Masuk Islamnya Hamzah dan ‘Umar

Saat Hamzah dan ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma masuk Islam, posisi kaum muslimin di Makkah bertambah kuat. Namun upaya kaum musyrikin untuk menghentikan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah kendor. Melalui paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kaum musyrikin meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan dakwahnya. Namun upaya ini pun gagal. Akibatnya, penindasan terhadap kaum muslimin semakin menjadi-jadi.

Abu Jahl semakin hebat memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin. Suatu kali dia bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia pun mencaci-maki dan menyakiti beliau. Namun tindakannya itu tidak digubris oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau tidak berbicara sepatah kata pun kepadanya. Ternyata ada salah seorang maula (bekas budak) dari ‘Abdullah bin Jud’an mendengar hal ini. Dia pun sengaja menyingkir ke tempat pertemuan Quraisy di dekat Ka’bah dan duduk bersama mereka. Tak lama kemudian datanglah Hamzah bin ‘Abdul Muththalib sambil menenteng panahnya. Agaknya dia baru pulang berburu.

Biasanya jika Hamzah pulang berburu tidak langsung ke rumah keluarganya, namun melakukan thawaf di Ka’bah (lebih dulu). Dia termasuk pemuda bangsawan Quraisy dan berwatak keras. Ketika dia melewati maula tersebut dan waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah pulang ke rumahnya, dia (maula tersebut) berkata, “Hai Abu ‘Imarah (maksudnya Hamzah, red.), seandainya kau melihat apa yang dilakukan Abul Hakam bin Hisyam (maksudnya Abu Jahl, red.) terhadap keponakanmu, yang dia lihat duduk di sini kemudian dia menyakitinya, mencaci-maki, dan mencercanya. Kemudian dia pergi dan Muhammad sama sekali tidak berbicara dengannya sepatah kata pun.”

Mendengar keterangan ini, Hamzah tidak dapat menahan marahnya, yang Allah subhanahu wa ta’ala memang menghendaki kemuliaan baginya. Hamzah segera keluar dan tidak menyapa siapa pun. Padahal setiap dia melewati tempat pertemuan itu dia senantiasa berbincang-bincang dengan orang yang ada di sana. Sekarang dia keluar sengaja mencari Abu Jahl untuk memberi pelajaran keras kepadanya.

Ketika Hamzah memasuki masjid dan melihat Abu Jahl duduk dengan beberapa orang, dia sengaja mendekatinya. Setelah dekat dengan Abu Jahl, Hamzah segera memukul kepala Abu Jahal dengan busur panah yang ada di tangannya hingga berdarah dan berkata, “Kau berani mencaci-makinya? Aku di atas agamanya. Aku pun mengucapkan apa yang diucapkannya. Coba balas, kalau kau berani!”

Beberapa orang yang ada di dekat Abu Jahl dari Bani Makhzum segera berdiri mengepung Hamzah karena ingin membela Abu Jahl. Tapi Abu Jahl berkata, “Tinggalkan Abu ‘Imarah (Hamzah), aku—demi Allah—benar-benar sudah mencaci-maki keponakannya dengan umpatan yang sangat buruk.”

Sejak itu, keislaman Hamzah mulai berkembang sempurna. Orang-orang kafir Quraisy mulai menyadari bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertambah kuat dan mempunyai pembela. Mereka pun mulai mengurangi penindasan terhadap beliau dan para sahabatnya.

Sebagian ahli sejarah menceritakan setelah mengucapkan kata-katanya di depan Abu Jahl itu, Hamzah sempat menyesal dan bingung, kemudian dia berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala di sisi Ka’bah. Akhirnya setelah merasa lega dia segera menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan keadaannya. Beliau pun mendoakan agar Allah subhanahu wa ta’ala mengokohkan Hamzah dalam keyakinannya.

‘Umar Masuk Islam

Dikisahkan dari riwayat Khabbab radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendoakan ‘Umar agar masuk Islam. Beliau berkata, “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan ‘Umar bin al-Khaththab atau ‘Amru bin Hisyam.”

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di sebuah rumah di dekat bukit ash-Shafa. ‘Umar pun segera berangkat ke sana. Bertepatan pula di rumah itu ada Hamzah, Thalhah, dan beberapa orang lain. Hamzah berkata, “Ini ‘Umar datang. Kalau Allah subhanahu wa ta’ala menginginkan kebaikan baginya, maka dia selamat. Kalau tidak, membunuhnya sangat mudah bagi kita.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di dalam, kemudian beliau diberitahu lalu keluar.

Begitu ‘Umar masuk, Hamzah segera mencengkeram pakaian dan pedang ‘Umar sambil berkata, “Apakah engkau belum juga mau berhenti, hai ‘Umar sampai Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan kehinaan bagimu sebagaimana yang dialami oleh al-Walid bin al-Mughirah?!”

‘Umar segera berkata, “Aku bersaksi tidak ada Ilah selain Allah dan engkau (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Ibnu Ishaq mengatakan, “Setelah ‘Umar masuk Islam, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa mendapat pertolongan. Begitu juga halnya ketika Hamzah masuk Islam.”

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Kami tidak pernah mampu shalat di sisi Ka’bah hingga ‘Umar masuk Islam.”

Di dalam Shahih al-Bukhari disebutkan, “Kami senantiasa merasa terhormat sejak ‘Umar masuk Islam.”

Melihat dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin bertambah kokoh, mereka (orang-orang musyrikin) pun sekali lagi menemui Abu Thalib agar dia membujuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata, “Hai Abu Thalib. Sesungguhnya engkau telah berusia cukup matang, memiliki kedudukan dan kemuliaan. Kami pernah memintamu agar menghentikan anak saudaramu tapi ternyata tidak engkau lakukan. Demi Allah, kami tidak bisa bersabar lagi melihat dia mencaci-maki nenek moyang kami, membodoh-bodohi pemuka kami dan mencela sesembahan kami, hingga engkau menahannya dari kami atau engkau dan dia kami hadapi sampai salah satu dari kita binasa.” (Atau sebagaimana dikatakan mereka)

Hal ini sangat memberatkan Abu Thalib, yang dia harus berpisah dan bermusuhan dengan kaumnya. Dia pun menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai anak saudaraku, kaummu menemuiku serta mengatakan ini dan itu. Sekarang tinggallah engkau dan aku saja. Janganlah kau bebani aku dengan sesuatu yang tidak sanggup aku memikulnya.”

Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyangka barangkali pamannya telah melihat sesuatu. Mungkin dia sudah merasa tidak sanggup membela beliau dan akan menyerahkannya ke tangan Quraisy. Disebutkan dalam riwayat lain yang sahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ”Kalian melihat matahari itu?” Mereka menjawab, ”Ya.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Saya tidak lebih mampu untuk meninggalkan itu (dakwah) dari kalian, kemudian kalian terbakar dengan percikan darinya.”

Kemudian beliau berpaling dan menangis, lalu berdiri. Ketika beliau beranjak pergi, Abu Thalib memanggilnya, “Menghadaplah kemari, wahai anak saudaraku. Menghadaplah!” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menghadap kepada pamannya.

Abu Thalib bekata, “Menghadaplah dan katakanlah apa pun yang engkau sukai. Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan engkau kepada siapa pun selama-lamanya.”

Melihat bahwa Abu Thalib juga tidak mampu menghentikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka pun bertambah sengit memusuhi kaum muslimin. Setiap kabilah menangkap orang dari pihak mereka yang masuk Islam untuk disiksa.

(bersambung)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muhammad Harits


HR. at-Tirmidzi. Doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih as-Sirah hlm. 193 dan beliau jelaskan takhrijnya.

Adapun hadits: “Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Wahai pamanku. Demi Allah, seandainya mereka letakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku menghentikan dakwah ini, maka selamanya aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah subhanahu wa ta’ala sendiri yang akan memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya’.”

Ini adalah riwayat yang lemah sebagaimana diterangkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah adh-Dha’ifah no. 909 dan Shahih as-Sirah hlm. 143. Kisah ini masyhur namun lemah, sanadnya mu’dhal (ada dua rawi yang hilang secara berurutan).

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Jumat,11 November 2011/14 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly