Nabi Musa dan Nabi Harun Wafat

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

 

Di Padang Tih, bertahun-tahun hidup di sana, usia Nabi Musa dan Harun bertambah lanjut. Bani Israil benar-benar dibersihkan dari orang-orang yang fasik, yang disebutkan dalam doa Nabi Musa. Kemudian lahirlah generasi baru yang insya Allah lebih baik dari orang-orang yang fasik tersebut.

Tak berapa lama sampailah ajal Nabi Harun ‘alaihissalam. Bersama Nabi Musa, beliau dipanggil ke Bukit Thursina. Di sanalah Nabi Harun berpulang ke rahmat Allah ‘azza wa jalla.

Sepeninggal saudaranya Harun ‘alaihissalam, Nabi Musa masih melanjutkan tugas membimbing Bani Israil. Beliau dengan penuh semangat tetap mengajari mereka agar taat dan tunduk kepada aturan Allah ‘azza wa jalla Yang telah menyelamatkan dan memuliakan mereka.

Menjelang dekatnya ajal beliau, Allah ‘azza wa jalla mengutus salah seorang hamba-Nya yang mulia di kalangan para malaikat. Seorang malaikat yang menghancurkan semua kelezatan dan memutuskan semua kesenangan hidup, Malaikat Maut. Makhluk suci yang diciptakan Allah ‘azza wa jalla dari cahaya.

Peristiwa ini diceritakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat (bahkan umatnya),

أُرْسِلَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلَام فَلَمَّا جَاءَهُ صَكَّهُ فَرَجَعَ إِلَى رَبِّهِ فَقَالَ: أَرْسَلْتَنِي إِلَى عَبْدٍ لَا يُرِيدُ الْمَوْتَ. فَرَدَّ اللهُ عَلَيْهِ عَيْنَهُ وَقَالَ: ارْجِعْ فَقُلْ لَهُ يَضَعُ يَدَهُ عَلَى مَتْنِ ثَوْرٍ فَلَهُ بِكُلِّ مَا غَطَّتْ بِهِ يَدُهُ بِكُلِّ شَعْرَةٍ سَنَةٌ. قَالَ: أَيْ رَبِّ، ثُمَّ مَاذَا؟ قَالَ: ثُمَّ الْمَوْتُ. قَالَ: فَالْآنَ. فَسَأَلَ اللهَ أَنْ يُدْنِيَهُ مِنَ الْأَرْضِ الْمُقَدَّسَةِ رَمْيَةً بِحَجَرٍ. قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ فَلَوْ كُنْتُ ثَمَّ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيقِ عِنْدَ الْكَثِيبِ الْأَحْمَرِ

Malaikat Maut diutus kepada Musa ‘alaihissalam. Ketika dia mendatanginya, beliau menamparnya. Malaikat itu kembali kepada Rabbnya, lalu berkata,Engkau telah mengutusku kepada seorang hamba yang tidak menyukai maut.”

Kemudian, Allah mengembalikan matanya dan berkata,Kembalilah dan katakan kepadanya, supaya meletakkan tangannya di lambung seekor sapi jantan, lalu dia berhak pada setiap bulu yang ditutupi tangannya adalah satu tahun.”

Musa berkata,Wahai Rabbku, kemudian apa lagi?”

Kemudian adalah maut.”

Kata Musa,Maka sekaranglah,” beliau pun memohon kepada Allah agar mendekatkannya ke Tanah Suci sejauh lemparan batu.

Kata rawi,Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seandainya aku di sana, sungguh, pasti akan aku perlihatkan kepada kamu kuburannya di samping jalan dekat bukit merah.’.” (H.R. al-Bukhari no. 1339 dan Muslim no. 2372 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Begitulah kisahnya. Sebuah berita gaib yang diceritakan oleh ash-Shadiqul Mashduq shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sudah tentu menjadi berita dan kisah yang tidak disangsikan lagi kebenarannya. Orang-orang yang beriman pasti menerima berita ini sebagaimana adanya. Sebab, mereka yakin terhadap apa yang diterangkan oleh Allah ‘azza wa jalla, bahwa Rasul-Nya tidak berbicara dengan hawa nafsu. Apa yang beliau sampaikan tidak lain adalah wahyu yang diturunkan kepadanya.

Dalam riwayat ini disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan kedatangan Malakul Maut kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan secara jelas bahwa malaikat tersebut menemui Nabi Musa dalam wujud aslinya.

Di dalam al-Qur’an, disebutkan pula peristiwa yang tidak jauh berbeda dengan kisah ini. Beberapa malaikat pernah menemui Nabi Ibrahim dan Luth ‘alaihimassalam. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang sangat memuliakan tamu, segera menyuguhkan hidangan lezat, daging anak sapi yang sudah matang. Akan tetapi, kemudian, muncul rasa takut beliau tatkala para tamu itu tidak menyentuh daging itu sama sekali.

Begitu pula Nabi Luth ‘alaihissalam. Beliau sangat cemas akan keselamatan tamu-tamunya yang berwujud pemuda gagah dan tampan ini. Beliau khawatir, kaumnya yang terbelenggu oleh nafsu akan menyerbu rumahnya dan menangkap para pemuda ini.

Akan tetapi, setelah para tamu itu menerangkan bahwa mereka adalah utusan Allah ‘azza wa jalla, barulah kedua nabi yang mulia ini tenang. Kemudian, mengalirlah dialog di antara mereka, sebagaimana diceritakan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam Kitab-Nya, yang tidak didatangi kebatilan baik dari depan maupun belakang.

Nabi Musa ‘alaihissalam juga demikian. Saat sedang menyendiri, beliau didatangi seseorang yang meminta nyawanya. Tentu saja beliau marah dan menampar orang tersebut. Dengan kekuatan beliau yang luar biasa, pukulan itu menyebabkan mata malaikat yang sedang berwujud manusia itu lepas dari rongganya.

Malaikat itu segera kembali menemui Rabb (Allah ‘azza wa jalla) yang mengutusnya. Allah ‘azza wa jalla mengembalikan mata itu ke tempatnya semula.

Kemudian, malaikat itu kembali lagi menemui Nabi Musa ‘alaihissalam. Kali ini, Nabi Musa ‘alaihissalam mengenalinya. Setelah dialog singkat, malaikat itu menyampaikan perintah Allah ‘azza wa jalla agar Nabi Musa ‘alaihissalam meletakkan tangannya di atas tubuh seekor sapi jantan. Untuk beliau adalah semua yang tertutup tangan beliau dihitung satu tahun.

Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya, “Sesudah itu apa lagi, duhai Rabbku?”

“Al-Maut,” kata Allah ‘azza wa jalla.

Nabi Musa ‘alaihissalam langsung menyambut dan memilih bertemu dengan Rabbnya, “Kalau begitu, sekaranglah.”

Beliau pun memohon agar Allah ‘azza wa jalla mendekatkan jasad beliau ke Baitil Maqdis sejauh lemparan batu.

Wallahu a’lam.

 

Beberapa Faedah

Hadits ini termasuk hadits-hadits yang diingkari oleh Jahmiyah dan orang-orang yang sesat lainnya. Menurut mereka, bisa jadi Nabi Musa sudah mengenal Malaikat Maut, bisa jadi pula tidak mengenalnya. Kalau beliau mengenalnya, dengan memukulnya berarti beliau telah menzalimi Malaikat Maut tersebut. Seandainya belum, riwayat yang menyebutkan bahwa Malaikat Maut itu menemui Nabi Musa dalam keadaan terang-terangan tidak ada artinya.

Sanggahan ini tidak lain berasal dari orang-orang yang telah dibutakan oleh Allah ‘azza wa jalla mata hatinya. Pengertian hadits ini sahih, tidak seperti dugaan kaum Jahmiyah. Sebab, Allah ‘azza wa jalla tidak mengutus kepada beliau sosok Malaikat Maut yang ketika itu ingin mencabut ruhnya, tetapi untuk menguji beliau, seperti Allah ‘azza wa jalla memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih Ismail bin Ibrahim ‘alaihissalam. Andaikata Allah ‘azza wa jalla ingin mencabut ruh beliau ketika mengilhamkan Malaikat Maut untuk itu, pastilah terjadi apa yang dikehendaki Allah ‘azza wa jalla.

Mustahil Nabi Musa mengenali Malaikat Maut lalu menamparnya hingga lepas matanya. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga pernah didatangi para malaikat dalam keadaan beliau tidak mengenali mereka pada awalnya. Seandainya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengenali mereka, tentu tidak akan menyuguhkan hidangan lezat agar mereka memakannya dan tidak merasa takut ketika mereka tidak menyentuh makanan itu. Lantas, mengapa harus heran kalau Nabi Musa tidak mengenali Malaikat Maut?

Pendapat mereka bahwa Allah ‘azza wa jalla tidak mengkisas Nabi Musa, menunjukkan kebodohan mereka. Siapa yang menerangkan kepada mereka bahwa antara malaikat dan Bani Adam ada hukum kisas? Siapa pula yang mengabarkan kepada mereka bahwa Malaikat Maut menuntut kisas lalu Allah ‘azza wa jalla tidak mengabulkannya? Bahkan, Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada kita bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam pernah memukul seorang Qibti hingga Qibti itu mati tetapi tidak mengkisas beliau.

Alhasil, kisah ini bukanlah dongeng yang dibuat-buat, karena beritanya sahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang yang sudah mengikrarkan syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah ‘azza wa jalla dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba Allah ‘azza wa jalla serta utusan (Rasul)-Nya, tidak ada alasan lain kecuali tunduk menerima berita ini. Sebab, ketundukan dan kelapangan hatinya membenarkan dan menerima berita ini adalah salah satu bukti kejujurannya bersyahadat.

Selain itu, berita ini adalah perkara gaib yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga bukan hak kita untuk menanyakan bagaimana dan mengapa-nya? Lebih-lebih lagi, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang jujur lagi dibenarkan. Beliau tidak berbicara kecuali dengan wahyu yang diturunkan kepada beliau. Adakah seorang yang beriman akan mengingkari berita yang sahih dari beliau? Tentu tidak ada.

Faedah lainnya, bahwa syariat para Nabi sebelum kita adalah syariat kita juga, selama tidak ada yang menghapusnya. Nabi Musa meminta didekatkan ke Tanah Suci agar dikuburkan di sana, bahkan membawa serta jasad Nabi Yusuf ketika mereka meninggalkan Mesir. Akan tetapi, semua ini dihapus berdasarkan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keinginan beberapa sahabat yang hendak menguburkan syuhada Uhud di Madinah, wallahu a’lam.

Mengapa makam Nabi Musa berada di luar Baitul Maqdis?

Ibnu Hajar rahimahullah, salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i, hakim negeri Mesir, menukilkan pendapat Ibnu Baththal dari ulama sebelumnya, bahwa hikmah makam Nabi Musa ‘alaihissalam tidak berada di dalam Baitul Maqdis adalah agar menyamarkan letaknya, sehingga tidak dijadikan berhala (sesuatu yang disembah dan dipuja-puja selain Allah ‘azza wa jalla) oleh orang-orang yang jahil di kalangan pengikut beliau.

Hadits ini tidak bisa dijadikan dalil bolehnya memindahkan jenazah dari satu daerah ke daerah yang lain. Mengapa?

Ada beberapa alasan. Di antaranya ialah bahwa syariat umat terdahulu adalah syariat kita juga, selama tidak ada yang menghapusnya di dalam syariat kita. Ternyata, hal ini ada penjelasannya dalam syariat kita, yaitu larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memindahkan syuhada perang Uhud dan memerintahkan para sahabat menguburkan mereka di tempat mereka terbunuh. Jadi, yang sesuai dengan sunnah ialah menguburkan seorang muslim di mana dia meninggal dunia, selama tidak ada penghalang yang syar’i.

Hadits ini dicantumkan dalam masalah akidah karena adanya segolongan ahli bid’ah yang mengingkari berita yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Mereka menganggap mustahil. Alasannya, karena tidak mungkin Nabi Musa ‘alaihissalam yang mulia akan menampar seorang malaikat. Bantahan atas keraguan dan pengingkaran mereka, telah disebutkan di atas.

Wallahul Muwaffiq.

———-
Sumber: Asysyariah – www.asysyariah.com – Minggu,21 Juni 2015/4 Ramadhan 1436H

Print Friendly