Saat Pengabulan Do’a

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

Allah Yang Maha Rahman pasti mengabulkan doa-doa hamba-Nya, karena Dia Yang Maha Tinggi telah berfirman:

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kelurusan.” (Al-Baqarah: 186)

“Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkan permohonan kalian.” (Ghafir: 60)
Selain adab-adab berdoa yang perlu diamalkan agar doa tersebut mustajab (dikabulkan), ada pula waktu, tempat, dan keadaan yang perlu diperhatikan saat berdoa. Sehingga diharapkan, doa itu akan di-ijabahi oleh Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa. Di antara waktu, tempat, dan keadaan tersebut adalah:
1. Malam Qadar (Lailatul Qadar)
‘Aisyah x pernah bertanya kepada Rasulullah n: “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu bila aku mengetahui kapan malam Qadar itu (mendapatkan malam Qadar), apa yang harus aku ucapkan?” Beliau menjawab:

“Ucapkanlah (doa): Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”1
2.    Berdoa di tengah malam dan di waktu sahur
Allah I berfirman menyebutkan sifat hamba-hamba-Nya yang beriman:

“Dan pada waktu akhir malam mereka meminta ampun.” (Adz-Dzariyat: 18)
Abu Hurairah z menyatakan bahwa Rasulullah n pernah bersabda:

“Rabb kita Yang Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang akhir seraya berfirman: ‘Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku mengabulkan doa-Nya. Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku berikan permintaannya. Siapa yang minta ampun kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya’.”2
3. Di akhir shalat fardhu
Abu Umamah Al-Bahili z berkata: Pernah ada yang bertanya kepada Rasulullah n: “Wahai Rasulullah, doa apakah yang didengarkan (dikabulkan)?” Beliau menjawab:

“Doa yang dipanjatkan di tengah malam yang akhir dan di akhir shalat wajib.”3
Ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan di akhir shalat fardhu, apakah maksudnya sebelum salam atau setelah salam dari shalat? Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya Zadul Ma’ad: “Di akhir shalat bisa jadi sebelum salam dan bisa jadi setelahnya. Adapun Syaikh kami (Ibnu Taimiyyah t) menguatkan pendapat yang menyatakan sebelum salam.”
Sedangkan Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berpandangan4 di akhir setiap shalat fardhu adalah sebelum salam, sehingga doa itu dipanjatkan setelah membaca tahiyyat akhir sebelum mengucapkan salam sebagai penutup ibadah shalat. Beliau berkata: “Riwayat yang menyebutkan adanya doa yang dibaca di akhir shalat maka berarti doa itu dibaca sebelum salam. Sedangkan dzikir yang dinyatakan untuk dibaca di akhir shalat maka maksudnya dzikir itu dibaca setelah selesainya shalat. Karena Allah I berfirman:

“Apabila kalian telah selesai dari mengerjakan shalat, berzikirlah kalian kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring di atas rusuk kalian.” (An-Nisa`: 103)
4. Antara adzan dan iqamah
Anas bin Malik z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Doa yang tidak tertolak adalah (doa yang dipanjatkan) antara azan dan iqamah.”5
5. Ketika dikumandangkan adzan dan saat dirapatkannya barisan, berha-dapan dengan barisan musuh di medan tempur
Sahl bin Sa’d z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Dua waktu/keadaan yang tidaklah tertolak doa yang dipanjatkan ketika itu atau jarang sekali ditolak, yaitu doa ketika diserukan panggilan shalat dan doa ketika peperangan saat merapat/mendekatnya sebagian mereka dengan sebagian yang lain (bertemu/berhadapan dengan musuh di medan perang, -pent.)”6
6. Suatu waktu di malam hari
Jabir z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Sesungguhnya pada malam hari ada satu waktu yang tidaklah bersamaan dengan itu seorang muslim meminta kepada Allah satu kebaikan dari perkara dunia dan akhirat melainkan Allah akan memberikan perminta-annya tersebut, dan itu ada di setiap malam.” 7
7. Suatu waktu pada hari Jum’at
Abu Hurairah z berkata bahwasanya Rasulullah n menyebut hari Jum’at, beliau berkata:

“Di hari Jum’at itu ada satu saat/waktu bila bertepatan seorang hamba muslim melaksanakan shalat lalu ia minta kepada Allah I sesuatu melainkan Allah akan memberikan perminta-annya tersebut.”
Beliau mengisyaratkan dengan tangannya untuk menunjukkan singkatnya waktu tersebut.8
Ulama berbeda pendapat tentang batasan waktunya. Ada yang mengatakan waktunya adalah saat masuknya khatib ke masjid. Ada yang mengatakan ketika matahari telah tergelincir, ada yang mengatakan setelah Ashar, dan adapula yang mengatakan waktunya dari terbit fajar sampai terbit matahari. (Al-Minhaj, 6/379)
Namun dalam riwayat Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari didapatkan penetapan waktunya. Abu Burdah berkata: Abdullah bin ‘Umar c berkata kepadaku: “Apakah engkau pernah mendengar ayahmu menyampaikan hadits dari Rasulullah n tentang waktu pada hari Jum’at tersebut?” Abu Burdah menjawab: “Iya, aku mendengar ayahku berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

“Waktunya adalah antara imam duduk sampai ditunaikannya shalat (Jum’at).”9
8. Ketika sujud
Abu Hurairah z berkata: Rasulullah n bersabda:

“Paling dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sedang sujud maka perbanyaklah oleh kalian doa ketika sedang sujud.”10
9. Doa pada hari Arafah
Rasulullah n menyatakan dalam sabdanya:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.”11
10. Doa setelah berwudhu
‘Umar ibnul Khaththab z mengabarkan bahwa Nabi n bersabda:

“Tidak ada seorang pun dari kalian berwudhu lalu ia membaguskan wudhunya, kemudian berdoa:

‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali hanya Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya,’ melainkan akan dibukakan baginya pintu-pintu surga yang delapan yang bisa ia masuki dari pintu mana saja yang ia inginkan.”12
11. Ketika membaca surah Al-Fatihah dan menghadirkan (meresapi/merenungi) bacaannya
Abu Hurairah z berkata: Aku pernah mendengar Nabi n bersabda: “Allah I berfirman: ‘Aku membagi shalat (yakni surah Al-Fatihah) antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian dan untuk hamba-Ku apa yang ia pinta.’
Apabila si hamba membaca:

Allah I  berfirman: ‘Hamba-Ku memuji-Ku.’
Bila si hamba membaca:

Allah I berfirman: ‘Hamba-Ku menyanjung-Ku.’
Bila si hamba membaca:

Allah I berfirman: ‘Hamba-Ku memuliakan/mengagungkan Aku.’
Bila si hamba membaca:

Allah I berfirman: ‘Ini antara Aku dan hamba-Ku dan bagi hamba-Ku ia dapatkan apa yang dimintanya.’
Bila si hamba membaca:

Allah I berfirman: “Ini untuk hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang ia pinta.”13
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(bersambung Insya Allah)
(Diringkas dari kitab Ad-Du’a` Mafhumuhu, Ahkamuhu, Akhtha`un Taqa’u Fihi, oleh Muhammad bin Ibrahim Alu Hamd, dibaca dan diberi ta’liq (catatan/komentar) oleh Samahatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz t)

Catatan Kaki:

1 HR. At-Tirmidzi no. 3513, kitab Ad-Da’awat, Ibnu Majah no. 3850, kitab Ad-Du’a`, bab Ad-Du’a` bil ‘Afwi wal ‘Afiyah. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi, Shahih Ibni Majah, Al-Misykat (no. 2091)
2 HR. Al-Bukhari no. 1145, kitab At-Tahajjud, bab Ad-Du’a` wash Shalah min Akhiril Lail; dan Muslim no. 1769, kitab Shalatul Musafirin, bab At-Targhib fid Du’a` wadz Dzikr fi Akhiril Lail wal Ijabah fihi
3 HR. At-Tirmidzi no. 3499, kitab Ad-Da’awat, dihasankan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi
4 Ketika menyampaikan durus (pelajaran) Zadul Ma’ad dalam majelis beliau yang diberkahi.
5 HR. At-Tirmidzi no. 212, kitab Mawaqitush Shalah ‘an Rasulillah n, bab Ma Ja`a fi Annad Du’a` La Yuraddu Bainal Adzan wal Iqamah. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa` (no. 244), Al-Misykat (no. 671)
6 HR. Abu Dawud no. 2540, kitab Al-Jihad, bab Ad-Du’a` ‘Indal Liqa‘, dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud.
7 HR. Muslim no. 1767, kitab Shalatul Musafirin, bab Fil Laili Sa’atun Mustajab Fihad Du’a`
8 HR. Al-Bukhari no. 935, kitab Al-Jumu’ah, bab As-Sa’atul Lati fi Yaumil Jumu’ah; dan Muslim no. 1966, kitab Al-Jumu’ah, bab Fis Sa’atil Lati fi Yaumil Jumu’ah
9 HR. Muslim no. 1972
10 HR. Muslim no. 1083, kitab Ash-Shalah, bab Ma Yuqalu fir Ruku’i was Sujud
11 HR. At-Tirmidzi no. 33585, kitab Ad-Da’awat, bab Fid Du’a Yauma ‘Arafah, dihasankan dalam Ash-Shahihah no. 1503
12 HR. Muslim no. 552, kitab Ath-Thaharah, bab Adz-Dzikrul Mustahab ‘Aqibal Wudhu’
13 HR. Muslim no. 876, kitab Ash-Shalah, bab Wujubu Qira’atil Fatihah fi Kulli Rak’ah

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Rabu,16 November 2011/19 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly