Menuju Ilmu Hadits

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Pada umur sekitar dua puluh tahun, suatu hari pandangan beliau tertuju kepada majalah al-Manar terbitan Muhammad Rasyid Ridha1 di salah satu toko. Dibukanya lembaran-lembaran majalah tersebut. Terhentilah beliau pada makalah Muhammad Rasyid Ridha yang melakukan studi kritik terhadap kitab Ihya’ Ulumuddin dan hadits-haditsnya. “Pertama kali aku dapati kritik ilmiah semacam ini,” kata beliau.
Hal yang membuatnya penasaran untuk merujuk langsung ke kitab yang khusus membahas hadits-hadits dalam kitab Ihya’, yaitu kitab al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, karya al-Iraqi. Namun, kondisi ekonomi tak mendukung beliau membeli kitab tersebut. Menyewa kitab, itulah alternatifnya. Kitab yang sekarang tercetak dalam tiga jilid itu pun beliau salin dengan goresan penanya yang indah dan rapi, dari awal hingga akhir. Itulah karya hadits pertama beliau, sebuah salinan kitab. Tentu, proses pembacaan dan penyalinan membekas dalam dada beliau, yang artinya pengetahuan tentang hukum semakin memperlebar wawasan agamanya, sekaligus ilmu hadits menjadi daya tarik baru baginya.
Ilmu hadits begitu luar biasa memikatnya. Akhirnya, wawasan hukum ala mazhab Hanafi pun semakin memudar saat ia dapati sebagiannya tidak sesuai dengan sunnah Nabi n. Bermodal hadits-hadits Nabi n—dan itu adalah modal terbaik—, beliau membuka dialog dengan sang ayah—tentu tanpa mengurangi rasa hormatnya—pada masalah-masalah yang mazhab Hanafi menyalahinya. Penampilan ittiba’ (selalu mengikuti) hadits Nabi n dan tidak fanatik terhadap golongan tertentu semakin tampak menjadi ciri khas beliau, sejalan dengan semakin dalamnya menyelami lautan hadits Nabi n.
Semakin gandrung dan terpikat dengan hadits Nabi n, tampaknya itulah kata yang tepat untuk beliau. Bagaimana tidak, tempat reparasi jamnya telah berubah menjadi tempat berkumpulnya para penuntut ilmu, saat beliau mulai dikenal umat. Bagian belakang toko itu pun ikut berubah menjadi perpustakaan pribadinya. Bahkan, beliau merelakan mengorbankan waktu kerjanya demi ilmu.
Beliau bercerita, “Di antara taufik Allah l dan karunia-Nya kepadaku adalah ketika Allah l mengarahkan aku sejak awal masa mudaku pada keahlian reparasi jam. Itu adalah profesi lepas, tidak berbenturan dengan upayaku mempelajari hadits-hadits Nabi n. Kuberikan waktu untuk pekerjaan tersebut tiga jam setiap hari selain hari Rabu dan Jumat. Dengan waktu tersebut, cukup bagiku untuk mendapatkan maisyah pokok untukku dan keluargaku pada kadar sekadar cukup.”
Waktu selebihnya beliau gunakan untuk hidup di antara buku-buku dalam perpustakaannya, membaca dan mempelajarinya. Umumnya, delapan belas jam per hari beliau gunakan untuk membaca dan menelaah. Untuk di perpustakaan besar azh-Zhahiriyah Damaskus saja, beliau alokasikan waktu 6—8 jam per harinya. Subhanallah, keuletan yang sangat langka. Semoga Allah l merahmatinya.
Melihat kesungguhan beliau yang luar biasa, seorang sejarawan sekaligus pakar hadits di kota Halab, Syria, yaitu asy-Syaikh Muhammad ath-Thabbakh, memberinya ijazah hadits dengan sanad-sanad yang melalui beliau.
Semakin mendalam, semakin ahli dalam bidang hadits, hingga ribuan hadits beliau pelajari dengan studi ilmiah yang penuh kejelian dan ketelitian. Karya-karya beliau—yang lebih dari dua ratus karya, baik yang kecil maupun besar, dan berjilid-jilid, baik yang sudah lengkap maupun yang belum—menjadi bukti. Pantaslah apabila kemudian asy-Syaikh Ibnu Baz dengan benar mengatakan, “Tak pernah kuketahui di bawah kolong langit ini seorang yang berilmu di masa ini dalam bidang hadits seperti asy-Syaikh al-Albani.”

Ibadah dan Tawadhu Beliau
“Ilmu berkonsekuensi amal. Apabila tidak, ilmu akan menjadi bencana bagi pemiliknya,” demikian ungkap beliau.
Sebuah ungkapan yang menjadi pedomannya dalam mengarungi kehidupan ilmiah ini. Karena itu, beliau bukan sosok alim yang hanya bisa bicara dan menulis tanpa terlihat bekas ucapan dan tulisannya dalam kepribadiannya. Bahkan, beramal dan beribadah senantiasa menghiasinya dalam aktivitas kesehariannya, sikap tawadhu pun menambahnya semakin indah dipandang mata.
Puasa Senin dan Kamis, hampir-hampir tak pernah terlewatkan baik di musim panas maupun dingin, kecuali saat beliau safar atau sakit. Di hari Jumat, sambil menunggu khatib datang, shalat sunnah mutlak, dua rakaat dua rakaat, senantiasa beliau lakukan. Tiap tahun beliau tak pernah ketinggalan berhaji. Beliau berhaji hingga tiga puluh kali, yang terakhir pada tahun 1410 H. Umrahnya juga demikian, bahkan terkadang dua kali dalam setahun.
Tak jarang beliau menangis, lebih-lebih dalam kondisi-kondisi yang menyentuh kalbunya. Sekian kali beliau menangis saat menyampaikan hadits Nabi n, “Orang yang pertama kali dibakar dalam api neraka adalah seorang yang berilmu, tetapi tidak ikhlas,” sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dan yang lain.
Suatu saat beliau duduk dalam mobilnya. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya sambil mengatakan, “Anda asy-Syaikh al-Albani?”
Beliau justru menangis. Saat ditanya sebab tangisannya, beliau menjawab, “Semestinya setiap orang melawan dirinya dan tidak terlena (berbangga diri) dengan isyarat tangan manusia kepadanya.”
Saat beliau sakit, salah seorang muridnya—dahulu—menjenguknya dan mengucapkan kalimat penghibur, “Orang yang besar ujiannya tidak akan ringan. Orang besar ujiannya seukuran dengan kebesarannya. Engkau, wahai guru kami, adalah orang yang besar. Allah l telah membesarkanmu dengan ilmu dan fikih yang Dia berikan kepadamu. Oleh karena itu, ujianmu seukuran dengan kebesaran yang disandangkan oleh Allah l kepadamu dan seukuran dengan ilmu yang Dia berikan kepadamu.”
Mendengar kata itu, beliau tersenyum, namun diiringi aliran butiran-butiran air mata di pipinya. Beliau lalu mengatakan, “Ya Allah, ampunilah aku dalam hal-hal yang tidak mereka ketahui. Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka. Janganlah Engkau menghukumku dengan sebab apa yang mereka ucapkan.”
Kata yang senantiasa beliau ucapkan saat mendengar pujian untuknya, mengikuti pendahulunya, Abu Bakr ash-Shiddiq. Betapa tawadhu beliau.Tak jarang beliau menyifati dirinya, “Saya hanya seorang penuntut ilmu yang masih kecil.” Semoga Allah l merahmatinya.

Gemar Beramar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
“Berulang-ulang ayat yang mulia dalam kalamullah memerintahkan agar ada sebuah umat dan sekelompok manusia yang melakukan kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ini adalah masalah yang tidak ada perbedaan pendapat tentangnya di antara kaum muslimin,” demikian beliau mengungkapkan keyakinannya.
Menjadi ciri khas beliau, suka mengajak kepada yang baik dan mencegah perbuatan yang jelek. Siapa pun yang mendengar kaset-kaset beliau, membaca bukunya, apalagi yang diberi keutamaan bisa berkumpul bersama beliau, akan melihat secara nyata ciri khas ini.
Terdengar dari kaset rekaman beliau, saat beliau hendak berceramah, terlihat para hadirin tidak duduk merapat, namun berpencar-pencar. Beliau pun mengingatkan mereka dengan sabda Nabi n,
مَا لِي أَرَاكُمْ عِزِينَ
“Mengapa kulihat kalian berpencar-pencar?” (Sahih, HR. Muslim)
Beberapa menit beliau menerangkan sunnah merapatkan tempat duduk dalam majelis. Setelahnya, barulah beliau memulai apa yang hendak beliau sampaikan.
Tak heran apabila ini menjadi ciri khasnya. Saat sakit pun beliau masih sempat melakukannya. Waktu itu, seorang dokter atau perawat masuk untuk mengobatinya. Tampaknya dokter tersebut dengan keawamannya tidak memelihara jenggotnya. Namun, tabiat baik dirinya tampak pada penghormatannya terhadap asy-Syaikh. Selepas mengobati, dia berkata, “Wahai Syaikh, tolong doakan saya.”
Beliau mendoakannya, “Semoga Allah memperindah dirimu dengan apa yang Allah memperindah kaum lelaki dengannya (yakni jenggot, -red.).”
Sebuah catatan dari beliau dalam medan amar ma’ruf dan nahi mungkar, “Tidaklah perintah kepada kebaikan menjadi baik kecuali jika kemaslahatan yang timbul darinya lebih dominan dari mafsadah yang ditimbulkannya.”
Oleh karena itu, kami katakan, tidak sepantasnya bagi individu atau kelompok melakukan perbuatan/gerakan yang termasuk dalam kategori amar ma’ruf nahi mungkar tanpa memerhatikan kaidah tersebut. Tidak sepantasnya pula bagi individu atau kelompok untuk melakukan perubahan apabila hal itu mengakibatkan kerusakan yang lebih dominan dari maslahat yang diharapkan…. Oleh karena itu, kami senantiasa mengulang-ulang dan menasihati mereka di setiap negeri agar menelusuri sunnah Nabi n dalam hal perbaikan, yang beliau tidak memulai dakwah kepada Islam, iman, dan tauhid dengan kekerasan, tetapi dengan ucapan, hujah, dan keterangan.”

Kedermawanan
Tak sedikit kisah kedermawanannya. Sampai-sampai salah seorang dekat beliau, Muhammad al-Khathib, mengatakan, “Betapa banyak saya menganjurkan syaikh untuk membangun masjid, memberi orang fakir, janda, atau pengemis, dan beliau tidak pernah menolaknya.”
Muhammad al-Khathib menceritakan beberapa kisah. Salah satunya, ada seseorang yang sakit datang kepada beliau dan membutuhkan pengobatan dengan suntik. Satu kali suntikan biayanya dua puluh dinar, sementara itu dia membutuhkan lima belas suntikan. Syaikh lalu meminta aku pergi ke rumahnya untuk mengecek kebenaran kondisinya. Ketika kami tahu kebenaran ucapannya, beliau memberikan biayanya. Kami pun membelikan suntikan untuknya.

Catatan Kaki:

1 Ini tidak berarti bahwa manhaj Muhammad Rasyid Ridha seperti asy-Syaikh al-Albani atau sebaliknya, karena M. Rasyid Ridha ternyata memegangi hal-hal yang tidak sesuai dengan sunnah.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,26 April 2012/4 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly