Memupuk Keimanan

Sebuah pohon akan kokoh jika akarnya menghunjam ke tanah. Demikian juga keimanan, akan kokoh jika pondasinya kuat tertanam dalam relung hati manusia. Namun sama halnya dengan pohon, semakin tinggi keimanan maka semakin besar pula “badai” menerpa. Godaan hawa nafsu (syahwat) ataupun kerancuan dalam agama (syubhat) akan senantiasa mengempaskan pohon berikut ranting keimanan yang tidak disirami dengan akidah yang benar.
Keimanan juga bisa dianalogikan dengan lampu. Seringkali menyala dengan baik namun terkadang juga meredup. Ia tiba-tiba bisa demikian terang namun esoknya bisa putus atau mati.
Di sini, ada pesan kuat yang bisa ditangkap, semestinya kita menyadari bahwa kita mempunyai “tanaman” yang mesti kita pupuk serta kita sirami dengan nilai-nilai kebajikan. Kita mempunyai “pelita” yang harus kita jaga agar senantiasa menyala.
Memang, yang namanya menjaga keimanan tidaklah mudah. Terlebih jika kita tidak dibekali ilmu atau akidah yang shahihah. Karena bisa jadi tanpa pernah disadari, selama ini kita berada dalam spiral kesesatan yang dapat menghantarkan kepada kekufuran. Atau mungkin, kita sering melakukan amalan atau melontarkan ucapan yang bisa mengancam eksistensi keimanan kita.
Hal inilah yang melatarbelakangi mengapa “pembatal keimanan” menjadi tema utama yang diangkat pada edisi kali ini.
Pembaca, rumah tangga adalah sebuah ruang yang teramat pribadi dalam sebuah bangunan bernama masyarakat. Tak banyak yang tahu apa yang terjadi dalam sebuah rumah tangga selain penghuninya. Dari luar terlihat harmonis namun siapa yang menyangka bahwa di dalamnya sarat konflik atau pertikaian.
Inilah salah satu sisi dari “budaya kulit”. Kebanyakan dari kita, tanpa sadar, lebih menomorsatukan muamalah kepada orang lain ketimbang terhadap suami/istri kita. Kita bisa bersikap sabar kepada orang lain namun belum tentu itu berlaku bagi pasangan kita. Bisa jadi orang mengenal kita sebagai pribadi yang ramah dan santun, tapi di dalam rumah, naudzubillah, kita malah bersikap bengis kepada istri. Di antara kita bisa jadi adalah orang yang ditokohkan, dianggap kyai/ustadz, namun ketika ada perselisihan yang membumbui perjalanan rumah tangganya, piring dan gelas dengan mudahnya beterbangan. Lebih parah lagi, vonis cerai dengan ringannya dijatuhkan.
Pendek kata, membangun akhlak berumah tangga memang menjadi suatu keharusan. Bagaimana menyikapi hal sepele seperti berbagi pekerjaan rumah tangga  hingga yang lebih besar dari itu, kita mesti merujuk pada rumah tangga Rasulullah n. Dan tema ini tersaji apik dalam rubrik Mengayuh Biduk.
Pembaca, salah satu sebab datangnya musibah adalah karena dosa-dosa yang kita lakukan. Lebih-lebih jika ditambah dengan sikap meremehkan dosa tersebut. Maka azab Allah l seakan hanya menunggu waktu. Tentang hal ini bisa anda kaji lebih dalam dari rubrik Mutiara Kata.
Dan tentu tak hanya sebatas ini. Banyak tema lain yang bisa anda renungi, pembaca. Selamat menyimak!

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,17 November 2011/20 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly