Mencintai dan Menghormati ‘Ulama karena Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abbas Muhammad Ihsan)

Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah golongan yang terpilih. Mereka bersikap adil dalam berbagai urusan agama karena memiliki prinsip dasar yang membedakannya dengan golongan lain. Prinsip itu adalah mengikuti kitabullah dan sunnah Rasulullah n dengan pemahaman salafus saleh g, baik dalam hal ilmu maupun amal, baik lahir maupun batin.
Mereka mencintai dan menghormati para ulama umat ini, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup. Sikap mereka terpilih dan adil karena berdasarkan kitabullah serta sunnah Rasulullah n. Berbeda halnya dengna sikap kelompok Syi’ah dan Sufi yang ghuluw (mengultuskan) ahlul bait dan orang-orang yang dianggap berilmu. Berbeda pula dengan sikap Mu’tazilah dan hizbiyyun yang melecehkan serta merendahkan para ulama.

Kedudukan Para Ulama Berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah
Asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah mengatakan, “Para ulama memiliki berbagai keutamaan, berdasarkan al-Qur’an al-‘Azhim dan sunnah Nabi n. Allah l berfirman,
Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (az-Zumar: 9)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t berkata di dalam tafsirnya, “Apakah sama orang yang berilmu tentang Rabbnya, agama-Nya yang syar’i, batasan-batasan, rahasia, dan hikmah-Nya, dengan orang yang tidak berilmu tentang hal itu semuanya? Tentu tidak sama. Ini seperti perbedaan siang dan malam, terang dan gelap, air dan api.”
Hanya saja, yang ingat adalah orang yang berakal, yang akalnya bersih dan cerdas. Mereka adalah orang-orang yang lebih mementingkan urusan yang tinggi dan mulia daripada urusan yang rendah dan hina. Mereka lebih mendahulukan ilmu daripada kebodohan. Selain itu, mereka mendahulukan ketaatan kepada Allah l dan tidak mendurhakai-Nya. Hal ini karena mereka memiliki akal yang membimbing mereka untuk melihat akibat-akibat yang akan terjadi. Mereka berbeda dengan orang yang tidak memiliki nurani dan akal sehat, yaitu yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahannya.
Di antara keutamaan para ulama berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sebagai berikut.
1. Para ulama adalah para pemimpin umat ini dalam urusan agama karena kesabaran dan keyakinan mereka.
Allah l berfirman:
Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan darinya, dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. (al-Baqarah: 247)
Pada ayat di atas, Nabi mereka q menjelaskan bahwa Allah l telah memilih Thalut sebagai pemimpin mereka. Allah l memilihnya sebagai pemimpin karena kelebihan ilmu dan kekuatannya. Jadi, dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa hal itu adalah salah satu sifat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. (Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 13)
Allah k juga berfirman:
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.” (as-Sajdah: 24)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Allah l menyebutkan bahwa kepemimpinan dalam agama itu akan didapatkan dengan sebab kesabaran dan keyakinan, sebagaimana pada surat as-Sajdah ayat 24. Hal ini karena agama itu semuanya adalah ilmu tentang kebenaran dan mengamalkannya. Oleh karena itu, orang yang mengamalkan (ilmunya) harus bersabar. Bahkan, dalam hal mencari ilmu pun, seseorang sangat membutuhkan kesabaran. (at-Tuhfatul ‘Iraqiyah, hlm. 254)

2. Menaati para ulama karena ketaatan terhadap Allah l dan Rasul-Nya n.
Rabb kita k berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (an-Nisa’: 59)
Dari ‘Ali bin Abi Thalib z, ia berkata, “Rasulullah n mengirim sebuah pasukan yang dipimpin oleh seorang Anshar. Tatkala pasukan itu telah berangkat, pemimpin tersebut mendapati suatu ganjalan pada diri mereka. Dia lalu berkata kepada mereka, ‘Bukankah Rasulullah n telah memerintahkan kalian untuk menaatiku?’ Mereka menjawab, ‘Tentu.’ Selanjutnya dia berkata, ‘Kumpulkanlah kayu bakar untukku!’ Kemudian dia meminta api dan menyalakan kayu bakar itu dengannya. Kemudian dia berkata, ‘Aku ingin kalian masuk ke dalamnya.’
Dia (‘Ali bin Abi Thalib, perawi hadits) menceritakan, selanjutnya ada seorang pemuda dari mereka berkata, ‘Kalian lari dari api (neraka) menuju Rasulullah n agar selamat. Maka dari itu, jangan tergesa-gesa menerima (perintah)nya sampai kalian bertemu Rasulullah n. Apabila beliau memerintahkan agar kalian masuk ke dalam api itu, masuklah.’ Mereka kembali menghadap Rasulullah n kemudian mengabarkan kejadian tersebut kepada beliau n.
Beliau bersabda, ‘Kalau kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan bisa keluar selama-lamanya. Ketaatan itu hanyalah dalam urusan yang ma’ruf (baik)’.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Yang dimaksud ulil amri adalah para penguasa (muslim) dan para ulama. Menaati para ulama itu mengikuti ketaatan terhadap Allah l dan Rasul-Nya n. Adapun ketaatan terhadap para penguasa itu mengikuti ketaatan terhadap para ulama. (Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 16)

3. Mengikuti bimbingan para ulama akan mengantarkan ke jalan yang lurus.
Rabb kita k mengisahkan nasihat Ibrahim q kepada ayahnya.
“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam: 43)
Ibnu Mas’ud z menceritakan, “Rasulullah n membuat garis lurus di hadapan kami. Kemudian beliau n bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah l.’ Beliau n lantas membuat beberapa garis di sebelah kanan dan kiri garis tersebut. Beliau n berkata, ‘Ini adalah jalan-jalan yang menyempal. Di setiap jalan tersebut ada setan yang mengajak kepadanya.’
Beliau n kemudian membaca firman Allah l:
‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.’ (al-An’am: 153).” (HR. Ahmad, al-Hakim, dan ad-Darimi)
Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmul hafizhahullah berkata, “Barang siapa mengikuti (bimbingan) para ulama, berarti dia telah mengikuti jalan yang lurus. Barang siapa menyelisihi dan melecehkan hak-hak mereka, dia telah keluar menuju jalan setan. Dia menyempal dari shirathal mustaqim, yaitu jalan yang Rasul n dan para pengikutnya berada di atasnya.” (Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama, hlm. 18)

4. Para ulama adalah orang-orang yang Allah l kehendaki kebaikan bagi mereka.
Rasulullah n bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa yang Allah l kehendaki kebaikan pada dirinya, niscaya Dia l akan menjadikannya faqih (paham) dalam agama.” (Muttafaqun alaih dari Mu’awiyah z)
Dari ‘Ali bin Khasyram t, Ibnu ‘Uyainah t berkata, “Sebagian ahli fikih berkata, ‘Disebutkan bahwa para ulama itu ada tiga macam: (1) yang berilmu tentang Allah l, (2) yang berilmu tentang perintah Allah l, dan (3) yang berilmu tentang Allah l dan perintah-perintah-Nya. Ulama yang berilmu tentang perintah Allah l, dia mengilmui sunnah, tetapi tidak takut kepada Allah l. Adapun ulama yang mengilmui tentang Allah l, dia takut kepada Allah l, tetapi tidak mengilmui sunnah. Adapun yang mengilmui Allah l dan perintah-Nya, dia mengilmui sunnah dan takut kepada Allah l. Itulah golongan agung yang diagungkan di Kerajaan Langit’.” (Hilyatul Auliya, 7/280)

Mencintai dan Menghormati Para Ulama karena Allah l
Para ulama adalah orang-orang yang ditinggikan dan dimuliakan oleh Allah k karena ilmu dan ketakwaan mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)
Firman Allah l pula:
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (al-Mujadilah: 11)
Namun, kecintaan dan penghormatan kita terhadap mereka harus karena Allah l semata. Rasulullah n bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمْاَنِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Ada tiga perkara yang apabila dimiliki oleh seseorang, niscaya ia akan merasakan manisnya iman: (1) Allah l dan Rasul-Nya n lebih dia cintai daripada selain keduanya; (2) Dia mencintai seseorang, yang tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah; dan (3) Ia benci untuk kembali kepada kekafiran, seperti kebenciannya jika dia dilemparkan ke dalam api.” (HR. al-Bukhari dari Anas)
Realisasi prinsip ini adalah tidak mendahulukan perkataan atau pendapat para ulama di atas kitabullah dan sunnah Rasulullah n. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Hujurat: 1)
Asy-Syaikh Muhammad al-Imam hafizhahullah berkata, “Tidak ada kesamaran bahwa kebenaran itu lebih berhak diikuti dan lebih pantas dikedepankan daripada yang lainnya.”
Beliau berkata pula, “Sungguh, Allah l telah melimpahkan hidayah kepada ahlu ittiba’/para pengikut manhaj nubuwah untuk menerima kebenaran—baik berpihak kepada dirinya atau tidak—dan mengedepankannya daripada pendapat manusia walaupun mereka orang-orang besar, dan mengedepankannya daripada amal-amal manusia walaupun mereka adalah orang-orang yang mulia. Kebenaran itu tinggi dan mulia, tidak boleh ada yang lebih tinggi darinya.
Golongan yang paling agung dalam hal mengedepankan kebenaran di atas yang lainnya setelah para nabi dan para rasul r adalah salafus saleh g. Bukti yang paling jelas adalah mereka tidak mengada-adakan bid’ah dalam agama. Mereka tidak pula merasa hina untuk menolongnya. Bahkan, mereka mempertaruhkan jiwa, harta, dan umur untuk menyebarkan dan membela agama Islam.” (al-Ibanah, 27—28)
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim t berkata, “Syaikhul Islam (Ibnu Taimiyah t, guru beliau) kami cintai. Namun, kebenaran lebih kami cintai daripada beliau. Setiap orang selain yang ma’shum (Rasulullah n), pendapatnya bisa diambil dan bisa ditinggalkan.” (Madarijus Salikin, 2/37)

Tidak Boleh Ghuluw terhadap Ulama
Ghuluw (melampaui batas) dalam hal mencintai dan menghormati mereka adalah perkara yang mungkar. Hal itu haram, berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah n.
Allah l berfirman:
ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜﭝ
“Wahai ahli kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian, dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (an-Nisa: 171)
Allah l berfirman pula:
“Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Rabb Yang Maha Esa, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 31)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorang pun yang berlebih-lebihan dalam agama melainkan agama itu akan mengalahkannya (menjadikannya lemah).” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah z)
Ghuluw dalam hal agama, terkhusus terhadap para ulama, adalah salah satu perangkap iblis la’natullah alaih. Hal ini dijelaskan oleh al-Imam Ibnu Qayyim t, “Tidaklah Allah l memerintahkan suatu perkara melainkan setan memiliki dua perangkap (yang menyesatkan). Bisa jadi dari sisi peremehan atau dari sisi berlebih-lebihan dan memberat-beratkan. Padahal agama Allah l itu berada di tengah-tengah, antara memudah-mudahkan dan memberat-beratkan. Ia seperti sebuah lembah di antara dua gunung, seperti petunjuk (al-huda) di antara dua kesesatan. Ia di tengah-tengah antara dua pihak yang tercela.” (Madarijus Salikin)
Di antara akibat jelek yang ditimbulkan oleh sikap ghuluw terhadap para ulama adalah taklid dan ta’ashub (fanatik buta). Dua hal ini diharamkan oleh agama yang mulia ini.
Allah l berfirman tentang penyesalan mereka di hadapan-Nya:
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya, andai kata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.’ Mereka berkata, ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (al-Ahzab: 66—67)
Dari Jabir bin Abdillah z, ia berkata, “Kami berperang bersama Nabi n dan kaum Muhajirin pun kembali bersama beliau. Di antara orang-orang Muhajirin ada yang suka bersenda gurau. Dia memukul pantat seorang Anshar sehingga orang Anshar itu benar-benar marah. Kedua orang tersebut lantas saling memanggil golongannya. Orang Anshar tersebut memanggil, ‘Wahai sekalian Anshar!’ Orang Muhajirin juga memanggil, ‘Wahai sekalian Muhajirin!’ Kemudian Rasulullah n keluar dan berkata, ‘Ada apa dengan panggilan-panggilan jahiliah itu?! Apa urusan mereka?’ Rasulullah n lalu diberi tahu tentang perbuatan seorang Muhajirin yang memukul pantat seorang Anshar. Beliau n lantas bersabda, ‘Tinggalkanlah (panggilan-panggilan jahiliah) karena panggilan itu jelek’.” (HR. al-Bukhari, 3518 dan Muslim 2584)
Al-‘Allamah Ibnul Qayyim t berkata, “Orang yang fanatik ialah yang menjadikan ucapan orang yang diikutinya sebagai tolok ukur (barometer) terhadap al-Kitab dan as-Sunnah. Bahkan, pendapat para sahabat g pun ditimbang dengannya. Pendapat yang sesuai dengan pendapat orang yang diikutinya, niscaya akan dia terima. Sebaliknya, pendapat yang menyelisihinya, akan dia tolak, dari siapa pun asalnya. Orang yang seperti ini lebih dekat kepada celaan dan hukuman daripada pahala dan kebenaran.” (I’lamul Muwaqqi’in, 2/232)
Syaikhul Islam t berkata, “Apabila terjadi perbedaan dan perselisihan antara sesama guru, sesama murid, atau antara guru dan murid, tidak boleh seorang pun membantu salah satu pihak yang berselisih sampai dia mengetahui yang benar. Seseorang tidak boleh membantunya berdasar kejahilan dan hawa nafsu. Dia harus melihat terlebih dahulu masalahnya. Apabila dia telah mendapatkan kejelasan tentang kebenaran, dia harus membantu pihak yang benar untuk menghadapi pihak yang salah. Sama saja, apakah pihak yang benar atau salah itu teman-temannya atau pihak lainnya. Hal ini karena tujuannya adalah ibadah kepada Allah l semata, menaati Rasul-Nya, mengikuti kebenaran, dan menegakkan keadilan.” (Majmu’ al-Fatawa, 28/15)

Penyimpangan dan Ketergelinciran Ulama Tidak Boleh Diikuti
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Sudah dimaklumi bahwa seseorang yang besar dalam hal ilmu dan agama dari kalangan para sahabat, para tabi’in, dan generasi setelah mereka sampai hari kiamat, baik dari kalangan ahlul bait atau selainnya, kadang-kadang memiliki ijtihad yang didasari oleh prasangka semata. Hal itu tidak selayaknya untuk diikuti walaupun dia termasuk wali Allah l yang bertakwa.
Ketika terjadi hal seperti ini, akan menjadi ujian bagi dua golongan: yang mengagungkan akan berusaha membenarkan hal itu dan mengikutinya; yang mencela menjadikan kesalahan itu sebagai alasan yang mencacati kewalian dan ketakwaannya. Bahkan, menurut mereka, bisa jadi kebaikan dan keberadaannya sebagai calon penghuni surga juga batal. Mereka menganggap bahwa imannya telah rusak sehingga keluar dari agama. Kedua golongan ini sesat karena keliru bersikap.” (Minhajus Sunnah, 4/543)
Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata, “Yang dikhawatirkan adalah bahwa ketergelinciran orang yang berilmu itu akan diikuti. Jika bukan karena taklid, ketergelincirannya tidak perlu dikhawatirkan berpengaruh terhadap orang lain (pengikutnya). Oleh karena itu, apabila sudah diketahui kesalahannya, ia tidak boleh diikuti dalam hal tersebut menurut kesepakatan kaum muslimin. Mengikuti ketergelinciran tersebut berarti mengikuti kesalahannya dengan sengaja.” (I’lamul Muwaqqi’in, 2/192)
Ya Allah, tampakkanlah kepada kami bahwa kebenaran itu adalah kebenaran, karuniakanlah kemampuan kami untuk mengikutinya. Tampakkanlah kepada kami kebatilan itu adalah kebatilan, dan karuniakanlah kemampuan kepada kami untuk menjauhinya! Amin!

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Kamis,26 April 2012/4 Jumadil Akhir 1433H

Print Friendly