Bukti-Bukti Pendukung Untuk Mengetahui Adanya Pemalsuan Dalam Sebuah Hadits

Bukti-bukti pendukung, atau yang dikenal dengan Qara’in yang dengannya bisa diketahui kepalsuan sebuah hadits ada dua bagian:

Bagian pertama: Qara’in (bukti-bukti pendukung) yang ada pada seorang perawi:

Yang paling kuat adalah pengakuan dari perawi itu sendiri kalau dia telah memalsukan sebuah hadits. Contohnya adalah Abu ‘Ishmah Nuh bin Abi Maryam, dia ditanya tentang hadits yang dia riwayatkan tentang Fadha’il Qur’an Suratan Suratan (keutamaan tiap-tiap surat dalam al-Qur’an) dan tentang alasannya memalsukan hadits tersebut, maka dia mengakui bahwa ia telah memalsukan hadits-hadits tersebut dan tujuannya adalah untuk memotivasi manusia agar membaca al-Qur’an, dan dia berkata:” Sungguh aku telah melihat orang-orang berpaling ke ilmu Fiqih Abu Hanifah, dan al-Maghazi (kitab tentang peperangan) karya Ibnu Ishaq, maka aku memalsukan hadits ini untuk memotivasi mereka kepada al-Qur’an.” (Al-Maudhu’aat Ibnul Jauzi 1/23)

Qarinah Yang Disamakan Kedudukannya Dengan Pengakuan

Artinya bahwa bukti-bukti pendukung berikut ini sekalipun tidak tegas berisi pengakuan bahwa pelakuanya telah melakukan hadits, namun ia disamakan hukumnya dengan pengakuan seorang perawi kalau dia telah memalsukan sebuah hadits. Di antara bukti-bukti pendukung tersebut adalah sebagai berikut:

1. Klaim (pengakuan) seorang perawi bahwa dia telah mendengar sebuah hadits dari seorang syaikh (guru) yang telah meninggal sebelum perawi tersebut dilahirkan.

Contohnya adalah apa yang terjadi pada Abu Hudzaifah al-Bukhari –Ishaq bin Bisyr- dia mengklaim bahwa dia meriwayatkan hadits dari ‘Abdullah bin Thawus rahimahullah. Lalu hal itu diceritakan kepada Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah, maka dia (Suifyan) berkata kepada mereka:” Tanyalah dia (Abu Hudzaifah) kapan dia dilahirkan.” Maka mereka pun bertanya kepadanya (Abu Hudzaifah) kapan dia dilahirkan. Lalu Sufyan rahimahullah berkata:” Dia telah berdusta, karena ‘Abdullah bin Thawus wafat dua tahun sebelum kelahiran Abu Hudzaifah.”

Maka tarikh (penanggalan) telah mengungkap untuk kita kedustaan perawi tersebut. Oleh sebab itu para Ulama mengatakan:” Ketika para perawi menggunakan kebohongan, maka kami menggunakan tarikh.” Maka dalam kasus ini seorang perawi tidak mengakui kalau dia berdusta, akan tetapi hal ini benar-benar seperti pengakuan.

2. Klaim seorang perawi bahwa dia mendengar (hadits) dari seorang syaikh, namun ketika dicek dan diteliti ternyata terlihat kedustaannya.

Contohnya adalah apa yang terjadi pada imam Ibnu Hibban rahimahullah dengan Abul ‘Abbas al-Azhari Ahmad bin al-Azhar. Sesunguhnya Ahmad ini mengklaim bahwa dia memiliki riwayat hadits (yang dia dengar) dari beberapa orang syaikh, maka imam Ibnu Hibban rahimahullah pun bertanya kepadanya tentang salah seorang syaikh tersebut, kapan dia (Ahmad) bertemu dengannya. Lalu dia pun mengaku kalau dia bertemu dengannya tahun 246 di Mekah –yaitu pada musim haji- Maka Ibnu Hibban rahimahullah berkata:” Sesungguhnya fulan telah mengabariku bahwasanya dia berkata:’ Aku dahulu melakukan haji bersama fulan –yaitu syaikh yang diklaim oleh Ahmad al-Azhari- lalu ketika kami berada di Juhfah (miqat jama’ah haji dari Syam) syaikh tersebut sakit, kemudian orang-orang membawanya ke Mina. Ketika di Mina orang-orang tersebut berusaha menghalangi manusia masuk menemui syaikh. Lalu mereka pun mendesak untuk masuk (menemui syaikh), lalu mereka pun masuk. Dan tidaklah syaikh menyampaikan hadits kepada mereka melainkan satu hadits saja, lalu syaikh tersebut meninggal.”

Lalu Ibnu Hibban rahimahullah bertanya kepada al-Azhari karena dia (al-Azhari) meriwayatkan hadits yang banyak dari syaikh tersebut, beliau (Ibnu Hibban rahimahullah) berkata:” Semuah hadits ini engkau dengar dari fulan (syaikh tersebut)?” Dia menjawab:” Iya” Ibnu Hibban berkata:” Dan semuanya engkau dengar pada tahun 246 pada musim haji?” Dia menjawab:” Iya” Lalu beliau (Ibnu Hibban) menyebutkan kisah ini (kisah wafatnya syaikh tersebut).

Ibnu Hibban rahimahullah berkata:” Maka tinggalah al-Azhari memandangiku dengan kebingungan, dia telah mengetahui kalau Ibnu Hibban rahimahullah mengetahui kedustaannya.”

Kemudian dia (al-Azhari) mulai menyebutkan hadits dari perawi lain, maka Ibnu HIbban berkata kepadanya:” Kapan engaku bertemu dengannya (dengan perawi)?” Dia menjawab:” Pada tahun 246 H.” Ibnu Hibban rahimahullah berkata:” Sesungguhnya fulan mengabarkan kepadaku bahwa perawi ini wafat tahun 232 H.” Maka ini menunjukkan dustanya perawi tersebut.

3. Seorang perawi meriwayatkan dari seorang syaikh, lalu ketika si perawi ini diminta untuk menyebutkan sifat syaikh tersebut terlihat jelaslah kedustaannya, atau diminta untuk menyebutkan tempat dia mendengar hadits dari syaikh tersebut terlihat jelaslah kedustaannya.

Contohnya adalah bahwasanya salah seorang di antara mereka (para pendusta dalam hadits Nabi) mengaku meriwayatkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, lalu dia diminta menyebutkan sifat beliau radhiyallahu ‘anha. Kemudian dia pun menyebutkan sifatnya, bahwasanya beliau putih, padahal sifat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tidak demikian, dan tidak mungkin beliau memperlihatkan dirinya di hadapan laki-laki.” Kemudian mereka (para ulama) berkata kepadanya:” Di mana kamu bertemu beliau radhiyallahu ‘anha?” Dia menjawab:” Aku bertemu beliau di Wasith (nama daerah).”

Maka ini menunjukkan kedustaan perawi tersebut, karena ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha wafat tahun 70 H, sedangkan kota Wasith baru dibangun pada tahun 80 H pada zaman al-Hajjaj.

4. Seorang perawi meriwayatkan suatu kisah yang menunjukkan kedustaannya.

Contohnya adalah bahwasanya salah seorang di antara mereka (para pendusta) mengaku melewati pasar, dan ternyata dia mendapati sebuah tempat air di sebuah rumah yang tinggi, dia berkata:” Lalu aku mengambil ketapel, kemudian aku melempar tempat air tersebut dengannya hingga melubanginya. Lalu mulailah air tersebut mengucur ke mulutku sampai aku kenyang. Kemudian aku mengambil ketapel lagi dan aku lempar tempat air itu dengannya, kemudian tertutuplah lubang yang ada pada tempat air tersebut.” Dan tidak diragukan lagi bahwa kisah ini sangat jelas kebohongannya.

Contoh yang lain: Salah seorang di antara mereka mendengar perdebatan di antara para ulama Ahli hadits tentang masalah apakah al-Hasan al-Bashri rahimahullah mendengar hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anha atau tidak. Maka orang ini membuat sanad palsu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:” Sesungguhnya al-Hasan mendengar (hadits) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.”

(Sumber:شرح نخبة الفكر karya Syaikh Dr. Sa’d bin ‘Abdullah Alu Humaid, hal 76-79. Diterjemahkan dengan sedikit tambahan dan diposting oleh Abu Yusuf Sujono)

———-
Sumber: Al-Sofwa – www.alsofwa.com – Jumat, 3 Mei 2013/22 Jumadil Akhir 1434H

Print Friendly