Syiah Menghalalkan Darah Ahlussunnah

Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari

Sejarah Kaum Syiah Rafidhah tidak terlepas dari perbuatan mereka yang menumpahkan darah kaum muslimin Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mulai dari zaman Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu hingga berita yang mereka riwayatkan tentang perbuatan Imam Mahdi mereka saat menampakkan diri ke permukaan bumi.

 

Sikap kaum Syiah yang menghalalkan darah kaum muslimin disebabkan dasar keyakinan Syiah terhadap Ahlus Sunnah bahwa:

 

  1. Ahlus Sunnah kafir

Mereka menganggap bahwa yang muslim hanyalah kaum Syiah Rafidhah, sedangkan yang lain dianggap kafir.

Dalam salah satu referensi Syiah, diriwayatkan oleh al-Barqi bahwa Abu Abdillah rahimahullah berkata, “Tidak seorang pun yang berada di atas millah Ibrahim q kecuali kami dan Syiah kami, sedangkan manusia lainnya berlepas diri dari millah tersebut.” (al-Mahasin, 147)

Mereka meriwayatkan bahwa Ali bin Husain radhiallahu ‘anhuma berkata, “Tidak satu pun yang berada di atas fitrah Islam selain kami dan Syiah kami, sedangkan manusia lainnya berlepas diri darinya.” (al-Mufid, al-Ikhtishah, hlm. 107)

 

  1. Ahlus Sunnah najis

Mereka juga menganggap bahwa Ahlus Sunnah itu najis sehingga harus dilenyapkan karena status mereka sebagai najis.

Ni’matullah al-Jazairi berkata tentang hukum Nawashib (yang dimaksud oleh mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah), “Mereka adalah orang kafir yang najis berdasarkan kesepakatan ulama Syiah imamiyah, lebih jahat dari Yahudi dan Nasrani. Sesungguhnya di antara tanda seorang nashibi adalah mendahulukan selain Ali radhiallahu ‘anhu dalam hal kepemimpinan.” (al-Anwar an-Nu’maniyah, hlm. 206—207)

Karena menganggap Ahlus Sunnah kafir, mereka pun menghalalkan darah Ahlus Sunnah. Mereka meriwayatkan dari Dawud bin Farqad, ia berkata kepada Abu Abdillah rahimahullah, “Apa pendapatmu tentang membunuh seorang Nashibi?”

Ia menjawab, “Halal darahnya, namun aku mengkhawatirkan dirimu. Jika engkau mampu merobohkan dinding hingga menimpanya atau menenggelamkannya ke dalam air agar tidak seorang pun menjadi saksi atas perbuatanmu, lakukanlah!”

Lalu Dawud bertanya, “Apa pendapatmu tentang hartanya?”

Ia menjawab, “Habiskan semampumu.” (Diriwayatkan oleh al-Hur al-Amili dalam Wasail asy-Syiah, 18/463; dalam Biharul Anwar, 27/231)

 

  1. Ahlus Sunnah itu anak zina

Hal ini sebagaimana anggapan mereka bahwa siapa saja selain kaum Syiah dianggap sebagai anak zina.

Al-Kulaini meriwayatkan, “Seluruh manusia adalah anak zina (atau berkata, ‘anak-anak pelacur’) kecuali Syiah kami.” (Raudhatul Kafi, 8/135)

Berdasarkan hal ini, mereka menghalalkan ditumpahkannya darah Ahlus Sunnah dan harta mereka, yang dianggap sebagai harta rampasan perang.

Khomeini berkata tentang harta Ahlus Sunnah, “Jika engkau mampu mengambil hartanya, ambillah dan kirimkan kepada kami seperlimanya.” (Lillahi Tsumma Li at-Tarikh, hlm. 89)

Bahkan, mereka memvonis Ahlus Sunnah adalah penghuni neraka.

Diriwayatkan oleh ash-Shaduq dalam Tsawabul A’mal wa ‘Iqabul A’mal, dari ash-Shadiq berkata, “Seorang nashibi yang membenci kami—ahlul bait—, tidak peduli apakah dia berpuasa atau shalat, berzina atau mencuri; sesungguhnya ia dalam neraka; sesungguhnya dia dalam neraka.” (Tsawabul A’mal, 215. Riwayat ini disebutkan oleh al-Majlisi dalam Biharul Anwar, 27/235)

Diriwayatkan dari Aban bin Taghlib, Abu Abdillah berkata, “Setiap nashibi, meskipun beribadah dan bersungguh-sungguh, pada akhirnya akan terjatuh ke dalam ayat ini,

“Bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas.” (al-Ghasyiyah: 3—4) (Tsawabul A’mal, hlm. 247)

Keyakinan rusak Syiah inilah yang menyebabkan mereka memenuhi lembaran sejarah dengan menumpahkan darah kaum muslimin yang tidak sejalan dengan kesesatan dan penyimpangan mereka. Dimulai dari awal munculnya pencetus pemikiran Rafidhah, Abdullah bin Saba’ al-Yahudi, hingga munculnya Imam Mahdi versi kaum Syiah.


———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis, 1 Januari 1970/22 Syawal 1389H

Print Friendly