KEWAJIBAN AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifudin Zuhri, Lc.)

Khutbah Pertama:

 

Segala puji bagi Allah l yang Mahaagung dan Mahaperkasa serta yang mengetahui seluruh perbuatan hamba-hamba-Nya. Saya bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali Allah lsemata dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad n adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, para sahabatnya, dan kaum muslimin yang mengikuti petunjuknya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allahldengan senantiasa mengingat bahwa kita semua akan kembali kepada-Nya dan bahwa setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh perbuatannya ketika di dunia.

Hadirin rahimakumullah,
Sesungguhnya manusia diciptakan bukanlah untuk semata-mata hidup di dunia. Bahkan, kehidupan dunia terus berjalan di belakang kita, sementara kehidupan akhirat terus mendekat di hadapan kita. Maka dari itu, janganlah seseorang tertipu oleh gemerlapnya dunia. Jangan pula tertipu oleh banyaknya harta dan tingginya kedudukan serta mewahnya kehidupan yang dirasakannya. Janganlah seseorang merasa selamat dari terkena bencana dan azab Allah l yang bisa datang tanpa diduga, sementara ia tahu bahwa dirinya berlumur dosa. Ingatlah firman Allah l:
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang datang tidak terduga-duga)? Tidaklah yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 99)

‘Ibaadallah,
Sungguh, berbagai kemaksiatan dan kemungkaran telah tersebar di masyarakat kaum muslimin. Bahkan, sebagian kemungkaran kini telah dianggap sebagai sesuatu yang baik atau dianggap oleh sebagian orang sebagai urusan yang sepele. Lihatlah bagaimana sebagian kuburan dikeramatkan dan dipenuhi oleh para peziarah untuk beribadah di sana. Padahal kuburan bukanlah tempat ibadah. Nabi n telah melaknat Yahudi dan Nasrani karena menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat beribadah. Namun, demikianlah kenyataannya. Jadilah seseorang yang berada di atas akidah yang benar justru dianggap sebagai orang yang meninggalkan ajaran agamanya.
Demikian pula praktik perdukunan, yang pelakunya diistilahkan dengan paranormal, mendapatkan sambutan yang besar dari sebagian masyarakat sehingga ramalan dan saran-sarannya diterima. Juga perbuatan melalaikan shalat dan meninggalkan shalat berjamaah di masjid atau bahkan tidak shalat sama sekali, telah menjadi urusan yang dianggap remeh oleh sebagian orang.
Begitu pula riba, judi, minum khamr/minuman keras, dan bercampur antara laki-laki dengan perempuan yang bukan mahramnya, serta yang semisalnya, telah dianggap sebagai hal yang biasa. Bahkan, berbusana tetapi telanjang dengan pakaian yang ketat, tipis (transparan), dan tidak menutup aurat, telah dianggap sebagai sebuah model yang menunjukkan kemajuan menurut pandangan sebagian kaum wanita. Masih banyak lagi kemaksiatan lainnya, yang karena sangat sedikitnya orang-orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, kemaksiatan menjadi hal biasa. Bahkan, telah dianggap sebagai sesuatu yang baik sementara kebenaran telah menjadi asing dan dianggap sebagai kemungkaran.

Kaum muslimin rahimakumullah,
Rasa malu yang merupakan akhlak mulia, telah menjauh dari diri sebagian kaum muslimin. Akibatnya, kehidupan mereka tidaklah berbeda dengan kehidupan seekor hewan. Yang mereka pikirkan hanyalah mencari dunia walau dengan menghalalkan segala cara kemudian menikmatinya dengan semaunya tanpa memerhatikan aturan Yang Mahakuasa. Mereka menyangka demikianlah kemajuan, kebebasan, dan kemuliaan. Padahal mereka sesungguhnya telah dihinakan serta terikat dan diperbudak oleh setan dan hawa nafsunya.
Namun, mengapa keadaan ini bisa terjadi? Penyebab yang pertama adalah lemahnya agama sebagian kaum muslimin dan banyaknya penyeru-penyeru kebatilan yang selalu mengajak kepada kemungkaran. Penyebab lainnya adalah sangat sedikitnya orang yang mau melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan banyaknya orang yang justru ikut serta membantu atau membolehkan kemungkaran dengan menjual agamanya untuk meraih dunia yang diinginkannya. Padahal Allah l telah mewajibkan kepada kaum muslimin untuk beramar ma’ruf nahi mungkar dalam firman-Nya:
“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)
Siapa di antara kita yang tidak ingin menjadi orang yang beruntung? Setiap muslim tentu tidak ingin menjadi orang-orang yang rugi sehingga terkena azab Allah l. Bahkan, setiap muslim tentu ingin memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah l dan tidak ingin termasuk di dalam golongan orang-orang yang rendah di sisi-Nya. Namun, kedudukan yang mulia di sisi Allah l ini tidaklah akan tercapai melainkan dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh Allah l kepada hamba-hamba-Nya. Di antara kewajiban yang sangat besar yang harus kita jalankan adalah menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar.

Hadirin rahimakumullah,
Oleh karena itu, kewajiban yang besar ini harus selalu diperhatikan. Kalau kita mau melakukan kewajiban yang mulia ini yaitu memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, kita akan termasuk golongan umat yang terbaik di muka bumi ini. Allahlberfirman:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 110)
Marilah kita hidupkan dan kita jalankan kewajiban ini sesuai dengan kemampuan masing-masing. Jangan disangka bahwa kewajiban ini hanya bagi orang-orang tertentu saja. Bahkan, kewajiban ini sifatnya umum bagi seluruh kaum muslimin, sebagaimana tersebut di dalam hadits Nabi n:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka ubahlah kemungkaran tersebut dengan tangannya. Apabila tidak mampu, ubahlah dengan lisannya. Apabila tidak mampu, ubahlah dengan hatinya, dan sesungguhnya yang demikian itu (mengubah dengan hati) adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Hadirin rahimakumullah,
Sesungguhnya kaum muslimin tidaklah akan kembali menjadi kaum yang kuat melainkan dengan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Dengan itulah kaum muslimin akan kembali kepada akidah yang sama dan manhaj atau jalan yang sama. Kembali menjadi umat yang satu dengan mengikuti jalan para pendahulu yang saleh dari kalangan sahabat, tabi’in, dan para ulama yang mengikuti jalan mereka. Tanpa amar ma’ruf nahi mungkar, kaum muslimin akan terus berpecah-belah dan berkelompok-kelompok. Setiap kelompok akan membanggakan keadaan dirinya masing-masing. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka berkelompok-kelompok, tidaklah engkau termasuk dari mereka sedikitpun.” (al-An’am: 159)

Hadirin rahimakumullah,
Itulah akibat tidak adanya amar ma’ruf nahi mungkar. Bahkan, kalau seseorang membiarkan keluarga dan anak-anaknya serta teman-teman dan masyarakatnya dalam keadaan terus-menerus di atas berbagai kemungkaran, mereka semua akan celaka dan binasa. Allah l berfirman:
“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami datangkan malapetaka kepada mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (al-An’am: 44)
Akhirnya, mudah-mudahan Allah l memberikan taufik-Nya kepada kita agar bisa menjalankan kewajiban yang besar ini. Semoga Allah l menyelamatkan kita dari bencana, malapetaka dan azab-Nya.

KHUTBAH KEDUA:
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا،
أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ تَعاَلَى وَأْمُرُوْا باِلْمَعْرُوْفِ وَانْهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرُوْا عَلَى مَا أَصَابَكُمْ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُوْرِ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Bertakwalah kepada Allah l dengan menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar dan bersabarlah dalam menghadapi rintangan ketika menjalankannya. Karena, inilah jalan para rasul. Sudah menjadi sunnatullah bahwa orang-orang yang mengikuti jalan para rasul akan mendapati ujian sebagaimana telah didapati oleh para rasul, bahkan ujian yang mereka hadapi lebih besar. Lihatlah mereka para rasul, bagaimana mereka disakiti dengan ucapan dan perbuatan. Bacalah firman Allah l:
Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan (kepada rasul tersebut), “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” (adz-Dzariyat: 52)
Cobalah bayangkan, bagaimana seorang yang diutus membawa wahyu dari Rabbnya justru dituduh oleh orang-orang yang didakwahinya sebagai seorang penyihir atau orang gila. Tentu saja hatinya sangat tersakiti. Namun demikian, para rasul tetap bersabar terhadap perkataan menyakitkan yang diucapkan kepada mereka. Lihatlah pada rasul yang pertama yaitu Nabi Nuh q. Dahulu kaumnya melewatinya sambil mengejeknya ketika beliau sedang membuat kapal. Bahkan tidak berhenti mereka hanya dengan ejekan, namun juga mereka memberikan ancaman hendak membunuhnya. Allah l berfirman:
Mereka berkata, “Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti wahai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam.” (asy-Syu’ara: 116)
Lihat pula bagaimana kaum Nabi Ibrahim q menolak dakwah beliau. Bahkan, mereka menampakkan penolakannya dengan membawa beliau di hadapan manusia, sebagaimana dalam firman-Nya:
Mereka berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” (al-Anbiya’: 61)
Kemudian mereka mengancam hendak membakar beliau, sebagaimana dalam firman-Nya:
Mereka berkata, “Bakarlah Dia dan belalah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak melakukannya.” (al-Anbiya’: 68)
Akhirnya, mereka menyalakan api yang sangat besar hingga mereka harus melemparkannya dengan manjanik, yaitu sejenis ketapel yang sangat besar karena jauhnya mereka dari api tersebut disebabkan sangat panasnya. Namun Rabb yang Mahaperkasa dan Mahamulia berkata:
Kami berfirman, “Hai api, menjadi dinginlah dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.” (al-Anbiya’: 69)
Api pun menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagi Nabi Ibrahim q. Akhirnya, kemenangan pun diberikan kepada Nabi Ibrahim q. Allah l berfirman:
“Mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka itu sebagai orang-orang yang paling merugi.” (al-Anbiya’: 70)
Demikianlah kesabaran para rasul yang menjadi teladan bagi kita. Marilah kita bersama-sama berusaha menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar untuk memperbaiki keadaan keluarga dan masyarakat kita agar mereka menjadi orang-orang yang berpegang teguh dengan jalan yang satu yaitu agama Allah l, serta tidak membuat aturan dan jalan sendiri yang diatasnamakan Islam padahal bukan ajaran Islam. Akan tetapi perlu diingat, amalan ini harus dijalankan sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada dalam agama kita sehingga menghasilkan buah yang baik. Bukan sebaliknya, justru menyebabkan kemungkaran yang lebih besar. Mudah-mudahan Allah l senantiasa memberi pertolongan kepada kita untuk bisa menjalankan kewajiban yang besar ini dan menyelamatkan kita dari azab-Nya.

 

Catatan Kaki:

Kami tidak mencantumkan doa pada rubrik “Khutbah Jumat” agar khatib yang ingin membaca doa memilih doa yang sesuai dengan keadaan masing-masing.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Selasa,24 April 2012/2 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly