AdabMenggunakan HP bagian ke 5

Bimbingan Kelima belas:
Tidak memberi kesempatan kepada anak kecil dan anak yang memasuki usia puber untuk memegang HP
Termasuk perkara yang penting adalah tidak memberi kesempatan kepada anak kecil untuk memegang HP. Karena, sesuatu yang dipegang anak kecil itu sering hilang, kecurian, ataupun lainnya. Mereka juga tidak mengerti bahaya yang ada pada HP. Demikian pula keadaan anak yang sedang memasuki masa puber. Kecuali, bila disertai adanya perhatian dan peringatan yang keras dari hal-hal yang bisa menyeretnya terjatuh dalam bahaya yang besar karena alat (HP) ini.
Anak-anak itu berada dalam tanggung jawab ayah dan ibu mereka sebagaimana firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6)
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar c bahwasanya beliau mendengar Rasulullah n bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ، وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ فِي مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan dia akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang suami itu pemimpin bagi keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya itu. Seorang istri itu pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang pembantu itu pemimpin bagi harta tuannya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya.” (HR. Al-Bukhari no. 2278 dan Muslim no. 1829)

Bimbingan Keenam belas:
Jangan mencari-cari kesalahan/kelemahan/kekurangan orang lain
Di antara penggunaan alat ini (HP) dalam perkara yang menyelisihi syariat adalah apa yang dilakukan oleh sebagian orang dengan memanfaatkan alat ini untuk berbuat at-tajassus (upaya mencari kesalahan, kelemahan, dan kekurangan orang lain) demi kepentingan pihak tertentu.
Terkadang sebagian orang merekam suatu pembicaraan yang dia dengar dari HP (menyadap) bukan untuk mencari faedah, tetapi untuk mencuri berita dan mencari kesalahan, kelemahan, serta kekurangan pihak lain. Allah l telah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah berbuat tajassus (mencari-cari keburukan/kejelekan/kesalahan) orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kalian merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha penerima taubat lagi Maha penyayang.” (Al-Hujurat: 12)

Bimbingan Ketujuh belas:
Berhati-hati dari beberapa penyakit hati: merasa dirinya lebih dari orang lain, ‘ujub, bangga diri, sombong, riya’, dan sum’ah
Penyakit-penyakit hati tersebut termasuk penyakit berbahaya yang menimpa para pemegang (pengguna) HP. Terkadang seorang yang memegang (memiliki) HP itu sebenarnya tidak ada kepentingan (kebutuhan) dengan HP nya, sehingga tidaklah yang mendorongnya untuk membeli dan menggunakan HP itu kecuali karena sikap ingin bangga diri, ‘ujub, dan merasa dirinya lebih daripada yang lain, dan seterusnya.
Terutama apa yang dilakukan oleh orang-orang yang “selalu mengikuti perkembangan zaman”. Tidaklah terlihat olehnya HP model baru di pasar, kecuali dia akan bersegera membelinya meskipun dengan harga yang mahal. Padahal HP nya yang lama masih dimilikinya. Bahkan terkadang HP yang baru tadi tidak ada perbedaannya dengan HP yang lama, kecuali hanya (beda) model atau beberapa fitur saja.
Seorang muslim wajib untuk bersikap tawadhu’ dan rendah hati terhadap saudara-saudaranya sesama mukminin. Allah l berfirman:
“Dan rendahkanlah dirimu (wahai Nabi) terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’ara’: 215)
Allah l juga berfirman:
“Dan berendah hatilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (Al-Hijr: 88)
Allah l berfirman:
Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Nabi Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya (Qarun): “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Al-Qashash: 76)
Dari sahabat Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدُهُمُ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ
“Tidaklah shadaqah itu akan mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba karena sifat pemaaf yang ada padanya kecuali tambahan kemuliaan, dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah kecuali pasti Allah akan angkat derajat dia.” (HR. Muslim 2588)
Termasuk bentuk sikap tawadhu’ adalah berbicara yang baik dengan orang yang dia telepon (lawan bicara) dengan pembicaraan yang lembut, menggunakan kata-kata yang mudah, memilih kalimat yang baik, menjauhi perkataan yang kaku dan kasar. Apalagi ketika berbicara dengan orang yang berilmu dan memiliki keutamaan, tentunya mereka berhak untuk mendapatkan penghormatan dan pemuliaan yang lebih.

Bimbingan Kedelapan belas:
Jangan merusak rumah tangga orang atau membuat fitnah yang tidak terpuji akibatnya
Sebagian pengguna HP yang memiliki fasilitas kamera telah sampai pada perbuatan yang melampaui batas, yaitu mengambil gambar (memotret) wanita muslimah ketika mereka tengah lalai (tidak tahu atau tidak menyadarinya). Para muslimah yang berpakaian dengan seenaknya dan tidak sesuai dengan pakaian yang syar’i, serta dalam keadaan tersingkap wajah mereka, diambil gambar (foto)nya ketika mereka pergi dan pulang dari sekolah.
Demikian juga, mereka mengambil gambar (foto) wanita yang sedang pergi ke pasar untuk tujuan tertentu, atau ketika para wanita keluar ke atas balkon (loteng) untuk menjemur pakaian –meskipun ini jarang–.
Yang lebih parah dari itu, terkadang sebagian wanita fasiq diambil gambarnya (difoto) dalam keadaan mereka sedang memakai perhiasan yang sangat berlebihan, ataupun ketika sedang berdansa di pesta-pesta perkawinan yang diselenggarakan di tempat tertentu. Setelah itu, mereka menyebarluaskan gambar-gambar tadi melalui HP. Akibatnya, seorang suami bisa melihat apa yang terjadi pada istrinya, seorang bapak bisa melihat apa yang terjadi pada anak perempuannya, seorang laki-laki bisa melihat apa yang terjadi pada saudara perempuannya, dan seseorang bisa melihat apa yang terjadi pada kerabatnya karena kejelekan yang terjadi di HP-HP tersebut. Akhirnya terjadilah fitnah dan musibah yang akibatnya tidak terpuji, seperti perceraian, penganiayaan, pengusiran, dan terkadang juga pembunuhan.

Bimbingan Kesembilan belas:
Seorang wanita hendaknya bersikap malu dan berupaya untuk menutup auratnya
Jika memang diperlukan untuk membawa HP keluar rumah, kemudian ada yang menelepon anda dalam keadaan anda masih berada di luar rumah atau di jalan misalnya, maka wajib bagi anda untuk bersikap malu dan berupaya menutup aurat. Juga merendahkan suara anda. Ucapkanlah perkataan yang baik.
Waspadalah dari perbuatan kebanyakan wanita berupa sikap bermegah-megahan dan kurangnya rasa malu di hadapan orang lain (yang bukan mahramnya), baik di jalan atau di pasar, berbicara dengan mengeraskan dan memperindah suaranya. Bahkan terkadang menyingkap lengannya ketika sedang menelepon tanpa memperhatikan akan terlihatnya perhiasan dan sebagian anggota tubuhnya.
Ketika menggunakan telepon (HP), seorang wanita wajib meletakkannya di dalam kerudungnya, atau menggunakannya (berbicara, mengirim sms, dan yang lainnya) hanya dengan orang yang dia kenal dari kalangan mahramnya atau wanita-wanita yang shalihah.
Allah l berfirman:
“Wahai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian melembuatkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan (jelek)lah orang yang ada penyakit dalam hatinya, namun ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 32-33)
(Insya Allah bersambung, diterjemahkan oleh Al-Ustadz Abu Abdillah Kediri, dari http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=368419)

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Minggu,20 November 2011/23 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly