Asy-Syaikh Muqbil Dakwah Di Tengah Basis Syiah

Pengantar

Satu hari pada pengujung tahun 2006, di Shan’a, ibukota Republik Yaman. Seorang pemuda Indonesia duduk di sebuah rumah makan menunggu jamuan makan siang dihidangkan. Saat itu, tiba-tiba seorang warga Yaman duduk  di hadapan pemuda tadi dan mengajak berbincang.

Kala warga Yaman itu mengetahui bahwa pemuda yang diajak berbincang adalah penuntut ilmu di Dammaj, Sha’dah, ia langsung menyebut nama Asy-Syaikh Muqbil. “Asy-Syaikh Muqbil pencela ulama,” katanya seraya menampakkan ketidaksukaan.

Melihat sikap tidak terpuji dari lawan bicaranya, pemuda Indonesia itu menjawab tegas, “Ya, benar. Asy-Syaikh Muqbil seorang pencela ulama. Ulama su’ (buruk).”

Peristiwa tersebut menggambarkan sosok Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi Al- Wadi’i rahimahullah begitu dikenal di tengah masyarakat Yaman. Beliau dikenal karena sikap lurusnya dalam menyampaikan dakwah al-haq. Tegas mengutarakan kebenaran dan menolak kebatilan.

Tak mengherankan bila kalangan pelaku dan pengusung kebatilan pun gerah karenanya. Hati mereka terbakar. Lantas, karenanya mereka menunjukkan kebencian dan permusuhan.

Itulah tabiat dakwah. Pertarungan antara bala tentara Allah melawan barisan setan senantiasa berkecamuk. Ketika kebenaran disampaikan secara lantang, setan beserta kaki tangannya tak tinggal diam. Mereka bergerak menebar beragam syubhat dan syahwat. Berupaya menghadang, menjegal, menggelincirkan setiap hamba-Nya dari jalan yang lurus.

Itu telah tergambar melalui firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut.

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦ ثُمَّ لَأٓتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَٰنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡۖ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَٰكِرِينَ ١٧

(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah nyatakan aku sesat, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku pasti akan datangi mereka dari depan dan belakang, dari kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (al-A’raf: 16-17)

Iblis beserta bala tentaranya dari kalangan jin dan manusia akan terus menerus menjauhkan dari al-haq. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan.

إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمُ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ

“Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus (bertauhid) seluruhnya. Lantas para setan mendatangi mereka. Kemudian (para setan berusaha) menggelincirkan mereka dari agamanya.” (HR. Muslim, no. 2875, dari ‘Iyadh bin Himar al-Mujasyi’i)

Asy-Syaikh Muqbil tak akan tinggal diam manakala kebatilan menyeruak di tengah umat. Asy-Syaikh Muqbil berbicara tegas saat Abdul Majid az-Zindani menebar kebatilan. Pemikiran az-Zindani yang menjerumuskan umat untuk melaksanakan pemilihan umum sebagai wujud sistem demokrasi, bahkan melegalkan para wanita terjun ke dunia politik, langsung mendapat tanggapan dari beliau.

Asy-Syaikh Muqbil menjelaskan letak ketidakbenaran sistem demokrasi; dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat. “Demokrasi mengandung paham, bahwa rakyat menghukumi dirinya oleh dirinya. Andai suara yang mendukung penghalalan liwath (homoseksual) itu menang, niscaya hasil suara itu yang didahulukan dari al-Kitab dan as-Sunnah,” tegas Asy-Syaikh Muqbil. (Tuhfah al-Mujib, hlm. 431)

Abdul Majid az-Zindani, menurut sebagian masyarakat Yaman, termasuk orang yang dikategorikan sebagai ulama. Namun, di hadapan Asy-Syaikh Muqbil, az-Zindani dinyatakan sebagai orang yang membawa pemahaman sesat. Karena itu, asy-Syaikh Muqbil memperingatkan umat dari orang-orang semacam itu.

Kata asy-Syaikh Muqbil rahimahullah, “Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala telah meninggikan derajat para ulama dan meninggikan kedudukan mereka, sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah merendahkan pula para ulama su’ (buruk) dan menelanjangi kebusukan-kebusukannya.”

Siapakah ulama su’ itu?

Kata Asy-Syaikh lebih lanjut, “Ulama su’ adalah orang-orang yang menyelewengkan fatwa-fatwa (sehingga) selaras dengan hawa nafsu masyarakat dan penguasa. Jika keadaan ulama seperti itu, wajib mentahdzir (memperingatkan) dan menjauhkan umat dari para ulama su’ tersebut.” (Tuhfah al-Mujib, hlm. 420)

Itulah sikap tegas beliau rahimahullah. Bagi orang-orang yang terjangkiti penyakit di dalam hatinya, sikap lurus selaras al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf, dipersepsikan sebagai bentuk celaan, tidak diterima sebagai bentuk nasihat dan kritik yang membangun. Semestinya, sikap tersebut disambut dengan penuh lapang dada dan disusul dengan bersegera rujuk serta bertobat.

 

Keadaan Yaman

Selama kurang lebih tiga abad, masyarakat Yaman sebagian memeluk mazhab Malikiyah dan sebagian lainnya menganut mazhab Hanafiyah.

Sekira akhir tahun 280 H, al-Hadi Yahya bin al-Husein, seorang da’i Syiah dan Mu’tazilah, masuk Yaman. Ia beserta dua rekannya, Ja’far bin Ahmad bin Abdis Salam al-Bahluli dan Zaid bin al-Hasan al-Baihaqi, menyebarkan pemahaman bid’ah.

Selama kurang lebih seribu tahun pemahaman Syiah merambah keyakinan masyarakat Yaman. Kegelapan demi kegelapan mencengkeram. Yaman menjadi lahan subur bagi dakwah Syiah. Pemahaman Syiah pun mendarah daging dalam tubuh umat.

Inilah masa kelabu bagi masyarakat. Beragam khurafat bergayut di tubuh masyarakat. Bermacam bidah melilit kuat di sekujur umat. Taqdis (menyucikan) ahlul bait serta menanamkan sikap berlebihan padanya terus dijejalkan. Termasuk juga tradisi penyembahan terhadap kubur selalu disuntikkan ke benak umat.

Semua itu—serta beragam bidah dan khurafat lainnya—menjadi pemandangan yang kerap ditemukan di Yaman. Negeri Arab di selatan jazirah itu gulita. Tiada kemilau sunnah secercah pun. Pekat menghitam.

Yaman pernah pula di bawah kekuasaan Daulah Utsmaniyah dan Inggris. Keduanya memperebutkan wilayah kekuasaan hingga akhirnya Yaman terpilah. Pada 1914 Yaman dibagi: bagian selatan dan timur dikuasai Inggris sedang bagian utara dan barat dalam kekuasaan Turki Utsmani.

Pada 1967 Yaman bagian selatan dimerdekakan. Sejak itu Yaman selatan terlepas dari koloni negara asing. Bagian selatan diwarnai komunis, Yaman utara diwarnai Syiah. Di wilayah selatan ditanamkan pemikiran Karl Marx bahwa agama itu candu masyarakat, sedangkan di utara ditanamkan beragam bidah dan khurafat.

Dari sisi keagamaan, penduduk Yaman diwarnai pemahaman Syiah Zaidiyah. Sejak mulai penyebarannya –dan hingga kini– mereka membangun basis pemahamannya di Sha’dah. Namun, keadaan sekarang sudah jauh berubah. Warna Zaidiyah memupus dan warna Syiah Rafidhah menguat. Generasi pascarevolusi Syiah di Iran memberi warna yang sangat kental terhadap perkembangan Syiah Rafidhah di Yaman.

Polesan Syiah Rafidhah tidak lepas dari peran Badruddin al-Hutsi, seorang penganut Syiah Zaidiyah Jarudiyah ekstrem. Melalui Badruddin al-Hutsi—di antaranya—dan anak-anaknya, yaitu Husein Badruddin al-Hutsi dan Abdul Malik Badruddin al-Hutsi, ikatan dengan negara Syiah Iran semakin intens dan kuat. Berbagai bantuan; dana, senjata, tenaga instruktur, dan logistik terus dikucurkan dari Iran. Termasuk pelatihan dan pengiriman pelajar dan pemuda Yaman ke negeri Syiah. Semua ini membangkitkan semangat untuk meledakkan revolusi guna mendirikan negara Syiah di selatan Jazirah Arab.

Adapun para penganut Yahudi di Yaman berada di daerah Raidah, Sha’dah. Secara jumlah populasi, penganut Yahudi di Yaman sedikit. Jumlah mereka di Yaman mengalami penurunan drastis. Sebab, kebanyakan mereka melakukan eksodus ke Palestina setelah negara Zionis mencaplok tanah Palestina.

Sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, komunitas Yahudi sudah menetap di Yaman. Saat sahabat mulia, Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, hendak diutus berdakwah ke Yaman, di antara wasiat yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam adalah penjelasan tentang orang-orang yang akan didakwahi. Siapakah mereka? Tak lain adalah orang-orang ahlul kitab.

Para penganut Sufi di Yaman banyak mendiami wilayah Hadramaut. Mereka memiliki tempat rujukan yang dikenal sebagai Darul Musthafa, sebuah tempat pembelajaran sekaligus pusat dakwah kaum Sufi. Darul Musthafa terletak di daerah Tarim, Hadramaut. Dan Umar bin Salim bin Hafidz adalah salah seorang penting bagi kalangan penganut Sufi. Di tempat itulah kaderisasi Sufi berlangsung.

Penanaman berbagai pemahaman yang menyelisihi pemahaman salaf dilakukan di tempat tersebut. Tidak sedikit orang-orang Indonesia yang datang ke tempat tersebut untuk menggali pemahaman sufi. Setelah kembali ke Indonesia, mereka menyebarkan paham sufi ke tengah masyarakat.

Pemahaman Sufi masuk ke Yaman dibawa oleh kalangan Alawiyin dari wilayah Tarim. Di antara pemukanya ialah Abdullah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir, yang ayahnya adalah seorang penganut Syiah Imamiyah. Selain Syiah, Yahudi, Sufi, di Yaman pun masih terdapat para penganut komunis dan Nasrani.

 

Sosok Asy-Syaikh Muqbil

Bagi kalangan penuntut ilmu, nama asy-Syaikh Muqbil rahimahullah termasuk nama yang dekat di hati. Banyak upaya yang telah beliau perbuat untuk umat. Khususnya untuk dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tak semata di Yaman, tetapi juga di segenap penjuru bumi.

Beliau termasuk figur yang berdedikasi dalam menyebarkan pemahaman salaful ummah. Kesehariannya selalu diisi dengan taklim, ibadah, dan beramal kebajikan. Beliau lahir di Dammaj, sebuah daerah yang terletak sebelah tenggara kota Sha’dah. Jarak antara Dammaj-Sha’dah sekira 9 km. Adapun Sha’dah-Shan’a berjarak kurang lebih 250 km.

Dammaj merupakan daerah subur. Daerah yang dilalui sebuah wadi (lembah). Apabila hujan lebat mengguyur Dammaj dan area seputar Bukit Baros, air meluap mengalir di lembah tersebut. Sebuah pemandangan langka kala lembah yang memanjang membelah Dammaj itu dialiri air deras meluap.

Kehidupan masyarakat Dammaj kebanyakan dari bercocok tanam dan beternak. Di antara hasil pertanian yang menonjol adalah anggur hitam yang sangat manis. Bila musim tanam, sejauh mata memandang diliputi warna hijau daun. Seakan dibentangkan karpet hijau di tengah padang pasir yang dikitari gunung bebatuan. Dammaj menyimpan berjuta kenangan. Manis getir terpatri dalam sanubari.

Di Dammaj, Allah subhanahu wa ta’ala takdirkan lahir seorang bayi laki-laki. Bayi itu diberi nama Muqbil. Lengkapnya, Muqbil bin Hadi bin Muqbil bin Qaidah al-Hamdani al-Wadi’i al-Khilali dari kabilah (suku) Alu Rasyid.

Asy-Syaikh adalah seorang berkewarganegaraan Yaman, seorang Yamani. Wadi’i merupakan nisbah yang disematkan kepada penduduk yang tinggal di Dammaj dari Hamdan, Sha’dah.

Hamdani adalah asalnya. Lalu disebut Dammaji terkait tanah kelahirannya. Adapun nama kuniahnya adalah Abu Abdirrahman.

Beliau rahimahullah memiliki tiga istri, yaitu Ummu Abdirrahman al-Wadi’iyah (wafat mendahului beliau), Ummu Syu’aib al-Wadi’iyah, dan Ummu Salamah al-Umraniyah.

Dari istri pertama, Ummu Abdirrahman al-Wadi’iyah, dikaruniai dua orang putri, yaitu Ummu Abdillah al-Wadi’iyah atau dikenal juga dengan sebutan Bintu asy-Syaikh dan Ummu Ayub al-Wadi’iyah.

Tidak diketahui secara pasti tanggal dan tahun kelahiran beliau rahimahullah. Pada tahun 1420 H, beliau pernah mengungkapkan perihal usianya. “Dulu ayah kami tak pernah memerhatikan perihal tanggal kelahiran. Umur saya (sekarang) antara 65, 66, atau 67 tahun.”

Usia hidup beliau rahimahullah sungguh diberkahi. Waktu-waktu beliau tidak pernah keluar dari masalah keilmuan, pembelajaran, memberikan nasihat, menulis, berzikir dan memurajaah. Tak ada waktu tersisa yang kosong. Tidaklah asy-Syaikh rahimahullah masuk ke dalam urusan dunia kecuali urusan tersebut mendatangkan manfaat bagi dakwah dan bisa menepis bahaya terhadap dakwah.

 

Beberapa Akhlak Terpuji

Beliau memiliki sikap tawadhu’ (rendah hati), tak tinggi hati, dan tak merasa paling berilmu. Dalam sebagian perjalanan (rihlah), seringkali sikap tawadhu itu muncul.

Satu hari, saat kami menempuh perjalanan bersama asy-Syaikh, terlihat seseorang yang lebih berilmu dan mencintai Sunnah dibandingkan dengan kami. Lantas terucap dari lisan beliau, “Seandainya saya tidak sibuk, sungguh saya hadir dalam pelajaran fulan.”

Asy-Syaikh pun kerap kali mengatakan kepada para penuntut ilmu, “Engkau lebih mengetahui daripada diri saya.”

Kata-kata yang menunjukkan sikap rendah hati beliau walau di hadapan para muridnya.

Sikap tawadhu itu pun terpantul dari kemudahan beliau untuk ditemui. Tidak perlu acara protokoler resmi, tak perlu perantara untuk menghubungi. Bila memungkinkan untuk bisa bertemu, bisa langsung berbicara dengan Asy-Syaikh. Bisa di majelis setelah shalat atau setelah pelajaran, bisa pula di rumah beliau, atau saat beliau keluar rumah menuju masjid atau wadi. Begitu mudah untuk menemui asy-Syaikh.

Asy-Syaikh sangat berlapang dada menerima al-haq walau dari orang yang paling keras permusuhannya kepada beliau. Beliau mau mengambil sikap rujuk manakala ditemukan kesalahan pada dirinya.

Kata Asy-Syaikh, “Sungguh saya bersaksi kepada kalian, betapa saya akan rujuk bilamana ditemukan kesalahan dalam buku-buku karya saya, audio rekaman saya, atau dalam dakwah saya yang mengajak kepada Allah ‘azza wa jalla. Saya rujuk dengan sepenuh jiwa yang baik lagi tenang.”

Untuk keluarga, disediakan waktu khusus, yaitu setelah Ashr. Asy-Syaikh mengerjakan pekerjaan rumah guna membantu keluarganya. Kerapkali beliau menolong membelahi kayu, menggali tanah menanam pohon, membantu memecahkan masalah keluarga, memenuhi apa yang diinginkan keluarga, dan melayani sendiri para tamunya dari kalangan penuntut ilmu, para da’i, dan para pemuka kabilah (suku). Beliau melayani sendiri tanpa harus meminta bantuan. Sebuah sikap tawadhu nan luhur.

Kesabaran beliau pun laik dicontoh, termasuk kesabaran dalam mengajar. Walau keadaan fisik tengah sakit, beliau tetap mengajar.

Satu hari pada hari Jumat, beliau menaiki tangga guna mengambil sebuah kitab. Tiba-tiba beliau terjatuh yang mengakibatkan tangannya patah. Setelah mendapat perawatan dan pengobatan beliau tetap melangsungkan pelajaran. Walau dengan tangan digantung, pelajaran tidak terhenti, tetap lanjut. Beliau tetap mengajar.

Apabila keadaan terpaksa lantaran tubuh beliau tak kuat, beliau tidak mengajar. Namun, beliau tetap hadir di majelis mendengarkan pelajaran yang disampaikan pengganti asy-Syaikh. Sebuah kesabaran yang melahirkan dedikasi yang sedemikian tinggi dalam menyampaikan ilmu dan dakwah ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Kesabaran beliau terukir pula saat mengawali dakwah di kampung halamannya sendiri. Merintis sebuah dakwah tentu tidak mudah. Beragam tantangan dan kendala akan menghadang. Adanya kekurangan sarana fisik. Permusuhan dan kebencian dari orangorang sekitar. Dana yang amat sangat terbatas.

Namun, semua itu tak lantas menjadikan seorang penyeru kebenaran mundur lalu jatuh terkulai layu. Justru tantangan, kendala, dan ujian menjadi pembakar semangat seraya terus bertawakal dan memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Beliau memulai dakwah di sebuah masjid kecil. Di masjid kecil yang hanya berdinding bata, beliau memulai pelajaran. Dengan sarana yang teramat terbatas, beliau terus merajut benang-benang dakwah. Mengajari penduduk kampung mengenali al-Qur’an. Menanamkan pada masyarakat cinta terhadap sunnah rasul dan membenci bidah. Secara bertahap membangun fondasi tauhid dan merobohkan keyakinan syirik. Padahal, di kampung halaman beliau, pemahaman Syiah telah mendarah daging pada sebagian besar penduduk.

Atas pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, dakwah yang beliau tunaikan mendapat sambutan dari berbagai kalangan, bahkan disambut hingga ke mancanegara.

Keikhlasan serta kepedulian asy-Syaikh untuk berjuang dalam bidang ilmiah sangat tinggi. Kecintaannya terhadap ilmu teramat besar. Kecintaan beliau ini disertai pula semangat untuk menyebarkannya. Semangat yang menyala itu terlukis pada sikap keseharian dalam mengajar.

Tatkala asy-Syaikh masih menjadi mahasiswa program pascasarjana di perguruan tinggi, tesis yang diajukan untuk meraih gelar magister (S2) sempat disarankan oleh seorang profesor bidang akademik untuk dipilah. Satu bagian judul pembahasan tesis diperuntukkan guna memenuhi syarat memperoleh gelar magister (S2). Satu bagian lagi—dari tesis tersebut—dijadikan bahan disertasi guna meraih gelar doktor (S3).

Saat itu Asy-Syaikh mengajukan tesis untuk memperoleh gelar magister berjudul al-Ilzamat wa at-Tatabbu’ li ad Daruquthni. Pembimbing menyarankan agar masalah al-Ilzamat dijadikan bahan penyusunan tesis guna meraih magister. Adapun masalah at-Tatabbu’ dijadikan bahan penyusunan disertasi guna meraih gelar doktor.

Namun, saran tersebut ditolak oleh beliau. Berkali-kali disarankan kepada beliau untuk membaginya. Namun, berkali-kali pula beliau menolak seraya mengucapkan, “Saya tidak memandang ijazah.”

Itulah wujud keikhlasan beliau. Kesungguhan dan perjuangannya dalam lapangan ilmiah tak tergiur dengan titel. Beliau bersungguh-sungguh dalam melakukan penelitian dalam kerangka ilmiah semata. Beliau tunaikan semuanya ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Beberapa petikan potret akhlak asy-Syaikh menunjukkan kepribadian yang luhur. Kepribadian seorang alim rabbani. Seorang yang memiliki dedikasi tinggi dalam bidang pengajaran, dakwah, dan keumatan. Kepribadian tanpa pamrih, sarat daya juang tinggi, penuh keikhlasan, kesabaran dan tawakal. Itulah salah satu wajah seorang ulama Ahlu Sunnah pada masanya.

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali y menyebutkan tentang asy-Syaikh Muqbil rahimahullah—diucapkan sehari atau dua hari setelah asy-Syaikh Muqbil wafat, “Beliau seorang yang saleh, pakar hadits, zuhud, wara’, dunia dan segenap hiasannya berada dalam pijakan kedua kakinya.”

“Sesungguhnya keberhasilan dakwah kita setelah bertakwa kepada Allah, ikhlas, dan dengan ilmu yang bermanfaat,” kata asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah. Sebuah wasiat penting dari seorang alim rabbani bagi para da’i, penuntut ilmu dan segenap umat Islam.

 

Menyingkap Kebatilan Syiah

Kehadiran asy-Syaikh Muqbil rahimahullah di Dammaj menjadikan para ahlul bidah geram dan jengkel. Kiprah dakwah beliau langsung menusuk di jantung wilayah Sha’dah yang mayoritas penduduknya memeluk Syiah.

Dammaj yang merupakan bagian wilayah Sha’dah–jarak Dammaj-Sha’dah sekira 9 km– termasuk daerah basis Syiah. Banyak di antara penduduk Dammaj memeluk paham Syiah Zaidiyah. Kebencian dan permusuhan terhadap dakwah pun mulai bergetar. Goncangan mulai terasa.

Ketika tulisan Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berjudul Riyadhu al-Jannah fi ar-Raddi ‘ala A’da’i as-Sunnah dan ath-Thali’ah fi ar-Raddi ‘ala Ghulati asy-Syi’ah beredar di tengah masyarakat, Badruddin bin Amiruddin al-Hutsi pun angkat pena. Badruddin al-Hutsi terbakar.

Badruddin al-Hutsi—ayah kandung Abdul Malik al-Hutsi, pemberontak dan pembantai kaum muslimin Yaman—menulis bantahan berjudul Tahriru al-Afkar ‘an Taqlidi al-Asyrar. Badruddin al-Hutsi yang membangun jaringan dengan negara Syiah Iran untuk melakukan revolusi Syiah di Yaman, merasa gerah dengan laju perkembangan dakwah asy-Syaikh Muqbil.

Dakwah Ahlus Sunnah menggeliat di berbagai daerah di Yaman. Amanah ‘Ashimah (yang mencakup ‘Amran, adh-Dhali’, dan Raimah), ‘Aden, Taiz, Ib, Dzammar, Syabwah, Hadhramaut, Baidha’, Mahwit, Mahrah, Hudaidah, Jauf dan daerah lainnya telah tersentuh dakwah Ahlus Sunnah.

Perkembangan yang sedemikian pesat menimbulkan kekhawatiran kaum Syiah. Terkhusus di wilayah Sha’dah, yang merupakan pusat gerakan pemberontak Hutsi, keberadaan dakwah Ahlus Sunnah merupakan ancaman. Karena itu, kaum Syiah Rafidhah dari para pemberontak Hutsi tak segan membumihanguskan Markiz Dakwah Darul Hadits, Dammaj.

Di tengah basis kaum Syiah, asy-Syaikh Muqbil menyuarakan kebenaran, melibas hujah batil yang menjadi keyakinan kaum Syiah. Asy-Syaikh Muqbil menguliti satu demi satu pemahaman sesat Syiah. Beliau singkap kebatilan Syiah. Di antaranya, masalah celaan terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam yang telah menjadi keyakinan sesat dan menyesatkan dari kaum Syiah.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan bahwa dalam masalah mencela para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam sungguh Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ ١٠٠

“Dan orang-orang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (at-Taubah: 100)

Kemudian firman Allah subhanahu wa ta’ala,

لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِيِّ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ ٱلۡعُسۡرَةِ مِنۢ بَعۡدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٖ مِّنۡهُمۡ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّهُۥ بِهِمۡ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١١٧

“Sungguh, Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang Muhajirin, dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (at-Taubah: 117)

Karena itu, orang-orang yang mencela para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam tidak termasuk dalam keutamaan ini (sebagaimana disebutkan ayat di atas). Demikian pula orang-orang yang mencela as-Sunnah, bosan terhadap as-Sunnah dan menyakiti Ahlus Sunnah.” (Tuhfah al-Mujib, hlm. 17)

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah pernah mengingatkan tentang bahaya pergerakan Syiah di Yaman. Seiring dengan berdirinya negara Iran sebagai negara Syiah, asy-Syaikh Muqbil mengingatkan tentang makar busuk kaum Syiah.

Kini, apa yang terjadi di Yaman, hendaknya bisa dijadikan pelajaran. Betapa kaum Syiah akan senantiasa memusuhi, bahkan membantai Ahlu Sunnah. Sekarang mereka senantiasa meneriakkan taqrib (mendekatkan) antara Sunni-Syiah. Seakan-akan tidak ada perbedaan antara Sunni dan Syi’i.

Sungguh, apa yang mereka teriakkan tak lain karena jumlah mereka masih sedikit dan lemah. Namun, kala mereka memiliki kekuatan, niscaya mereka akan membantai kaum muslimin. Orang-orang mulia di seputar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, seperti sahabat Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu dan cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, yaitu al-Husain bin Ali bin Abi Thalib saja dibantai, apatah manusia biasa yang hidup sekarang.

Allahu a’lam.

 

Sumber Bacaan

  • Tuhfah al-Mujib ‘ala As’ilah al-Hadhir wa al-Gharib, Abi Abdirrahman Muqbil bin Hadi al-Wadi’i.
  • Al-Ibhaj bi at-Tarjamah al-’Allamah al-Muhadits Abi Abdirrahman Muqbil bin Hadi al-Wadi’i wa Dar al-Hadits bi Dammaj, Abi Ibrahim Humaid bin Qaid bin Ali al-’Utmi.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Jumat,29 Juli 2016/23 Syawal 1437H

Print Friendly