Al-Jarh wa At-Ta’dil dalam Al-Qur’an

Sebagai sebuah prinsip yang agung, al-jarh wat-ta’dil tentu tidak dibangun di atas hasil pemikiran seseorang atau bahkan anggapan baik seseorang. Namun ia dibangun di atas fondasi yang kuat, yang tidak mungkin dirobohkan oleh siapa pun. Allah subhanahu wa ta’ala sendiri yang telah meletakkan fondasi tersebut di dalam Al-Qur’an, menjelaskan kepada manusia tentang prinsip memuji dan mencela ini, demi sebuah kemaslahatan yang besar yaitu selamatnya umat manusia di dunia dan akhirat.

Al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah subhanahu wa ta’ala sarat dengan petunjuk dan bimbingan bagi kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyifati al-Qur’an ini dengan sifat-sifat agung lagi mulia yang berlaku untuk seluruh ayatnya.

Sifat-sifat tersebut merupakan bukti terbesar bahwa al-Qur’an merupakan landasan utama bagi seluruh disiplin ilmu yang bermanfaat demi kebaikan dunia dan akhirat.

Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa al-Qur’an adalah al-Huda (petunjuk), ar-Rusyd (bimbingan, kelurusan) dan al-Furqan. Bahkan al-Qur’an itu sendiri adalah al-Huda yang memberi petunjuk seluruh manusia kepada semua yang mereka butuhkan dalam urusan dunia dan agama mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

شَهۡرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِيٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلۡقُرۡءَانُ هُدٗى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٖ مِّنَ ٱلۡهُدَىٰ وَٱلۡفُرۡقَانِۚ

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (Al-Baqarah: 185)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا ١

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam,” (Al-Furqan: 1)

Al-Qur’an mengarahkan manusia ke setiap jalan yang bermanfaat, memberi batasan tegas antara yang haq dan batil, petunjuk dan kesesatan, dan antara orang-orang yang berbahagia dan orang-orang yang celaka dengan menerangkan ciri-ciri atau karakter masing-masing kelompok yang berlawanan ini. Di dalam al-Qur’an pula didapatkan penjelasan berbagai masalah ushul (pokok, prinsipil) dan furu’ (cabang) lengkap dengan dalil-dalil ‘aqli (rasional) dan naqli (al-Qur’an dan as-Sunnah). Allah subhanahu wa ta’ala di dalam sejumlah ayat-ayat-Nya telah menerangkan sifat-sifat al-Qur’an ini dengan sifat-sifat mutlak dan umum yang tidak ada kejanggalan sedikit pun di dalamnya.

Namun, seiring pemaparan sifat-sifat al-Qur’an yang begitu sempurna dan mulia ini, ternyata Allah subhanahu wa ta’ala membatasi hidayah yang ada di dalam al-Qur’an dengan beberapa hal.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

الٓمٓ ١ ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ ٢

“Alif laam miim. Kitab (al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 1—2)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

        سَيَذَّكَّرُ مَن يَخۡشَىٰ ١٠

“Oleh karena itu, berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat, orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran.” (Al-A’la: 10)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

أَفَمَن يَعۡلَمُ أَنَّمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ ٱلۡحَقُّ كَمَنۡ هُوَ أَعۡمَىٰٓۚ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٩

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Ar-Ra’du: 19)

Dalam ayat-ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala membatasi bahwa al-Qur’an ini adalah al-Huda, tetapi hanya bagi orang-orang beriman, bertakwa, orang-orang berakal, orang-orang yang memikirkan, dan orang-orang yang memang menginginkan al-haq (kebenaran). Ini adalah (sebagian) penjelasan dari Allah subhanahu wa ta’ala tentang syarat (diperolehnya) hidayah (dari al-Qur’an). Artinya, agar al-Qur’an ini menjadi Huda (petunjuk), maka harus ada yang menerima sekaligus mengerjakan. Sehingga seseorang yang ingin memperoleh hidayah al-Qur’an ini harus berakal, berpikir, dan mau mempelajari ayat-ayatnya.

Adapun seorang penentang yang tidak mau memikirkan dan mempelajari ayat-ayatnya tidak akan mungkin mengambil manfaat yang ada di dalam al-Qur’an. Begitu pula dengan orang yang tidak mempunyai niat dan keinginan untuk mendapatkan kebenaran atau kesadaran. (Yaitu) orang yang maksud dan tujuannya rusak, di mana dia menempatkan dirinya untuk menentang dan menyelisihi al-Qur’an. Dia pasti tidak akan menerima bagian sedikit pun dari hidayah al-Qur’an ini.

Sedangkan mereka yang menyambut, memikirkan makna-maknanya, mempelajari ayat-ayat al-Qur’an dengan pemahaman dan niat yang baik dan benar serta bersih dari dorongan hawa nafsu, niscaya dia akan terbimbing mendapatkan hidayah menuju tujuan-tujuan dan sasaran yang dicita-citakannya.

Maka barang siapa yang memahami bahwa al-Qur’anul ‘Azhim betul-betul menyandang semua sifat mulia, bahkan paling tinggi dan sempurna serta paling bermanfaat bagi seluruh manusia. Kemudian dia meyakini pula bahwa di dalamnya terkandung makna-makna agung, yang selalu diulang-ulang dan semakin menambah keindahan serta kesempurnaannya, tentulah dia memahami pula bahwa ketika seorang pencari ilmu mengamati tafsir satu ayat al-Qur’an, dia akan terbawa untuk memahami dan mengenal tafsir ayat-ayat lainnya. Selanjutnya, dia dituntut untuk beriman dan mengamalkan kandungan al-Qur’an tersebut.

Asy-Syaikh Tsaqil al-Qasimi dalam bukunya Sallus Suyuf (hlm. 141) menyatakan, “Sesungguhnya, siapa pun yang benar-benar memerhatikan dan mempelajari Kitab Allah k (al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, niscaya dia akan menemukan bahwa ajaran Islam ini, dibangun di atas dua prinsip utama, yaitu at-Ta’shil dan at-Tahdzir. At-Ta’shil (membangun prinsip, pedoman) dalam perkara yang haq dan menjelaskannya. At-Tahdzir (peringatan agar menjauh) dari berbagai kesesatan dengan segala bentuk dan coraknya. Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan masalah besar ini dalam firman-Nya,

فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ

“Karena itu barang siapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus.” (Al-Baqarah: 256)

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala dengan jelas menerangkan bahwa tidak mungkin seorang muslim berada di jalan yang mulia dan lurus kecuali jika dia menghimpun kedua prinsip utama ini. Yaitu, kafir kepada thaghut (segala sesuatu yang disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala) dan semua bentuk kebatilan, serta beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya, baik dalam rububiyah (sebagai Pencipta, Pemberi rezeki, Pengatur dan sebagainya), asma’ was shifat (nama-nama dan sifat-sifat-Nya), maupun dalam Uluhiyah-Nya (sebagai tempat bersandar, berlindung, bergantung, memohon doa, syafaat, dan sebagainya).

Maka sesungguhnya al-Qur’an itu berbicara tentang tauhid, tentang Allah subhanahu wa ta’ala, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-perbuatan-Nya. Atau berisi tentang dakwah, ajakan, untuk beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya serta melepaskan diri dari semua yang diibadahi (disembah) selain Allah subhanahu wa ta’ala. Atau berisi perintah dan larangan, yang merupakan hak-hak tauhid dan pelengkap atau penyempurna tauhid tersebut. Atau berisi uraian tentang kemuliaan yang diterima oleh ahli tauhid, di dunia dan akhirat sebagai balasan atas tauhid itu, serta apa yang diterima oleh musuh-musuh tauhid, di dunia dan akhirat.

Jadi, al-Qur’an itu seluruhnya berbicara tentang tauhid, hak-hak yang harus ditunaikan dan balasan-balasannya. (Fathul Majid hlm. 23—24)

Secara umum, al-jarh wat-ta’dil sebagai wasilah untuk menjaga kemurnian dan kelestarian syariat Islam ini juga kita lihat tersebar dalam ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala yang mulia ini. Mungkin dalam susunan yang tegas menunjukkan kejelekan suatu kaum, bangsa atau masyarakat, atau suatu perbuatan (amalan). Kadang dalam bentuk larangan tegas dan perintah menjauhinya. Sebaliknya, dalam masalah at-ta’dil juga demikian.

Sehingga, jika kita dapatkan di dalam al-Qur’an semua amalan yang dianggap mulia oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, kemudian dipuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan Dia memuji pelakunya, gembira karenanya, mencintainya, atau mencintai pelakunya bahkan meridhainya, mensyukurinya, atau menafikan adanya ketakutan dan kesedihan dari pelakunya, tertawa dan takjub terhadap pelakunya, ini adalah dalil bahwa amalan itu disyariatkan. Tentunya jelas ini merupakan bentuk-bentuk ta’dil.

Sebaliknya, setiap amalan yang dituntut oleh syariat untuk ditinggalkan, pelakunya dicela, dimurkai, dibenci, dilaknat, dihapus kecintaan atau ridha terhadapnya, menyerupakan pelakunya dengan hewan ternak, dinyatakan sebagai sebab Dia menelantarkan pelakunya (di hari kiamat), menyatakan permusuhan dan perang terhadap pelakunya, dan seterusnya, maka ini adalah dalil dilarang atau diharamkannya perbuatan tersebut. Dan ini adalah sebagian dari bentuk jarh.

Di sini akan kami paparkan sebagian dari ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala yang menggambarkan kepada kita adanya jarh terhadap suatu masyarakat, bangsa, bahkan seseorang atau amalan tertentu, agar kita menjauhi dan berhenti mengerjakannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ وَتَبَّ ١  مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ ٢  سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ ٣  وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ ٤ فِي جِيدِهَا حَبۡلٞ مِّن مَّسَدِۢ ٥

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah baginya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (Al-Lahab: 1—5)

Abu Lahab adalah paman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang paling sengit permusuhannya terhadap beliau. Tidak beragama, tidak memiliki rasa solidaritas kesukuan (membela kerabat). Maka Allah subhanahu wa ta’ala menghinakannya sedemikian rupa, sampai hari kiamat. Setiap lisan kaum mukminin akan senantiasa membaca ayat-ayat ini.

Dan tentunya, kita juga memaklumi bahwa Abu Lahab dan istrinya mempunyai kebaikan, namun semua itu sia-sia karena kekafiran dan permusuhan mereka terhadap Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡأَحۡبَارِ وَٱلرُّهۡبَانِ لَيَأۡكُلُونَ أَمۡوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡبَٰطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۗ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah.” (At-Taubah: 34)

Ayat ini mengandung tahdzir bagi hamba Allah yang beriman, agar mereka berhati-hati sekaligus jangan meniru kebanyakan pendeta dan rahib yang suka memakan harta manusia dengan cara yang batil. Padahal kita tahu, semua yang diberikan manusia kepada mereka ini adalah karena ilmu dan ibadah (kebaikan) mereka, namun Allah subhanahu wa ta’ala tidak menganggap kebaikan itu.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

مَثَلُ ٱلَّذِينَ حُمِّلُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ ثُمَّ لَمۡ يَحۡمِلُوهَا كَمَثَلِ ٱلۡحِمَارِ يَحۡمِلُ أَسۡفَارَۢاۚ بِئۡسَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِ ٱللَّهِۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٥

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.”(Al-Jumu’ah: 5)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَٱتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَأَ ٱلَّذِيٓ ءَاتَيۡنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنۡهَا فَأَتۡبَعَهُ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلۡغَاوِينَ ١٧٥ وَلَوۡ شِئۡنَالَرَفَعۡنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخۡلَدَ إِلَى ٱلۡأَرۡضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلۡكَلۡبِ إِن تَحۡمِلۡ عَلَيۡهِ يَلۡهَثۡ أَوۡ تَتۡرُكۡهُ يَلۡهَثۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلۡقَوۡمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُواْ بِ‍َٔايَٰتِنَاۚ فَٱقۡصُصِ ٱلۡقَصَصَ لَعَلَّهُمۡ يَتَفَكَّرُونَ ١٧٦

“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian ia melepaskan diri dari ayat-ayat itu lalu ia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan aya-tayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayatayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (Al-A’raf: 175—176)

Ini adalah celaan atau kritik yang sangat tajam sekaligus tahdzir, agar kita menjauhi sifat buruk ini.

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَلَا تُطِعۡ كُلَّ حَلَّافٖ مَّهِينٍ ١٠  هَمَّازٖ مَّشَّآءِۢ بِنَمِيمٖ ١١  مَّنَّاعٖ لِّلۡخَيۡرِ مُعۡتَدٍ أَثِيمٍ ١٢

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa.” (Al-Qalam:10—12)

Terakhir, kami ingatkan; bila seseorang sudah tidak lagi dapat diperbaiki dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan perkataan apa pun dia tidak akan mungkin dapat diperbaiki.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar


Yaitu Al-‘Ilmu atau pembeda, yang memisahkan antara yang haq dari yang batil. Wallahu a’lam.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Senin,14 November 2011/17 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly