Jalan Menuju Surga

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.)

Surga, itulah puncak tujuan dan harapan yang tertanam dalam sanubari setiap mukmin. Harapan meraih surga itu pula yang menjadi mesin penggerak generasi awal umat Islam dalam menyambut ajakan Allah l dan Rasul-Nya, membela agama-Nya, dan bersegera meraih keridhaan-Nya. Dengan surga, Rasulullah n membangkitkan ruh juang pasukannya ketika Perang Badr. Nabi n bersabda di tengah-tengah pasukannya, “Majulah kalian menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi!” (HR. Muslim)
Di sini, Rasulullah n tidaklah menjanjikan kedudukan atau harta. Yang beliau janjikan adalah surga. Dengan penyemangat ini, pasukan Nabi n seolah-olah telah melihat surga terpampang di depan mata sehingga kehidupan dunia menjadi tidak berarti di mata mereka. Di kala itu, ada seorang anggota pasukan yang melemparkan kurma yang masih tersisa di tangannya dan maju berperang hingga terbunuh. Orang ini menganggap terlalu lama untuk masuk surga jika harus menghabiskan kurma yang ada di tangannya.

Sebuah Renungan
Seorang mukmin yakin bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Dia yakin pula bahwa perjalanan masih panjang karena masih ada dua jenjang kehidupan lagi setelah ini, yaitu kehidupan di alam kubur dan kehidupan akhirat yang kekal abadi. Setiap mukmin yang membaca ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi n yang menerangkan tentang surga dengan beragam kenikmatannya, niscaya akan ada harapan untuk mendapatkannya. Tentu ini merupakan cita-cita mulia dan akan menjadi kenyataan, dengan izin Allah l, jika diiringi dengan amal usaha. Nabi n bersabda:
مَا رَأَيْتُ مِثْلَ النَّارِ نَامَ هَارِبُهَا وَلَا مِثْلَ الْجَنَّةِ نَامَ طَالِبُهَا
“Aku tidaklah melihat seperti api neraka, orang yang lari darinya itu (malah) tidur, dan aku juga tidak melihat seperti surga orang yang mencarinya (malah) tidur.” (HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 953)
Memang, untuk menggapai sesuatu yang mulia dibutuhkan upaya maksimal dan menelusuri jalannya, bukan hanya berangan-angan. Allah l berfirman ketika menyebutkan nikmat yang dianugerahkan kepada penduduk surga:
“Untuk kemenangan serupa ini hendaklah berusaha orang-orang yang bekerja.” (ash-Shaffat: 61)
Al-Imam Muslim t meriwayatkan hadits dari sahabat Abu Ayyub z bahwa ia berkata, “Seorang lelaki datang kepada Rasulullah n dan berkata, ‘Tunjukilah aku suatu amalan yang akan aku amalkan, dengannya aku akan dekat kepada surga dan jauh dari api neraka!’
Nabi n bersabda:
تَعْبُدُ اللهَ لَا تُشْرِكُ بِه شَيْئًا، وَتُقِيْمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِيْ الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ
“Engkau menyembah Allah l, tidak mempersekutukan apa pun dengan-Nya, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, dan menyambung silaturahmi.”
Tatkala orang itu pergi, Rasulullah n bersabda, ‘Jika orang itu berpegang teguh dengan apa yang diperintahkan, niscaya ia masuk surga’.” (Shahih Muslim, “Kitabul Iman” no. 4)
Saudaraku, lihatlah bagaimana surga yang tidaklah diraih melainkan bila mengikhlaskan peribadahan hanya untuk Dzat yang mencipta alam semesta dan mengamalkan perintah agama. Lihat pula bagaimana generasi awal umat ini, perkara yang menyibukkan pikiran mereka adalah upaya meraih surga Allah l dan menjauh dari azab-Nya. Mereka datang meminta bimbingan dan arahan kepada Nabi n tentang jalan yang mengantarkan kepada cita-cita yang mulia ini.
Masih adakah kiranya orang di zaman sekarang yang meminta bimbingan kepada ulama dan nasihat mereka? Manusia kebanyakan lebih memikirkan bagaimana memakmurkan dunianya, walaupun harus binasa akhiratnya. Allah l berfirman:
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (ar-Rum: 7)

Akhlak yang Mengantarkan Seseorang Menuju Surga
Secara garis besar, jalan yang menyampaikan seseorang kepada surga—tentunya setelah rahmat Allah l—adalah taat kepada Allah l dan Rasul-Nya, yaitu dengan memercayai segala berita yang datang dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, menjalankan perintah-perintah yang ada pada keduanya, serta menjauhi larangannya. Allah l berfirman:
“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” (an-Nisa’: 13)
Rasulullah n bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ الله، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Semua umatku masuk ke dalam surga kecuali orang yang menolak.” Mereka (para sahabat) berkata, “Siapa yang menolak, wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda, “Barang siapa taat kepadaku, ia masuk ke dalam surga. Barang siapa bermaksiat kepadaku (menentangku), sungguh ia telah menolak (masuk surga).” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah z)
Di antara amalan terbesar yang mengantarkan seorang kepada negeri kedamaian adalah menuntut ilmu yang bermanfaat, yaitu mempelajari al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi n serta mengamalkan isi kandungannya. Nabi n bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya dengan itu jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Tidak diragukan bahwa akhlak mulia termasuk faktor utama yang menyampaikan seseorang kepada surga. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Nabi n ketika ditanya tentang hal yang banyak memasukkan seorang ke dalam surga. Beliau n menjawab:
التَّقْوَى وَحُسْنُ الْخُلُقِ
“Takwa dan akhlak yang mulia.” (Dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah no. 3443)
Di antara akhlak mulia tersebut adalah sebagai berikut.

Silaturahmi
Silaturahmi diwujudkan dengan berbuat baik kepada karib kerabat, baik dalam bentuk perbuatan, ucapan, harta, maupun yang lainnya. Tentunya, semakin dekat hubungan kekerabatan, semakin besar pula kewajiban untuk berbuat baik kepadanya.

Menebarkan Salam
Nabi n bersabda:
أَفْشِ السَّلَامَ، وَأَطْعِم ِالطَّعَامَ، وَصِلِ الْأَرْحَامَ، وَقُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، وَادْخُلِ الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
“Tebarkanlah salam, berilah (orang) makanan, sambunglah karib kerabat (silaturahmi), berdirilah (shalat) di malam hari ketika manusia tidur, dan masuklah kamu ke dalam surga dengan selamat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim dari Abu Hurairah z. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih al-Jami’)
Menebarkan salam akan mewujudkan kecintaan di tengah-tengah umat sehingga persatuan akan lebih erat dan gesekan-gesekan akan berkurang.

Jujur dalam Ucapan dan Perbuatan
Nabi n bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِّرِ وَإِنَّ الْبِّرَ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Hendaklah kalian jujur, karena kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan kepada surga.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu Mas’ud z)
Kejujuran termasuk pilar keselamatan dunia dan akhirat. Kejujuran juga sebagai bukti indahnya perjalanan hidup seseorang, bersihnya hati, dan kuatnya akal.

Berbuat Baik kepada Orang Lain dengan Berinfak kepada Mereka di Saat Lapang atau Sempit
Hal ini menunjukkan kecintaan seseorang terhadap saudaranya dan membuktikan kebenaran imannya. Dia tidak takut fakir dengan berinfak, bahkan dia berharap pahala dan berkah pada hartanya.

Memaafkan Kesalahan Orang Lain dan Mengendalikan Diri Ketika Marah
Orang yang memiliki sifat seperti ini, dialah orang kuat yang sesungguhnya. Dia akan mulia di sisi Allah l dan terhormat di mata manusia. Allah l berfirman:
“Bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Rabb mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali Imran: 133—136)
Nabi n juga bersabda, “Barang siapa menahan amarahnya padahal dia mampu melampiaskan kemarahannya, maka Allah l akan memanggil dia di hari kiamat di hadapan para makhluk sehingga Allah l memberi pilihan kepadanya bidadari (surga) yang ia inginkan.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dll. Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)

Berbakti kepada Kedua Orang Tua
Orang yang berbakti kepada kedua orang tuanya sangat besar harapannya untuk masuk ke dalam surga. Lebih-lebih jika orang tua sudah tua, lemah, dan membutuhkan bantuan anaknya. Sebaliknya, orang yang durhaka dan tidak berbakti kepada keduanya, dialah orang yang hina sebagaimana sabda Nabi n, “Terhina, terhina kemudian terhina.”
Beliau ditanya, “Siapa, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Orang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya dalam keadaan tua renta, lalu dia tidak masuk ke dalam surga.” (HR. Muslim)
Al-Imam an-Nawawi t berkata, “Dalam hadits ini ada anjuran untuk berbakti kepada kedua orang tua dan penjelasan tentang besarnya pahala amalan ini. Berbakti adalah berbuat baik kepada keduanya di saat sudah tua dan lemah dengan memberikan pelayanan, nafkah, atau hal lainnya yang menyebabkan seseorang masuk surga. Oleh karena itu, barang siapa menyia-nyiakan (kesempatan) untuk berbuat baik berarti telah luput darinya (sebab) masuk surga sehingga Allah l menghinakannya.” (Syarh Shahih al-Adab 1/38)

Mengasuh dan Menyantuni Anak Yatim
Nabi n bersabda sebagaimana disebutkan oleh sahabat Sahl bin Sa’d z:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيْم فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا-وَقَالَ بِإِصْبِعَيْهِ السَّبَّابَةَ وَالْوُسْطَى
“Saya dengan pengasuh anak yatim di surga seperti ini.” Nabi n mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. al-Bukhari dalam Kitabul Adab)
Anak yatim adalah anak yang ditinggal mati ayahnya dalam keadaan belum baligh. Dengan mengasuh, menyantuni, dan berbuat baik kepada anak yatim, seseorang telah memberikan kebahagiaan dan kasih sayang kepada anak yang sangat merasakan kehilangan kasih sayang orang tuanya. Dengan demikian, kesedihan hatinya terobati dan jiwanya menjadi besar.

Menyingkirkan Gangguan dari Jalan
Nabi n bersabda:
مَرَّ رَجُلٌ بِغُصْنِ شَجَرَةٍ عَلَى ظَهْرِ طَرِيْقٍ فَقَالَ: وَاللهِ لَأُنَحِّيَنَّ هَذَا عَنِ الْمُسْلِمِيْنَ، لَا يُؤْذِيْهِمْ. فَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ
Seorang lelaki melewati dahan pohon yang ada di tengah jalan lalu berkata, “Demi Allah, aku akan singkirkan dahan ini dari (jalan) kaum muslimin supaya tidak mengganggu mereka.” Lalu orang tersebut dimasukkan (oleh Allah) ke dalam surga. (HR. Muslim)
Lihatlah wahai saudaraku! Karena kecintaannya terhadap kaum muslimin, dengan tulus ia menyingkirkan dahan yang ada di jalan sehingga tidak mengganggu mereka, padahal itu hanya dahan pohon yang mungkin tidak terlalu mengganggu. Seperti inilah hendaknya kecintaan kita terhadap saudara-saudara kita.

Meninggalkan Berdebat
Berbantah-bantahan bisa menyulut api permusuhan, menyebabkan perpecahan, dan menyeret kepada kedustaan. Akan tetapi, jika kondisi menuntut untuk berdebat, hendaknya seseorang melakukannya dengan kepala dingin dan bertujuan untuk menggapai kebenaran. Tentu saja, hal ini dilakukan cara yang lemah lembut dan baik. Allah l berfirman:
ﮮ ﮯ ﮰ ﮱﯓ
“Bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125)
Namun, jika sudah keluar dari adab kesopanan, seperti berteriak-teriak di majelis, debat kusir, keras kepala, dan tidak ada itikad mencari kebenaran, hendaknya perdebatan dihentikan dan ditinggalkan.
Nabi n bersabda, “Aku menjamin dengan rumah di bagian bawah surga bagi orang yang meninggalkan berbantah-bantahan meskipun ia berada pada posisi yang benar; dan rumah di tengah-tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam bercanda; dan dengan rumah bagian atas surga bagi yang baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud dan dinyatakan sahih oleh an-Nawawi t dalam Riyadhush Shalihin)

Mengekang Hawa Nafsu
Jika hawa nafsu telah menguasai seseorang, akan sulit baginya memandang sesuatu dengan jernih. Jika hati telah gelap dan tidak bisa memandang dengan baik, hati itu akan terhinggapi penyakit yang sangat berbahaya, yaitu mencintai kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan. Pada tahap berikutnya, kemuliaan akhlak pada dirinya akan pudar. Orang yang seperti ini hendaknya dibimbing agar kembali kepada jalan kebenaran dan disadarkan bahwa perjuangan melawan hawa nafsu, meskipun sulit, tetapi buah yang akan dipetik adalah ketenteraman hidup di dunia dan surga di akhirat. Allah l berfirman:
“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (an-Nazi’at: 40—41)
Tidak cukup kita menghiasi diri dengan perangai yang mulia. Kita juga harus membersihkan diri dari noda dan hawa nafsu agar amal kita tidak sia-sia.

Memohon Surga kepada Allah l
Di antara usaha yang tak boleh diremehkan agar meraih surga adalah berdoa. Karena surga milik Allah l, maka dari-Nya kita cari dan kepada-Nya kita bermohon. Jika permohonan keluar dari hati yang tulus, niscaya Allah l tidak akan mengecewakan harapannya. Nabi n bersabda:
مَنْ سَأَلَ اللهَ الْجَنَّةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ الْجَنَّةُ: اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ. وَمَنِ اسْتَجَارَ مِنَ النَّارِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ النَّارُ: اللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنَ النَّارِ
Barang siapa memohon surga kepada Allah tiga kali, surga akan mengatakan, “Wahai Allah, masukkanlah ia ke dalam surga!” Barang siapa meminta perlindungan (kepada Allah) dari api neraka tiga kali, neraka akan mengatakan, “Wahai Allah, lindungilah ia dari neraka.” (HR. at-Tirmidzi dll, dari sahabat Anas bin Malik z. Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 6275)
Akhirnya, hanya kepada Allah l kita memohon agar Dia menunjuki kita kepada jalan yang mengantarkan kepada surga-Nya.
Wallahu ta’ala a’lam.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,26 April 2012/4 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly