Berbuat Baik Kepada Sesama

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah)

 

Menyambung pembicaraan terdahulu tentang kunci-kunci rezeki, maka perlu kita ketahui ada amalan lain yang bila dilakukan seorang hamba akan memudahkan datangnya rezekinya. Amalan tersebut adalah berinfak fi sabilillah.

Siapa yang menginfakkan atau membelanjakan hartanya dalam kebaikan, Allah l akan menggantinya di dunia, dan kelak di akhirat disediakan pahala yang berlipat ganda. Allah l berfirman:

“Katakanlah (wahai Nabi), ‘Sesungguhnya Rabbku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi siapa yang dikehendaki-Nya.’ Dan apa saja yang kalian nafkahkan/infakkan maka Dia akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (Saba’: 39)

Orang yang berinfak di dunia akan beroleh ganti dan di akhirat kelak mendapatkan ganjaran dan pahala, kata Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam tafsirnya. (Tafsir Ibni Katsir, 6/331)

Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir As-Sa’di t mengatakan, “Dan apa saja yang kalian nafkahkan/infakkan, berupa nafkah yang wajib ataupun mustahab/sunnah, untuk kerabat, tetangga, orang miskin, anak yatim, atau selainnya, maka Dia l akan menggantinya. Karenanya, janganlah kalian menyangka berinfak itu mengurangi rezeki. Bahkan Allah l –Dzat yang melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendaki-Nya– berjanji akan memberi ganti kepada orang yang berinfak. Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya, maka mintalah rezeki dari-Nya dan berupayalah menempuh sebab-sebab yang diperintahkan-Nya kepada kalian.” (Taisir Al-Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan)

Ayat lain yang bisa kita bawakan sebagai bukti bahwa orang yang berinfak akan murah rezekinya adalah firman Allah l:

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran dan menyuruh kalian berbuat fahisyah (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dari-Nya untuk kalian dan karunia-Nya.” (Al-Baqarah: 268)

Ibnu ‘Abbas c berkata tentang ayat di atas, “Dua dari Allah l dan dua dari setan. Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran, ia berkata, ‘Jangan engkau infakkan hartamu dan tahanlah karena engkau membutuhkannya.’ Dan ia menyuruh kalian berbuat fahisyah (kikir). Sementara Allah l, Dia menjanjikan ampunan dari-Nya untuk kalian, dari maksiat-maksiat yang dilakukan, dan berjanji memberikan karunia-Nya berupa kelebihan/keutamaan dalam rezeki.” (Tafsir Ath-Thabari, 3/88, atsar no. 6167)

Dalam Tafsir Al-Khazin1 (1/204) dinyatakan bahwa ampunan merupakan isyarat yang menunjukkan pada kemanfaatan akhirat, sedangkan karunia/keutamaan menunjukkan kemanfaatan dunia dan rezeki berikut ganti yang diperoleh.

Al-Qadhi Ibnu ‘Athiyyah2 t berkata dalam tafsirnya, “Maghfirah atau ampunan adalah ditutup/ dihapusnya kesalahan para hamba-Nya di dunia dan di akhirat. Sedangkan Al-Fadhl atau karunia/keutamaan adalah rezeki di dunia, beroleh keluasan di dalamnya dan mendapatkan nikmat di akhirat.” (Al-Muharrarul Wajiz fi Tafsir Al-Kitabil ‘Aziz, 1/364)

Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menyebutkan beberapa faedah dari ayat di atas. Di antaranya:

1. Setan dapat memberikan tipu daya guna menyesatkan manusia, ditunjukkan dalam firman-Nya:

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kalian dengan kefakiran.” (Al-Baqarah: 268)

2. Setan dapat memengaruhi manusia untuk berani berbuat sesuatu atau menghalangi untuk berbuat sesuatu. Misalnya, setan menyuruhnya berzina dan menghias-hiasi perbuatan zina tersebut hingga akhirnya ia berani berzina. Di arah lain, setan menyuruhnya kikir dan menakut-nakutinya dengan kemiskinan bila ia menginfakkan hartanya sehingga ia pun enggan berinfak.

3. Tidak ada yang membuka pintu-pintu kesialan kecuali para setan. Setan ini membuka untukmu pintu kesialan, ia berkata, “Bila hari ini engkau berinfak besok engkau akan jadi orang miskin, karenanya jangan berinfak.”

4. Kikir termasuk perbuatan fahisyah.

5. Siapa yang menyuruh orang lain untuk menahan harta agar tidak diinfakkan di jalan kebaikan, berarti ia serupa dengan setan.

6. Kabar gembira bagi orang yang berinfak, ia akan beroleh ampunan dan tambahan harta.

Bila ada yang bertanya, “Bagaimana bentuk tambahan yang diperoleh orang yang berinfak, sementara kenyataannya bila dikeluarkan infak maka harta akan berkurang? Seperti seseorang yang sebelumnya memiliki sepuluh dirham, lalu diinfakkannya satu dirham, niscaya hartanya tinggal sembilan dirham. Lalu dari sisi mana tambahannya?

Jawabannya: Tambahan pahala di akhirat kelak tentunya jelas, karena satu kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipat sampai 700 kali, bahkan berlipat ganda. Adapun tambahan di dunia, maka dari beberapa sisi:

Pertama: Terkadang Allah l membukakan satu pintu rezeki bagi seseorang yang sebelumnya tidak terpikirkan di benaknya, sehingga bertambahlah hartanya.

Kedua: Allah l menjaga harta seseorang dari rusak/hilang dan semisalnya. Seandainya si pemilik tidak bersedekah niscaya harta itu akan binasa, maka dengan berinfak akan melindungi harta dari kebinasaan.

Ketiga: Diperolehnya barakah dalam berinfak di mana dengan berinfak walau sedikit akan didapatkan buah yang sangat besar. Sementara bila dicabut barakah pada harta niscaya akan dihambur-hamburkan dalam perkara yang tidak bermanfaat atau bahkan memudaratkan si pemiliknya. (Tafsir Al-Qur’anil Karim, 3/347-349)

Abu Hurairah z menyampaikan hadits dari Rasulullah n:

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ

Allah l berfirman, “Berinfaklah wahai anak Adam, niscaya Aku akan memberi infak kepadamu.” (HR. Al-Bukhari no. 5352 dan Muslim no. 2305)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah n bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُوْلُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

Tidak ada satu hari pun di mana para hamba berpagi hari di dalamnya melainkan ada dua malaikat yang turun, salah satunya berkata, “Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang berinfak.” Yang lain mengatakan, “Ya Allah, berilah kebangkrutan kepada orang yang kikir.” (HR. Al-Bukhari no. 1442 dan Muslim no. 2333)

Sementara kita tahu doanya malaikat mustajab di sisi Allah l karena mereka tidaklah mendoakan seseorang melainkan dengan izin Allah l. Allah l berfirman:

“Dan mereka (para malaikat itu) tidaklah memberikan syafaat (untuk seorang pun) kecuali orang yang Allah ridhai dan mereka takut kepada-Nya.” (Al-Anbiya’: 28)

Al-Imam Al-­Baihaqi t meriwayatkan dari Abu Hurairah z bahwa Nabi n berkata kepada Bilalz:

أَنْفِقْ يَا بِلَالُ، وَلاَ تَخْشَ مِنْ ذِيْ العَرْشِ إِقْلاَلاً

“Berinfaklah wahai Bilal! Jangan engkau khawatir menjadi fakir dan tidak memiliki apa-apa dari Dzat Pemilik Arsy.” (diriwayatkan dalam Syu’abul Iman, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t karena banyak jalan/jalurnya. Lihat Al-Misykat hadits no. 1885)

Alangkah kuatnya jaminan yang diberikan untuk orang yang berinfak! Apakah mungkin Dzat yang memiliki Arsy, Allah l, akan menghinakan orang yang berinfak di jalan-Nya sehingga akhirnya orang itu meninggal dalam keadaan fakir, tidak memiliki apa-apa? Tentu jawabnya tidak.

Asy-Syaikh Al-Mulla Ali Al-Qari t menjelaskan hadits di atas, “Apakah engkau takut Dzat yang mengatur perkara dari langit ke bumi akan menyia-nyiakan orang yang semisalmu? Maksudnya, apa engkau takut Dzat yang rahmat-Nya meliputi seluruh penduduk langit dan bumi, yang mukmin maupun yang kafir, burung-burung ataupun hewan melata, akan mengecewakan harapanmu dan menyedikitkan rezekimu?” (Mirqatul Mafatih, 4/389)

Nabi n pernah berkisah:

بَيْنَا رَجُلٌ بِفَلاَةٍ مِنَ الْأَرْضِ، فَسَمِعَ صَوْتًا فِي سَحَابَةٍ: اسْقِ حَدِيْقَةَ فُلاَنٍ. فَتَنَحَّى ذَلِكَ السَّحَابُ، فَأَفْرَغَ مَاءَهُ فِي حَرَّةٍ، فَإِذَا شَرْجَةٌ مِنْ تِلْكَ الشِّرَاجِ قَدِ اسْتَوْعَبَتْ ذَلِكَ الْمَاءَ كُلَّهُ. فَتَتَبَّعَ الْمَاءَ، فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي حَدِيْقَتِهِ يُحَوِّلُ الْمَاءَ بِمِسْحَاتِهِ. فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ، مَا اسْمُكَ؟ قَالَ: فُلاَنٌ؛ لِلْاِسْمِ الَّذِي سَمِعَ فِي السَّحَابَةِ. فَقَالَ لَهُ: يَا عَبْدَ اللهِ، لِمَ تَسْأَلُنِي عَنِ اسْمِي؟ فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ صَوْتًا فِي السَّحاَبِ الَّذي هَذا مَاؤُهُ، يَقُوْلُ: اسْقِ حَدِيْقَةَ فُلاَنٍ؛ لِاسْمِكَ، فَمَا تَصْنَعُ فِيْهَا؟ قَالَ: أَمَّا إِذَا قُلْتَ هَذَا، فَإِنِّي أَنْظُرُ إِلَى ماَ يَخْرُجُ مِنْهَا، فَأَتَصَدَّقَ بِثُلُثِهِ، وَآكُلُ أَنَا وَعِيَالِي ثُلُثًا، وَأَرُدُّ فِيْهَا ثُلُثَهُ -وَفِي رِوَايَةٍ: وَأَجْعَلُ ثُلُثَهُ فِي الْمَسَاكِيْنِ وَالسَّائِلِْينَ وَابْنِ السَّبِيْلِ

Tatkala seorang lelaki berada di padang yang luas, ia mendengar sebuah suara di awan, “Airilah kebun si Fulan.” Maka awan tersebut mengarah ke suatu tempat, lalu ia mencurahkan airnya di tanah yang bercampur bebatuan hitam. Ternyata satu selokan dari beberapa selokan yang ada telah menampung air hujan itu seluruhnya. Lelaki tersebut mengikuti aliran air, pada akhirnya membawanya bertemu dengan seorang lelaki yang berdiri di kebunnya sedang memindahkan air dengan cangkulnya. Ia pun bertanya, “Wahai hamba Allah! Siapakah namamu?”

“Fulan,” jawabnya, dengan menyebut nama yang didengarnya di awan. “Wahai hamba Allah! Mengapa engkau menanyakan namaku?” si pemilik kebun balik bertanya. “Aku mendengar sebuah suara di awan yang mencurahkan airnya ke kebunmu ini, awan itu berkata, ‘Airilah kebun si Fulan.’ Dengan menyebut namamu. Maka aku ingin tahu apa yang engkau lakukan pada kebunmu ini sehingga engkau mendapat pengkhususan demikian,” katanya meminta penjelasan. Si pemilik kebun menjelaskan, “Adapun bila memang seperti yang engkau katakan, maka aku biasa melihat hasil panen kebunku ini untuk aku sedekahkan sepertiganya. Sepertiga lagi untuk aku makan berikut keluargaku, dan sepertiga yang tersisa aku kembalikan ke kebunku (untuk keperluan menanam kembali).”

Dalam satu riwayat, “Aku berikan sepertiganya untuk orang-orang miskin, peminta-minta, dan ibnu sabil.” (HR. Muslim no. 7398)

Al-Imam An-Nawawi t berkata, “Hadits ini menunjukkan keutamaan sedekah dan berbuat baik kepada orang miskin dan ibnu sabil. Sebagaimana hadits ini menunjukkan keutamaan seseorang yang makan dari hasil usaha/ keringatnya sendiri dan keutamaan memberi infak kepada keluarga.” (Al-Minhaj, 18/315)

 

Infak untuk Penuntut Ilmu Syar’i

Anas bin Malik z berkata:

كَانَ أَخَوَانِ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ n، فَكَانَ أَحَدُهُمَا يَأْتِي النَّبِيَّ n -وَفِي رِوَايَةٍ: يَحْضُرُ حَدِيْثَ النَّبِيِّ n وَمَجْلِسَهُ- وَالْآخَرُ يَحْتَرِفُ. فَشَكَا الْمُحْتَرِفُ أَخَاهُ إِلَى النَّبِيَّ n (فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ هَذَا أَخِيْ لاَ يُعِيْنُنِيْ بِشَيْءٍ) فَقَالَ: لَعَلَّكَ تُرْزَقُ بِهِ

Ada dua orang bersaudara di masa Rasulullah n yang satu biasa mendatangi Nabi n (dalam satu riwayat: ia menghadiri hadits Nabi n dan mejelis beliau) sedangkan yang satunya lagi sibuk bekerja. Suatu ketika yang bekerja mengadukan saudaranya kepada Nabi n. (Ia berkata, “Wahai Rasulullah, saudaraku ini tidak membantuku sedikitpun untuk mencari penghidupan.”) Nabi n malah mengatakan, “Mungkin kamu diberi rezeki karena dia.” (HR. At-Tirmidzi no. 2345, dishahihkan dalam Al-Misykat no. 5308 dan Ash Shahihah no. 2769)

Al-Mubarakfuri menjelaskan hadits ini, “Mungkin kamu diberi rezeki karena dia.” Maksudnya aku berharap dan aku khawatir kamu diberi rezeki justru karena barakah saudaramu itu karena dia diberi rezeki dari hasil pekerjaanmu. Oleh sebab itu kamu jangan merasa telah memberi anugerah kepadanya dengan perbuatanmu.” (Tuhfatul Ahwadzi, Kitabuz Zuhd, bab At-Tawakkul ‘alallah)

Hadits di atas menunjukkan bahwa memberi infak kepada penuntut ilmu syar’i yang mempelajari agama Allah l, belajar Al-Qur’an dan hadits-hadits nabawi, juga termasuk kunci rezeki.

 

Berbuat Baik Kepada Orang-Orang Lemah

Mush’ab ibnu Sa’d ibnu Abi Waqqash menceritakan bahwa ayahnya, Sa’d z merasa punya kelebihan/keutamaan dibanding para sahabat yang lain, maka Nabi n mengingatkan:

هَلْ تُنْصَرُوْنَ وَتُرْزَقُوْنَ إِلاَّ بِضُعَفَائِكُمْ

“Tidakkah kalian ditolong terhadap musuh-musuh kalian, dan tidakkah kalian diberi rezeki melainkan karena orang-orang lemah kalian?” (HR. Al-Bukhari no. 2896)

Al-Muhallab berkata sebagaimana dinukil dalam Fathul Bari (6/109), “Nabi n menginginkan dengan ucapan tersebut untuk mendorong Sa’d agar tawadhu’, tidak menyombongkan diri di hadapan orang lain dan tidak meremehkan seorang muslim dalam seluruh keadaan.”

Dengan demikian, siapa yang ingin mendapatkan pertolongan Allah l dan beroleh rezeki dari-Nya, hendaklah ia berbuat baik kepada orang-orang lemah dari kalangan orang fakir, miskin, anak yatim, janda dan semisalnya. Mengapa pertolongan Allah l diberikan lewat mereka? Diterangkan Al-Mundziri bahwa ibadah orang-orang lemah dan doa mereka lebih ikhlas, karena hati mereka bersih dari ketergantungan terhadap perhiasan dunia. Juga karena keinginan mereka itu satu, makanya doa mereka dikabulkan dan amalan mereka bersih. (‘Aunul Ma’bud, kitabul Jihad, bab fil Intishar bi Radzlil Khail wadh Dha’fah)

Nabi yang mulia n pernah menyatakan bahwa ridha beliau didapatkan dengan berbuat ihsan/kebaikan kepada orang-orang lemah. Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim meriwayatkan dari Abud Darda z, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah n bersabda:

أَبْغُوْنِي الضُّعَفَاءَ،  فَإِنَّمَا  تُرْزَقُوْنَ  وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ

“Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang lemah kalian, karena kalian diberi rezeki dan ditolong disebabkan orang-orang lemah kalian.” (Dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Ash-Shahihah no. 779)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


1 Nama lainnya Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil, karya ‘Alauddin ibnu Ali ibni Muhammmad ibni Ibrahim Al-Baghdadi, semoga Allah l merahmati beliau, yang masyhur dengan sebutan Al-Khazin, wafat tahun 725 H.
2 Beliau adalah Al-Qadhi Abu Muhammad Abdul Haq ibnu Ghalib ibnu Athiyyah Al-Andalusi t, wafat tahun 546 H.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Sabtu,19 November 2011/22 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly