Mengejar Impian dengan Klenik

Al-Ustadz Abdurrahman Abu Usamah

Setiap orang tentu mengidamkan kebahagiaan, kesenangan, ketenteraman, dan ketenangan dalam hidup. Namun, banyak yang beranggapan bahwa kebahagiaan terletak pada harta benda yang berlimpah, kedudukan yang tinggi, atau nama yang tersohor dan menjadi buah bibir banyak orang.

Tentu, ini adalah anggapan yang sangat dangkal dan keliru. Anggapan ini sering kali menyeret orang terjatuh ke jurang keputusasaan. Bunuh diri, menjadi gila, terjadinya pembunuhan, pelacuran, perampokan, pencurian, penjambretan, perjudian, dan berbagai macam kejahatan lainnya dipicu oleh keputusasaan ini.

Tidak cukup sampai di situ, seseorang akan terbawa untuk melakukan tindakan-tindakan yang menghancurkan keyakinannya sampai ke tingkatan kufur kepada Allah ‘azza wa jalla, seperti murtad, memelihara jin alias tuyul, dan melakukan praktik-praktik perdukunan.

Anggapan yang salah tersebut seringkali menjadikan orang lupa daratan, mengkhayal kalau dirinya sedang terbang ke angkasa dan bisa meraih segala apa yang diimpikannya, padahal dia berada dalam kerendahan dan kehinaan karena menjadi budak dunia.

Tidak sedikit pula yang kemudian menjadikan agama sebagai barang dagangan yang menjanjikan. Sudah masyhur, di tengah kita sederetan nama penyanyi, pelawak, bintang film, tiba-tiba menjadi dai kondang yang menyampaikan ilmu agama, menukar serta melelang ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dengan harga yang sangat murah dan rendah sebagaimana yang telah diceritakan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam al-Qur’an.

Dengan anggapan ini pula, tidak jarang seseorang yang sebelumnya berjalan di atas kebenaran menjadi goncang, lalu sedikit demi sedikit meninggalkan kebenaran, dan akhirnya menjual kekokohannya di atas al-haq dengan harga murah.

Sungguh, betapa meruginya mereka. Itulah ucapan yang keluar dari lisan nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَم وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ

“Telah celaka budak dinar, telah celaka budak dirham, telah celaka budak pakaian yang polos, dan telah celaka budak pakaian yang bermotif, jika diberi, dia ridha; apabila tidak diberi dia tidak ridha.” ( HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu no. 5955)

فَوَاللهِ، الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُم

“Demi Allah, bukan kefakiran yang aku khawatirkan menimpa kalian, namun yang mengkhawatirkanku adalah dibentangkannya atas kalian dunia sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orag sebelum kalian sehingga kalian berlomba-lomba (mengejarnya) sebagaimana mereka dan akhirnya membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.” (HR. al-Bukhari no. 2924 dan Muslim no. 5261 dari ‘Amr bin ‘Auf radhiallahu ‘anhu)

Abu ad-Darda radhiallahu ‘anhu berkata,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ وَنَحْنُ نَذْكُرُ الْفَقْرَ وَنَتَخَوَّفُهُ فَقَالَ: أَالْفَقْرَ تَخَافُونَ؟ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتُصَبَّنَّ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا صَبًّا حَتَّى يُزِيغَ قَلْبَ أَحَدِكُمْ إِزَاغَةً إِ هِيَهْ

“Telah keluar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kami dan kami sedang mengingat kefakiran yang mengkhawatirkan kami. Beliau bersabda, ‘Kefakirankah yang kalian khawatirkan? Demi Allah, yang jiwaku berada di tangannya, benar-benar akan dituangkan kepada kalian dunia sehingga tidak akan tersesat hati salah seorang kalian kecuali dengannya (dunia)’.” (HR. Ibnu Majah no. 5 dari Abu ad-Darda radhiallahu ‘anhu dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 9 dan Silsilah ash-Shahihah no. 688)

Orang-orang miskin dan fakir berlomba mengejar dunia kemudian menjadi orang yang kaya dan bisa berbuat apa saja, sesungguhnya merupakan salah satu tanda hari kiamat yang telah diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits sahih,

وَإِذَا كَانَتِ الْعُرَاةُ الْحُفَاةُ رُءُوسَ النَّاسِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا، وَإِذَا تَطَاوَلَ رِعَاءُ الْبَهْمِ فِي الْبُنْيَانِ فَذَاكَ مِنْ أَشْرَاطِهَا، فِي خَمْسٍ يَعْلَمُهُنَّ إِ اللهُ

“Jika seseorang yang dahulunya telanjang (tidak berpakaian) dan tidak beralas kaki menjadi pemimpin maka itulah sebagai tanda hari kiamat, dan bila para penggembala kambing berlomba-lomba dalam mendirikan bangunan maka itu pula menjadi tanda-tandanya dalam lima perkara yang tidak ada mengetahuinya kecuali Allah ‘azza wa jalla.” (HR. Muslim no. 9 dari Umar ibnul Khaththab dan no. 10 dari Abu Hurairah, dan ini lafadz Abu Hurairah)

 

Dunia Memang Memikat

Dunia itu indah dan memikat, menjanjikan kepuasan jiwa. Itulah ungkapan yang pas buatnya dan itulah ungkapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، مَنْ أَصَابَهُ بِحَقِّهِ بُورِكَ لَهُ فِيهِ، وَرُبَّ مُتَخَوِّضٍ فِيمَا شَاءَتْ بِهِ نَفْسُهُ مِنْ مَالِ اللهِ وَرَسُولِهِ لَيْسَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِ النَّارُ

“Sesungguhnya harta ini adalah hijau dan manis. Barang siapa memperolehnya dengan cara yang benar, niscaya akan diberkahi. Bisa jadi, ada orang berbuat sesuai dengan hawa nafsunya terhadap harta Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, karena itu tidak ada balasan baginya kecuali neraka.” (HR. at-Tirmidzi 2296 dari Khaulah bintu Qais x, asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 2251)

Datang pula riwayat yang sama dari ‘Amrah bintu al-Harits bin Abu Dhirar x dengan lafadz, “Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Barang siapa mendapatkannya dengan cara yang benar, itulah yang akan beberkah….”

Datang riwayat yang semisal hadits ‘Amrah dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma dan Maimunah x, dan semua riwayatnya sahih. Lihat Shahih al-Jami’ no. 1608, 3410, dan 3411.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih beliau no. 4925 dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya perkara yang sangat mengkhawatirkanku atas kalian adalah apa yang akan dikeluarkan oleh Allah ‘azza wa jalla dari barokaat dunia ini.’

Beliau ditanya, ‘Apa yang dimaksud dengan barokaat dunia?’

Beliau bersabda, ‘Perhiasan dunia.’

Seseorang berkata kepada beliau, ‘Apakah kebaikan itu datang dengan kejelekan?’

Beliau terdiam dan kami menduga wahyu sedang turun, dan beliau mengusap keringat dari keningnya dan berkata, ‘Mana orang yang bertanya tadi?’

Orang itu menjawab, ‘Saya’.”

Abu Sa’id berkata, “Kami berterima kasih dengan munculnya pertanyaan tersebut. Rasulullah bersabda, ‘Tidak akan datang kebaikan itu kecuali dengan kebaikan, sesungguhnya harta benda itu hijau dan manis…’.”

Kita juga masih mengingat sabda oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat al-Imam Muslim rahimahullah no. 4925 dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu,

إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Sesungguhnya dunia itu manis dan indah, dan sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla akan menjadikan kalian silih berganti di dunia untuk melihat apa yang kalian kerjakan. Maka dari itu, takutlah kalian kepada dunia dan takutlah kepada wanita, karena sesungguhnya musibah yang pertama kali menimpa bani Israil adalah ujian kaum wanita.”

Dunia memang tempat keangkuhan, ujub, kesombongan dan kecongkakan, tempat hasad, iri hati dan dengki, tempat pertumpahan darah, tempat saling injak, jatuh-menjatuhkan, jegal-menjegal, tempat saling curiga-mencurigai, tempat melelang kehormatan, tempat saling menuduh, tempat kezaliman, dan sebagainya. Semua ini akan berakhir pada pintu kegagalan, kerugian, kehancuran, dan kebinasaan.

Allah ‘azza wa jalla menjelaskan dalam firman-Nya,

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah ‘azza wa jalla adalah kekal.” (an-Nahl: 96)

“Apakah kamu tidak memerhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada hal itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (az-Zumar: 21)

“Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.” (al-Hadid: 20)

Al-Imam al-Alusi rahimahullah berkata, “Yang tidak tergoda oleh dunia adalah orang-orang yang berakal. Bagaimana mungkin dunia akan mendatangkan ketenangan dan ketenteraman? Semuanya adalah main-main. Tidak ada buah yang akan dipetik selain kelelahan.” (Lihat Tafsir al-Alusi tafsir surat al-Hadid ayat 20)

Dalam tafsir ayat yang sama, as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Allah ‘azza wa jalla telah memberitahukan tentang hakikat dunia dan segala yang ada di atasnya. Allah juga menjelaskan akhir kehidupan dunia dan ahli dunia. Kehidupan dunia adalah main-main dan sia-sia. Badan akan kepayahan dengan permainan dunia dan hati menjadi lalai. Inilah hakikat anak-anak dunia. Engkau dapati mereka telah menghabiskan umur dalam kelalaian hati dan lalai dari berzikir kepada Allah ‘azza wa jalla, lalai dari mengejar janji-janji, dan lalai dari ancaman. Engkau menjumpai mereka telah menjadikan agama sebagai mainan dan kesia-siaan belaka. Berbeda halnya dengan orang yang berakal dan pekerja-pekerja akhirat. Sungguh, hati mereka diramaikan oleh zikir kepada Allah ‘azza wa jalla, berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla, dan mencintai-Nya. Mereka mengisi umur mereka dengan amalan-amalan yang akan mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla, baik dengan manfaat terbatas (hanya untuk dirinya) maupun meluas (mencakup orang lain).”

Bagi orang beriman, semua urusan dunia adalah kebahagiaan yang semu dan senda gurau. Berlomba-lomba mengejarnya adalah kerugian, kegagalan, dan sia-sia belaka. Dengarkan permisalan indah dari Rabb kita,

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (al-A’raf: 176)

Pesta demokrasi menjadi bukti yang sangat jelas akan hal ini. Semua orang tampil mengusung jargon-jargon kosong pejuang demokrasi dan pembelanya. Semua orang berjejal, saling sikut dan sikat, lawan jadi kawan, dan kawan jadi lawan. Semua orang siap mengobankan apa pun yang dimiliki, hanya demi meraih impian semu. Jadi, tidak aneh lagi jika mereka rela meski harus mengorbankan akhiratnya.

Di panggung politik ini, cela-mencela, jatuh-menjatuhkan, dan membongkar aib saudara bukan lagi sesuatu yang tabu dan berdosa besar. Semuanya hanya demi mengejar impian belaka. Obral janji pun mengetuk pintu setiap rumah, meminta dukungan guna mengejar impian. Rumah “angker” milik sang dukun bagaikan pasar malam yang banyak dikunjungi para kandidat/caleg.

Sungguh, betapa lucunya. Sang dukun yang tidak mengerti nasibnya sendiri, meramal nasib orang lain. Lebih lucu lagi ketika sang dukun bodoh tersebut meramal nasib mujur bagi sang calon, lalu menggantungkan sejuta harapan lolos dalam pesta demokrasi demi mengejar impian itu. Aduhai, betapa malang nasib orang bodoh, dibodohi oleh orangorang bodoh.

 

Huru-Hara dan Perdukunan

Seribu macam masalah dan problem muncul akibat dunia. Berbagai kejahatan mencuat di permukaan karena dunia. Hancurnya persaudaraan karena dunia, runtuhnya pertemanan dan persahabatan pun dengan dunia. Hancurnya dunia dan akhirat seseorang adalah karena persoalan dunia.

Karena dunia, seseorang mau menyudahi kehidupannya di tiang gantungan, menyudahinya dengan minum racun, melempar dirinya ke jurang kematian dan kebinasaan.

Karena dunia, seseorang menjadi gila dan melakukan tindakan-tindakan nekat.

Karena dunia, seorang anak menikam bapaknya dan sebaliknya. Karena dunia, seseorang melakukan tindakan keji, yaitu membunuh ibu kandungnya sendiri.

Karena dunia pula, seseorang melelang agama dan akhiratnya, serta menjatuhkan diri pada kubangan dosa-dosa besar.

Allah ‘azza wa jalla bercerita dalam al-Qur’an tentang kesudahan Qarun dan orang-orang yang bersamanya. Allah ‘azza wa jalla telah bercerita pula tentang para penguasa dunia yang angkuh, sombong, dan congkak. Ternyata mereka adalah manusia biasa yang tidak bisa berbuat dan menolak keputusan Allah ‘azza wa jalla tenang hidup mereka. Apakah Anda masih belum bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah mereka atau menentang keputusan itu?

Huru-hara kehidupan dunia ini seringkali bermuara di tangan paranormal alias dukun. Mereka dianggap penguasa besar kehidupan, yang mengerti nasib mujur dan rugi setiap orang. Saat akan membangun rumah, dia mendatangi sang dukun untuk bertanya hari apa yang tepat untuk meletakkan batu pertama. Ketika akan membuka toko, dia tidak luput meminta petuah sang dukun. Apabila akan melakukan perjalanan jauh, dia harus mencari penjelasan hari baik dan hari sial. Saat akan menikah, kembali dia meminta saran ke dukun. Berbagai kondisi hidupnya, mayoritas tertumpu kepada para dukun.

Era globalisasi, kemajuan dalam segala bidang, media informasi yang demikian pesat dan tingkat kecerdasan yang tinggi, ternyata tidak cukup untuk menghukumi paranormal sebagai pendusta.

Lebih aneh lagi, sekarang masih ada orang-orang yang diperbudak oleh legenda-legenda jahiliah, yaitu meratap nasib di tempat-tempat yang dianggap punya mitos tinggi, yaitu nilai kekeramatan, kuburan-kuburan yang konon penghuninya adalah para wali yang bisa memberi wangsit untuk membimbing semua sepak terjang yang akan menguntungkan.

Semua bentuk penampilan hidup ini adalah sikap perbudakan terhadap akal, pelecehan terhadap kerasulan, dan penghancuran masa depan di dunia dan akhirat.

 

Lantas bagaimana pandangan agama tentang hukum mendatangi dukun atau yang semisalnya untuk mengundi nasib?

Agama sebagai aturan yang telah disempurnakan, tidak hanya menyisakan kebaikan untuk kehidupan, tetapi juga menjelaskannya. Begitu pula semua yang membahayakan hidup, agama telah memperingatkan agar dijauhi. Termasuk dalam hal ini ialah mendatangi dukun.

Agama kita mengharamkan mendatangi dukun berdasarkan dalil-dalil berikut ini.

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

“Barang siapa mendatangi dukun lalu membenarkan ucapannya, dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Dawud, an-Nasai, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 2006)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata, “Di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa dukun dan tukang sihir itu kafir karena mengaku mengetahui ilmu gaib, dan itu adalah sebuah kekafiran. Membenarkan keduanya dan meyakini serta menerima hal itu adalah kekafiran pula.” (Fathul Majid hlm. 356)

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَ ةَالٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barang siapa mendatangi tukang ramal lalu bertanya kepadanya, niscaya tidak akan diterima shalatnya empat puluh malam.” (HR. Muslim no. 2230 dari Hafshah bintu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Muawiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ مِنَّا رِجَا يَأْتُونَ الْكُهَّانَ؟ فَقَالَ: فَلا تَأْتِهِمْ

“Sesungguhnya di antara kami ada yang mendatangi dukun?” Beliau bersabda, “Janganlah kalian mendatangi mereka.” (HR. Muslim no. 836)

Bagi orang yang beriman, peringatan agama sudah cukup menjadi lampu merah dalam hidupnya. Mereka tidak mungkin percaya kepada dukun yang notabene adalah pendusta, orang yang jauh dari Allah ‘azza wa jalla dan dekat dengan musuh-Nya ‘azza wa jalla, yaitu setan.

Asy-Syaikh al-Albani dalam takhrij beliau terhadap syarah Aqidah Thahawiyyah berkata, “Kita tidak boleh percaya kepada para dukun dan para tukang ramal, tidak pula kepada siapa pun yang mengaku sesuatu yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah, serta ijma’ umat.”

Wallahu a’lam.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Selasa,28 Juli 2015/11 Syawal 1436H

Print Friendly