Bentuk Hikmah Dalam Dakwah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri Lc.)

Dakwah mengajak kepada Allah l adalah kewajiban termulia dan urusan terpenting. Manusia sangat membutuhkan amalan yang sangat mulia ini, baik kaum muslimin maupun orang-orang kafir.
Masyarakat muslim membutuhkan upaya perbaikan atas kesalahan yang terjadi pada diri mereka sehingga orang yang terjatuh pada kemungkaran akan kembali kepada Allah l dan meninggalkan kemungkaran yang mereka lakukan. Adapun orang kafir, mereka membutuhkan keterangan bahwa Allah l menciptakan hamba-hamba-Nya untuk beribadah hanya kepada-Nya dan bahwasanya mereka wajib masuk Islam serta mengikuti ajaran yang dibawa oleh rasul yang terakhir.

Cara Dakwah telah Ditetapkan oleh Syariat
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz menerangkan, “Allah l telah menerangkan cara berdakwah dan metodenya dalam kitab-Nya dan melalui Rasul-Nya dalam hadits-haditsnya. Yang paling jelas menerangkan masalah ini adalah firman-Nya:
ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan peringatan yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125)
Beliau t kemudian melanjutkan, “Al-Hikmah adalah kata yang memiliki banyak makna. Kata al-hikmah bisa dipakai untuk menyebut kenabian, ilmu, dan pemahaman terhadap agama. Terkadang kata ini juga dipakai untuk mengungkapkan akal, wara’, dan makna lainnya.
Pada asalnya, kata al-Imam asy-Syaukani t, maknanya adalah sesuatu yang menghalangi seseorang melakukan sebuah perbuatan atas dasar kebodohan. Inilah hikmah. Jadi, maknanya adalah semua kalimat dan perkataan yang mencegah diri Anda berbuat seenaknya dan menjauhkan Anda dari kebatilan. Itulah hikmah, yaitu setiap ucapan yang jelas, tegas, dan benar. Dengan demikian, yang paling tepat untuk disebut dengan hikmah adalah ayat-ayat Al-Qur’an. Demikian pula As-Sunnah yang sahih juga disebut hikmah setelah Al-Qur’an. Allah l telah menyebutnya dalam kitab-Nya dengan istilah hikmah, sebagaimana firman-Nya:
ﭼ ﭽ ﭾ
“Dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah).” (al-Baqarah: 129)
Kesimpulannya, kata beliau t, “Hikmah adalah sebuah kalimat yang mencegah orang yang mendengarnya sehingga tidak terus-menerus melakukan kebatilan dan akan mengikuti kebenaran serta terpengaruh dengannya.” (ad-Dakwah ilallah hlm. 21—22)
Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t mengatakan, “Hikmah adalah memperbagus dan memperkuat sesuatu dengan menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/77)
Menjelaskan ayat di atas, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t mengatakan, “Ini adalah penjelasan tentang cara menjalankan dakwah. Dakwah harus dilakukan dengan hikmah, yaitu dengan ilmu yang berupa firman Allah l dan sabda Nabi n. Ilmu disebut hikmah karena ilmu akan menyingkirkan kebatilan dan membantu orang yang memilikinya untuk mengikuti kebenaran.
Dakwah dengan ilmu juga dilakukan bersamaan dengan mau’izhah hasanah (peringatan yang baik, dengan ayat tentang azab/kenikmatan surga) serta jidal (diskusi) dengan cara yang baik ketika dibutuhkan. Sebagian orang terkadang menerima dengan disampaikan kepadanya kebenaran beserta dalilnya, karena dia adalah orang yang mencari kebenaran. Ketika kebenaran mendatanginya, dia menerimanya. Orang yang seperti ini tidak memerlukan mau’izhah hasanah. Namun, ada orang yang tidak segera menerima kebenaran yang datang dengan dalil-dalilnya. Ada pula yang hatinya keras sehingga membutuhkan mau’izhah. Oleh karena itu, orang yang mengajak kepada Allah l harus siap memberikan nasihat serta peringatan (untuk mengingatkan pahala dari Allah l atau azab-Nya yang keras) ketika dibutuhkan. Misalnya, ketika mendakwahi orang-orang yang tidak tahu agama atau orang-orang yang lalai serta bermudah-mudahan hingga mereka mau menerima dengan yakin dan selanjutnya akan kokoh di atas kebenaran.
Di samping itu, orang-orang yang didakwahi terkadang memiliki syubhat (kesalahan/kerancuan pemahaman), sehingga dia akan membantah apa yang disampaikan kepadanya dan tidak akan menerima hingga hilang kerancuan berpikirnya.” (4/229)

Haruskah dengan Hikmah?
Hikmah bagi seorang yang berdakwah adalah urusan yang sangat besar. Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t mengatakan, “Para dai wajib menempuh sarana-sarana yang dia anggap sebagai jalan yang selamat, bermanfaat, dan tepat untuk memberikan petunjuk kepada orang yang didakwahi dan mengarahkan mereka kepada kebaikan. Tidak diragukan lagi, hikmah dalam berdakwah dan senantiasa melihat akibat perbuatannya adalah perkara penting yang harus diperhatikan.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, 9/217)
Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t mengatakan, “Seseorang yang mengajak kepada Allah l hendaknya tidak menilai urusannya dari apa yang mulai akan dia kerjakan. Akan tetapi, dia harus melihat apa yang akan terjadi berikutnya. Maka dari itu, kita wajib melihat akibat dari hal-hal yang bermanfaat dan hal-hal yang termasuk bagian dari agama kita yang akan kita kerjakan. Apabila kita melihat akibatnya dan kita yakin bahwa hasilnya pasti sebuah kebaikan, kita segera mengerjakannya dengan cara yang hikmah serta diiringi kelemahlembutan karena Allah l akan memberikan pada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan kepada cara yang kasar. Sebaliknya, seandainya kita melihat bahwa akibatnya akan berbeda dengan yang kita inginkan, kita wajib menahan diri dan tidak mengerjakannya.
Apabila ada yang bertanya, “Hasil yang akan diperoleh adalah masalah gaib yang belum diketahui. Allah l menyebutkan:
ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼﯽ
‘Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diperolehnya besok’.” (Luqman: 34)
Kita jawab, “Memang itu benar. Hasil yang akan dicapai bukanlah perkara yang kita ketahui. Namun, bukankah kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang pernah terjadi pada orang lain? Jawabannya tentu benar, karena Allah l berfirman:
ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱﯲ
‘Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal’.” (Yusuf: 111)
Jadi, kita bisa mendapatkan pelajaran dari peristiwa yang pernah terjadi di sekitar kita. Peristiwa yang dialami oleh orang-orang yang hanya memikirkan apa yang mau dilakukan tanpa melihat akibatnya, sehingga yang terjadi benar-benar berbeda dengan yang dia inginkan. Bahkan, keadaannya menjadi lebih jelek dibandingkan dengan sebelumnya.
Orang yang berakal adalah orang yang memandang dengan tepat dalam segala permasalahan. Maka dari itu renungkanlah….” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/94—95)
Paparan di atas sungguh merupakan nasihat yang sangat berharga dari imam-imam dakwah salafiyah. Tidakkah seseorang dai mau mengambil pelajaran dari orang-orang yang tidak diragukan ilmu dan pengalamannya? Ataukah dia akan tetap pada pendiriannya meskipun telah melihat akibat jelek dari sikap kasar dan ketiadaan hikmah dalam menjalankan dakwah?
Berikut ini adalah beberapa bentuk hikmah dalam berdakwah.

1. Berusaha Meyakinkan Kebenaran dengan Dalil
Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t menerangkan, “Termasuk hikmah adalah seseorang berupaya memperkokoh dakwahnya mengajak kepada Allah l dengan cara senantiasa mengiringi dakwahnya dengan dalil. Hal ini karena orang yang diajak kepada kebenaran terkadang tidak yakin atau kurang mantap dengan kebenaran yang disampaikan kepadanya melainkan jika disebutkan dalilnya. Maka dari itu, semestinya seorang dai mengiringi ajakannya kepada kebenaran dengan dalil. Bisa jadi hal ini dia lakukan karena orang yang diajaknya memintanya dengan lisannya. Bisa jadi pula, orang itu memintanya secara tidak langsung, dengan adanya tanda-tanda bahwa dirinya menunggu disebutkannya dalil, karena orang itu bermacam-macam keadaannya. Di antara mereka ada orang yang benar-benar awam dan polos serta sangat percaya dengan apa yang dikatakan dai sehingga apa yang diperintahkan langsung dia terima. Akan tetapi, ada juga orang yang ketika disampaikan kebenaran kepadanya tidak mau menerimanya melainkan jika disebutkan bersama dalilnya, baik karena ingin berhati-hati dan suka untuk membangun ibadahnya di atas dasar yang jelas maupun dia meminta dalil karena memberat-beratkan dirinya. Namun, bagaimanapun keadaan orang yang diajak atau didakwahi, adalah termasuk hikmah apabila seorang dai bersiap dengan dalil untuk meyakinkan orang yang didakwahi.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/77)
Menghiasi dakwah dengan dalil akan mendidik umat untuk mengagungkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini adalah adab yang ada pada diri para sahabat g. Di samping itu, sikap ini akan mendidik umat untuk menjadikan dia berloyalitas kepada kebenaran yang datang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, bukan kepada guru atau ustadznya. Begitu pula, sikap ini akan mendidik umat untuk tidak fanatik melainkan kepada apa yang dibawa Rasulullah n, bukan kepada kelompok, organisasi, partai, dan yang semisalnya. Akhirnya, masyarakat juga semakin paham bahwa dakwah salafiyah bukanlah seperti kelompok-kelompok dakwah hizbiyah.

Da’i Perlu Memiliki Dalil ‘Aqli
Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t berkata, “Pada kesempatan (menjawab pertanyaan) ini saya ingin menyampaikan bahwa para penuntut ilmu hendaknya memiliki beberapa ilmu yang berkaitan dengan akal (dalil ‘aqli), karena penerimaan orang-orang pada masa ini terhadap dakwah yang ditunjukkan dalam bentuk yang bisa dilihat oleh pancaindera—karena lemahnya iman mereka—lebih kuat daripada penerimaan mereka terhadap dakwah yang ditunjukkan dengan dalil-dalil syar’i. Maksud saya adalah mengajak saudara-saudara saya, para penuntut ilmu, agar mereka juga berbekal dengan ilmu-ilmu yang bisa memahamkan secara akal dan berkaitan dengan ‘illah (hikmah dari suatu syariat). Jika ingin lebih yakin, mereka bisa melihat perkataan-perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam melumpuhkan orang-orang filsafat, ahlul kalam, mantiq, dan yang lainnya. Mereka akan mendapati bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membantahnya dengan dalil-dalil syar’i dan ‘aqli. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/56)

2. Melihat Perbedaan Kemampuan Berpikir dan Tingkat Pemahaman Orang yang Didakwahi
Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t menjelaskan, “Termasuk hikmah adalah memosisikan seseorang sesuai dengan kedudukannya ketika berdakwah mengajak (mereka) kepada Allah, serta ketika mengarahkan pembicaraan kepada mereka….” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/77)
Asy-Syaikh al-‘Utsaimin t juga mengatakan, “Pemahaman dan ilmu manusia tidak sama. Demikian halnya sifat kelemahlembutan dan kerasnya. Mereka juga tidak sama dalam kesiapan menerima kebenaran dan kesombongan terhadapnya. Maka dari itu, pakailah cara untuk mengajak setiap orang sesuai dengan keadaannya sehingga lebih mungkin untuk diterima dan diikuti.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/96)

3. Tidak Menyampaikan Semua Kebenaran Melainkan Jika Baik Akibatnya
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah ketika menjelaskan hadits Mu’adz z yang diriwayatkan dalam Ash-Shahihain menerangkan, “Ini termasuk dari hikmah, yaitu ilmu tidaklah ditempatkan kecuali pada tempatnya. Jika disampaikannya beberapa masalah kepada sebagian orang dikhawatirkan akan menyebabkan dia terjatuh pada larangan yang lebih besar, tidak mengapa sebagian ilmu disembunyikan (ditunda) sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka serta menjaga mereka agar tidak terjatuh pada perkara yang dilarang….
Hal ini juga disebutkan dalam hadits ‘Ali z:
حَدِّثُوْا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُوْنَ، أَتُرِيْدُوْنَ أَنْ يُكَذَّبَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ؟
“Sampaikan kepada manusia dengan apa yang bisa mereka pahami. Apakah kalian menginginkan Allah dan Rasul-Nya didustakan?”
Maksudnya, janganlah Anda menyampaikan kepada setiap orang masalah-masalah yang mengandung hal yang samar atau membingungkan mereka. Akan tetapi, sampaikan kepada mereka masalah-masalah yang bisa mereka pahami dan ambil faedahnya ….” (I’anatul Mustafid, 1/67)
Bahkan, terkadang urusan yang terpenting, yaitu mengajak kepada tauhid dan mengingatkan dari syirik, ditunda penyampaiannya karena terlalu kentalnya masyarakat dengan perbuatan syirik dan telah mendarah daging pada keyakinan mereka, sehingga akan sangat sulit dan sangat berat untuk ditinggalkan. Dalam keadaan seperti ini, disampaikan terlebih dahulu kebenaran-kebenaran yang jelas dan tidak mungkin diingkari yang sudah mereka ketahui dan terima, sebagai persiapan menerima kebenaran yang paling besar yaitu bertauhid dan menjauhi syirik. Menunda dalam kondisi seperti ini bukanlah maksud dari dakwahnya. Justru maksudnya adalah dakwah kepada tauhid dan mengingkari syirik. (Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/67)
Adapun jika meninggalkan dakwah kepada tauhid dijadikan tujuan dan prinsip dakwah dengan alasan untuk menyatukan umat, hal ini tidak diperbolehkan. Bahkan, prinsip ini sangat bertentangan dengan prinsip dakwah para nabi yang inti dakwah mereka adalah mengingatkan manusia agar tidak melakukan syirik. Dengan demikian, seorang dai yang tidak mau mengingatkan orang dari syirik berarti telah menyelisihi dakwah para rasul. Oleh karena itu, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Diam (tidak) memperingatkan manusia dari permasalahan (syirik) adalah bentuk penipuan kepada umat dalam berdakwah.” (I’anatul Mustafid 1/395—396)

4. Memilih Cara Penyampaian yang Tepat dan Baik dalam Berdakwah
Asy-Syaikh Zaid al-Madkhali hafizhahullah (semoga Allah menjaga beliau) mengatakan, “(Di antara yang perlu diperhatikan oleh seorang dai adalah) bagusnya penyampaian dan indahnya cara berdakwah karena dua hal ini memiliki pengaruh yang baik terhadap jiwa orang-orang yang didakwahi, berperan besar untuk membuka hati orang-orang yang Allah l inginkan padanya kebaikan, melapangkan dada mereka untuk menerima kebenaran dan menjalankannya, serta kokoh di atasnya. Hati pun menjadi siap untuk menerima. Dada pun menjadi lapang untuk menerima apa yang didakwahkan kepada mereka….” (Fiqhud Da’wah wa Nu’utud Daiyah, hlm. 24)
Dengan demikian, seorang yang berdakwah harus memikirkan cara menyampaikan dan kepada siapa serta kapan kebenaran disampaikan. Bahkan, terkadang cara penyampaian lebih penting daripada kebenaran yang hendak disampaikan itu sendiri karena kebenaran bisa tidak dipahami atau bahkan disalahpahami serta tidak diterima oleh orang yang didakwahi disebabkan cara penyampaian yang salah atau tidak memerhatikan tingkat pemahaman orang yang didakwahi. Oleh karena itu, seorang dai semestinya mempersiapkan segala sesuatunya sebelum dia mengajak orang kepada kebenaran karena tidak semua kebenaran disampaikan kepada setiap orang tanpa melihat akibatnya.

Cara Penyampaian yang Baik Tidak Berarti Menghalalkan Segala Cara
Hikmah dalam dakwah tidak berarti boleh menggunakan hal-hal yang dilarang dalam agama sebagai sarana dakwah. Misalnya, dakwah melalui sistem demokrasi (partai), menggunakan musik, film, dan yang semisalnya. Begitu pula yang sekarang sedang diperjuangkan oleh sebagian orang atau kelompok untuk menjadikan budaya sebagai sarana dakwah secara mutlak. Apabila yang dimaksud adalah budaya atau kebiasaan yang tidak bertentangan dengan syariat, hal itu adalah sarana yang baik. Namun, jika budaya dipakai secara mutlak atau dengan istilah lain menggunakan “budaya timur”—dan demikian kenyataannya—sungguh tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi. Bukankah di sana ada budaya yang mempertontonkan aurat, berduaan laki-laki perempuan, atau bercampur antara mereka? Bahkan, bukankah ada budaya yang mengandung syirik? Juga khalwat (berduaan antara lawan jenis tanpa mahram), ikhtilath (bercampur baur lelaki dan perempuan), dan kemungkaran atau budaya yang bertentangan dengan syariat dan semisalnya?
Begitu pula, tidak termasuk hikmah dalam dakwah untuk menjadikan acara bid’ah sebagai sarana dakwah. Para ulama yang tergabung dalam al-Lajnah ad-Daimah ketika ditanya tentang hukum menyampaikan nasihat pada hari perayaan Maulid Nabi, setelah menyebutkan dalil-dalil tentang kewajiban dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar, mereka menjawab, “Allah l menyebutkan perintah (berdakwah) secara mutlak dan tidak mengkhususkan waktu tertentu, meskipun sangat ditekankan untuk memberikan nasihat dan petunjuk pada saat-saat yang menuntut untuk dilakukan, seperti pada khutbah Jum’at dan Ied, sebagaimana disebutkan dari Nabi n tentang hal tersebut. Begitu pula ketika melihat kemungkaran, sebagaimana tersebut dalam hadits:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah kemungkaran tersebut dengan tangannya. Apabila tidak mampu, ubahlah dengan lisannya. Apabila tidak mampu, ubahlah dengan hatinya, dan sesungguhnya hal itu (mengubah dengan hati) adalah selemah-lemah iman.”
Perayaan maulid Nabi tidak termasuk hari khusus yang dituntut dilakukannya ibadah tertentu, atau pemberian nasihat dan bimbingan, atau pembacaan sejarah kelahiran Nabi n, karena beliau n tidak pernah mengkhususkannya. Seandainya mengkhususkan hari tersebut untuk hal-hal di atas adalah suatu kebaikan, tentu beliau n adalah orang yang pertama kali melakukannya dan paling bersemangat menjalankannya. Namun, beliau n tidak melakukannya. Ini menunjukkan bahwa mengkhususkan hari tersebut untuk memberikan nasihat, membacakan sejarah kelahiran, atau bentuk ibadah lainnya termasuk perbuatan bid’ah….” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 3/31—32)
Jadi, tidaklah termasuk hikmah dalam dakwah untuk menjadikan acara-acara bid’ah seperti peringatan Isra’ Mi’raj, Nuzulul Qur’an, dan yang semisalnya, sebagai kesempatan untuk berdakwah. Sebagian dai mungkin menganggap hal ini sebagai upaya memperbaiki dari dalam atau bertahap dalam berdakwah.
Kita katakan, “Bukankah Anda tahu bahwa perayaan tersebut adalah bid’ah dan betapa besar dosa serta bahayanya? Bukankah jika Anda ikut di dalamnya, orang-orang akan menganggap bahwa hal tersebut diperbolehkan atau minimal menganggap bid’ah sebagai urusan yang ringan? Bukankah keadaan seperti ini akan mendorong orang-orang awam untuk memunculkan bid’ah-bid’ah lainnya? Jika demikian, apakah hal ini merupakan perbaikan? Kalau Anda menganggap ini sebagai tahapan berdakwah, bagaimana jika Anda meninggal sebelum tahapan berikutnya? Bukankah masyarakat masih membenarkan perbuatan bid’ah tersebut dan akan memunculkan bid’ah lainnya? Tidakkah Anda takut menjadi salah satu penyebab tersebarnya bid’ah dan munculnya bid’ah-bid’ah baru di muka bumi ini? Bukankah akan lebih bermaslahat jika Anda menjelaskan kebid’ahannya? Atau jika Anda memandang belum saatnya disampaikan maka Anda tunda dulu penjelasannya, namun tanpa mengikuti atau memanfaatkannya untuk berdakwah?”
Lebih dari itu semua adalah, “Apakah Anda yakin bahwa agama Allah l memerintahkan Anda untuk ikut serta dan memanfaatkan acara yang termasuk dosa besar sebagai sarana dakwah? Ataukah Anda telah diperintah oleh syahwat dan hawa nafsu untuk mendapatkan sesuatu dari dunia?”
Sungguh jika kita jujur menjalankan agama ini dan mengikuti bimbingan para ulama, dengan pertolongan Allah l, akan menjadi jelas antara yang benar dan yang salah.

5. Tidak Serta-Merta Mengingkari Kemungkaran Melainkan Setelah Yakin akan Baik Akibatnya
Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t mengatakan, “Termasuk hikmah adalah tidak langsung menanggapi orang yang didakwahi dengan mengingkari kesalahan yang ada pada dirinya apabila hal itu justru akan menambah jauhnya dia dari kebenaran serta tetap di atas kemungkarannya. Allah l telah memberikan petunjuk-Nya tentang hal ini dalam firman-Nya:
ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ
“Dan janganlah kalian memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (al-An’am: 108) (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/96)

6. Terkadang Mengingkari Kemungkaran Cukup dengan Menjelaskan Hakikat Sebuah Kesalahan dan Jeleknya Akibat
Di antara yang menunjukkan hal ini adalah apa yang telah disebutkan oleh Allah l dalam menetapkan hukum haramnya khamr. Allah l menetapkan keharamannya melalui tahapan-tahapan. Dimulai dengan tahapan menjawab pertanyaan kaum mukminin tentang khamr, sebagaimana dalam firman-Nya:
ﯣ ﯤ ﯥ ﯦﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱﯲ
Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” (al-Baqarah: 219)
Berkaitan dengan ayat ini, asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t mengatakan, “Allah l tidak menyebutkan satu manfaat (saja), bahkan beberapa manfaat (dari khamr) agar lebih mencakup atau agar tergambar manfaat dari semua itu, kemudian terpahami bahwa semua manfaat tersebut menjadi kecil dibanding dengan besarnya dosa yang ada pada khamr. Pada tahapan ini, Allah l menyingkap hakikat khamr sehingga setiap orang yang mau merenungkan urusan ini akan terpengaruh hatinya dan meninggalkannya, meskipun belum disebutkan keharamannya. Cukup dengan mengetahui bahwa dosanya lebih besar daripada manfaatnya….” (Perkataan beliau selengkapnya bisa dilihat dalam Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/97)
Oleh karena itu, yang semestinya dilakukan oleh seorang dai ketika melihat orang yang berbuat kemungkaran di antaranya adalah menyebutkan kebenaran dan berupaya membuatnya senang menerimanya. Ketika hatinya siap menerima maka akan mudah baginya meninggalkan kesalahan yang telah melekat di hatinya. Meninggalkan apa yang telah melekat dan diyakini adalah sesuatu yang sulit bagi jiwa. Bukan hal yang mudah bagi seseorang untuk melepaskan keyakinannya melainkan dengan upaya yang sungguh-sungguh.
Di antara contoh lain yang menunjukkan masalah ini—wallahu a’lam—adalah apa yang disebutkan dalam hadits Abu Umamah z. Beliau z mengatakan:
إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ n فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَا. فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ وَقَالُوا: مَهْ، مَهْ. فَقَالَ: ادْنُهْ. فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا. قَالَ: فَجَلَسَ قَالَ: أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟ قَالَ: لاَ، وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِاِبْنَتِكَ؟ قَالَ: لاَ، وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟ قَالَ: لاَ، وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟ قَالَ: لاَ، وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ. قَالَ: أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟ قَالَ: لاَ، وَاللهِ جَعَلَنِي اللهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: وَلاَ النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالاَتِهِمْ. قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ. فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ.
Seorang pemuda yang masih belia mendatangi Nabi n dan mengatakan, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk berzina!” Orang-orang pun menatapnya serta mengingkarinya dengan mengatakan, “Mah-mah (ungkapan yang menunjukkan kemarahan dan mengingkari ucapan pemuda tersebut).” Kemudian Nabi n (dengan lembut) mengatakan, “Mendekatlah kemari!” Mendekatlah pemuda tersebut.
Abu Umamah berkata, pemuda tadi duduk. Kemudian Nabi bertanya, “Apakah kamu suka kalau hal itu (zina) diperlakukan pada ibumu?” Pemuda tadi menjawab, “Tidak, demi Allah. Allah jadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi mengatakan, “Begitu pula manusia lainnya, mereka tidak ingin kalau hal itu diperlakukan pada ibu-ibu mereka.” Kemudian Nabi bertanya lagi, “Apakah kamu suka hal itu diperlakukan pada anak perempuanmu?” Pemuda tadi menjawab, “Tidak, demi Allah. Allah jadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi n mengatakan, “Demikian pula manusia yang lain, tidak ingin hal itu diperlakukan pada anak-anak mereka.” Kemudian Nabi mengatakan, “Apakah kamu suka hal itu diperlakukan pada saudara perempuanmu?” Pemuda tadi menjawab, “Tidak, demi Allah. Allah jadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi n mengatakan, “Demikian pula manusia yang lain tidak ingin hal itu diperlakukan pada saudara-saudara perempuan mereka.” Kemudian Nabi mengatakan, “Apakah kamu suka hal itu diperlakukan pada bibi (saudara ayah)mu?” Pemuda tadi menjawab, “Tidak, demi Allah. Allah jadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi n mengatakan, “Begitu pula manusia yang lain, mereka tidak menginginkan hal itu diperlakukan pada bibi-bibi (saudara ayah) mereka.” Nabi mengatakan, “Apakah kamu suka hal itu diperlakukan pada bibi (saudara ibu)mu?” Pemuda tadi menjawab, “Tidak, demi Allah. Allah jadikan aku sebagai tebusanmu.” Nabi n mengatakan, “Begitu pula manusia yang lainnya, mereka tidak menginginkan itu diperlakukan pada bibi-bibi (saudara ibu) mereka.”
Abu Umamah berkata, Nabi meletakkan tangannya pada pemuda tadi dan mendoakan, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.” Setelah itu pemuda tersebut tidak menoleh sama sekali (kepada zina). (HR. Ahmad dan disahihkan asy-Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah 1/713)

7. Kewajiban Bersabar dalam Dakwah Tidak Berarti Bersikeras di Atas Keadaan atau Keyakinannya Jika Itu adalah Sebuah Kekeliruan
Seorang dai yang mengajak kepada Islam harus menyadari bahwa dirinya bukan nabi sehingga tidak ma’shum dari kesalahan dan ketergelinciran. Oleh karena itu, seorang dai harus berlapang dada untuk selalu memperbaiki diri dari kesalahan yang dilakukannya. Bahkan seandainya yang meluruskan adalah musuhnya sekalipun, karena kebenaran harus diterima dan dikatakan benar, dari siapapun datangnya. (I’anatul Mustafid 2/233)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Hati-hatilah dan hati-hatilah, jangan engkau membenci apa yang datang dari Rasul n atau menolaknya karena mengikuti hawa nafsumu, atau karena ingin membela mazhab atau gurumu, atau karena engkau telah terlalaikan oleh syahwat dan dunia, karena Allah l tidaklah mewajibkan seseorang untuk menaati dan menerima yang dibawa siapa pun selain Rasulullah n. Seandainya seorang hamba menyelisihi seluruh makhluk dan mengikuti Rasul n, Allah l tidak akan menanyakan penyelisihanmu terhadap siapa pun. Sesungguhnya, siapa pun yang taat atau ditaati, tidak lain karena mengikuti (ketaatan kepada) Rasul n. Kalau tidak, (apabila) dia memberi perintah yang menyelisihi perintah Rasul n tentu dia tidak akan ditaati. Ketahuilah hal ini. Dengarkan, taati (Rasul), ikutilah jalannya, dan jangan membuat jalan-jalan baru yang akan memutus (kebaikanmu) dan menggugurkan amalanmu. Tidak ada kebaikan dari amalan yang terputus dari mengikuti Rasul n. Tidak ada kebaikan pula pada pelakunya. Wallahu a’lam.” (Majmu’ Fatawa 16/526—529 sebagaimana dalam kitab Sittu Durar)

Tuduhan Orang-Orang yang Menentang Dakwah Terkadang Merupakan Kebenaran yang Harus Diterima
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t mengatakan, “Sabar dalam berdakwah tidak berarti bahwa seseorang harus bersikeras di atas apa yang dia ucapkan dan yang dia dakwahkan jika telah nyata baginya mana yang benar. Sikap bersikeras di atas apa yang dia dakwahkan setelah terang baginya kebenaran (yang ternyata dia tidak berada di atasnya) menyerupai orang-orang yang disebutkan sifatnya oleh Allah l dalam firman-Nya:
ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ
“Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (kebenaran bagi mereka), seolah-olah mereka (untuk mengikuti kebanaran tersebut) sedang digiring kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (al-Anfal: 6)
Oleh karena itu, membantah kebenaran setelah terang baginya (bahwa yang dia tentang adalah kebenaran) adalah sifat yang sangat tercela. Allah l telah menyebutkan orang-orang yang memiliki sifat ini dalam firman-Nya:
ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿﮀ ﮁ ﮂ ﮃ
“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa: 115) (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/462)
Tidak ada salahnya seseorang melihat kembali upaya dakwah yang selama ini dilakukannya. Barangkali ada kesalahan yang dia lakukan dalam berdakwah sehingga masyarakat menjauhi atau bahkan memusuhinya. Bisa jadi ada sesuatu yang dianggap remeh atau mubah, ternyata memiliki dampak terhadap diterima atau ditolaknya dakwah. Contohnya dalam hal berpakaian, bertutur kata, atau kebiasaan yang tidak bertentangan dengan syariat. Hal-hal yang sifatnya mubah seperti ini terkadang menjadi sebab kesalahpahaman orang-orang terhadap dakwah. Tidak semestinya hal yang mubah menjadi sesuatu yang seseorang berlebih-lebihan terhadapnya sehingga ia mengharuskan atau melarangnya seakan-seakan itu adalah urusan yang melanggar syariat. Misalnya, dia mengharuskan dirinya atau orang lain untuk memakai pakaian model tertentu yang sesungguhnya tidak diharuskan secara syar’i, atau sebaliknya melarang memakai pakaian model tertentu yang sesungguhnya tidak ada larangan secara syar’i. Meskipun demikian, seorang dai semestinya berusaha berhias dengan penampilan, adab, dan akhlak yang sebaik-baiknya, sehingga bisa menarik simpati orang untuk menerima dakwahnya. Misalnya, jika dia memakai jubah lebih diterima dan menarik simpati, kenapa tidak memakainya? Bukankah itu model pakaian yang dicintai oleh Rasulullah n? Namun sebaliknya, tidak semestinya dia mengharuskannya dan melarang orang untuk memakai pakaian model lainnya selama tidak ada larangan secara syar’i, apalagi menganggap seseorang keluar dari manhaj karena hal tersebut. Terlebih lagi apabila pakaian tersebut adalah pakaian yang sudah dikenal sebagai pakaian kaum muslimin di suatu negeri, menyesuaikan dengan pakaian mereka bisa jadi bermaslahat daripada menyelisihinya. Wallahu a’lam. (Lihat penjelasan asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin terhadap kitab Riyadhush Shalihin pada “Bab tentang Adab Berpakaian”)
Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t mengatakan, “Sudah selayaknya seorang yang berdakwah memiliki akhlak dalam hal ucapan, perbuatan, maupun penampilannya. Hendaknya dia berpenampilan yang layak sebagai seorang dai, perbuatannya juga perbuatan yang layak sebagai seorang dai, begitu pula ucapannya adalah ucapan yang layak sebagai seorang dai.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/114)
Oleh karena itu, seorang yang berdakwah wajib berhias dengan akhlak seorang dai. Tampak pengaruh ilmu pada keyakinan, ibadah, penampilan, dan seluruh gerak-geriknya. Pada dirinya terdapat akhlak seorang yang benar-benar mengajak kepada Allah l. Jika tidak demikian maka dakwah yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil sebagaimana mestinya. (Lihat Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/430)
Demikian pula jika dia bisa menampakkan sunnah dan masyarakat juga sudah memahami sunnah tersebut, mengapa tidak menampakkannya? Apakah hikmah dalam dakwah itu meninggalkan sunnah dan menampakkan dirinya seperti orang awam yang tidak memerhatikan sunnah? Tentu saja tidak, karena asal hikmah dalam dakwah adalah menampakkan sunnah. Namun demikian, perkara yang sunnah tidak kemudian selalu dihukumi wajib. Demikian pula jika memang perlu ditunda pelaksanaannya karena terlalu asingnya sunnah tersebut sehingga perlu dijelaskan dulu kepada masyarakat, tidak mengapa untuk ditunda pelaksanaannya. Wallahu a’lam.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t mengatakan, “Seseorang—tidak diragukan lagi— tidak semestinya merasa dirinya sempurna. Barang siapa yang menyangka dirinya sempurna, itu menunjukkan kekurangannya. Seseorang perlu menengok kembali perbuatannya, khususnya yang berkaitan dengan perkara yang penting dan terkait urusan umat. Bisa jadi, seseorang didorong oleh semangat atau perasaannya untuk melakukan perbuatan yang pada dasarnya adalah baik atau boleh, namun ternyata saat, tempat, atau keadaan ketika menyampaikan masalah tersebut tidak tepat. Oleh karena itu, Nabi n tidak membangun kembali Ka’bah pada fondasi sebagaimana yang dahulu dibangun oleh Nabi Ibrahim q karena khawatir timbul fitnah (akibat yang tidak baik). (Syarh Riyadhush Shalihin 1/44)

Hikmah dalam Dakwah Asalnya dengan Lemah Lembut
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz tmengatakan, “Sungguh Allah l telah memuji Nabi n dalam menjalankan perintah berdakwah dalam firman-Nya:
ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧﭨ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran: 159)
Nabi kita n adalah orang yang paling sempurna dalam berdakwah. Beliau n juga manusia yang paling sempurna keimanannya. Meskipun demikian, seandainya beliau bersikap keras dan berhati kasar maka manusia akan menjauh darinya. Bagaimana halnya dengan Anda? Oleh karena itu, Anda wajib bersabar, menahan diri, dan tidak terburu-buru melakukan cercaan, ucapan kotor, atau menggunakan kekerasan. Justru Anda wajib menggunakan kelembutan dan kasih sayang….
Seorang dai wajib menahan diri dan menggunakan cara yang baik serta lembut di dalam mendakwahi kaum muslimin dan orang-orang kafir secara keseluruhan. Dia hendaknya menggunakan kelemahlembutan terhadap kaum muslimin dan orang kafir serta para pemimpin. Terlebih terhadap pemerintah atau penguasa, mereka memerlukan kelembutan yang lebih banyak dari yang lainnya. Mereka lebih memerlukan cara yang lebih baik sehingga mau menerima kebenaran dan mendahulukan kebenaran di atas yang lainnya. Begitu pula kepada orang yang telah tertanam bid’ah atau maksiat pada dirinya dan sudah bersamanya selama bertahun-tahun. Butuh kesabaran hingga dia meninggalkan bid’ahnya. Hingga hilang syubhat dengan ditegakkannya dalil-dalil. Sampai jelas baginya bahaya dan akibat jeleknya kemaksiatan, sehingga ia akan menerima kebenaran dari Anda dan meninggalkan kemaksiatan.
Jadi, cara yang baik adalah sarana terbesar untuk diterimanya dakwah. Adapun cara yang jelek dan kasar adalah sarana paling berbahaya yang akan menyebabkan ditolaknya kebenaran, tidak diterimanya dakwah, selain juga memicu kekacauan, kezaliman, permusuhan, dan saling menyakiti. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 6/524—525)
Asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t menasihatkan, “Nasihatku kepada setiap dai, hendaknya ia senantiasa bersikap lemah-lembut dalam berdakwah mengajak kepada Allah l. Hendaknya pula ia menjelaskan syariat dengan berupaya agar manusia merasa siap menerima dan senang terhadap penjelasan/ajakannya karena dia berdakwah semata-mata mengajak kepada Allah l, bukan kepada dirinya. Begitu pula, dia tidak menjadikan dakwahnya sebagai pemadam api yang bergejolak di dalam hatinya ketika melihat suatu kesalahan. Namun, yang dia lakukan adalah memperbaiki keadaan, sehingga dia tentu akan mencari cara yang paling dekat dan paling mudah untuk meyakinkan serta menunjukkan kebenaran kepada orang-orang yang didakwahi.” (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t, 27/102)

Hikmah dalam Dakwah Tidak Berarti Selalu Lembut
Dalam kitabnya Sittu Durar, asy-Syaikh Abdul Malik Ramdhani menukil perkataan asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t dalam Majmu’ Fatawa-nya yang menjelaskan, “Tidak diragukan lagi bahwa syariat Islam yang sempurna datang mengingatkan dari perbuatan berlebih-lebihan dalam beragama serta memerintahkan untuk berdakwah, mengajak kepada jalan yang benar dengan hikmah, mau’izhah hasanah, serta jidal dengan cara yang baik. Meskipun demikian, tidak berarti Islam melalaikan cara keras yang dilakukan pada tempatnya, ketika cara yang lembut dan debat dengan cara yang baik tidak lagi bermanfaat ….” (Lihat Sittu Durar hlm. 124)

Oleh karena itulah, sikap keras yang diarahkan kepada ahlul bid’ah dengan menjauhinya serta memperingatkan kaum muslimin agar berhati-hati dari perkataan dan tulisan mereka tidaklah bertentangan dengan hikmah dalam berdakwah. Bahkan, hal tersebut merupakan nasihat dan sikap keras yang pada tempatnya. Begitu pula, apa yang dilakukan oleh para ulama dengan membantah ahlul bid’ah dan orang-orang yang menyimpang adalah sikap yang tidak bertentangan dengan hikmah. Hanya saja, semuanya harus dilakukan dengan ilmu dan setelah benar-benar dipelajari permasalahannya serta dengan maksud untuk memperbaiki. Bukan hanya sebatas prasangka dan meluapkan emosi sehingga dipenuhi dengan caci-maki yang hanya menambah keruh dan memperlebar masalah. Maka dari itu, tidak ada yang boleh melakukannya melainkan orang-orang yang benar-benar mengetahui duduk permasalahannya.
Wallahu a’lamu bish-shawab.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Selasa,24 April 2012/2 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly