Propaganda Reformasi

Sejak gerakan reformasi digulirkan lebih satu dasawarsa silam, banyak perubahan besar terjadi di negeri ini, terutama yang menyangkut iklim politik. Banyak yang kemudian menyebut masa pascaturunnya pemerintah Orde Baru sebagai era keterbukaan, kebebasan, ataupun era demokrasi. Namun sejatinya jika kita mau sejenak merenung, di balik era-era yang dianggap sebagai nilai-nilai positif itu, reformasi yang dicitrakan untuk Indonesia yang lebih baik, justru menyisakan setumpuk persoalan dan ekses-ekses negatif yang terus dirasakan masyarakat hingga kini, khususnya yang menyangkut eksistensi Islam. 
Reformasi yang diawali dari hilangnya legitimasi “rakyat” (istilah demokrasi) atau krisis kekuasaan, yang kemudian menelurkan krisis-krisis lainnya, berujung pada hilangnya kewibawaan pemerintah. Rakyat pun dibuat tidak percaya kepada pemerintah dan aparaturnya. Anarkisme merebak dan terorisme (baca: aksi Khawarij) pun tumbuh subur. Demikian juga konflik-konflik horisontal antaragama atau konflik sosial karena hasil pilkada, separatisme serta pemekaran wilayah tertentu yang didesain untuk memarjinalkan umat Islam.
Paham-paham keagamaan yang meng-gunakan simbol-simbol Islam yang sebelumnya tiarap atau hanya bergerak di bawah tanah (seperti Ahmadiyah, Baha’i), atau paham-paham yang benar-benar baru (seperti Al-Qiyadah Al-Islamiyah, Salamullah, dll) akhirnya berani menampakkan diri, mendakwahkan pahamnya, bahkan didukung oleh tokoh-tokoh bodoh yang terjerat propaganda HAM. Ide-ide penyatuan agama yang dikampanyekan Yahudi kian mendapat tempat bahkan disokong kelompok aneh “Islam Liberal”. Demikian juga dengan komunis yang terus unjuk gigi.
Di bidang politik, umat Islam semakin tercerai-berai dan tersekat-sekat dalam partai. Demokrasi yang merupakan jajanan murahan dari Barat ditelan mentah-mentah oleh umat. Banyak tokoh agama yang kemudian sibuk di politik, dari pileg ke pileg, dari pilpres ke pilpres, dari pilkada ke pilkada, lantas mengabaikan dakwah untuk memperbaiki umat. Bahkan yang nampak, idealisme keagamaan mereka justru tergerus oleh pragmatisme politik. Demi opini publik, demi meraih simpati berbuah kursi, syariat pun tak mengapa dilabrak atau “dikompromikan”.
Reformasi pun akhirnya menjadi pintu yang sangat lebar untuk menyusupkan berbagai pemikiran dan sistem kufur. Isu-isu untuk melemahkan syariat Islam atas nama HAM dan kebebasan terus diangkat, agama Islam dinodai, dukun dan kesyirikan kian berkibar.
Sejarah sendiri mencatat, reformasi apa pun dan di mana pun dengan mengeskpose kejelekan pemerintah selalu ditunggangi hawa nafsu-hawa nafsu kekuasaan. Lihatlah di Indonesia, para tokoh yang diagung-agungkan sebagai pencetus bahkan lokomotif reformasi nyatanya justru saling berebut menjadi orang nomor satu di negeri ini.
Gerakan reformasi akhirnya cenderung hanya mencari kambing hitam dengan menim-pakan segala kesalahan atau mengalamatkan vonis “dosa” kepada pemerintah masa lalu atau orang-orang masa lalu. Padahal, mereka yang mengaku reformis itu belum tentu lebih baik dari pribadi-pribadi yang berada di pemerintahan yang lama. Orde apa pun bukanlah kayu arang yang kemudian dengan mudahnya diganti emas. Sejelek apa pun penguasa, itu jauh lebih baik daripada kita di tengah situasi chaos. Atau sebagaimana kata ulama, apa yang diperbaiki oleh penguasa lebih banyak daripada yang mereka rusak.
Sekali lagi, meski tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada pemerintah di masa sekarang seperti KKN, sikap otoriter, dan sebagainya, memang benar adanya, sebagai seorang muslim kita dituntut bersikap sesuai adab. Bukan lantas dimaknai pro-status quo, namun inilah etika politik yang dituntunkan Islam. Semestinya, kita membangun kepercayaan masyarakat kepada pemerintah yang sedang berkuasa serta mendoakan mereka agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan mendapat bimbingan Allah l. Kesalahan, keburukan , atau kekurangan penguasa, tidaklah serta-merta dijadikan amunisi untuk menjatuhkan kewibawaannya.
Walhasil, reformasi berikut propagandanya seperti demokrasi, kebebasan, keterbukaan, bukanlah segala-galanya. Apalagi menjadi solusi total keterpurukan bangsa ini. Tanpa mengenal Islam kita hanyalah orang bodoh yang cuma larut dalam eforia reformasi yang karut-marut serta menyesatkan.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Minggu,20 November 2011/23 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly