Mentadabburi Al-Qur’an

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar ZA)

Allah I menurunkan Al-Qur`an agar manusia mentadabburi ayat-ayatnya, memahami maknanya, mengingat, dan mengamalkannya.
Allah I berfirman:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan agar mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shad: 29)
Karena Al-Qur`an tidak memberikan petunjuk dan bimbingan kecuali kepada yang terbaik. Allah I menyatakan:

“Sesungguhnya Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (Al-Isra: 9)
Atas dasar itu pula maka Allah I mencela orang-orang yang tidak mentaddaburi Al-Qur`an. Dia I berfirman:

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur`an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24)
Al-Imam Al-Ajuri t menerangkan: “Barangsiapa mentadaburi ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah I dan firman-Nya, dia akan mengenal Allah I, besarnya kekuasaan dan kemampuan-Nya, mengenal besarnya keutamaan-Nya terhadap kaum mukminin, mengenal apa yang Allah I wajibkan atasnya berupa ibadah-ibadah. Sehingga ia mewajibkan atas dirinya kewajiban tersebut dan ia berhati-hati dari apa yang diperingatkan oleh Rabb yang Maha Mulia. Sehingga ia pun bersemangat untuk melaksanakan apa yang dianjurkan oleh Allah I. Barangsiapa demikian keadaannya ketika membaca Al-Qur`an dan ketika mendengarkannya dari yang lain, sungguh Al-Qur`an akan menjadi penyembuh (obat) baginya. Ia akan merasa cukup walau tanpa harta, merasa mulia walau tanpa keluarga, tenang dari sesuatu yang ditakuti oleh yang lain. Ketika mulai membaca surat-surat Al-Qur`an, keinginan-nya ialah kapan ia bisa mengambil pelajaran dari apa yang dia baca. Keinginannya bukanlah kapan ia bisa menyelesaikan bacaannya. Akan tetapi yang selalu menjadi keinginannya adalah kapan aku bisa memahami perintah-perintah Allah I, kapan aku bisa menjaga diri sehingga aku bisa mengambil pelajaran, karena membaca Al-Quran adalah ibadah yang tidak bisa dilakukan dengan kelalaian qalbu. Dan Allah I-lah yang memberi taufik untuk itu.” (Akhlaq Hamalatil Qur`an, dinukil dari Ziyadatul Iman wa Nuqshanuhu, hal. 180)
Ibnul Qayyim t menjelaskan pula tentang manfaat mentadabburi ayat-ayat Al-Qur`an. Beliau berkata: “Secara global, tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi qalbu daripada membaca Al-Qur`an dengan penuh tadabbur dan tafakur (memahami dan merenungi ayat Al-Qur`an). Karena Al-Qur`an meliputi segala kedudukan orang yang berjalan menuju kepada Allah I, keadaan orang yang beramal dan kedudukan orang yang alim. Al-Qur`an mewariskan cinta, rindu, harap, taubat, tawakal, ridha, berserah diri, sabar, dan seluruh keadaan yang membuat hidupnya hati dan menyempurnakannya. Demikian pula Al-Qur`an memperingatkan dari seluruh sifat dan perbuatan tercela yang dengannya qalbu akan rusak dan binasa.
Maka seandainya orang-orang mengetahui faidah  membaca Al-Qur`an dengan mentadabburinya, tentu mereka akan tersibukkan dengannya dari apapun selainnya. Bila ia membacanya dengan tafakur sehingga melewati sebuah ayat yang ia butuhkan untuk menyembuhkan qalbunya, ia pun akan mengulanginya sampaipun seratus kali, meski dilakukan semalam suntuk. Sesungguhnya membaca satu ayat saja dengan penuh tafakur dan memahaminya, lebih baik daripada membaca Al-Qur`an dan mengkhatam-kannya tanpa tadabbur dan tanpa memahami. Lebih bermanfaat bagi qalbu untuk menghasilkan iman dan merasakan manisnya Al-Qur`an. (Lihat Miftah Daris Sa’adah hal. 204, dinukil dari Ziyadatul Iman wa Nuqshanuhu, hal. 183)
Ibnul Qayyim juga menjelaskan bagaimana seseorang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat Al-Qur`an. Beliau jelaskan dalam kitabnya Al-Fawa‘id hal. 9, dengan judul Syuruthul Intifa’ bil Qur`an (Syarat-syarat mengambil manfaat dari Al-Qur`an). Lengkapnya: “Bila engkau ingin mengambil manfaat dari Al-Qur`an maka konsentrasikan qalbumu ketika membaca dan mendengarkannya. Tujukan pendengar-anmu kepada bacaan itu. Hadirkan dirimu, seakan-akan engkau hadir di hadapan orang yang sedang berbicara kepadamu. Karena Al-Qur`an merupakan pembicaraan dari Allah I kepadamu melalui lisan Rasul-Nya n. Allah I berfirman:

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai qalbu, atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.” (Qaf: 37)
Hal itu karena kesempurnaan pengaruh Al-Qur`an tergantung pada:
1.    Yang memberi pengaruh.
2.    Tempat yang bisa menerimanya.
3.    Syarat untuk mendapatkan pengaruh itu.
4.    Tiadanya penghalang.
Maka ayat di atas telah menerangkan itu semua, dengan lafadznya yang ringkas namun dengan keterangan yang jelas dan menunjukkan maksudnya. Firman Allah I:

“Sesungguhnya dalam hal itu ada peringatan,” adalah isyarat kepada apa yang telah lalu dari awal surat hingga ayat ini. Inilah yang dimaksud dengan hal yang pertama yaitu yang memberikan pengaruh.
Adapun:

“Bagi orang yang memiliki qalbu,” ini artinya tempat yang menerima. Yang dimaksud dengan qalbu di sini adalah qalbu yang hidup yang memahami apa yang datang dari Allah.

“Al-Qur`an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi keterangan, supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” (Yasin: 69-70)
Yakni hidup kalbunya.
Adapun firman Allah I:

“Atau yang menggunakan pendengar-annya,” yakni mengarahkan pendengaran dan telinganya kepada apa yang dikatakan kepadanya. Ini merupakan syarat untuk mendapatkan pengaruh dari sebuah penjelasan.
Sedangkan firman-Nya:

“Sedangkan dia menyaksikannya,” yakni qalbunya menyaksikan dan hadir, tidak lalai. Ibnu Qutaibah mengatakan: “Yakni ia mendengarkan kitab Allah I dalam keadaan kalbunya menyaksikan dan memahami, tidak lalai, dan tidak lupa. Ini merupakan isyarat harus dihilangkannya penghalang untuk mendapatkan pengaruh itu, yaitu lalainya qalbu dan tidak menghadirkan (perhatian) ketika mende-ngarkan firman-firman itu, tidak memahami apa yang dikatakan kepadanya dan tidak memperhatikan ayat-ayat itu.
Maka apabila pengaruh itu ada, yaitu Al-Qur`an, tempat yang menerima juga ada, yaitu qalbu yang hidup. Demkian pula syarat itu didapati yaitu konsentrasi dalam mendengarkan, serta hilangnya penghalang yaitu kesibukan qalbu dan lalainya dari makna pembicaraan yang diarahkan kepadanya sehingga mengarah kepada yang lain, maka tentu pengaruh Al-Qur`an dan manfaat darinya akan diperoleh.
Wallahu a’lam.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Rabu,16 November 2011/19 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly