Menyambung dan Memperbaiki Hubungan Anak dan Orang Tua (bagian 2)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah)

Wasiat kedua: Rebutlah kesempatan, karena berbakti kepada kedua orang tua memiliki keutamaan yang besar.
Abdullah bin Mas’ud z berkata:

“Aku bertanya kepada Rasulullah n: ‘Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?’ Beliau menjawab: ‘Shalat pada waktunya.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Beliau berkata: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Lalu apa?’ Beliau menjawab: ‘Berjihad di jalan Allah’.” Abdullah bin Mas’ud berkata: “Beliau memberitahukan hal itu kepadaku. Dan jika aku minta tambah niscaya beliau akan menambahkan untukku.”1
Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan: “Di dalam hadits ini terdapat faidah tentang keutamaan yang besar dalam berbakti kepada kedua orang tua dan amal kebajikan itu sebagiannya melebihi sebagian yang lain.” (Lihat Fathul Bari 2/14)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t men-jelaskan: “Rasulullah n menjadikan berbakti kepada kedua orang tua didahulu-kan daripada martabat jihad di jalan Allah I.”(Syarh Riyadhis Shalihin, 1/691)
Wasiat ketiga: Pengorbanan kedua orang tuamu tidak bisa engkau bayar dengan apapun.
Abu Hurairah z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Seorang anak tidak akan bisa membalas (pengorbanan) orang tuanya kecuali bila dia mendapati orang tuanya sebagai budak, lalu dia membelinya dan memerdekakannya.”2
Dari Abu Burdah:
ì
“Beliau menyaksikan Ibnu ‘Umar dan seseorang dari Yaman yang sedang thawaf di rumah Allah (Ka’bah) dalam keadaan menggendong ibunya di punggungnya. Dia berkata:
‘Aku menjadi ontanya yang ditunggangi                     Jika tunggangan untanya bisa terkejut maka saya tidak akan terkejut.’
Kemudian dia berkata: ‘Wahai Ibnu ‘Umar, bagaimana pendapatmu, apakah aku telah membalas kebaikannya?’ Beliau menjawab: ‘Belum, walaupun (seukuran) satu kali tarikan napas.’
Ibnu ‘Umar kemudian thawaf dan mendatangi Maqam Ibrahim serta shalat dua rakaat. Beliau lalu berkata: “Wahai Ibnu Abi Musa, sesungguhnya setiap dua rakaat menghapuskan dosa-dosa sebelumnya.”3
Dari Abdullah bin ‘Amr c, beliau berkata:

“Seseorang mendatangi Rasulullah n lalu berkata: ‘Aku mendatangimu untuk berbai’at untuk hijrah, dan aku tinggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan mena-ngis.” Rasulullah n bersabda: “Kembalilah kamu kepada keduanya, dan buatlah mereka tertawa sebagaimana kamu membuatnya menangis.”4

Dari Abu Murrah, maula Ummu Hani` bintu Abu Thalib, bahwa dia berkendaraan bersama Abu Hurairah menuju kampungnya di ‘Aqiq. Ketika memasuki kampungnya, dia berteriak dengan suara yang sangat keras: “Atasmu keselamatan dan rahmat Allah, serta barakah-Nya atasmu wahai ibuku.” Lalu ibunya berkata: “Dan atasmu pula kesela-matan dan rahmat serta barakah dari Allah.” Abu Hurairah berkata lagi: “Semoga Allah merahmatimu (wahai ibuku) sebagaimana engkau telah mendidikku di masa kecil.” Dan ibunya pun berkata: “Wahai anakku, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan dan meridhaimu sebagaimana engkau telah berbuat baik kepadaku.”
Wasiat keempat: “Hak ibumu harus engkau utamakan.”5
Dari Abu Hurairah z beliau berkata:

“Seseorang datang kepada Rasulullah lalu berkata: ‘Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku perlakukan dengan baik?’ Beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Kemudian dia berkata: ‘Siapa lagi?’ Beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Dia berkata: ‘Kemudian siapa?’ Beliau menjawab: ‘Ibumu.’ Dia berkata: ‘Kemudian siapa?’ Dia menjawab: ‘Bapakmu’.”6
Dari Ibnu ‘Abbas, bahwa seseorang mendatanginya lalu berkata: “Sesungguhnya aku telah meminang seorang wanita dan dia tidak mau menikah denganku. Dan ketika orang lain meminangnya dia mau menikah dengannya. Muncullah kecemburuanku kepadanya, lalu aku membunuhnya. Apakah aku memiliki pintu taubat?” Ibnu ‘Abbas bertanya: “Apakah ibumu masih hidup?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Ibnu ‘Abbas berkata: “Kalau demikian bertaubatlah kepada Allah yang Maha Agung dan Mulia. Dekatkanlah dirimu kepada-Nya sesuai kesanggupanmu.” (‘Atha’ bin Yasar berkata:) Aku pergi dan bertanya kepada Ibnu ‘Abbas: “Kenapa engkau bertanya tentang ibunya, apakah masih hidup?” Ibnu ‘Abbas berkata: “Sesungguhnya aku tidak mengetahui ada sebuah amalan yang paling mendekatkan kepada Allah yang Maha Agung dan Mulia daripada berbuat baik kepada seorang ibu.”7
Wasiat kelima: “Kedua orang tuamu adalah surga atau nerakamu.”
Abu Hurarirah z berkata: Nabi n bersabda:

“Alangkah hinanya seseorang, alangkah hinanya seseorang, kemudian alangkah hina-nya seseorang.” Dikatakan kepada beliau: “Siapa dia ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yang menjumpai salah satu orang tuanya atau keduanya dalam keadaan tua jompo namun dia tidak masuk ke dalam surga.”8
Dari Ubai bin Malik: Nabi n bersabda:

“Barangsiapa yang masih menjumpai kedua orang tuanya atau salah satunya, kemudian dia masuk neraka setelah itu, lalu Allah akan menjauhkannya.”9
Wasiat keenam: “Taatilah kedua orang tuamu dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah I.”
Mu’adz z berkata:

“Rasulullah n telah berwasiat kepada-ku dengan sepuluh kalimat. Beliau berkata: “Jangan kamu menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun sekalipun kamu dibunuh dan dibakar. Jangan kamu sekali-kali durhaka kepada kedua orang tuamu sekalipun dia memerintahkan kamu keluar dari keluarga dan hartamu. Jangan kamu meninggalkan shalat yang fardhu dengan sengaja. Barangsiapa meninggalkan shalat dengan sengaja, sungguh dia tidak akan mendapatkan jaminan Allah. Jangan sekali-kali kamu minum khamr karena sesungguh-nya khamr merupakan biang segala kekejian. Berhati-hatilah kamu dari kemaksiatan karena kemaksiatan itu akan menyebabkan datang-nya murka Allah. Jangan kamu lari dari medan tempur walaupun manusia binasa seluruhnya. Dan apabila manusia ditimpa oleh wabah kematian dan kamu berada di tengah mereka, maka tinggallah kamu padanya. Berikan nafkah kepada keluargamu dari usahamu dan jangan kamu mengangkat tongkatmu dari mereka (tidak mendidik mereka), dan tanamkan pada diri mereka rasa takut kepada Allah.”10
Ibnu ‘Umar c berkata:

“Aku mempunyai seorang wanita (istri) yang aku cintai. Namun ayahku (‘Umar) tidak menyukainya. Lalu ayahku memerintahkan aku untuk menceraikannya, namun aku tidak mau. Lalu hal itu kuceritakan kepada Nabi, beliau bersabda: “Hai Abdullah bin ‘Umar, ceraikan istrimu!”11
Dari Hanzhalah bin Khuwailid, dia berkata:

Di saat saya berada di sisi Mu’awiyah tiba-tiba datang kepadanya dua orang yang berselisih dalam perkara terbunuhnya ‘Ammar. Masing-masing mengatakan: “Aku yang membunuhnya.” Kemudian Abdullah berkata kepadanya: “Hendaklah kalian ber-dua bagus hatinya karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah bersabda: (Abdullah bin Ahmad berkata: “Demikian yang diucapkan oleh bapakku yakni dari Rasu-lullah bersabda”): ‘Yang membunuh ‘Ammar adalah kelompok yang baghiyah (memerangi pemimpin yang sah)’.” Lalu Mu’awiyah ber-kata: “Apakah kamu tidak bisa melepaskan kamu dari orang gila ini wahai ‘Amr, kenapa kamu bersama kami? Dia berkata: “Sesung-guhnya bapakku telah melaporkanku kepada Rasulullah lalu beliau berkata kepadaku: “Taati bapakmu selama dia hidup dan jangan kamu memak-siatinya dan saya bersama kalian namun tidak ikut berperang.”12

Catatan Kaki:

1 HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 5513 dan Muslim no. 85
2 HR. Al-Imam Muslim no. 1510.
3 HR. Al-Imam Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 11, dan Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan: “Sanadnya shahih.” Lihat Shahih Adabul Mufrad hal. 36.
4 HR. Al-Imam An-Nasa`i no. , Abu Dawud no. 2166, Ibnu Majah no. 2772, Ahmad no. 6615 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Adabul Mufrad no. 11, Shahih Sunan An-Nasa`i (3881), Al-Irwa` (1199), Shahihul Jami’ (892), Shahih Sunan Abu Dawud, no. 2205, dan Shahih Sunan Ibnu Majah, no. 2242.
5 HR. Al-Imam Al-Bukhari di dalam Adabul Mufrad no.14 dan Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan hasan sanadnya
6 HR. Al-Imam Al-Bukhari no 5514 dan Muslim no. 2548.
7 HR. Al-Imam Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad no. 4 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Ash- Shahihah no. 2799 dan Shahih Al-Adabil Mufrad no.4
8 HR. Al-Imam Muslim no. 2551
9 HR. Al-Imam Ahmad no. 18254 dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam kitab beliau Al-Jami’us Shahih, 5/190
10 HR. Al-Imam Ahmad no. 21060, dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Adabul Mufrad dari shahabat Abud Darda` z no. 14, Al-Irwa` (2026)
11 HR. Al-Imam At-Tirmidzi no. 1110 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam kitab Al-Jami’, 5/185
12 HR. Al-Imam Ahmad no. 6538 dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Muqbil di dalam kitab Al-Jami’ Ash-Shahih, 5/185

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Rabu,16 November 2011/19 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly