Menyalakan Semangat Berkorban

Salah satu kelemahan manusia adalah ketidakmampuannya dalam menangkap pesan sejarah. Setiap tahun, saat Idul Adha, di banyak mimbar, selalu diserukan ajakan yang membangkitkan semangat untuk berkorban, yakni bercermin dari peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim dan Ismail e. Namun sayangnya, tak banyak dari umat ini yang mampu secara dalam memaknai peristiwa bersejarah itu.
Justru “pengorbanan” di masa sekarang dipraktikkan dengan amat memilukan. Setiap lima tahunan, dalam suasana hajat politik bernama Pemilu, hampir niscaya kita disuguhi drama berdarah berupa pertikaian fisik antarpendukung partai. Di luar itu juga ada tradisi perang antarsuporter sepakbola, masih lestarinya tawuran antarsiswa/antargeng, dll. Kita juga belum lupa pernah ada pasukan (berani) mati yang dibentuk untuk membela tokoh tertentu. Juga ada cap jempol darah hanya sekedar demi unjuk kesetiaan terhadap tokoh politik. Mereka yang disebut di atas benar-benar siap mengorbankan apa saja termasuk menyabung nyawa demi membela harga diri partai, klub sepakbola, sekolah/kampus, dan figur tertentu.
Pertanyaan sederhana, benarkah semua yang mereka lakukan adalah sebentuk pengorbanan? Ke mana mereka saat agama Islam dinistakan, saat ada saudara-saudara seiman mereka yang diusir dan dibantai? Nomor berapakah agama bagi mereka setelah partai, sepakbola, dll? Pertanyaan demi pertanyaan yang bisa jadi tak akan ada habisnya.
Sekelumit hal di atas menyiratkan betapa masih banyak masyarakat yang patut dipertanyakan ketauhidannya. ”Ketajaman” akidah mereka masih harus diasah karena nyata mereka masih menghamba kepada selain yang menciptakan mereka. Merujuk kepada kisah Nabi Ibrahim q itulah, banyak ibrah (pelajaran) yang mestinya bisa kita petik.
Pembaca, berjabat tangan dengan lawan jenis adalah segelintir bukti yang membenarkan fakta bahwa nilai-nilai agama dalam masyarakat kita telah demikian kabur. Sesuatu yang sesungguhnya terlarang menjadi halal bahkan menjadi jamak untuk dipraktikkan. Praktik ini sekaligus mewakili anomali keberagamaan masyarakat kita yang banyak mengukuhi perayaan “keagamaan”, tradisi, atau ritual di luar Islam, namun justru miskin pemahaman tentang ajaran Islam yang murni. Hasilnya, sebagai contoh, mereka yang tiap tahun mengenang kelahiran Nabi n tak sedikit yang justru berada di barisan terdepan dalam menghina atau menentang Sunnah Nabi n.
Lebih jauh tentang hukum berjabat tangan dengan lawan jenis ini dapat anda simak dalam rubrik Niswah.
Pembaca, orangtua semestinya tak menganggap remeh terhadap asupan makanan yang diberikan kepada anak-anak mereka. Karena halal atau tidaknya makanan yang diberikan akan memberikan pengaruh yang cukup besar bagi kebaikan atau keburukan sang anak. Sehingga orangtua dituntut untuk mencari penghidupan yang baik sehingga nantinya dapat menafkahi serta membesarkan anak dengan rezeki yang halal. Tentang hal ini, Pembaca dapat mengkajinya dalam rubrik Permata Hati.
Akhir kata, redaksi mengingatkan Pembaca untuk tidak melupakan rubrik-rubrik lain yang juga mengetengahkan tema yang menarik. Selamat menyimak!

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,17 November 2011/20 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly