ISLAM ANTITRADISI?

Ketika terbentuk sebuah komunitas masyarakat, tumbuh pula adat atau tradisi yang mengiringinya. Tradisi ini kemudian menjadi ciri khas yang membedakan dengan masyarakat lainnya. Ia tidak sekadar berkembang dengan nilai-nilai yang melekat pada dirinya sendiri, namun juga acap dipengaruhi nilai-nilai dari luar, baik atau buruk.
Maka sebagai seorang muslim, semestinya kita melihat tradisi, adat, ataupun budaya sebagai sesuatu yang harus diselaraskan dengan nilai-nilai keimanan. Ia ibarat buah yang mesti kita cuci dan perlu kita kupas terlebih dahulu.
Di tengah kita, banyak tradisi yang mengandung unsur kesyirikan, seperti “sedekah” laut atau “sedekah” bumi yang dipersembahkan untuk selain Allah l. Melekat pula pada tradisi-tradisi yang tumbuh tersebut, keyakinan terhadap benda-benda magis, kekeramatan tanggal/bulan tertentu atau tempat dan kuburan tertentu. Tumbuh pula budaya yang kental dengan kemaksiatan, seperti tari-tarian terutama yang dilakoni oleh para penari wanita—yang mempertontonkan aurat atau mengumbar erotisme—, pesta miras ketika hendak hajatan, dan sebagainya.
Maka dari itu, sebagai insan beriman, tidak bisa kita bersikap membebek, baik ikut-ikutan dengan alasan segan (ewuh-pekewuh) maupun gebyah-uyah atau menyamaratakan bahwa semua tradisi adalah warisan budaya yang mesti kita jaga. Jangan sampai berdalih nguri-nguri (melestarikan) budaya ketimuran, namun pada praktiknya kita justru menghidupkan tradisi-tradisi kesyirikan atau kemaksiatan. Jangan pula kita menggampangkan, dengan mempraktikkan tradisi yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman, lantas membumbuinya dengan bacaan Al-Qur’an atau “shalawatan” hanya agar terlihat Islami.
Di sini, agamalah yang semestinya menjadi tolok ukur atau filter, bukan agama yang kita sesuaikan dengan tradisi yang ada, atau yang lebih parah dari itu, agama justru menjadi bungkus kejelekan. Kala Islam didakwahkan, kaum Quraisy ataupun bangsa Arab, juga mempunyai tradisi. Namun ketika mereka ber-Islam, segala adat-istiadat yang dimiliki, mereka tundukkan di hadapan Islam. Yang mengandung kesyirikan ataupun kejahiliahan mereka kubur dalam-dalam.
Ini tidak berarti bahwa Islam adalah agama yang antitradisi. Gotong-royong, saling memberi dengan tetangga, musyawarah, silaturahmi, memuliakan tamu, menghormati orang tua, dan tradisi-tradisi yang tidak bertentangan dengan syariat, bahkan selaras dengannya, tetap dijunjung tinggi serta mendapat tempat di dalam agama ini. Hanya saja, semua itu tetap dilihat pada tujuan dan caranya. Gotong-royong untuk mendukung kemungkaran, misalnya, tentu saja hal ini terlarang.
Yang disayangkan, seiring dengan derasnya pengaruh jelek terutama yang bersumber dari Barat, membuat tradisi-tradisi kebaikan tersebut menjadi luntur. Keramahtamahan yang konon menjadi ciri khas bangsa Indonesia kini mulai hilang. Bangsa ini menjadi demikian anarkis, suka merusak, dan suka menzalimi orang lain. Rasa malu yang dulu menjadi kebanggaan orang-orang Timur sekarang nyaris tidak ada. Para wanitanya sudah tidak canggung untuk berpakaian yang menampakkan aurat di tempat-tempat umum, demikian juga laki-lakinya. Padahal itu semua, cepat atau lambat, diakui ataupun tidak, akan memicu kerusakan yang lebih luas.
Sedemikian lekatnya kaum muslimin dengan tradisi yang jelek (baca: kerusakan) ini membuat kita berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahi mungkar supaya kaum muslimin bisa lepas dari cengkraman tradisi buruk tersebut. Tidak malah membiarkan, dengan berdalih bahwa dakwah ”melawan” tradisi (jelek) akan memecah-belah umat. Mereka yang suka menjual jargon ”ukhuwah” ini tampaknya lupa—atau pura-pura lupa—dengan dakwah Rasulullah n yang juga memerangi tradisi kesyirikan di Jazirah Arab.
Selama dakwah itu disampaikan dengan hikmah, terlebih bisa mencari solusi yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah n, tak perlu ada kekhawatiran bahwa dakwah akan berbuah kesia-siaan. Hidayah taufik ada di tangan Allah l. Jika hari ini masyarakat belum bisa meninggalkan kebiasaan jeleknya, kita berharap di lain waktu Allah l memberikan hidayah kepada mereka dengan dakwah yang kita sampaikan.
Maka, jika kita bisa memahami bahwa sebaik-baik tradisi adalah tradisi yang disirami dengan nilai-nilai keimanan, tak perlu kita menuduh bahwa Islam antitradisi.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Selasa,24 April 2012/2 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly