Wujudkan Anganmu dengan Bimbingan Ilmu

Suatu ketika Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu melihat dua orang laki-laki. Bertanyalah beliau pada salah seorang dari mereka, “Siapa orang ini?”

Orang itu menjawab, “Dia ayahku.”

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu kemudian berpesan, “Jangan engkau panggil dia dengan menyebut namanya, jangan berjalan di depannya, dan jangan engkau duduk sebelum dia duduk.”

Pesan dari sahabat yang mulia ini berisi anjuran agar seorang anak hormat dan berbakti pada orang tua. Uraian berikut mencoba mengarahkan bagaimana membimbing anak agar bisa memiliki akhlak seperti yang dituntunkan Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu.

Anak adalah tumpuan harapan. Segala impian terbaik tertumpah pada dirinya. Bahkan hampir setiap orang tua menginginkan agar buah hati mereka mendapatkan apa pun yang lebih baik daripada dirinya, tak peduli harus membanting tulang, serta memeras keringat sepanjang siang dan malam.

Namun terkadang impian itu pupus begitu saja. Bagai tanaman siap petik yang habis musnah dimakan hama. Anak yang mereka idamkan membalasi jerih payah orang tuanya dengan kedurhakaan. Tak jarang si anak berani beradu pandang dan bersuara lantang di hadapan ayah dan ibunya. Permintaan bertubi-tubi dilontarkan, menuntut pemenuhan dengan segera. Bahkan lebih dari itu, tangan atau kakinya begitu ringan menimpa tubuh keduanya. Sungguh, hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata kita mengadukan semua ini.

Tentu, tak seorang pun ayah atau ibu menginginkan putra-putri mereka “salah asuhan”, dan tentu, semua itu butuh arahan. Andaikata mereka merujuk kembali lembaran-lembaran Kitabullah, Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta catatan perjalanan kehidupan para pendahulu yang saleh, niscaya mereka akan mendapatinya. Sesungguhnya orang tua harus menyadari bahwa kebaikan buah hati mereka datang dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala yang memberikan petunjuk dan taufik kepada siapa pun yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, tak boleh dilupa oleh orang tua untuk memohon kebaikan bagi keturunan mereka, sebagaimana hal ini pun dilakukan oleh para nabi. Demikian pula dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam doa beliau untuk cucu beliau, al-Hasan radhiallahu ‘anhu,

        اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ وَأَحْبِبْ مَنْ يُحِبُّهُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku mencintainya, maka cintailah dia dan cintailah pula orang yang mencintainya.” (HR. al-Bukhari no. 5884 dan Muslim no. 2421)

Inilah pula yang dimohon oleh hamba-hamba Ar-Rahman dalam doa mereka:

          رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا ٧٤

“Ya Allah, anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan anak-anak kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang beriman.” (al-Furqan: 74)

Begitu pula dalam doa yang lain:

رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ

“Wahai Rabbku, berikanlah taufik bagiku untuk bersyukur atas nikmat- Mu yang Kau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk menunaikan amal saleh yang Engkau ridhai, dan berikanlah kebaikan pada keturunanku.” (al-Ahqaf: 15)

Demikianlah doa-doa kebaikan yang senantiasa menjadi tuturan orang tua yang mengharapkan kebaikan bagi keturunan mereka. Pun hendaknya orang tua menjaga dirinya, agar tak terlontar ucapan doa kejelekan bagi anak-anaknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan hal ini dalam sabda beliau yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ لَهُنَّ، لاَ شَكَّ فَيْهِنَّ: دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدَيْنِ عَلَى وَلَدِهِ

“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak diragukan lagi: doa orang yang teraniaya, doa orang yang bepergian, dan doa kejelekan orang tua bagi anaknya.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad. Dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 24: hasan)

Seiring dengan itu, ayah dan ibu harus memberikan pengajaran adab kepada putra-putri mereka agar mereka mengerti, betapa agung kedudukan ayah dan ibunya. Di satu tempat dalam Kitab- Nya, Allah subhanahu wa ta’ala mengajarkan tentang adab yang agung terhadap kedua orang tua:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنًاۚ إِمَّا يَبۡلُغَنَّ عِندَكَ ٱلۡكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوۡ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا ٢٣ وَٱخۡفِضۡ لَهُمَا جَنَاحَ ٱلذُّلِّ مِنَ ٱلرَّحۡمَةِ وَقُل رَّبِّ ٱرۡحَمۡهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرٗا ٢٤

“Dan Rabbmu memerintahkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya semata, dan agar kalian berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila salah satu atau keduanya mencapai usia lanjut di sisimu, jangan engkau katakan pada keduanya ucapan “uff” dan jangan pula menghardiknya, dan ucapkanlah perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah sayap kehinaan karena kasih sayang dan ucapkanlah doa, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku semenjak kecilku’.” (al-Isra: 2324)

Dalam kalam-Nya ini, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk berbuat baik kepada orang tua dengan segenap bentuk kebaikan, baik berupa ucapan maupun perbuatan, karena kedua orang tua merupakan sebab adanya seorang hamba. Juga keduanya memiliki kecintaan, kebaikan, dan kedekatan dengan sang anak yang semua itu mengokohkan hak mereka dan mewajibkan bakti pada mereka berdua.

Apabila mereka berdua mencapai usia lanjut, saat kekuatan mereka telah melemah dan membutuhkan kelembutan dan kebaikan, jangan sampai terlontar ucapan uff (uh) di hadapan keduanya, sementara ini adalah ucapan menyakitkan yang paling ringan. Terlebih lagi ucapan yang lainnya. Artinya, jangan engkau sakiti mereka, sekalipun dengan suatu gangguan yang paling ringan. Allah subhanahu wa ta’ala juga melarang hamba-Nya menghardik kedua orang tua atau pun berbicara dengan mereka dengan perkataan yang kasar, serta memerintahkan untuk berucap dengan perkataan mulia yang mereka senangi, beradab dan berlemah lembut dengan ucapan yang baik dan lembut, yang menyenangkan hati dan menenangkan jiwa mereka. Ini tentu berbeda-beda sesuai dengan keadaan, kebiasaan, dan waktu (zaman).

Dalam ayat yang mulia ini pula Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk tawadhu’ karena merendahkan diri dan rasa kasih sayang kepada orang tua, serta untuk mengharapkan pahala, bukan semata karena rasa takut terhadap mereka, atau mengharap harta kekayaan mereka, ataupun maksud-maksud lain yang tidak membuahkan pahala. Kemudian diperintahkan pula seorang hamba untuk mendoakan ayah dan ibunya agar mendapatkan rahmat semasa mereka hidup maupun setelah mereka tiada, sebagai balasan atas pendidikan yang mereka berikan sepanjang masa kecil sang anak. (Taisirul Karimir Rahman hlm. 456)

Inilah tuntunan Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya. Sementara itu, didapati pula banyak bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mesti ditanamkan pada diri si anak. Inilah di antara wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abud Darda’ radhiallahu ‘anhu:

أَطِعْ وَالِدَيْكَ، وَإِنْ أَمَرَاكَ أَنْ تَخْرُجَ مِنْ دُنْيَاكَ فَاخْرُجْ لَهُمَا

“Taatilah kedua orang tuamu. Seandainya mereka menyuruhmu untuk keluar dari dunia, maka keluarlah karena perintah mereka berdua.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad)

Dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 14, hasan) Seorang anak diajarkan pula untuk menjaga kehormatan dan nama baik ayah ibunya dengan menahan lisannya dari mencela ayah atau ibu orang lain, karena biasanya orang yang dicela orang tuanya tidak akan tinggal diam. Dia akan berbalik mencela, sehingga dengan itulah celaan bisa berbalik menimpa kedua orang tuanya. ‘Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma menuturkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ مِنْ أَكْبَرِ الْكَبَائِرِ أَنْ يَلْعَنَ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ. قِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ يَلْعَنُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: يَسُبُّ الرَّجُلُ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Termasuk dosa besar yang paling besar seseorang melaknat kedua orang tuanya.” Beliau pun ditanya, “Ya Rasulullah, bagaimana bisa seseorang melaknat kedua orang tuanya?” Beliau menjawab, “Seseorang mencela ayah orang lain hingga orang lain itu balas mencela ayahnya, dan dia mencela ibu orang lain hingga orang itu balas mencela ibunya.” (HR. al-Bukhari no. 5973 dan Muslim no. 90)

Berbagai nasihat pun ditemui di kalangan sahabat, yang sarat dengan pendidikan adab bagi seorang anak. Di antara mereka ada kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Beliau melihat dua orang lakilaki, lalu bertanyalah beliau pada salah seorang dari mereka, “Siapa orang ini?” Orang itu menjawab, “Dia ayahku.” Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu pun berpesan padanya:

لاَ تُسَمّ بِاسْمِهِ، وَلاَ تَمْشِ أَمَامَهُ، وَلاَ تَجْلِسْ قَبْلَهُ

“Jangan engkau panggil dia dengan menyebut namanya, jangan berjalan di depannya, dan jangan engkau duduk sebelum dia duduk.” (Riwayat al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad. Dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al- Adabul Mufrad no. 32: Shahihul isnad)

Inilah di antara sekian banyak adab kepada kedua orang tua sepanjang hayat mereka. Namun bakti bukanlah sebatas itu semata, bahkan terus berlanjut sampaipun kedua orang tua telah tiada. Saat itu, doa anak yang saleh akan senantiasa bermanfaat bagi ayah dan ibunya. Demikian yang disampaikan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila seseorang meninggal, terputuslah amalannya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

Seorang anak yang tidak shalih tidak akan mendoakan kedua orang tuanya, pun tidak akan berbakti kepada mereka. Namun anak yang saleh itulah yang akan mendoakan ayah ibunya setelah mereka tiada. Oleh karena itulah, semestinya orang tua memiliki kemauan yang teramat besar agar putra putri mereka memperoleh kebaikan, karena kebaikan itu akan kembali kepada anak-anak, juga kepada ayah bundanya dengan doa yang dimohonkan sang anak bagi mereka. (Syarh Riyadhush Shalihin, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3/117)

Permohonan ampun bagi kedua orang tua yang terucap dari lisan sang anak akan meninggikan derajat mereka di akhirat. Demikian dikatakan oleh sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

تُرْفَعُ لِلْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ دَرَجَتُهُ، فَقِيْلَ: أَيْ رَبِّ أَيُّ شَيْءٍ هَذِهِ؟ فَقِيْلَ: وَلَدُكَ اسْتَغْفَرَ لَكَ

“Diangkat derajat seseorang setelah matinya. Dia pun bertanya, “Wahai Rabbku, apakah ini?” Maka dikatakan, “Anakmu memohonkan ampun untukmu.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad. Dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 27: Hasanul isnad)

Tak hanya itu, bakti seorang anak dapat terwujud tatkala dia mencintai orang yang dicintai oleh ayah dan ibunya beserta keluarganya. Sebuah teladan yang tak layak untuk dilewatkan, dari seorang sahabat mulia, ‘Abdullah bin ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Apabila beliau bepergian menuju Makkah, beliau biasa membawa keledainya untuk berkendara bila jenuh menunggang untanya. Beliau juga memiliki serban yang biasa beliau pakai untuk mengikat kepalanya. Suatu ketika, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma sedang mengendarai keledainya. Tiba-tiba lewatlah seorang Arab gunung.

Beliau bertanya pada orang itu, “Bukankah engkau anaknya Fulan bin Fulan?” Dia menjawab, “Benar.” Sertamerta Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu memberikan keledainya sembari berkata, “Naiklah!” Beliau juga memberikan serbannya dan mengatakan, “Ikat kepalamu dengan serban ini.” Melihat hal, sahabat-sahabat beliau pun berkata, “Semoga Allah mengampunimu. Mengapa engkau berikan kepada orang Arab gunung itu keledaimu yang biasa engkau kendarai serta serbanmu yang biasa engkau gunakan untuk mengikat kepalamu?” Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

إِنَّ مِنْ أَبَرِّ البِرِّ أَنْ يَصِلَ الرَّجُلُ أَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ

‘Di antara sebaik-baik bakti kepada orang tua adalah seseorang menyambung tali kekerabatan dengan keluarga orang yang dicintai ayahnya sepeninggalnya.’ Sesungguhnya ayah orang itu adalah teman ‘Umar radhiallahu ‘anhu.” (HR. Muslim no. 2552)

Demikianlah seorang Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma yang mendulang faedah dari perkataan agung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Beliau muliakan orang Arab gunung itu karena ayah orang itu adalah teman ayahnya, ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Bagaimana kiranya bila beliau bertemu seseorang yang berteman dengan ayahnya? Tentu beliau akan lebih dan lebih memuliakannya lagi. Inilah kisah indah yang berbuah faedah, memberikan bimbingan untuk memuliakan seseorang yang dicintai oleh ayah atau ibu, karena ini termasuk bakti seorang anak kepada mereka berdua.

Dari kisah ini tampak pula keluasan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala, dengan meluaskan pintu bakti terhadap orang tua, tak hanya terbatas pada ayah ibu saja, namun hingga teman-teman mereka berdua. Apabila seorang anak berbuat baik pada mereka, berarti juga mereka berbakti kepada keduanya, serta beroleh pahala seorang yang berbakti kepada ayah bundanya. (Syarh Riyadhush Shalihin, 2/153)

Tidakkah ada keinginan dalam sanubari untuk menatap anak-anak tumbuh dalam keridhaan Rabb mereka, dengan membimbing mereka agar senantiasa berjalan dalam keridhaan ayah ibunya? Tidakkah ada ketakutan tatkala mengingat anak-anak terancam dengan kemurkaan Rabb mereka ketika membiarkan mereka berteman dengan kemurkaan orang tua? Inilah sekelumit dari sekian banyak tuntunan itu. Tinggallah kesungguhan untuk mewujudkannya, agar harapan mereka bukan menjadi impian semata. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

Ditulis oleh al-Ustadzah Ummu Abdurrahman bintu Imran

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Senin,14 November 2011/17 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly