Perangi Yahudi, Tinggalkan Jejak-jejak Mereka

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

 

Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُقَاتِلَ الْمُسْلِمُونَ الْيَهُودَ فَيَقْتُلُهُمُ الْمُسْلِمُونَ حَتَّى يَخْتَبِئَ الْيَهُودِيُّ مِنْ وَرَاءِ الْحَجَرِ وَالشَّجَرِ فَيَقُولُ الْحَجَرُ أَوِ الشَّجَرُ: يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللهِ، هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي، فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ؛ إِلَّا الْغَرْقَدَ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرِ الْيَهُودِ
“Tidak akan terjadi kiamat hingga kaum muslimin memerangi Yahudi dan membunuhi mereka, sampai ketika Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon, batu dan pohon itu berkata: ‘Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku, kemari dan bunuhlah dia.’ Kecuali pohon gharqad, (dia tidak berbicara) karena dia dari pohon Yahudi.”
Takhrij hadits
Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam Ash-Shahih, Kitab Al-Jihad bab Qitalu-Al-Yahud (6/103 no. 2767 bersama Fathul Bari), Muslim dalam Ash-Shahih (18/44-45 no. 2922 bersama Syarah An-Nawawi), Ahmad dalam Al-Musnad (2/396, 417 dan 530) dan Al-Khatib Al-Baghdadi dalam At-Tarikh (7/207) dari Abu Hurairah z.
Diriwayatkan pula dari sahabat Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab c dalam Ash-Shahihain dan Sunan At-Tirmidzi.
At-Tirmidzi berkata dalam As-Sunan (4/509 no.2236): ”Hadits ini hasan shahih.”

Perang melawan Yahudi di akhir zaman
Pembaca rahimakumullah, Rasulullah n mengabarkan akan adanya perang di akhir zaman antara kaum muslimin dan Yahudi. Dalam perang itu, Yahudi terhina, dikalahkan, dan dibunuh. Tidak ada bagi mereka tempat persembunyian, bahkan batu dan pepohonan semua berseru:
يَا مُسْلِمُ، يَا عَبْدَ اللهِ، هَذَا يَهُودِيٌّ خَلْفِي فَتَعَالَ فَاقْتُلْهُ
“Wahai muslim, wahai hamba Allah, Yahudi ada di belakangku, kemari dan bunuhlah dia!”
Subhanallah, batu dan pepohonan berseru, memanggil muslim memberitahukan keberadaan Yahudi yang bersembunyi di baliknya. Semua pohon dan batu berujar, kecuali satu jenis pohon yaitu gharqad.
An-Nawawi berkata: “Gharqad adalah sejenis pohon berduri yang dikenal di Baitul Maqdis (Palestina). Di sanalah Dajjal dan Yahudi akan dibunuh.” (Al-Minhaj)
Berita perang melawan Yahudi dan kebinasaan mereka adalah sebagian dari tanda-tanda hari kiamat yang Rasulullah n kabarkan. Berita-berita ini wajib kita imani dan kita benarkan sebagai bukti iman kita kepada beliau n.
Hadits Abu Hurairah z ini juga kabar gembira akan kejayaan Islam dan kemenangan muslimin yang telah pasti atas musuh-musuhnya, sekaligus berita bahwa peperangan antara muslimin dan Yahudi akan terus berlangsung hingga akhir zaman.

Kapan perang itu terjadi?
Perang yang tersebut dalam hadits, bukanlah peperangan yang telah terjadi antara Rasulullah n dengan Yahudi di masa beliau n, seperti perang bani Quraidhah, bani Nadzir, atau bani Qainuqa’. Akan tetapi peperangan ini terjadi di akhir zaman, pada masa Imam Mahdi, Muhammad bin Abdullah Al-Hasani, saat turunnya Nabi Isa n, sebagaimana ditunjukkan riwayat-riwayat lain. Misalnya hadits Abu Umamah Al-Bahili z yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam As-Sunan dalam sebuah hadits panjang. Dalam hadits tersebut Rasulullah n bersabda:
فَبَيْنَمَا إِمَامُهُمْ قَدْ تَقَدَّمَ يُصَلِّي بِهِمُ الصُّبْحَ إِذْ نَزَلَ عَلَيْهِمْ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ الصُّبْحَ فَرَجَعَ ذَلِكَ الْإِمَامُ يَنْكُصُ يَمْشِي الْقَهْقَرَى لِيَتَقَدَّمَ عِيْسَى يُصَلِّي بِالنَّاسِ، فَيَضَعُ عِيْسَى يَدَهُ بَيْنَ كَتِفَيْهِ ثُمَّ يَقُولُ لَهُ: تَقَدَّمْ فَصَلِّ، فَإِنَّهَا لَكَ أُقِيْمَتْ. فَيُصَلِّي بِهِمْ إِمَامُهُمْ فَإِذَا انْصَرَفَ قَالَ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: افْتَحُوا الْبَابَ. فَيُفْتَحُ وَوَرَاءَهُ الدَّجَّالُ مَعَهُ سَبْعُونَ أَلْفَ يَهُودِيٍّ كُلُّهُمْ ذُو سَيْفٍ مُحَلَّى وَسَاجٍ فَإِذَا نَظَرَ إِلَيْهِ الدَّجَّالُ ذَابَ كَمَا يَذُوبُ الْمِلْحُ فِي الْمَاءِ وَيَنْطَلِقُ هَارِبًا وَيَقُولُ عِيْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: إِنَّ لِي فِيْكَ ضَرْبَةً لَنْ تَسْبِقَنِي بِهَا. فَيُدْرِكُهُ عِنْدَ بَابِ اللُّدِّ الشَّرْقِيِّ فَيَقْتُلُهُ فَيَهْزِمُ اللهُ الْيَهُودَ فَلَا يَبْقَى شَيْءٌ مِمَّا خَلَقَ اللهُ يَتَوَارَى بِهِ يَهُودِيٌّ إِلَّا أَنْطَقَ اللهُ ذَلِكَ الشَّيْءَ لَا حَجَرٌ وَلَا شَجَرٌ وَلَا حَائِطٌ وَلَا دَابَّةٌ إِلَا الْغَرْقَدَةَ فَإِنَّهَا مِنْ شَجَرِهِمْ لَا تَنْطِقُ إِلَّا قَالَ يَا عَبْدَ اللهِ الْمُسْلمَ، هَذَا يَهُودِيٌّ فَتَعَالَ اقْتُلْهُ
“… Ketika tatkala imam mereka sudah maju untuk mengimami shalat subuh, tiba-tiba turunlah kepada mereka ‘Isa bin Maryam q pagi itu. Karena itu, imam tersebut mundur agar Nabi ‘Isa q maju mengimami mereka.
Lalu Nabi ‘Isa meletakkan tangan beliau diantara dua pundak imam tersebut dan berkata: ‘Majulah, karena untukmulah shalat ini diiqamatkan.’ Imam itu pun mengimami mereka.
Setelah selesai, Isa q berkata: ‘Bukalah pintu.’ Pintu itu dibuka, ternyata di baliknya ada Dajjal bersama 70.000 Yahudi bersenjata pedang berhias dan berjubah hijau.
Ketika Dajjal melihat ke arah Isa q, diapun meleleh seperti garam dalam air. Dia berbalik melarikan diri. Nabi Isa berkata, ‘Sungguh aku memiliki sebuah pukulan yang engkau tidak akan mendahului aku dengannya.’
Kemudian Isa mendapatkan Dajjal di Bab Al-Lud sebelah timur dan membunuhnya. Ketika itu, Allah l mengalahkan Yahudi hingga tidak ada suatu makhluk pun yang Yahudi bersembunyi padanya kecuali Allah l jadikan ia berbicara, baik dia batu, pohon, tembok, maupun hewan, semua berbicara –kecuali pohon gharqad, sesungguhnya ia adalah pohon Yahudi– semua berbicara: Wahai hamba Allah, muslim, ini Yahudi, kemari dan bunuhlah dia…”1
Hadits Abu Umamah z ini di dalam sanadnya ada kelemahan. Tetapi riwayat yang menunjukkan bahwa peperangan ini terjadi di masa Imam Mahdi, dikuatkan dengan syawahid (penguat-penguat dari hadits lain).
Ibnu Hajar t berkata: “Hadits (Abu Umamah z) diriwayatkan Ibnu Majah dengan panjang dan asal hadits ini ada pada Abu Dawud. Ada yang serupa dengan hadits ini yaitu hadits Samurah z dalam riwayat Al-Imam Ahmad (dalam Al-Musnad) dengan sanad hasan. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Mandah dalam Kitab Al-Iman dari hadits Hudzaifah z dengan sanad shahih. (Fathul Bari 6/610)
Walhamdulillah.

Apakah batu dan pohon ketika itu berbicara secara hakiki?
Hadits ini memberikan faedah bahwa bebatuan dan pepohonan akan berbicara serta menyeru kepada kaum muslimin, memberitahukan akan keberadaan Yahudi yang bersembunyi di baliknya.
Sabda beliau n harus kita pahami apa adanya sesuai dengan zhahirnya, bahwa benda-benda ini berbicara secara hakiki, dengan pembicaraan yang bisa didengar dan dipahami. Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i t berkata: “Di dalam hadits ini ada tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat dengan berbicaranya benda-benda mati seperti pohon dan batu. Zhahirnya, benda ini berbicara secara hakiki.” (Fathul Bari, 6/610)
Saudaraku, semoga Allah l merahmati Anda, ketahuilah, para pemuja akal menganggap mustahil berita Rasulullah n yang ada di hadapan kita ini. Mereka berkata: “Mungkinkah benda-benda mati berbicara?”
Subhanallah. Mereka tidak menyadari, sesungguhnya mereka sedang berhadapan dengan berita Allah l dan Rasul-Nya. Mereka juga lupa –atau melupakan– kekuasaan Allah l.
Berbicaranya benda mati yang tidak memiliki lisan bukanlah hal yang mustahil bagi Allah l, Dzat Yang Mahakuasa atas segala sesuatu. Di hari kiamat, kulit dan anggota tubuh berbicara menjadi saksi atas perbuatan manusia. Allah l berfirman:
“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” (Yasin: 65)
Allah l juga berfirman:
Dan mereka berkata kepada kulit mereka, “Mengapa kamu menjadi saksi terhadap kami?” Kulit mereka menjawab, “Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berkata telah menjadikan kami pandai (pula) berkata, dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan. Kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian pendengaran, penglihatan, dan kulitmu terhadapmu bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan.” (Al-Fushshilat: 21-22)
Bukan hanya di akhirat, bahkan berbicaranya benda-benda mati telah terjadi di dunia ini. Diantaranya:
– Pokok kurma yang dahulu dinaiki Rasulullah n ketika berkhutbah, menangis dengan tangisan yang didengar para sahabat tatkala Rasulullah n meninggalkannya karena beliau telah memiliki mimbar untuk berkhutbah. Dari Anas bin Malik dan Ibnu Abbas c:
أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ فَلَمَّا اتَّخَذَ الْمِنْبَرَ ذَهَبَ إِلَى الْمِنْبَرِ، فَحَنَّ الْجِذْعُ فَأَتَاهُ فَاحْتَضَنَهُ فَسَكَنَ، فَقَالَ: لَوْ لَمْ أَحْتَضِنْهُ لَحَنَّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Dahulu Nabi n berkhutbah pada pokok pohon kurma, ketika dibuatkan mimbar, beliau berjalan menuju mimbar. Maka menangislah pokok kurma hingga didatangi Rasulullah dan beliau peluk dan diamlah ia. Rasulullah n bersabda, ‘Kalau tidak aku peluk sungguh dia akan terus menangis hingga hari kiamat’.”2
– Demikian pula batu, benda mati ini pernah mengucapkan salam kepada Rasulullah n3. Lebih dari itu, bahkan batu pun bisa berlari jika Allah l memberikan kemampuan kepadanya untuk berlari sebagaimana dalam kisah Nabi Musa q dalam Shahih Al-Bukhari. Rasulullah n bersabda:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ يَغْتَسِلُونَ عُرَاةً، يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ، وَكَانَ مُوسَى يَغْتَسِلُ وَحْدَهُ، فَقَالُوا: وَاللهِ مَا يَمْنَعُ مُوسَى أَنْ يَغْتَسِلَ مَعَنَا إِلَّا أَنَّهُ آدَرُ، فَذَهَبَ مَرَّةً يَغْتَسِلُ فَوَضَعَ ثَوْبَهُ عَلَى حَجَرٍ، فَفَرَّ الْحَجَرُ بِثَوْبِهِ، فَخَرَجَ مُوسَى فِي إِثْرِهِ، يَقُولُ: ثَوْبِي يَا حَجَرُ. حَتَّى نَظَرَتْ بَنُو إِسْرَائِيلُ إِلَى مُوسَى فَقَالُوا: وَاللهِ مَا بِمُوسَى مِنْ بَأْسٍ، وَأَخَذَ ثَوْبَهُ، فَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا
Dahulu Bani Israil biasa mandi telanjang saling melihat satu dengan yang lain. Sementara Musa selalu menyendiri ketika mandi, hingga bani Israil berkata, “Demi Allah, tidak ada yang menghalangi Musa mandi bersama kita kecuali karena dia cacat kemaluannya.” Hingga suatu saat Musa mandi dan beliau letakkan bajunya di atas batu, tiba-tiba batu itu lari, dan Musa berlari mengikutinya seraya berkata, “Bajuku, wahai batu.” Hingga bani Israil melihat Musa dan mereka berkata, “Demi Allah tidak ada cacat pada Musa!” Musa berhasil mengambil bajunya dan ia pukul batu itu.4

Yahudi memancangkan bendera permusuhan kepada para nabi dan kaum mukminin
Yahudi adalah kaum yang sangat busuk. Allah l menyebutkan sifat-sifat jelek mereka dalam banyak ayat Al-Qur’an, demikian pula Rasulullah n dalam sabda-sabda beliau yang mulia, agar kita berhati-hati dari makar-makar Yahudi dan menjauhi sifat-sifat buruk mereka.
Bendera perang telah Yahudi kibarkan dengan penuh keangkuhan, di hadapan mukminin. Makar dan permusuhan Yahudi terus diarahkan kepada kaum muslimin, bahkan Rasulullah n pun tidak luput dari rencana jahat Yahudi.
Disebutkan dalam referensi-referensi sirah (sejarah), sebab terjadinya perang Yahudi bani Nadhir, sekitar enam bulan seusai perang Badr (Ramadhan 2 H), Rasulullah n mendatangi Yahudi guna membantu beliau membayar diyat atas kematian dua orang dari kabilah Kullab yang dibunuh oleh ‘Amr bin Umayyah Adh-Dhamri z. Dalam pembicaraan itu, mereka sanggup membantu Rasulullah n dan berkata, “Kami akan bantu engkau wahai Abul Qasim5, tapi duduklah di sini hingga kami memenuhi kebutuhanmu.”
Saat Rasulullah n menunggu, ternyata mereka merencanakan pembunuhan terhadap Rasulullah n. ‘Amr bin Jahsy terpilih untuk menimpakan (batu) penggiling gandum di atas kepala Rasulullah n yang sedang duduk. Ar-Rasul mendapat wahyu, beliau pun segera bangkit dan memerintahkan sahabat untuk menyerang Yahudi yang telah mengkhianati kesepakatan.
Kisah ini diriwayatkan Ibnu Hisyam dalam As-Sirah (3/267-268) dengan sanad mursal, akan tetapi dikuatkan dengan riwayat Musa bin ‘Uqbah sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (15/202) dan Al-Imam Al-Baihaqi dalam Dala’il An Nubuwah (3/180-181). Wallahu a’lam.6
Yahudi adalah kaum yang penuh hasad. Mereka selalu menginginkan kehinaan dan kecelakaan, serta menjauhkan kaum muslimin dari Islam. Allah l berfirman:
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran…” (Al-Baqarah: 109)
Allah l juga berfirman:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (Al-Baqarah: 120)
Mereka memang telah memancangkan bendera perang. Tetapi bendera itu tidak akan tegak dan berkibar. Bendera Yahudi akan segera tumbang dan diinjak-injak tentara Allah l, sebagaimana kabar gembira yang kita dapatkan dalam sabda Rasulullah n diatas.

Reformasi, tasyabbuh (meniru) tindakanYahudi
Reformasi ala Ibnu Saba’ beserta segala sarananya berupa demokrasi, demonstrasi, pemecahbelahan umat, dan menjamurnya partai-partai, demikian pula kebebasan yang tidak terkendali dan pengebirian syariat dengan kedok Hak Asasi Manusia (HAM), harus disadari bahwa semua itu adalah produk Yahudi yang dijual murah di tengah muslimin, di negeri-negeri Islam.
Munafiqin dan corong-corong Yahudi atau sebagian kaum muslimin yang jahil akan syariat, berdiri di atas panggung reformasi menggemakan slogan-slogan yang jauh dari Islam. Manusia pun silau dengan propaganda-propaganda itu. Kerusakan dan akibat-akibat pahit reformasi semakin menyebar di tengah perang yang terus berkecamuk. Tetapi sadarkah kita, wahai kaum muslimin, akan peperangan ini?
Sungguh, demi Allah! Tidak ada jalan keluar dan kemuliaan kecuali melalui jihad dengan makna yang sesungguhnya. Di antaranya dengan berdakwah menyeru manusia untuk kembali kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih, serta menyadari akan peperangan dan permusuhan Yahudi yang telah mereka pancangkan hingga hari kiamat.
Yahudi adalah musuh, namun kebanyakan muslimin justru mengikuti jejak-jejak mereka dengan bertasyabbuh (meniru) Yahudi dalam pola pikir, pola kehidupan, bahkan dalam beribadah. Seakan-akan umat ini tidak ingat lagi sabda Rasulullah n:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum itu.”7
Lihatlah apa yang terjadi di era reformasi, bagaimana kaum muslimin tergulung ombak pemikiran. Dakwah tauhid diremehkan, demikian pula prinsip-prinsip Islam diinjak-injak –seperti al-wala’ wal bara’ (loyal kepada orang taat dan antipati terhadap orang yang bermaksiat)– sementara perjuangan partai –yang memecah-belah umat– dielu-elukan.
Prinsip menaati waliyul amr (pemerintah) selama di atas ketaatan kepada Allah l menjadi luntur dan dianggap sikap kebanci-bancian. Sementara, pemberontakan dan mencaci-maki pemerintah di atas podium/mimbar-mimbar –seperti moyang mereka, Ibnu Saba– dianggap sebagai jihad dan kepahlawanan.
Di era reformasi, kaum muslimin didorong untuk mengubah keadaan dengan demonstrasi, pemberontakan, perusakan, mengundi nasib dengan demokrasi dan partai. Bahkan, tidak sedikit kaum muslimin yang membuat partai dengan nama partai Islam, padahal sesungguhnya semua itu adalah bagian dari langkah Yahudi, yang ingin menggiring muslimin untuk bertasyabbuh dengan mereka.
Ketahuilah, sesungguhnya kemuliaan tidak akan dicapai dengan tasyabbuh kepada Yahudi dan musyrikin, bahkan mereka akan semakin lemah dan bercerai-berai. Fenomena tasyabbuh telah disinyalir Rasulullah n jauh-jauh hari sebagaimana tampak dalam sabda Rasulullah n:
لَتَتَّبِعُنَّ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، آلْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
Sungguh kalian akan ikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampaipun mereka masuk lubang dhabb (hewan sejenis biawak) kalian juga akan mengikutinya. Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Rasul berkata, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?”8
Peringatan di atas menunjukkan bahwa menyelisihi ahlul kitab dan musyrikin adalah prinsip mendasar seorang muslim. Di atas prinsip inilah sesungguhnya kita akan memperoleh kemuliaan.

Memperjuangkan Islam melalui partai Islam?
Memperjuangkan Islam hanya dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan manhaj yang shahih, bukan dengan cara-cara bid’ah atau tasyabbuh dengan ahlul kitab dan musyrikin. Di masa reformasi, banyak aktivis pergerakan memandang bahwa Islam bisa diperjuangkan melalui partai. Dengan partai, aspirasi umat akan tersalurkan. Dengan partai, jalan menuju kekuasaan dan syariat Islam akan terwujud. Itu diantara angan-angan mereka. Benarkah demikian?
Jawabannya: Tidak! Sekali-kali tidak!
Coba lihat, sebelum mereka duduk di parlemen, jenggot masih dipelihara, pakaian masih di atas mata kaki. Namun ketika kursi telah diduduki syariat, jenggot dan mengangkat pakaian di atas mata kaki dilibas dan diremehkan. Apakah orang-orang seperti ini akan menegakkan syariat Islam, sementara syariat Islam justru tidak ditegakkan pada diri-diri mereka?
Yakinilah, sesungguhnya umat ini hanya akan mendapat kebaikan dengan menempuh jalan generasi awal umat ini yakni sahabat. Al-Imam Malik t berkata:
لَا يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَّلُهَا
“Akhir dari umat ini tidak akan mencapai kejayaan kecuali dengan menempuh jalan generasi awal yang dengannya mereka mencapai kejayaan.”
Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t menjawab sebuah pertanyaan, “Bolehkah seorang salafi (Ahlus Sunnah) bergabung dengan Ahzab Siyasiyah (partai-partai politik)?”
Beliau menjawab: Salafiyyin wajib menegakkan dakwah kepada Al-Qur’an dan As-Sunah dengan manhaj salafus shalih dan tidak bergabung dengan partai-partai politik. Kenapa? Karena sampai saat ini saya tidak tahu ada partai Islam –di seluruh penjuru dunia– yang berada di atas manhaj yang benar.
Bukan berarti bahwa dalam Islam tidak ada siyasah (politik). Siyasah sesungguhnya ada dan termasuk syariat, sehingga ada tulisan-tulisan tentang siyasah seperti kitab yang berjudul As-Siyasah Asy-Syar’iyyah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t. Maka siyasah sesungguhnya termasuk syariat, tentunya jika sesuai dengan syariat. Tetapi siapa yang mampu untuk mensiasati (mengatur) umat? Tidak diragukan bahwa mereka haruslah orang-orang yang memiliki beberapa sifat, di antaranya (alim) mengetahui Al-Kitab dan As-Sunnah. …. Maka kita tidak menasihatkan kepada salafiyin untuk bergabung dengan mereka. Karena amalan siyasah (politik) butuh persiapan yang sangat besar agar bisa menegakkan siyasah syar’iyyah.
(Bahkan ketika salafiyin) menyibukkan diri dalam siyasah, justru akan menyebabkan mereka berpaling dari dakwah dan tarbiyah (membimbing) umat … Lihatlah sepintas negeri-negeri yang menyibukkan diri dalam hal ini sebelum umat siap kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Yang terjadi justru menyebabkan mundurnya umat. Benarlah apa yang dikatakan:
مَنِ اسْتَعَجْلَ الْأَمْرَ قَبْلَ أَوَانِهِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِهِ
“Barangsiapa tergesa-gesa meraih sesuatu sebelum waktunya, akan dibalas dengan terhalangi mendapatkannya.”
(Untuk memperoleh kejayaan) kita harus menempuh sebab-sebab yang syar’i. Kita lihat bagaimana Rasulullah n berbuat? Rasul n melakukan sebab-sebabnya, dengan mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi musuh. Sebagaimana Allah l berfirman:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu ….” (Al-Anfal: 60)
Al-Quwwah, kekuatan yang dimaksud dalam ayat ini, tidak diragukan adalah kekuatan fisik (namun ada kekuatan yang lebih utama yang harus dipersiapkan yaitu kekuatan iman dan tauhid yang kokoh dalam jiwa). Kita renungi lebih dalam ayat ini, siapakah mukhathab (orang yang diajak bicara)? Sahabat adalah mukhathab pertama. Mereka adalah kaum mukminin yang haq (generasi yang dipenuhi kekuatan iman). Maka (disimpulkan bahwa) kekuatan yang dimaksud dalam ayat ini ada dua macam: pertama: maknawiyah9; dan kedua: kekuatan fisik. Hal ini jelas ditunjukkan oleh ayat ini dan sabda Rasulullah n:
أَلَا إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ
“Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah.”10
Diantara persiapan jihad adalah (mengajak agar) kaum muslimin berada dalam satu hati.11 Apakah ini sudah diusahakan? Ini tentunya harus dilakukan dengan dakwah kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dengan manhaj yang benar ….” (Dari kaset Silsilah Al-Huda wan Nur no. 270, Asy-Syaikh Al-Allamah Al-Albani t, dengan beberapa penyesuaian)

Kabar gembira bagi kaum mukminin
Perpecahan dan kelemahan yang menimpa muslimin, yang disebabkan oleh jauhnya mereka dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga karena kebanyakan muslimin lebih mengikuti jejak ahlul kitab dan musyrikin dengan tasyabbuh kepada mereka; hendaknya tidak menjadikan kita putus asa dari rahmat Allah l untuk memperjuangkan agama Allah l yang mulia.
Ketahuilah bahwa agama ini milik Allah l. Dia telah menjanjikan penjagaan bagi agama ini. Allah l pula yang akan memenangkan agama Rasulullah n atas seluruh agama.
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas seluruh agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (Ash-Shaf: 9)
Keyakinan akan pertolongan Allah l akan mendorong seorang mukmin tetap kokoh berdiri memperjuangkan agama-Nya, meskipun musuh-musuh Allah l bersatu-padu untuk memadamkan cahaya agama Allah l. Allah l berfirman:
“(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” (Ali Imran: 173)
Manusia itu lemah, sedangkan Allah Mahaperkasa. Tidak ada yang kita ucapkan melainkan Hasbunallah wani’mal wakil. Sesungguhnya apa yang Allah l janjikan pasti kita peroleh, insya Allah.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55)

Seruan untuk sekalian Yahudi dan Ahlul Kitab
Wahai Yahudi… Berhentilah kalian membuat kerusakan di muka bumi. Segeralah bertaubat dan memenuhi panggilan Allah l dan Rasulullah n. Allah l berfirman:
Katakanlah: “Wahai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah l).” (Ali Imran: 64)
Kalian sungguh telah mengerti kebenaran Rasulullah n, maka segeralah penuhi panggilannya sebelum azab menimpa kalian. Allah l berfirman:
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (Al-Baqarah: 146)
Ingatlah apa yang menimpa nenek moyang kalian ketika mereka kafir kepada Allah l. Dia mengubah kalian menjadi kera-kera dan babi yang hina –dan itu kalian ketahui–.
Wahai Ahlul Kitab, dengarlah sabda Rasul n yang Allah l utus kepada kalian:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad di Tangan-Nya, tidaklah seorang pun dari umat ini mendengar tentang aku, baik dia Yahudi atau Nasrani, kemudian tidak beriman dengan apa yang aku bawa melainkan termasuk penghuni neraka.”12
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.


1 HR. Ibnu Majah dalam As-Sunan no. 4077, didha’ifkan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani t.
2 Asy-Syaikh Al-Albani t berkata: “Mukjizat (menangisnya pokok kurma) ini mutawatir dari Rasulullah n. Sebagian besar jalan-jalannya telah dikumpulkan Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam Al-Bidayah dan As-Suyuthi t dalam Al-Khashaish…” (Ta’liqat atas risalah Bidayatus Suul fi Tafdhili Ar-Rasul hlm. 40)
3 Sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Jabir bin Samurah z, diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Ash-Shahih (4/1782 no. 2277), At-Tirmidzi no. 3628.
4 HR. Al-Bukhari no. 278 dari hadits Abu Hurairah z.
5 Kunyah Rasulullah n.
6 Kisah ini disebutkan oleh Asy-Syaikh Abdurrahman Nashir As-Sa’di dalam Taisir Karimir Rahman, tafsir Surat Al-Hasyr.
7 HR. Abu Dawud no. 4031 dari hadits Abdullah bin ‘Umar c.
8 HR. Al-Bukhari no. 3456 dan Muslim (4/2054 no. 2669) dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri z.
9 Yaitu keimanan yang shahih. Rasulullah n selama hidup beliau selalu menanamkan tauhid, bahkan sebelum disyariatkan shalat lima waktu setiap hari. Selama lebih sepuluh tahun di Makkah, dakwah Rasulullah n adalah menegakkan kalimat Laa ilaha illallah, memurnikan tauhid, dan menghancurkan kesyirikan.
10 Diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya no. 1917 dari sahabat ‘Uqbah bin ‘Amir z.
11 Tentu yang dimaksud satu hati adalah satu aqidah, bukan seperti dakwah Ikhwanul Muslimin (IM) yang berusaha menyatukan manusia dalam satu wadah meskipun berbeda aqidah: Sufi, Rafidhah (Syiah), Mu’tazilah, dan segala macam aliran sesat.
12 HR. Muslim (1/134 no. 153) dari sahabat Abu Hurairah z.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Minggu,20 November 2011/23 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly