Salat dalam Safar

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar)

 

Dari Abu Hurairah z, bahwasanya Rasulullah n bersabda:

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنْ الْعَذَابِ يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

“Safar itu bagian dari azab, menghalangi salah seorang di antara kalian dari makan, minum dan tidurnya. Apabila salah seorang di antara kalian telah selesai dari hajatnya, hendaklah ia segera kembali kepada keluarganya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Allah l berfirman:

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (Al-Hajj: 78)

“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Al-Baqarah: 185)

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (An-Nisa’: 28)

Di antara rahmat Allah l yang diberikan kepada hamba-Nya, Allah l memberikan hukum-hukum khusus bagi musafir sesuai dengan kondisinya. Di antara hukum-hukum yang terkait dengan musafir adalah:

 

Menjama’ Dua Shalat

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah hukum menjama’ dua shalat.

1. Jumhur ulama berpendapat bahwa diperbolehkan menjama’ dua shalat dalam safar, baik jama’ taqdim (mengerjakan dua shalat tersebut pada waktu shalat yang pertama) ataupun ta’khir (mengerjakan dua shalat tersebut pada waktu shalat yang kedua). Mereka berhujjah dengan:

a. Hadits Ibnu Umar c:

كَانَ النَّبِيُّ n يَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ إِذَا جَدَّ بِهِ السَّيْرُ

“Adalah Nabi n menggabungkan antara Maghrib dan Isya apabila beliau terus berjalan cepat (dalam safar).” (Muttafaqun ‘alaih)

b. Hadits Anas bin Malik z:

كَانَ رَسُولُ اللهِ n إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَمَعَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتْ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ

“Adalah Nabi n apabila berangkat sebelum matahari tergelincir, beliau mengakhirkan Zhuhur sampai waktu Ashr, kemudian berhenti dan menjama’ antara keduanya. Dan apabila beliau berangkat setelah matahari tergelincir, beliau shalat Zhuhur lalu naik kendaraan (untuk berangkat).” (Muttafaqun ‘alaih)

 

2. Al-Hasan Al-Bashri, An-Nakha’i, Abu Hanifah, dan Ibnu Sirin berpendapat tidak diperbolehkan menjama’ shalat dalam safar, kecuali di Arafah antara Zhuhur dengan Ashar, dan di Muzdalifah antara Maghrib dengan Isya.

Mereka berdalil dengan:

a. Hadits-hadits tentang tauqit (waktu-waktu shalat). Barangsiapa menggabungkan dua shalat berarti tidak mengerjakan shalat pada waktu-waktunya.

b. Hadits Ibnu Mas’ud z, beliau menuturkan:

مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ n صَلَّى صَلَاةً بِغَيْرِ مِيقَاتِهَا إِلَّا صَلَاتَيْنِ جَمَعَ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَّى الْفَجْرَ قَبْلَ مِيقَاتِهَا

“Aku tidak pernah melihat Rasulullah n melakukan shalat di luar waktu-waktunya, kecuali dua shalat, beliau menjama’ antara Maghrib dengan Isya, dan shalat shubuh sebelum waktunya.”1 (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Pendapat yang kuat, wallahu a’lam, adalah pendapat jumhur ulama. Adapun hadits-hadits tauqit bersifat umum bagi orang yang safar maupun yang mukim. Sedangkan hadits tentang jama’ adalah khusus bagi musafir, sehingga lebih didahulukan. Adapun hadits Ibnu Mas’ud z lebih berisi penafian. Sedangkan hadits-hadits yang disebutkan jumhur berisi penetapan sehingga didahulukan, karena di dalamnya ada tambahan ilmu. Lihat Al-Majmu’ (4/176), Al-Mughni (2/570), Fathul Bari (2/675), dan Asy-Syarhul Mumti’ (4/548).

 

Diperbolehkan Jama’ Taqdim

Mayoritas ulama membolehkan jama’ taqdim, berdasarkan:

1. Hadits-hadits jama’ di Arafah, di antaranya:

a. Dari Ibnu Syihab, beliau berkata: Salim telah mengabarkan kepadaku bahwasanya Al-Hajjaj bin Yusuf bertanya kepada Abdullah bin Umar c, pada tahun Al-Hajjaj memerangi Ibnuz Zubair:

كَيْفَ تَصْنَعُ فِي الْمَوْقِفِ يَوْمَ عَرَفَةَ؟ فَقَالَ سَالِمٌ: إِنْ كُنْتَ تُرِيدُ السُّنَّةَ فَهَجِّرْ بِالصَّلَاةِ يَوْمَ عَرَفَةَ. فَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ: صَدَقَ، إِنَّهُمْ كَانُوا يَجْمَعُونَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ فِي السُّنَّةِ. فَقُلْتُ لِسَالِمٍ: أَفَعَلَ ذَلِكَ رَسُولُ اللهِ n؟ فَقَالَ سَالِمٌ: وَهَلْ تَتَّبِعُونَ فِي ذَلِكَ إِلَّا سُنَّتَهُ؟

“Bagaimana engkau melakukan shalat di tempat wukuf pada hari Arafah?” Salim berkata: “Jika engkau menginginkan As-Sunnah maka segerakanlah shalat di awal waktu pada hari Arafah.” Abdullah bin Umar c berkata: “Benar. Mereka (para sahabat) menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar dalam As-Sunnah.” Maka aku (Ibnu Syihab) berkata kepada Salim: “Apakah Rasulullah n melakukan demikian?” Lalu Salim berkata: “Bukankah kalian tidak mengikuti dalam permasalahan itu kecuali sunnah beliau n?” (Shahih Al-Bukhari, 4/260)

b. Dari Jabir bin Abdillah c, di dalamnya disebutkan: “Sehingga tatkala matahari telah tergelincir, Rasulullah n menuju tengah lembah kemudian berkhutbah. Setelah itu:

فَأَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ، ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

“Maka Bilal adzan, lalu mengumandangkan iqamat dan shalat Zhuhur, lalu mengumandangkan iqamat dan shalat Ashar. Beliau tidak mengerjakan shalat (sunnah) di antara keduanya sedikitpun.” (Shahih Muslim, 8/170)

c. Dari Ibnu Umar c, di dalamnya disebutkan:

حَتَّى إِذَا كَانَ عِنْدَ صَلَاةِ الظُّهْرِ رَاحَ رَسُولُ اللهِ n مُهَجِّرًا فَجَمَعَ بَيْنَ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ ثُمَّ خَطَبَ النَّاسَ

“Sehingga tatkala memasuki Zhuhur, Rasulullah n pergi untuk mengerjakan shalat di awal waktu. Kemudian beliau menjama’ shalat Zhuhur dan Ashar lalu berkhutbah kepada manusia.” (Sunan Abi Dawud, 1/445)

 

2. Hadits Ali z:

أَنَّهُ كَانَ يَسِيْرُ حَتَّى إِذَا غَرَبَتِ الشَّمْسُ وَأَظْلَمَ نَزَلَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ ثُمَّ الْعِشَاءَ ثُمَّ يَقُولُ: هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ n يَصْنَعُ

Bahwasanya dulu beliau (Ali z) berjalan (safar), hingga ketika matahari telah terbenam dan hari menjadi gelap, beliau singgah lantas mengerjakan shalat Maghrib kemudian Isya. Beliau lalu berkata: “Demikianlah saya melihat Rasulullah n melakukannya.” (HR. Abdullah bin Ahmad dalam Zawa’id Al-Musnad)

Asy-Syaikh Muqbil t berkata: “Hadits ini minimal keadaannya hasan lighairihi. Sehingga dengan ini hadits-hadits tentang jama’ taqdim telah jelas tsabit (shahih) dari Rasulullah n.” (Al-Jam’u baina Ash-Shalatain, hal. 90)

Lihat pula Nailul Authar (2/486) dan Fathul Bari (2/679).

 

Diperbolehkan menjama’ shalat walaupun sedang singgah

Ini adalah pendapat mayoritas ulama berdasarkan hadits-hadits jama’ yang mutlak, tidak terkait dengan safar yang terus berjalan atau sedang singgah. Di antaranya adalah Mu’adz ibnu Jabal z, yang diriwayatkan oleh Al-Imam Malik t dalam Al-Muwaththa’:

أَنَّ النَّبِيَّ n أَخَّرَ الصَّلاَةَ يَوْمًا فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ دَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ

“Bahwasanya Nabi n mengakhirkan shalat di suatu hari pada perang Tabuk. Kemudian beliau keluar, mengerjakan shalat Zhuhur dan Ashar dengan cara jama’. Lalu beliau masuk (ke dalam tempat istirahatnya), kemudian beliau keluar lalu menjama’ shalat Maghrib dan Isya.”

Ibnu Abdil Barr t berkata: “Hadits ini sanadnya tsabit.”

Asy-Syafi’i t dalam kitabnya Al-Umm, Ibnu Abdil Barr dan Al-Baji menyatakan bahwa masuk dan keluarnya Nabi n (ke dan dari kemahnya), tidaklah terjadi melainkan ketika beliau singgah. Tidak berjalan terus-menerus dalam safar. Dalam hadits ini juga terdapat bantahan yang jelas bagi orang yang berpendapat bahwa shalat tidak dijama’ melainkan bila safarnya terus berjalan.

Adapun Al-Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Ibnul Qayyim, berpendapat tidak dibolehkan menjama’ dua shalat, kecuali bila safarnya berjalan terus. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Umar c, dahulu apabila beliau terus berjalan dalam safar, beliau menjama’ antara maghrib dan isya. Ibnu Umar z berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ إِذَا جَدَّ بِهِ السَّيْرُ جَمَعَ بَيْنَهُمَا

“Bahwasanya Nabi n jika terus berjalan cepat (dalam safar), beliau menjama’ antara keduanya.”

Pendapat yang kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat mayoritas ulama, karena mereka memiliki tambahan pendalilan dalam hadits-haditsnya yang dapat diterima. Juga karena safar itu adalah tempat kelelahan, keberatan, dan kesusahan. Juga karena rukhshah menjama’ tidaklah diberikan melainkan untuk memberi kemudahan dalam safar. Ini merupakan tarjih guru kami Asy-Syaikh Muqbil t sebagaimana dalam Al-Jam’u baina Ash-Shalatain (hal. 73) dan Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t dalam Asy-Syarhul Mumti’ (4/553). Lihat juga Taisirul ‘Allam (1/220).

 

Dua shalat dijama’ cukup dengan satu adzan dan masing-masing shalat dengan satu iqamat

Dalam permasalahan ini, terjadi perbedaan pendapat di antara ulama.

a. Dua shalat yang dijama’ cukup dengan satu adzan dan masing-masing satu iqamat. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

Dasar yang mereka gunakan adalah hadits Jabir z dalam Shahih Muslim yang menyebutkan tatacara Nabi n mengerjakan haji wada’ tatkala di Arafah.

ثُمَّ أَذَّنَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ أَقَامَ فَصَلَّى الْعَصْرَ وَلَمْ يُصَلِّ بَيْنَهُمَا شَيْئًا –وَفِيهِ: حَتَّى إِذَا أَتَى الْمُزْدَلِفَةَ فَصَلَّى بِهَا الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ بِأَذَانٍ وَاحِدٍ وَإِقَامَتَيْنِ وَلَمْ يُسَبِّحْ بَيْنَهُمَا شَيْئًا

“Kemudian adzan, dan Rasulullah n berdiri lalu shalat Zhuhur. Kemudian berdiri lalu shalat Ashar. Beliau tidak mengerjakan shalat sunnah di antara keduanya sedikitpun.”

Di dalamnya disebutkan: “Sampai Rasulullah n tiba di Muzdalifah, lalu beliau shalat Maghrib dan Isya di sana dengan satu adzan dan dua iqamat. Beliau tidak mengerjakan shalat sunnah di antara keduanya sedikitpun.”

 

b. Sufyan Ats-Tsauri dan sekelompok ulama rahimahumullah yang lain berpendapat cukup dengan satu iqamat untuk dua shalat. Dalil mereka adalah riwayat dari Ibnu Umar c:

أَنَّهُ جَمَعَ بَيْنَهُمَا بِإِقَامَةٍ وَاحِدَةٍ لَهُمَا

“Bahwasanya beliau menjama’ keduanya dengan satu iqamat untuk dua shalat tersebut.”

 

c. Mazhab Malik

Beliau berpendapat menggabungkan dua shalat dengan dua adzan dan dua iqamat. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Mas’ud z dalam Shahih Al-Bukhari bahwa Nabi n mengerjakan dua shalat, masing-masing dengan satu adzan dan satu iqamat.

أَنَّهُ صَلَّى الصَّلَاتَيْنِ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بِأَذَانٍ وَإِقَامَةٍ

“Bahwasanya beliau n shalat (menggabungkan) dua shalat. Masing-masing shalat dengan satu adzan dan satu iqamat.”

 

Pendapat yang kuat –wallahu a’lam– adalah pendapat pertama, sebagaimana dirajihkan Ibnul Qayyim t dalam Tahdzibus Sunnah (3/282) dan diikuti oleh guru kami Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t dalam Al-Jam’u baina Ash-Shalatain fir Safar (hal. 98). Lihat juga Taisirul ‘Allam (1/433).

 

Shalat yang Dijama’

Shalat yang diperbolehkan dijama’ adalah Zhuhur dengan Ashar, serta Maghrib dengan Isya, berdasarkan hadits Ibnu Abbas c:

كَانَ رَسُولُ اللهِ n يَجْمَعُ بَيْنَ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ إِذَا كَانَ عَلَى ظَهْرِ سَيْرٍ وَيَجْمَعُ بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ

“Adalah Rasulullah n menjama’ antara shalat Zhuhur dengan Ashar apabila beliau n berjalan (dalam safar), juga menjama’ antara Maghrib dengan Isya.” (HR. Al-Bukhari)

 

Hukum Mengqashar Shalat dalam Safar

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah hukum mengqashar shalat dalam safar. Berikut ini perinciannya:

1. Wajib mengqashar

Ini adalah pendapat Ali bin Abi Thalib, Umar ibnul Khaththab, Ibnu Umar, Jabir, dan Ibnu Abbas g. Yang berpendapat seperti ini juga adalah Umar bin Abdil Aziz, Qatadah, Al-Hasan Al-Bashri, Hammad bin Abi Sulaiman, ulama Hanafiyah dan Zhahiriyah. Dalil mereka adalah sebagai berikut:

a. Rasulullah n terus-menerus mengqashar shalat dalam seluruh safarnya. Tidak shahih bahwa beliau n menyempurnakan shalat (dalam safar), sebagaimana dinyatakan Ibnu Umar c:

صَحِبْتُ رَسُولَ اللهِ n فَكَانَ لَا يَزِيدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ

“Aku menyertai Nabi n, maka beliau tidak pernah menambah lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian pula Abu Bakr, Umar, dan Utsman -semoga Allah meridhai mereka-.” (HR. Al-Bukhari no. 1102 dan Muslim no. 689)

b. Hadits Aisyah x:

فُرِضَتْ الصَّلَاةُ رَكْعَتَيْنِ فَأُقِرَّتْ صَلَاةُ السَّفَرِ وَأُتِمَّتْ صَلَاةُ الْحَضَرِ

“Shalat itu (pertama kali) diwajibkan dua rakaat. Maka shalat dalam safar tetap (dua rakaat) sedangkan shalat hadhar (mukim) ditambah/disempurnakan (empat rakaat).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

c. Hadits Ibnu Abbas c:

إِنَّ اللهَ فَرَضَ الصَّلَاةَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكُمْ عَلَى الْمُسَافِرِ رَكْعَتَيْنِ وَعَلَى الْمُقِيمِ أَرْبَعًا وَفِي الْخَوْفِ رَكْعَةً

“Sesungguhnya Allah k telah mewajibkan melalui lisan Nabi kalian bagi musafir shalat dua rakaat, dan bagi orang yang mukim empat rakaat, dan shalat khauf satu rakaat.” (HR. Muslim)

d. Hadits Umar z:

صَلَاةُ الْأَضْحَى رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْفِطْرِ رَكْعَتَانِ وَصَلَاةُ الْمُسَافِرِ رَكْعَتَانِ تَمَامٌ غَيْرُ قََصْرٍ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ n

“Shalat Al-Adha dua rakaat, shalat fajar (subuh) dua rakaat, shalat Al-Fithr dua rakaat, shalat musafir dua rakaat yang sempurna, bukan diqashar sesuai sabda Nabi Muhammad n.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah no. 1063)

e. Hadits Ibnu Umar c, di dalamnya disebutkan:

أَمَرَنَا أَنْ نُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ فِي السَّفَرِ

“Rasulullah n memerintahkan kami agar shalat dua rakaat dalam safar.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Hibban no. 2735, Ibnu Khuzaimah no. 946)

2. Tidak wajib qashar

Ini merupakan pendapat mayoritas ulama walaupun mereka berbeda pendapat mana yang lebih afdhal (qashar atau sempurna). Hujjah mereka adalah:

a. Firman Allah l:

“Maka tiada mengapa (tiada dosa) bagi kalian (musafir) untuk mengqashar shalat bila kalian takut diserang orang-orang kafir.” (An-Nisa’: 101)

Peniadaan dosa (نَفْيُ الْجُنَاحِ) dalam ayat ini menunjukkan bahwa mengqashar shalat adalah rukhshah (keringanan), bukan wajib.

b. Sabda Nabi n ketika ditanya oleh Umar z tentang surat An-Nisa’ ayat 101 di atas, sedangkan keadaan sudah aman. Beliau n berkata:

صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ

“Qashar itu sedekah yang Allah bersedekah dengannya untuk kalian. Maka terimalah sedekah-Nya.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Kata sedekah menunjukkan bahwa qashar merupakan rukhshah.

c. Hadits Aisyah x:

خَرَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ n فِي عُمْرَةِ رَمَضَانَ فَأَفْطَرَ وَصُمْتُ وَقَصَرَ وَأَتْمَمْتُ فَقُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي، أَفْطَرْتَ وَصُمْتُ وَقَصَرْتَ وَأَتْمَمْتُ. فَقَالَ: أَحْسَنْتِ يَا عَائِشَةُ

“Aku safar bersama Nabi n untuk umrah pada bulan Ramadhan. Beliau berbuka sedangkan aku berpuasa. Beliau mengqashar shalat sedangkan aku melaksanakan dengan sempurna. Aku katakan: ‘Bapak dan ibuku menjadi tebusanmu. Engkau berpuasa sedangkan aku berbuka. Engkau mengqashar sedangkan aku menyempurnakan (shalat).’ Maka beliau n bersabda: ‘Wahai Aisyah, engkau benar/baik’.” (HR. Ad-Daraquthni dan An-Nasa’i)

d. Hadits Aisyah x:

أَنَّ النَّبِيَّ n كَانَ يَقْصُرُ فِي السَّفَرِ وَيُتِمُّ وَيُفْطِرُ وَيَصُومُ

“Bahwasanya Nabi n dahulu mengqashar shalat dalam safar dan terkadang menyempurnakan. Beliau berbuka dan terkadang berpuasa.” (HR. Ad-Daraquthni)

 

Pendapat yang lebih kuat dari dua pendapat di atas –wallahu a’lam– adalah pendapat pertama, sebagaimana dirajihkan oleh Asy-Syaukani dan Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i rahimahumallah.

Sedangkan dalil-dalil yang dipakai oleh mayoritas ulama, dijawab dengan jawaban sebagai berikut:

1. Tentang ayat 101 dari surat An-Nisa’

Asy-Syaukani t berkata bahwa ayat tersebut datang dalam rangka menerangkan perintah mengurangi sifat shalat, bukan mengurangi jumlah rakaat. Ibnul Qayyim t dalam kitabnya Al-Hadyu berkata: Sesungguhnya ayat tersebut menunjukkan disyariatkan mengqashar shalat yang mencakup mengurangi rukun-rukunnya dan mengurangi jumlah rakaatnya. Pengurangan tersebut bergantung kepada dua hal:

a. Safar

b. Kondisi khauf (bahaya)

Apabila dua hal itu ada, diperbolehkan mengurangi keduanya (mengurangi rukun shalat dan jumlah rakaatnya). Sehingga shalat khauf dikerjakan dengan mengurangi jumlah rakaatnya dan mengurangi rukun-rukunnya.

Apabila kedua hal tadi tidak ada (yakni dalam keadaan aman dan mukim/tidak safar) maka shalat dikerjakan secara sempurna.

Apabila dalam keadaan khauf (bahaya) dan tidak safar, maka rukun-rukunnya dikurangi namun jumlah rakaatnya disempurnakan. Ini adalah suatu jenis qashar, dan di dalam ayat 101 surat An-Nisa’ bukanlah qashar secara mutlak.

Apabila dalam keadaan safar namun aman, maka jumlah rakaatnya dikurangi (diqashar) namun rukun-rukunnya tetap dikerjakan secara sempurna. Ini juga termasuk jenis qashar, tetapi bukan qashar mutlak. Shalat ini telah diqashar jika dilihat dari jumlah rakaatnya, namun sempurna dilihat dari kesempurnaan rukun-rukunnya, walaupun tidak masuk dalam makna ayat 101 dari surat An-Nisa’. –selesai ucapan beliau– (Nailul Authar, 2/472)

Dari sisi yang lain, Allah l juga menafikan junah (dosa) pada perkara yang wajib. Seperti dalam firman Allah l:

“Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya.” (Al-Baqarah: 158)

Padahal thawaf di sini adalah thawaf ifadhah menurut kesepakatan ulama, yang merupakan rukun haji.

 

2. Tentang hadits Umar z

Dalam akhir hadits Rasulullah n memerintahkan untuk menerima sedekah tersebut yang menunjukkan bahwa musafir tidak bisa menghindar dari menerimanya. (Nailul Authar, 2/472)

Demikian pula, lafadz sedekah bisa menunjukkan sesuatu yang wajib. Allah l berfirman:

“Sesungguhnya sedekah (zakat-zakat) itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, ….” (At-Taubah: 60)

 

3. Tentang dua hadits dari Aisyah x, semuanya dhaif. Lihat Irwa’ul Ghalil (3/7), At-Talkhis Al-Habir (2/549), Zadul Ma’ad (1/447).

 

Adapun perbuatan Utsman z menyempurnakan shalat di Mina telah diingkari oleh Ibnu Mas’ud z, sebagaimana disebutkan riwayatnya dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dengan menyatakan:

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Aku shalat bersama Nabi n di Mina dua rakaat, bersama Abu Bakr di Mina dua rakaat, bersama Umar ibnul Khaththab dua rakaat.

فَلَيْتَ حَظِّي مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَانِ مُتَقَبَّلَتَانِ

Andaikata bagianku dari empat rakat, dua rakaat yang diterima (oleh Allah l).”

Tidaklah Ibnu Mas’ud z mengingkari perbuatan Utsman z karena melakukan dua perkara yang sama-sama boleh. Tentunya, beliau mengingkari karena telah melihat langsung bahwa Nabi n dan khalifah-khalifah setelahnya selalu shalat dua rakaat dalam safar. Lihat Zadul Ma’ad (1/451).Wallahu a’lam bish-shawab.

Lihat pula Nailul Authar (2/473), Al-Jam’u baina Ash-Shalatain (hal. 101), Ijabatus Sa’il (hal. 473).

 

Shalat yang Diqashar

Ibnu Qudamah t dalam kitabnya Al-Mughni (2/559) berkata: Ibnul Mundzir t berkata: “Ahli ilmu telah sepakat bahwa tidak ada qashar untuk shalat Maghrib dan Subuh. Namun qashar itu pada shalat ruba’iyyah (yang empat rakaat).”

 

Shalat Musafir di Belakang Orang Yang Mukim

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i t menjelaskan masalah ini dalam risalahnya Al-Jam’u baina Ash-Shalataini fis Safar (hal. 101): “Dia hendaknya mengikuti imam. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad t dalam Musnad-nya dengan sanad yang hasan dari Musa bin Salamah t.

كُنَّا مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ بِمَكَّةَ فَقُلْتُ: إِنَّا إِذَا كُنَّا مَعَكُمْ صَلَّيْنَا أَرْبَعًا، وَإِذَا رَجَعْنَا إِلَى رِحَالِنَا صَلَّيْنَا رَكْعَتَيْنِ. قَالَ: تِلْكَ سُنَّةُ أَبِي الْقَاسِمِ n

“Dahulu kami bersama Ibnu Abbas c di Makkah. Kemudian aku berkata: ‘Dulu, ketika kami bersamamu, kita shalat empat rakaat. Dan apabila kami kembali ke tempat tinggal kami, kami shalat dua rakaat.’ Ibnu Abbas c berkata: ‘Itu adalah sunnah Abul Qasim (yakni Nabi Muhammad n)’.”

Asal hadits ini ada dalam Shahih Muslim.

 

Sopir yang Terus-Menerus Melakukan Safar

Asy-Syaikh Muqbil t menyatakan dalam Al-Jam’u baina Ash-Shalataini fis Safar (hal. 108): “Hukum yang berlaku baginya sama dengan hukum musafir yang tidak terus-menerus, berdasarkan keumuman dalil-dalil safar. Dia wajib mengqashar shalat dan boleh berbuka (tidak berpuasa) pada bulan Ramadhan, sebagaimana firman Allah l:

“Maka barangsiapa di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184)

 

Sampai Kapan Seorang Musafir Mengqashar Shalat?

Pertanyaan: Terjadi perdebatan antara saya dengan salah seorang teman saya dari Arab tentang mengqashar shalat dalam keadaan kami berada di Amerika. Terkadang kami tinggal di sana (hingga) dua tahun. Maka saya menyempurnakan shalat seperti ketika saya berada di negara saya. Sedangkan teman saya mengqashar shalat karena ia menganggap dirinya adalah musafir meskipun waktunya sampai dua tahun. Maka kami mengharap penjelasan tentang hukum mengqashar shalat sesuai dengan kondisi kami beserta dalilnya!

 

Jawab:

Pada dasarnya, yang berhak mendapat rukhshah (keringanan) dalam mengqashar shalat ruba’iyyah (empat rakaat) adalah seorang musafir yang sedang melakukan perjalanan. Berdasarkan firman Allah l:

“Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kalian mengqashar shalat.” (An-Nisa’: 101)

Juga perkataan Ya’la bin Umayyah: “Saya berkata kepada Umar ibnul Khaththab z:

‘Maka tidak mengapa kalian mengqashar shalat jika kalian takut diserang orang-orang kafir.’

Kemudian beliau z berkata:

عَجِبْتُ مِمَّا عَجِبْتَ مِنْهُ، فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ n فَقَالَ: هِيَ صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَةتَهُ

“Aku juga heran tentang hal yang engkau herankan. Maka aku (Umar) menanyakannya kepada Rasulullah n, lalu beliau bersabda: ‘Itu adalah sedekah yang Allah bersedekah dengannya kepada kalian. Maka terimalah sedekah-Nya’.” (HR. Muslim)

Termasuk dalam kelompok musafir yang sedang melakukan perjalanan adalah seseorang yang mukim (di suatu tempat) selama 4 hari 4 malam atau kurang. Berdasarkan apa yang shahih dari hadits Jabir dan Ibnu Abbas g, bahwasanya saat haji Wada’, Nabi n tiba di Makkah pada waktu Subuh tanggal 4 Dzulhijjah. Kemudian beliau n mukim pada tanggal 4, 5, 6, dan 7. Beliau shalat subuh di Al-Abthah pada tanggal 8. Beliau mengqashar shalat pada hari-hari ini (tanggal 4, 5, 6, dan 7). Sungguh beliau telah berniat untuk bermukim di Makkah sebagaimana hal itu telah diketahui. Maka, setiap musafir yang berniat untuk mukim semisal dengan mukim Nabi n atau kurang dari itu, ia mengqashar shalat.

Sedangkan barangsiapa yang berniat untuk mukim lebih dari itu maka ia menyempurnakan shalat, karena ia tidak dihukumi sebagai musafir.

Adapun orang yang bermukim dalam safarnya lebih dari empat hari dan belum berniat untuk mukim, bahkan ia bertekad jika urusannya telah selesai maka ia akan kembali; seperti orang yang tinggal di area jihad melawan musuh, atau ia ditahan oleh penguasa, atau sakit misalnya; dan ia berniat (1) apabila telah selesai dari jihadnya dengan adanya pertolongan Allah l atau perjanjian (damai); atau (2) ia terlepas dari sesuatu yang menahannya, berupa sakit, kekuatan musuh penguasa, atau musuh melarikan diri, atau (3) dalam rangka menjual barang dagangan; atau yang semisalnya, maka ia dianggap sebagai musafir dan diperbolehkan mengqashar shalat ruba’iyyah walaupun dalam waktu yang lama. Berdasarkan apa yang telah shahih dari Nabi n bahwasanya beliau n bermukim di Makkah selama 19 hari dan beliau mengqashar shalat. Beliau n juga bermukim di Tabuk selama 20 hari dalam rangka berjihad melawan orang-orang Nasrani. Namun beliau shalat bersama para sahabatnya secara qashar, karena beliau tidak berniat untuk mukim. Beliau n berniat untuk safar, di mana apabila telah selesai urusannya, (beliau n akan kembali, pen.).

Wabillahit taufiq, washallallahu ala nabiyyina Muhammad, wa alihi washahbihi wasallam.

Ketua: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz

Wakil Ketua: Asy-Syaikh Abdurrazzaq Afifi

Anggota: Asy-Syaikh Abdullah bin Ghudayyan, Asy-Syaikh Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa Al-Lajnah, no. 1813)


1 Sebelum waktu yang biasanya beliau n melakukan shalat itu padanya, namun tetap setelah masuk waktu shalat. Lihat Fathul Bari. -ed

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Sabtu,19 November 2011/22 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly