Memaknai Tauhid

Tauhid masih saja dianggap angin lalu oleh sebagian orang. Padahal menjadi keniscayaan, akidah (tauhid) yang benar akan mewujud pada kebaikan amal dan perilaku.
Dahulu, musyrikin Quraisy meyakini bahwa Allah l adalah Pencipta, Penguasa Alam Semesta, dan Pemberi Rezeki bagi segenap makhluk-Nya. Namun itu saja tak cukup menjadikan mereka ber-Islam karena akidah mereka belumlah sempurna. Praktiknya, mereka tetap menjadikan Latta, Uzza, Manat, dan berhala lainnya sebagai sesembahan. Alasan yang diyakini, mereka semua adalah perantara/wasilah yang bisa mendekatkan diri mereka kepada Allah l.
Tak beda dengan para pelaku kesyirikan di masa sekarang. Mereka juga punya “Latta”, “Uzza”, dan “Manat” berupa kuburan orang-orang (yang dianggap) shalih, tempat-tempat keramat, hingga tokoh-tokoh (nyata atau fiktif) yang dikultuskan dan (atau) ditakuti sedemikian rupa melebihi Allah l dan Rasul-Nya. Alasan yang sering diungkapkan, Allah l dianalogikan seperti Raja/Presiden sehingga butuh aturan protokoler. Maka dibutuhkan apa yang disebut “asisten pribadi” atau yang jamak diistilahkan wasilah.
Tuturan di atas setidaknya menggambarkan kaburnya pemahaman umat akan makna tauhid. Ini semua berangkat dari persepsi yang salah dalam memaknai syirik dan tauhid. Ketika Rasulullah n berdakwah kepada kaumnya, yang dihadapi beliau adalah orang-orang yang sangat paham akan makna kalimat La Ilaha Illallah berikut konsekuensinya. “Wajar” jika para pelaku kesyirikan di masa itu menolak apa yang Rasulullah n dakwahkan.             Namun apa yang dijumpai di masa kini adalah orang-orang yang senantiasa mengumandangkan La Ilaha illallah tapi kesyirikan menjadi sesuatu yang lekat dalam kesehariannya. Sebuah ironi yang terpampang di depan mata tapi banyak kalangan Islam yang justru sibuk mengurusi partai (dengan mengatasnamakan umat), demo ke sana kemari, mengebom sana mengebom sini, berdakwah dengan mengabaikan tauhid, mempreteli ajaran Islam berkedok liberalisasi berpikir, bahkan ada yang malah menggemakan tema-tema “lintas agama”.
Memang, melepaskan diri dari jerat kesyirikan bukan perkara mudah, apalagi jika hal itu berupa ritus yang “menyejarah”. Namun di sini, tak ada kata menyerah. Harus ada sebuah langkah karena yang namanya kesyirikan adalah benalu yang menyelimuti sebuah tanaman. Pilihan pun hanya dua, menyingkirkannya atau tanaman mati.
Pembaca, daya rekam anak terhadap segala hal yang dilihat, dibaca, didengar, atau ditontonnya semestinya menjadi perhatian tersendiri bagi orangtua. Karena teknologi telah sedemikian rupa mengepung dan memenuhi isi rumah. Siapakah yang selama ini ditiru dan diidolakan anak-anak kita? Sebelum menjawabnya, anda mesti terlebih dahulu membuka rubrik Permata Hati, pembaca.
Dan tentu saja juga rubrik-rubrik lainnya.
Selamat menyimak.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Rabu,16 November 2011/19 Dzulhijjah 1432H

Print Friendly