengan “cahaya Allah”. Sebab, agama Islam menjadi petunjuk dan penerang atas gelapnya kejahilan serta penerang atas agama lain yang batil (salah dan sesat). Ajaran agama Islam ialah ilmu dan amalan yang benar.

Adapun agama selain Islam, semuanya mengajarkan ilmu dan amalan yang batil. Orang-orang Yahudi, Nasrani, dan kaum musyrikin yang menyerupai mereka, berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah ‘azza wa jalla dengan ucapan yang hanya berupa tipu daya semata, tanpa ada dalil sama sekali. Allah ‘azza wa jalla tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya.

Demikian pula firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ ٱللَّهُۖ وَٱللَّهُ خَيۡرُ ٱلۡمَٰكِرِينَ ٥٤

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.(Ali Imran: 54)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin


———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis, 1 Januari 1970/22 Syawal 1389H

Print Friendly