Siapakah yang Berhak Mentahdzir?

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata tatkala menjelaskan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa agama itu nasihat, “Di antara bentuk nasihat karena Allah ‘azza wa jalla, kitab-Nya, dan Rasul-Nya (dan ini adalah kekhususan para ulama) ialah membantah hawa nafsu yang menyesatkan, dengan al-Kitab dan as-Sunnah serta menjelaskan kandungan keduanya yang menyelisihi seluruh hawa nafsu.

Demikian pula membantah perkataan lemah dari kekeliruan para ulama dan menjelaskan kandungan al-Kitab dan as-Sunnah yang membantahnya. Termasuk pula dalam hal ini adalah menjelaskan (riwayat) yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang tidak, dengan meneliti keadaan para perawinya, siapa yang diterima dan ditolak riwayatnya, serta menjelaskan kekeliruan orang tsiqah yang pada asalnya diterima riwayatnya.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hlm. 202)

Para ulamalah yang menerangkan dan menjelaskan penyimpangan seseorang yang menyelisihi al-haq. Mereka pula yang memberi peringatan kepada kaum muslimin dari bahaya penyimpangan dan orang yang menyimpang tersebut.

Seorang penuntut ilmu yang mengerti seluk beluk ilmu al-jarh wat ta’dil, memiliki kejujuran dan wara’ dalam menghukumi berdasarkan kaidah sahih yang telah dijelaskan oleh para ulama, dia diperbolehkan mentahdzir dan menghukumi seseorang sebagai ahli bid’ah.

Kesimpulannya, kesalahan yang terjadi pada seseorang atau sebuah kelompok ada dua macam.

  1. Kesalahan yang sangat jelas dan transparan yang bisa diketahui oleh para penuntut ilmu, bahkan yang pemula sekalipun. Seorang penuntut ilmu diperbolehkan memberi tahdzir dari penyimpangan dan kesesatan yang semacam ini.
  2. Kesalahan yang hanya bisa diketahui dan dihukumi oleh para ulama berdasarkan ilmu yang mereka miliki yang tidak dimiliki oleh yang lainnya.

Al-Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali ditanya, “Al-jarh wat ta’dil terhadap orang tertentu, apakah khusus untuk para ulama saja, atau para pemuda yang memiliki pengetahuan juga diperbolehkan melakukannya?”

Beliau hafizhahullah menjawab, “Al-jarh wat ta’dil harus disertai akidah yang benar, sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah; dan didasari oleh ilmu tentang sebab jarh.

Dia harus berilmu dan memiliki sifat takwa dan wara’. Apabila yang mengritik tersebut memiliki ilmu tentang al-jarh wat-ta’dil dan memiliki sikap wara’ serta takwa, dia boleh men-jarh.

Apabila perkara yang di-jarh tersebut jelas, orang khusus dan orang umum pun tahu, (misalnya) dia mengetahui bahwa orang ini mencuri, berzina, berkhianat  berpemahaman Rafidhah, Sufi, tawaf di kuburan, dan mengadakan acara maulid; urusan-urusan jelas yang dapat diketahui secara umum baik seorang alim dan yang lainnya, tidak disyaratkan baginya untuk mendatangi seorang alim guna menerangkan kesesatan mereka agar alim tersebut melakukan jarh kepadanya.

Sebab, perkaranya telah jelas bagi seorang alim dan yang lainnya. Seorang muslim wajib menjelaskan keadaan mereka dan memperingatkan manusia dari mereka serta mengingkari kesesatan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

… مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya…” (HR. Muslim dari Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu)

Seorang muslim wajib menasihati kaum muslimin. Jabir radhiallahu ‘anhu berkata,

بَايَعْتُ رَسُولَ اللهِ عَلَى إِقَامِ الصَّ ةَالِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Aku membai’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menasihati sesama muslim.” (HR. Muslim)

(Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam),

.الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: وَلِرَسُولِهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama itu nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, para imam kaum muslimin, dan untuk seluruh kaum muslimin.” (HR. Muslim)

Sekarang engkau melihat orang yang berpemahaman Rafidhah bergaul dengan orang awam dan mengajaknya untuk berpemahaman Rafidhah. Apakah aku harus mendatangi seorang alim agar dia yang menjarhnya?!

Seorang Sufi, penyembah kubur, bergaul dengan seseorang masih berada di atas fitrahnya. Dia mengajaknya kepada bid’ahnya. Aku mengetahui bahwa dia seorang penyembah kubur. Aku dan ang selainku tidak harus mendatangi seorang alim guna menjelaskan keadaannya dan memberi peringatan darinya.” (Majmu’ Fatawa al-Allamah Rabi’ bin Hadi, 1/262)

Al-Allamah Shalih al-Fauzan hafizhahullah ditanya, “Aku berniat untuk menulis tentang sebagian jamaah sesat dan memberi peringatan darinya. Namun, jamaah ini tidak keluar dari Islam dan sebagian ulama ada yang memujinya. Saya khawatir dia akan mendoakan kejelekan kepadaku. Apa bimbingan Anda kepadaku? Perlu diketahui bahwa jamaah ini menyimpang.”

Beliau hafizhahullah menjawab, “Wajib bagimu menjelaskan kebenaran. Wajib bagimu menjelaskan kebenaran. Apabila engkau yakin seratus persen akan kesalahan dan kesesatan yang ada pada mereka, engkau punya kemampuan dan ilmu untuk menjelaskannya, engkau wajib menjelaskannya.

وَإِذۡ أَخَذَ ٱللَّهُ مِيثَٰقَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهُۥ لِلنَّاسِ وَلَا تَكۡتُمُونَهُۥ فَنَبَذُوهُ وَرَآءَ ظُهُورِهِمۡ وَٱشۡتَرَوۡاْ بِهِۦ ثَمَنٗا قَلِيلٗاۖ فَبِئۡسَ مَا يَشۡتَرُونَ ١٨٧

Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya.” Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. (Ali Imran: 187)

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلۡهُدَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أُوْلَٰٓئِكَ يَلۡعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَيَلۡعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُونَ ١٥٩

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati oleh Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.” (Al-Baqarah: 159)

Ilmu tidak boleh disembunyikan. Apabila engkau memiliki ilmu dan yakin akan kesesatan suatu kelompok, jelaskanlah kepada manusia agar mereka berhati-hati darinya. Ini termasuk nasihat.” (Tanzihus Syari’ah al-Islamiyah ‘an Maqalati La Yaruddul Khatha’ Illal Ulama’, hlm. 30—31)

Al-Allamah Ahmad an-Najmi rahimahullah pernah ditanya, “Apakah diperbolehkan bagi seorang penuntut ilmu yang kokoh untuk mentabdi’ atau mengafirkan? Ataukah hal ini khusus bagi para ulama?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Seorang penuntut ilmu pemula tidak boleh menghukumi mubtadi’ atau menghukumi kafir, kecuali apabila dia telah memiliki keahlian untuk itu.

Hendaknya dia menyandarkan urusan tersebut kepada ulama besar secara khusus. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَٱتَّبَعۡتُمُ ٱلشَّيۡطَٰنَ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٣

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalaulah bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (An- Nisa’: 83)

 (al-Fatawa al-Jaliyah, jilid 2 pertanyaan ke-32)

 

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Jumat,22 Januari 2016/11 Rabiul Akhir 1437H

Print Friendly