Rintangan Dakwah, Sebuah Kemestian

Meniti jalan dakwah memang tidak semulus laiknya melintasi jalan tol. Selalu ada aral, tantangan, dan berbagai bentuk ujian lainnya. Setidaknya itulah yang kami rasakan dalam bulan-bulan terakhir ini. Ketika kami mengangkat tema terorisme, ungkapan protes hingga pernyataan bernada cacian mengalir ke meja redaksi kami. Tak hanya itu. Ancaman peledakan kantor redaksi dari para pemuja Usamah bin Laden juga nyata menyela kesibukan kami.
Berikutnya, ketika kami “mengurai” Hizbut Tahrir, juga ada pihak-pihak yang kemudian merasa gerah. Pihak HTI, secara khusus, bahkan merilis pembelaan diri melalui situs resmi mereka.
Jika kita (mau) merunut sejarah, akan kita dapati bagaimana potret dakwah Rasulullah n dan para shahabatnya serta realita yang mereka hadapi. Dakwah mereka, selain bersifat “mengajak” (kepada kebaikan) juga bersifat “memperingatkan” (dari bahaya kejelekan berupa syirik, bid’ah, maksiat dan tentu saja kelompok pengusungnya). Kita lihat, bagaimana gamblangnya Rasulullah n mengecam Khawarij dan Qadariyah, bagaimana kerasnya ‘Umar terhadap orang yang mempertanyakan ayat-ayat mutasyabihat, bagaimana tegasnya ‘Ali bin Abi Thalib memerangi Syi’ah dan Khawarij, dan lain sebagainya. Belum lagi yang Rasulullah n sebutkan ciri-cirinya secara umum seperti orang-orang/kelompok yang menggunakan ayat-ayat mutasyabihat dan menakwilkan sesuai keinginannya untuk menimbulkan fitnah, dsb.
Barangkali saat ini kita akan kesulitan menemukan kelompok yang berlabel Khawarij, Qadariyah, Jabriyah, atau nama-nama lain yang di jaman Rasulullah n, para shahabat, dan tabi’in telah ada. Tapi sifat-sifat mereka telah gamblang dijelaskan Rasulullah n dan para shahabatnya. Sehingga semanis apapun namanya saat ini, para ulama bisa menghukumi mereka, apakah kelompok tersebut menyimpang ataupun tidak.
Atas dasar ini, kami pun mengusung tema-tema “panas” yang oleh sebagian orang barangkali dianggap menggerogoti ukhuwah Islam. Tidak ada niatan sedikitpun dari kami Insya Allah, untuk merasa benar sendiri atau yang semacamnya. Tapi kami mengajak untuk berpikir ilmiah, mendasarkan seluruh aktivitas keilmuan ataupun pemikiran kita di atas dalil. Bukan dengan mengagung-agungkan tokoh-tokoh tertentu dan berbagai pemikirannya secara berlebihan. Lebih-lebih menggelari mereka dengan gelar-gelar yang menjadi hak Allah untuk memberikannya, seperti Al-Imam Asy-Syahid dan sebagainya.
Dan juga perlu pembaca ketahui, kami mengupas kelompok-kelompok tersebut dalam perspektif global. Artinya, bukan sekedar menyoroti Syi’ah atau HT atau mungkin nanti (insya Allah) Ikhwanul Muslimin atau Ahmadiyah dalam konteks lokal atau sepak terjangnya di Indonesia. Tapi lebih luas dari itu. Karena, kelompok-kelompok penyimpang umumnya bersifat internasional dan menggurita di sejumlah negara. Dan sangat mungkin, gerakan-gerakan yang ada di Indonesia tidak lebih dari sekedar pengekor atau penjaja asongan dari ide-ide atau pemikiran ‘tuan besarnya’.
Sekali lagi pembaca, apa yang kami lakukan ini semata-mata (insya Allah) didasari niat untuk menyadarkan umat akan bahaya penyesatan yang mengintai di sekitar kita. Karena hampir tidak ada penyesatan yang berwajah seram. Semuanya tampil “manis” dengan menciduk dalil-dalil yang pas dengan maksud dan tujuan gerakan mereka, mendudukkan dalil tidak sebagaimana mestinya, memunculkan intepretasi baru atau tafsir yang jauh menyimpang, hingga menciptakan hadits-hadits palsu untuk melanggengkan harakah mereka.
Dalam edisi inipun kami mencoba ‘menyentuh’ kelompok Syi’ah. Karena tema yang kami angkat adalah tentang ahlul bait, sebuah tema di mana kelompok Syi’ah punya sekian daftar kesesatan di dalam persoalan ini (saja). Maklumlah, membicarakan ahlul bait memang tidak bisa dilepaskan dari sikap kultus sejumlah kelompok Islam/ non Islam. Dari sikap inilah kemudian lahir sekte-sekte sempalan bahkan ada yang dihukumi kafir karena menuhankan salah satu ahlul bait. Lebih jauh tentang hal ini, pembaca dapat menyelaminya dalam Kajian Utama.
Pembaca, selamat menyimak!

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Selasa,15 November 2011/18 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly