Menjadi Amirul Mukminin

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Al-Faruq Umar bin al-Khaththab bagian ke-5

 

Kembali kaum muslimin dirundung oleh kesedihan. Seorang bapak, teman, dan teladan telah memenuhi janjinya, menemui Allah Subhanahu wata’ala. Pengganti/Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ash- Shiddiq, sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu telah wafat. Saat merasakan bahwa ajalnya sudah dekat, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu bermusyawarah dengan beberapa sahabat lainnya tentang siapa yang menggantikannya mengatur urusan kaum muslimin. Kata beliau, “Telah datang kepada saya apa yang kamu lihat, dan saya yakin sebentar lagi saya akan dipanggil, maka angkatlah seorang amir yang kamu cintai. Kalau kamu mengangkatnya saat saya masih hidup, tentu kamu tidak akan berselisih sepeninggalku.”

Beberapa sahabat yang diundang untuk bermusyawarah meninggalkan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan berdiskusi sesama mereka. Setelah itu, mereka datang kembali dan meminta beliau saja yang menunjuk satu calon. Melihat keadaan mereka, Abu Bakr mengira mereka berselisih, kata beliau, “Apakah ada perselisihan di antara kamu dalam masalah ini?” “Tidak,” kata mereka. “Kalau begitu, demi Allah, kamu siap untuk ridha dengan pilihanku?”

“Ya,” kata mereka.

“Beri saya kesempatan agar bisa melihat mana yang terbaik untuk Allah, agama-Nya, dan hamba-hamba-Nya.”

Setelah itu, beliau mengundang ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu dan berbincang. ‘Utsman mencalonkan ‘Umar bin al- Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakr setuju dan memerintahkan menulis sebuah surat penetapannya sebagai Khalifah. Diriwayatkan pula ketika terdengar nama ‘Umar disebut sebagai calon khalifah sesudah Abu Bakr, Thalhah radhiyallahu ‘anhu datang menemui Khalifah yang terbaring lemah. Katanya, “Apakah benar ‘Umar yang dicalonkan sebagai khalifah? Anda sudah mengetahui apa yang diterima kaum muslimin darinya, padahal Anda ada bersama dia. Bagaimana keadaan mereka seandainya hanya dia yang di hadapan mereka? Dan Anda akan bertemu dengan Rabb Anda lalu menanyai Anda tentang rakyat Anda?”

Abu Bakr marah mendengar ucapan Thalhah, “Dudukkan saya. Apakah kamu mau menakut-nakuti saya dengan Allah? Kalau saya bertemu Allah Subhanahu wata’ala dan ditanya tentang urusan ini, saya akan mengatakan, ‘Saya telah mengangkat untuk golongan-Mu orang terbaik dari golongan-Mu’.”

Lepas dari itu semua, yang masyhur adalah Abu Bakr sendiri yang menetapkan pilihannya. Bisa jadi, alasannya adalah seperti yang dikemukakan dalam riwayat Thalhah di atas. Bisa jadi pula ada alasan lainnya, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang menyebutkan kelayakan ‘Umar menjadi khalifah. Memang ada beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengisyaratkan kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq dan ‘Umar bin al-Khaththab sesudahnya.

Bahkan, hadits-hadits itu menegaskan bahwa keduanya berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, hadits-hadits tersebut tidak secara tegas menetapkan keduanya sebagai khalifah sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa hadits itu, antara lain sebagai berikut. Dari Ibnu ‘Abbas Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى رَسُولَ اللهِ فَقَالَ: إِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ فِي الْمَنَامِ ظُلَّةً تَنْطُفُ السَّمْنَ وَالْعَسَلَ فَأَرَ ى النَّاسَ يَتَكَفَّفُونَ مِنْهَا فَالْمُسْتَكْثِرُ وَالْمُسْتَقِلُّ وَإِذَا سَبَبٌ وَاصِلٌ مِنَ الْأَرْضِ إِلَى السَّمَاءِ فَأَرَاكَ أَخَذْتَ بِهِ فَعَلَوْتَ ثُمَّ أَخَذَ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَعَلَا بِهِ ثُمَّ أَخَذَ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَعَلَا بِهِ ثُمَّ أَخَذَ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَانْقَطَعَ ثُمَّ وُصِلَ. فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي أَنْتَ، وَاللهِ لَتَدَعَنِّي فَأَعْبُرَهَا. فَقَالَ النَّبِيُّ اعْبُرْهَا. قَالَ: أَمَّا الظُّلَّةُ فَالْإِسْلَامُ وَأَمَّا الَّذِي يَنْطُفُ مِنَ الْعَسَلِ وَالسَّمْنِ فَالْقُرْآنُ حَلَاوَتُهُ تَنْطُفُ فَالْمُسْتَكْثِرُ مِنَ الْقُرْآنِ وَالْمُسْتَقِلُّ وَأَمَّا السَّبَبُ الْوَاصِلُ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ فَالْحَقُّ الَّذِي أَنْتَ عَلَيْهِ تَأْخُذُ بِهِ فَيُعْلِيكَ اللهُ ثُمَّ يَأْخُذُ بِهِ رَجُلٌ مِنْ بَعْدِكَ فَيَعْلُو بِهِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَيَعْلُو بِهِ ثُمَّ يَأْخُذُهُ رَجُلٌ آخَرُ فَيَنْقَطِعُ بِهِ ثُمَّ يُوَصَّلُ لَهُ فَيَعْلُو بِهِ، فَأَخْبِرْنِي يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي أَنْتَ، أَصَبْتُ أَمْ أَخْطَأْتُ؟قَالَ النَّبِيُّ أَصَبْتَ بَعْضًا وَأَخْطَأْتَ بَعْضًا. : قَالَ: فَوَا ،َهللِ يَا رَسُولَ اللهِ، لَتُحَدِّثَنِّي بِالَّذِي أَخْطَأْتُ. قَالَ لَا تُقْسِمْ

Ada seseorang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Saya tadi malam melihat dalam mimpi, sebuah awan yang menaungi, mencucurkan minyak samin dan madu. Saya melihat manusia menampungnya dengan tangan mereka,ada yang banyak dan ada yang sedikit. Tiba-tiba ada tali yang menjulur dari bumi ke langit dan saya melihat Anda memegangnya lalu naik. Kemudian ada orang lain yang memegangnya lalu naik, dan ada seorang lagi memegangnya tetapi putus kemudian disambungkan.”

Kata Abu Bakr, “Ya Rasulullah, ibu bapakku jadi tebusanmu, demi Allah, biarkanlah saya menakwilkannya.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Takwilkanlah!” “Adapun awan, artinya Islam, dan yang mencucurkan samin dan madu artinya adalah al-Qur’an dan  kelezatannya, maka ada yang banyak menerima al-Qur’an dan ada yang sedikit.

Adapun tali dari langit ke bumi ialah al-haq yang engkau berjalan di atasnya lalu engkau memegangnya dan Allah Subhanahu wata’ala meninggikan engkau dengannya. Kemudian ada yang memegangnya sesudah engkau lalu naik dengannya. Kemudian ada lagi yang memegangnya dan naik dengannya, lalu ada pula yang memegangnya tetapi putus kemudian disambungkan untuknya dan naik dengannya. Terangkanlah kepadaku wahai Rasulullah, bapak dan ibuku tebusanmu, apakah saya benar ataukah salah?”

Kata Nabi n, “Kamu benar sebagian dan salah pada bagian lain.” Kata Abu Bakr, “Demi Allah, wahai Rasulullah, terangkanlah kepadaku mana yang salah.” Kata beliau,”Jangan bersumpah.”

Kata Ibnu Hajar rahimahumallah, “Yang memegang tali itu satu demi satu adalah ketiga khalifah sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Kemudian hadits Abu Dzar al- Ghifari radhiyallahu ‘anhu,

إِنِّي لَشَاهِدٌ عِنْدَ رَسُوْلُ اللهِ فِي حَلَقَةٍ، وَفِي   يَدِهِ حَصًى، فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ، وَفِينَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعِلِيٌّ، فَسَمِعَ تَسْبِيحَهُنَّ مَنْ فِي الْحَلَقَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ النَّبِيُّ,إِلَى أَبِي بَكْرٍ فَسَبَّحْنَ مَعَ أَبِي بَكْرٍ، سَمِعَ تَسْبِيحَهُنَّ مَنْ فِي الْحَلَقَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ إِلَى النَّبِيِّ فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ،  ثُمَّ دَفَعَهُنَّ النَّبِيُّ إِلَى عُمَرَ فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ سَمِعَ تَسْبِيحَهُنَّ مَنْ   فِي الْحَلَقَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ النَّبِيُّ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ إِلَيْنَا فَلَمْ يُسَبِحْنَ مَعَ أَحَدٍ مِنَّا

“Sungguh, aku benar-benar saksi di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah halaqah dan di tangan beliau ada beberapa kerikil. Lalu kerikil-kerikil itu bertasbih di tangan beliau, sementara di antara kami ada Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.

Semua yang di dalam halaqah itu mendengar tasbih tersebut. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada Abu Bakr lalu kerikil-kerikil itu bertasbih bersama Abu Bakr, semua yang di dalam halaqah itu mendengar tasbih kerikil itu.

Kemudian dia menyerahkannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan masih bertasbih di tangan beliau. Lalu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada ‘Umar dan bertasbih di tangannya, semua yang di dalam halaqah itu mendengar tasbih kerikil tersebut.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada ‘Utsman bin ‘Affan dan bertasbih di tangannya, lalu beliau menyerahkannya kepada kami, tetapi tidak bertasbih bersama siapa pun di antara kami.”

Ibnu Abi ‘Ashim berdalil dengan hadits ini tentang kekhalifahan ketiga sahabat yang mulia tersebut. Akan tetapi, tidak secara tegas menunjukkan beliau menetapkan kedua sahabat yang mulia ini sebagai khalifah sesudah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dinukil pula dari ‘Umar bin al- Khaththab radhiyallahu ‘anhu sendiri bahwa beliau mengatakan, “Andaikata saya mau menunjuk pengganti, maka orang yang lebih baik dari saya telah melakukannya, yaitu Abu Bakr. Tetapi, kalau saya tidak menetapkan pengganti, maka orang yang lebih baik dari saya telah melakukannya, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Demikianlah. Sebelum wafat, Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu telah menetapkan ‘Umar sebagai penggantinya untuk melanjutkan tugas mengurusi kepentingan kaum muslimin.

Bismillahirrahmanirrahim,Ini adalah keputusan Abu Bakr saat-saat terakhirnya di dunia dan akan meninggalkannya, serta awal perjalanannya menuju akhirat dan memasukinya. Saat-saat ketika orangyang kafir beriman, orang yang jahat pun bertakwa, dan pendusta berbuat jujur. Sungguh, saya telah menunjuk ‘Umar bin al-Khaththab sebagai pengganti saya. Kalau dia berbuat adil, itulah yang saya yakini tentang dia. Kalau dia berbuat zalim dan mengubah (aturan), yang baiklah yang saya harapkan dan saya mengetahui perkara gaib. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (asy-Syu’ara’: 227)

Kemudian, secara khusus pula beliau mengingatkan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah wasiat;

Wahai ‘Umar. Saya menyampaikan satu wasiat kepadamu, kalau kamu mau menerimanya. Sesungguhnya, ada hak Allah Subhanahu wata’ala di malam hari yang tidak Allah Subhanahu wata’ala terima kalau ditunaikan pada siang hari. Dan ada pula hak-Nya di siang hari, yang tidak Allah Subhanahu wata’ala terima, apabila ditunaikan pada malam hari.

Sungguh, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menerima amalan sunnah sampai yang wajib dikerjakan lebih dahulu. Beratnya timbangan amalan orangorang yang berat timbangannya di akhirat adalah karena sikap ittiba’ (mengikuti) mereka terhadap al-haq selama di dunia, sehingga hal itu terasa berat atas mereka.

Sangatlah pantas timbangan itu diletakkan padanya al-haq lalu menjadi berat. Ringannya timbangan mereka yang ringan timbangannya di akhirat adalah karena mereka mengikuti yang batil, dan diringankan (dimudahkan kebatilan itu) atas mereka di dunia.

Pantaslah timbangan yang diletakkan di dalamnya kebatilan itu menjadi ringan. Tidakkah kamu melihat bahwa Allah Subhanahu wata’alaersama ayat tentang raja’. Hal itu adalah agar manusia tetap dalam keadaan berharap dan cemas, tidak sampai melemparkan mereka ke jurang kebinasaan dan mengangankan terhadap Allah Subhanahu wata’ala sesuatu yang tidak haq.

Kalau kamu menghafal wasiatku ini, tidak ada lagi perkara gaib yang lebih kamu cintai melebihi kematian, padahal dia mesti kamu hadapi. Dan kalau kamu menyia-nyiakan wasiatku ini, tidak ada sesuatu yang lebih kamu benci melebihi kematian, padahal kamu mesti merasakannya dan tidak mampu menolaknya.”

Setelah itu, pengangkatan tersebut diumumkan di Masjid Nabawi, lalu kaum muslimin satu demi satu menyatakan bai’at kepada al-Faruq radhiyallahu ‘anhu.

Kedudukan Kekhalifahan ‘Umar

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sungguh, islamnya ‘Umar adalah kemuliaan, hijrahnya adalah kemenangan dan pertolongan , sedangkan kepemimpinannya adalah rahmat.”

Dari uraian Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini dan kenyataan sejarah tentang kepemimpinan ‘Umar dapat dikatakan bahwa kekhalifahan beliau adalah simbol keamanan dan kekuatan sebuah negara yang berdaulat serta kemuliaan umat Islam. Hal ini telah dipersaksikan oleh Rasulullah n sendiri, demikian pula para sahabat lainnya.

Suatu hari, ‘Umar berkata kepada para sahabatnya, “Siapa di antara kamu yang menghafal sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang fitnah?”

“Saya menghafalnya sebagaimana diucapkan beliau (Shallallahu ‘alaihi wasallam),” kata Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu.

“Bacakan, sungguh kamu sangat berani,” kata ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.Kata Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ,

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

Kekeliruan seseorang dalam urusan keluarga, harta dan tetangganya, dihapus oleh shalat, sedekah, amar ma’ruf nahi munkar’.”

Kata ‘ Umar , “ Saya tidak memaksudkan ini, tetapi fitnah yang bergelombang seperti ombak di lautan.” Hudzaifah berkata, “Hai Amirul Mukminin, tidak ada kejelekan atasmu dari fitnah itu, karena sesungguhnya antara engkau dan fitnah itu ada pintu yang terkunci.”

“Apakah pintu itu dibuka atau dihancurkan?” tanya ‘Umar.

“Dihancurkan,” kata Hudaaifah.

“Kalau begitu, pintu itu tidak akan tertutup lagi selama-lamanya,” kata ‘Umar. Kami berkata kepada Hudzaifah, “Apakah ‘Umar mengetahui ihwal pintu tersebut?”

“Ya, sebagaimana dia tahu setelah siang adalah malam.”

“Sungguh aku telah menyampaikan kepadanya hadits yang tidak mengadaada, maka kami segan menanyakannya. Lalu kami memerintahkan Masruq agar menanyakan kepadanya siapa pintu itu.” Kata beliau, “Pintu itu adalah ‘Umar.” Di dalam hadits ini diberitakan tidak terjadinya fitnah di masa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.

Bahkan, perumpamaan beliau adalah seperti pintu yang menghalangi masuknya fitnah menerpa umat Muhammad n. Kematian beliau z yang digambarkan dengan pecahnya pintu tersebut, sehingga tidak mungkin akan tertutup selamanya. Semua itu adalah isyarat bahwa kekacauan itu seperti gelombang yang menerjang umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan gugurnya ‘Umar sebagai syahid. Ujian pertama yang terjadi setelah kekhalifahannya adalah terbunuhnya Dzun Nurain Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Kemudian bermunculan hawa nafsu dan kebid’ahan melanda kaum muslimin. Wallahul Musta’an.

Dalam sebuah riwayat disebutkan pula bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَأَيْتُ النَّاسَ مُجْتَمِعِينَ فِي صَعِيدٍ فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوْ ذَنُوبَيْنِ وَفِي بَعْضِ نَزْعِهِ ضَعْفٌ وَا يَغْفِرُ لَهُ ثُمَّ أَخَذَهَا عُمَرُ فَاسْتَحَالَتْ بِيَدِهِ غَرْبًا فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا فِي النَّاسِ يَفْرِي فَرِيَّهُ حَتَّى ضَرَبَ النَّاسُ بِعَطَنٍ

“Saya melihat manusia berkumpul di satu tanah lapang, lalu berdirilah Abu Bakr menimba satu atau dua timba, dan pada sebagian tarikannya ada kelemahan, semoga Allah Subhanahu wata’ala mengampuninya. Kemudian timba itu diambil oleh ‘Umar dan berubah menjadi timba yang sangat besar. Saya belum pernah melihat orang yang sangat kuat menarik timbanya, hingga manusia menggiring unta mereka ke tempat istirahatnya (negara bertambah luas, –red.).”8

Dalam riwayat lain disebutkan, hingga dia menguasai telaga sampai memancarkan air. Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah isyarat bahwa ‘Umar tidak mati kecuali setelah dia meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya dan urusan agama ini kokoh. Semua itu karena panjangnya masa pemerintahan beliau radhiyallahu ‘anhu dan kesungguhan beliau dalam menanganinya. Berita nubuwah itu telah menjadi kenyataan. Di zaman beliau dua kerajaan besar dihancurkan, yaitu Romawi dan Persia, hingga menimbulkan dendam berkarat di dalam dada anak cucu mereka sampai saat ini. Kekuasaan Islam semakin meluas, hingga meliputi sepertiga belahan dunia.

Beberapa sahabat juga mengakui keutamaan masa kekhalifahan beliau, seperti ungkapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di atas. Hudzaifah mengatakan, “Islam di masa ‘Umar seperti orang yang sedang mendekat, semakin lama semakin dekat. Tetapi, setelah beliau terbunuh, Islam seperti orang yang pergi, semakin lama semakin jauh.” Setelah ‘Umar gugur sebagai syahid, Ummu Aiman radhiyallahu ‘anha menyatakan, “Hari ini Islam menjadi lemah.”

Wallahul muwaffiq.

(Insya Allah bersambung)


———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Jumat, 6 September 2013/1 Dzulkaidah 1434H

Print Friendly